
"Diam dong, honey! Biarkan dulu seperti ini, sebentaaar saja!" pinta Marcho dengan nada memohon.
Lelaki berkulit putih itu semakin mengeratkan pelukannya, dan meletakkan dagu nya di bahu kanan Nadia. Mendengar rengekan kekasih nya, Nadia pun mendengus kesal dan membiarkan lelaki bertubuh kekar itu memeluk tubuh nya.
"Apa yang sedang kau pikirkan, honey? Kenapa kau berdiam diri terus seperti ini? Apakah ada masalah yang mengganjal di hati mu?" cecar Marcho sambil sesekali mencium ceruk leher Nadia.
Wanita seksi itu menghela nafas dalam-dalam. Ia kembali mengingat tentang mantan kekasih nya Hermawan.
"Ya, kau benar, Marcho. Aku sedang memikirkan Hermawan. Aku tidak bisa tenang, kalau lelaki bajing*n itu hidup bahagia seperti saat ini," jawab Nadia lirih sambil terus menatap gedung-gedung pencakar langit yang ada di depan nya.
Mendengar jawaban Nadia, Marcho pun langsung melepaskan pelukannya. Ia membalikkan tubuh Nadia untuk menghadap kepada nya. Lelaki itu menatap manik mata wanita pujaan nya dengan wajah kesal.
"Kenapa kau masih terus memikirkan lelaki brengs*k itu? Apa sih hebat nya dia, sehingga kau tidak bisa melupakan nya, dan mengikhlaskan nya untuk hidup bahagia dengan istri nya?" tanya Marcho ketus.
Nadia tidak menjawab. Ia masih terus memfokuskan perhatian nya ke depan, sambil sesekali meneguk minuman keras yang ada di tangan nya.
"Honey, please! Tolong lupakan dia dan menikah lah dengan ku. Aku berjanji, aku akan selalu setia dengan mu. Dan aku juga berjanji, aku akan membahagiakan lahir dan batin mu, percaya lah!" lanjut Marcho dengan penuh keyakinan.
Nadia masih tetap bungkam. Ia bingung harus menjawab apa kepada Marcho, lelaki yang selama ini telah setia mendampingi hidup nya, walaupun tanpa ikatan pernikahan di antara mereka berdua.
Karena tidak mendengar jawaban apa pun yang keluar dari bibir Nadia, Marcho pun menghela nafas panjang. Ia sedikit kecewa dengan pendirian Nadia, yang masih tetap kekeuh untuk menghancurkan kebahagiaan mantan kekasih nya Hermawan.
"Nadia, please. Aku mohon hentikan rencana jahat mu itu. Biar kan Hermawan mendapatkan kebahagiaan nya sendiri. Dia bukan jodoh yang ditakdirkan untuk mu, jadi tolong mengerti lah!" bujuk Marcho.
Ia masih terus berusaha untuk meyakinkan Nadia, agar tidak melanjutkan rencana nya gila nya.
Setelah sekian lama bungkam. Akhirnya Nadia pun mulai membuka suara. Ia membalas tatapan mata Marcho, yang sedari tadi masih terus memandangi wajah cantik nya.
"Kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran, Marcho? Kemarin-kemarin kau sudah setuju, untuk membantu ku membalaskan dendam ku itu. Kenapa sekarang malah berubah seperti ini?" selidik Nadia heran.
"Ya, itu karena aku baru sadar, kalau selama ini aku sudah salah, karena telah mendukung mu untuk berbuat jahat kepada orang lain," jawab Marcho mengakui kesalahan nya.
"Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu, Nadia. Dan aku juga tidak ingin melihat mu masuk penjara, hanya karena membalaskan dendam yang ada di hati mu itu," lanjut Marcho lagi.
__ADS_1
Nadia kembali terdiam mendengar penuturan Marcho yang kemungkinan besar benar ada nya. Ia pasti akan di jebloskan ke dalam penjara oleh Hermawan, jika ia masih tetap nekat untuk melanjutkan rencana nya.
"Hmmmm, ada benar nya juga sih, apa yang di katakan Marcho barusan. Bisa-bisa aku akan membusuk di dalam penjara, jika aku menghancurkan hidup Hermawan," batin Nadia membenarkan perkataan kekasih nya Marcho.
"Aku harap, kau mau menuruti kata-kata ku, Nadia. Itu semua demi kebaikan mu juga, ngerti!" ucap Marcho dengan penuh peringatan.
"Iya iya, cerewet banget sih jadi laki-laki! Bikin otak ku puyeng saja," jawab Nadia ketus.
Ia meletakkan gelas yang sedari tadi di pegang nya ke atas meja, lalu kembali naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuh nya.
Melihat sikap ketus Nadia, Marcho pun hanya mengulas senyum, lalu menyusul wanita itu ke atas ranjang dan membaringkan diri di sebelah nya.
"Ya sudah, sekarang kita istirahat ya! Besok kita sambung lagi ngobrol nya," ucap Marcho sembari mengecup dahi Nadia dan memeluk erat tubuh nya.
"Ya," jawab Nadia sembari tersenyum tipis, dan menenggelamkan wajah nya di dada bidang Marcho.
Ia tampak begitu bahagia dengan perhatian dan kasih sayang yang tulus, dari lelaki berkulit putih tersebut.
Tanpa berkata-kata lagi, mereka berdua pun mulai memejamkan mata dan tertidur lelap, dengan posisi saling berpelukan di bawah selimut tebal.
Setelah melepaskan penat selama beberapa jam, Claudia pun mulai terjaga dari mimpi indah nya. Ia membuka mata perlahan dan menggeliat-geliat kan tubuh nya, ketika mendengar suara adzan subuh yang mengalun merdu memecah keheningan.
"Uuuuhhh, sakit nya pinggang kuuu...!" rintih Claudia dengan suara serak khas bangun tidur.
Ia memegangi bagian pinggang nya yang terasa sangat pegal dan kaku, akibat pertempuran panas nya dengan Hermawan semalam.
Setelah kesadaran nya mulai terkumpul sempurna, Claudia pun mulai turun dari ranjang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi, dengan handuk yang tersampir di bahu nya.
Selesai membersihkan diri dan berwhudu, Claudia pun kembali melangkah keluar, dan segera melaksanakan kewajiban nya sebagai umat muslim.
Setelah selesai, ia merapikan penampilan nya di depan cermin, lalu bergegas keluar dari kamar menuju dapur.
"Hmmmm, sarapan apa ya hari ini?" gumam nya bingung sambil membuka pintu kulkas.
Claudia melihat bahan-bahan makanan yang akan ia olah, untuk sarapan mereka bertiga.
"Ah, masak nasi goreng aja lah, biar cepat."
__ADS_1
Setelah menentukan pilihan nya, Claudia pun mulai meracik bumbu-bumbu dapur yang akan ia masak.
Tak butuh waktu lama, nasi goreng ala Claudia pun sudah selesai dan siap untuk di sajikan. Tak lupa juga, ia membuat beberapa cemilan ringan sebagai pelengkap hidangan nya.
Jamur Enoki crispy
Setelah semua masakan nya tertata rapi di atas meja makan, Claudia pun kembali di sibukkan dengan alat-alat dapur yang masih berserakan seperti kapal pecah.
Saat sedang asyik mengerjakan tugas nya, tiba-tiba ia di kejutkan dengan sepasang tangan yang melingkar indah di pinggang nya.
"Rajin bener sih, istri tercinta ku ini."
Hermawan berbisik manja di telinga Claudia, sambil mengecup leher jenjang nya. Bulu kuduk Claudia pun langsung meremang seketika. Ia bergidik ngeri saat mendengar bisikan gaib suami tua nya.
"Hiiiiii, kok tiba-tiba perasaan ku gak enak gini ya? Apa jangan-jangan, ada makhluk halus yang menempel di punggung ku," tebak nya asal.
Mendengar sindiran aneh Claudia, tawa Hermawan pun langsung pecah seketika. Ia merasa sangat lucu dengan candaan receh istri kecil nya tersebut.
"Hahahaha, dasar istri gak ada akhlak! Masa lelaki setampan ini di bilang makhluk halus sih? Aneh-aneh saja kamu!" umpat Hermawan sambil terus tergelak.
Claudia memutar bola mata malas mendengar kenarsisan Hermawan, lalu kembali melanjutkan pekerjaan nya.
Ia tidak menghiraukan tingkah suami nya, yang masih terus tertawa di belakang punggung nya.
Setelah puas mentertawai Claudia, Hermawan pun mengeratkan pelukannya dan menempelkan dagu nya di bahu Claudia. Ia kembali menggoda istri kesayangan nya dengan gombalan-gombalan maut nya.
"Sayang, kamu terlihat semakin seksi kalau sedang berkeringat seperti ini," bisik Hermawan lagi, sambil mengusap butiran keringat yang mengalir di leher Claudia dengan lidah nya.
"Iiiiihhh... Lepasin, Om! Geli tau gak?" rengek Claudia manja, sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman suami nya.
Bukan nya menghentikan kenakalan nya, Hermawan malah semakin menjadi-jadi dengan perbuatan nya. Ia kembali berbisik di telinga Claudia, sambil menempelkan kedua tangan nya di bukit kembar wanita muda itu.
"Om lagi pengen, sayang. Ayo, kita ke kamar sekarang! Om masih ingin melakukan nya lagi," seru Hermawan sembari menggigit-gigit manja daun telinga istri nya.
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya bestie. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favorit nya untuk mendukung karya tulis Author ya 🌺
__ADS_1