
"Jadi bagaimana, Jek? Apakah kita harus menangkap pelaku itu sekarang?" tanya Arman.
"Tidak, jangan sekarang! Kita tunggu saja dulu sampai yang punya mobil itu keluar dari apartemen," jawab Jeky sambil terus menatap ke arah mobil sport putih, yang terparkir tidak jauh dari tempat nya saat ini.
"Oke, baik lah. Kami akan menunggu aba-aba dari mu," balas Arman.
"Oke, nanti aku kabari lagi." ucap Jeky menutup panggilan nya.
"Ya," jawab Arman lalu menyimpan ponsel nya kembali ke dalam saku celana.
Arman dan kedua teman nya duduk manis di dalam mobil, sambil terus mengedarkan pandangan nya.
Begitu pun dengan Jeky, ia juga terus memperhatikan keadaan sekitar sambil mengotak-atik benda pipih yang ada di tangan nya. Ia mengirim pesan singkat kepada bos sekaligus sahabat masa kecil nya Hermawan.
"Her, aku sudah menemukan titik terang tentang kasus ini."
Selesai mengetik, Jeky pun langsung mengirimkan pesan itu kepada Hermawan. Tak butuh waktu lama, balasan pesan dari Hermawan pun muncul di layar ponsel nya.
Ting...
"Apakah dugaan kita sama?" tanya Hermawan.
"Ya, kamu benar. Dugaan kita sama, seperti nya memang dia lah pelaku nya," jawab Jeky kembali mengirimkan pesan balasan kepada Hermawan.
"Kurang ajar! Berani sekali dia melakukan hal ini kepada istri ku," balas Hermawan dengan wajah geram dan mengepalkan tangan nya.
Hening...
Hermawan dan Jeky sama-sama berhenti mengetik, dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak lama kemudian, pesan dari Hermawan pun kembali muncul di layar ponsel Jeky.
"Dimana posisi mu sekarang?" tanya Hermawan.
"Di depan gedung apartemen nya. Aku, Arman, dan dua orang teman nya sedang memantau pergerakan nya," jawab Jeky.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku!" balas Hermawan mengakhiri percakapan pesan nya.
"Siap, bos!" balas Jeky.
__ADS_1
Setelah itu, Jeky pun menyimpan ponsel nya ke dalam saku jas yang sedang ia kenakan, dan kembali memantau situasi sekitaran apartemen.
Setelah menunggu sekitar hampir satu jam, tiba-tiba mata Jeky pun langsung terbelalak lebar, ketika melihat seorang wanita seksi yang sedang bergelayut manja di lengan kiri lelaki berkulit putih.
"Nadia... Kena kau sekarang. Kau tidak akan bisa lari lagi, karena aku akan menangkap mu dan juga kekasih bule mu itu," gumam Jeky sambil terus memandangi sepasang sejoli, yang baru keluar dari gedung apartemen yang berada tepat di depan nya.
"Bersiap lah, Man! Target kita sudah keluar dari sarang nya," ucap Jeky mengirim pesan singkat kepada Arman.
"Oke," balas Arman.
Setelah membaca balasan pesan dari Arman, Jeky pun menyimpan ponsel nya kembali, lalu mulai menyalakan mesin kendaraan nya.
Begitu pula dengan Arman dan kedua teman nya. Mereka juga sudah bersiap-siap dan mulai menyalakan mesin mobil nya.
Setelah Nadia dan Marcho masuk ke dalam mobil sport nya, mereka pun langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Melihat kepergian Nadia, Jeky dan Arman pun langsung bergerak dan mengikuti mereka dengan sedikit menjaga jarak. Saat berada di tempat yang cukup sepi, Jeky dan Arman pun langsung menyalip mobil yang sedang di tumpangi Nadia.
Ciiiiiiitttttt...
Marcho menginjak rem secara mendadak. Ia sangat terkejut melihat dua mobil hitam, yang sedang menghadang secara tiba-tiba di depan mobil nya.
Tubuh Nadia terhempas ke belakang dengan sedikit kuat, akibat keterkejutan Marcho.
"Auw, sakiiiiit...!" pekik Nadia sembari meringis memegangi punggung nya.
"Kamu ini apa-apaan sih, Marcho? Bikin punggung ku sakit saja. Emang nya ada apa? Kok tiba-tiba ngerem mendadak gitu?" omel Nadia kesal dengan ulah pacar nya.
Marcho yang sedang terbengong dengan mata membulat pun hanya diam, lalu memajukan bibir nya ke depan.
"Tuh lihat!" balas Marcho dengan nada berbisik.
Melihat ekspresi Marcho seperti orang ketakutan, Nadia pun langsung mengikuti arah bibir nya.
Mata Nadia pun ikut membulat sempurna saat melihat Jeky, Arman, dan kedua teman nya sedang keluar dari mobil, sambil membawa sebuah senjata api di tangan masing-masing.
"Je-Jeky...? Ma-mau apa dia bawa-bawa pistol segala?" gumam Nadia gugup sambil terus mengarah pandangan nya kepada Jeky dan Arman.
__ADS_1
"CEPAT KELUAR...! KALAU TIDAK, JANGAN SALAH KAN AKU, KALAU KEPALA KALIAN AKAN TEMBUS DENGAN PELURU INI," ancam Jeky dengan wajah menyeramkan, sambil menodongkan senjata nya ke arah Nadia dan Marcho.
Mendengar pekikan lantang Jeky, Nadia dan Marcho pun langsung terlonjak kaget dan menelan ludah dengan kasar.
Tanpa berkata-kata lagi, mereka berdua pun langsung keluar dari mobil, lalu berdiri di hadapan Jeky dan Arman.
Sedangkan kedua teman Arman, mereka sudah berdiri tegak di belakang dan mengarahkan senjata api nya ke bagian belakang kepala Nadia dan Marcho.
Mendapat perlakuan mendadak seperti itu, Marcho yang tidak tahu apa-apa pun langsung ketakutan, dan melontarkan pertanyaan kepada Jeky.
"Ka-kalian siapa? A-apa yang kalian inginkan dari kami?" tanya Marcho tergagap. Keringat dingin pun mulai bermunculan di wajah putih nya.
Bukan nya menjawab pertanyaan Marcho, Jeky dan Arman malah tertawa terbahak-bahak. Mereka berdua merasa sangat lucu, saat melihat wajah ketakutan lelaki bule yang ada di hadapan nya.
Hahahaha... Kamu mau tau siapa kami?" tanya Jeky balik yang di balas anggukan kepala oleh Marcho.
"Kalau kau mau tau, kau bisa tanyakan kepada wanita yang ada di samping mu itu!" ujar Jeky sembari menunjuk ke arah Nadia dengan menggunakan senjata api nya.
Mata Marcho pun semakin terbelalak lebar, setelah mendengar penuturan Jeky. Kemudian ia pun langsung mengalihkan pandangan nya kepada Nadia.
"Ka-kamu kenal dengan mereka semua?" tanya Marcho masih dengan nada terbata.
"Ya, aku mengenal nya," jawab Nadia santai tanpa menoleh kepada lawan bicara nya.
Ia terus menatap sinis ke arah Jeky sambil mengepalkan kedua tangan nya. Lagi... Marcho kembali terkejut saat mendengar jawaban kekasih nya.
"Mereka adalah antek-antek Hermawan," lanjut Nadia.
"HAH... ANTEK-ANTEK HERMAWAN...?" pekik Marcho dengan suara menggelegar.
Jeky dan Arman hanya tersenyum miring melihat reaksi Marcho.
"Ya, apa yang di katakan pacar mu itu memang benar. Kami adalah antek-antek bos Hermawan," sambung Arman masih dengan senyum aneh di bibir nya.
Wajah Marcho pun semakin pucat, ketika mendengar ucapan Arman yang membenarkan perkataan kekasih nya. Ia kembali menatap wajah Nadia yang masih tampak santai dan tenang di tempat nya berdiri.
__ADS_1
"Masalah apa lagi yang sudah kau perbuat dengan Hermawan, Nadia? Kenapa tidak ada bosan-bosan nya kau mengganggu hidup mantan pacar mu itu?" batin Marcho merutuki perbuatan kekasih yang amat di cintai nya itu.
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan favorit nya untuk mendukung karya Author ya 🌺