
"Gak usah senyum-senyum, serem tau!" cibir Hermawan ketus, lalu mematikan api rokok ke dalam asbak yang terletak di atas meja.
"Mana pula serem? Tambah ganteng sih iya, hahahaha..." gelak Jeky.
"Cih, pede sekali kamu!" umpat Hermawan berdecih, dan memutar bola mata malas melihat kenarsisan sekretaris pribadi nya itu.
Bukan nya merasa tersinggung dengan ucapan atasan nya, Jeky malah semakin tertawa dengan suara menggelegar.
"Huahahaha..."
Hermawan tidak menghiraukan tingkah Jeky, ia menyandarkan punggung di bahu sofa, dan meletakkan kedua telapak tangan di belakang kepala.
Hermawan memandangi langit-langit ruangan kerja itu dengan tatapan kosong. Ia kembali mengingat segala perbuatan yang sudah Nadia lakukan kepada nya, dan juga kepada istri tercinta nya.
"Nadia... Aku tidak akan pernah membiarkan mu mengusik ketenangan rumah tangga ku. Kalau kau masih nekat juga, maka jangan salahkan aku, kalau aku akan memberikan pelajaran berharga yang tidak akan bisa kau lupakan seumur hidup mu," batin Hermawan geram sambil mengeratkan rahang nya.
Melihat wajah serius Hermawan, Jeky pun langsung menghentikan tawa nya. Ia memandangi wajah atasan nya sambil mengernyitkan dahi.
"Ada apa lagi sih, Her? Kok muka mu kayak gelisah gitu? Masalah apa lagi yang sedang kau pikirkan, hm?" cecar Jeky.
Hermawan tidak menyahut. Ia hanya menoleh sekilas lalu membuang nafas kasar. Ia tampak gusar memikirkan tingkah mantan kekasih nya yang bernama Nadia itu.
Setelah beberapa saat merenung, Hermawan pun kembali bersuara.
"Aku belum bisa tenang, kalau wanita ular itu masih terus mengganggu ku dan juga istri ku," jawab Hermawan lirih.
"Kan sudah aku bilang, kau tidak usah khawatir soal Nadia. Biar dia menjadi urusan ku dan juga Arman. Kau cukup duduk manis saja di rumah, dan hidup berbahagia dengan istri cantik mu itu," tutur Jeky meyakinkan.
Hermawan menghela nafas panjang, lalu tersenyum tipis kepada Jeky. Ia merasa bangga dengan lelaki brewok itu yang bisa di andalkan dalam segala hal, termasuk menjaga ketenangan rumah tangga nya bersama Claudia.
"Oke lah, aku percayakan semua masalah ini pada mu. Tapi ingat, jangan pernah macam-macam dengan istri ku. Kalau tidak, nyawa mu yang akan menjadi taruhan nya, ingat itu baik-baik!" ancam Hermawan dengan penuh peringatan.
"Widiiiih... Sadis amat lu, bro! Masa sama temen sendiri pake ngancem-ngancem segala sih? Kau kira aku ini lelaki pebinor apa?" omel Jeky panjang lebar.
Merasa aneh dengan ucapan Jeky, Hermawan pun langsung menajamkan pandangan nya. Ia menatap manik mata lelaki itu dalam-dalam, lalu bertanya...
"Lelaki pebinor? Lelaki model apaan tuh?" selidik Hermawan bingung.
"Ya elah, bro. Masa gitu aja gak ngerti sih? Ndeso banget," umpat Jeky sembari memiringkan bibir nya.
"Bukan nya ndeso, tapi aku benar-benar gak tau," bantah Hermawan ketus lalu melipat kedua tangan di atas perut.
"Halah, alasan. Pebinor itu artinya, perebut bini orang, ngerti!" jawab Jeky.
__ADS_1
"Oooohhh, gitu..." balas Hermawan manggut-manggut.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa sadar hari sudah menjelang sore. Jeky menyimpan laptop dan alat-alat kerja lain nya ke dalam tas, lalu kembali menoleh ke arah Hermawan dengan tatapan heran.
"Heh, pengantin baru. Pulang sono gih! Udah sore nih, aku juga mau pulang ke rumah," seru Jeky sembari menyenggol bahu sahabat karib nya.
"Loh, kok pulang? Emang nya sudah jam berapa?" tanya Hermawan dengan kening mengkerut.
"Lihat tuh, sudah jam 5 sore!" jawab Jeky sambil menunjuk ke arah jam yang bertengger di dinding, yang berada tepat di depan mereka.
"Ayo, pulang! Atau kau masih mau disini sampai malam?" lanjut Jeky.
Ia mulai bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu keluar, sambil menenteng tas hitam di tangan kiri nya.
"Ogah," balas Hermawan lalu mengikuti langkah Jeky dari belakang. Mereka berdua terus berjalan sampai ke dalam lift.
Setibanya di lantai dasar, Jeky berjalan di belakang Hermawan sampai ke area parkir. Mereka berdua masuk ke dalam mobil, dan melajukan kendaraan nya menuju rumah masing-masing.
Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih setengah jam, Hermawan pun memarkirkan mobil nya ke dalam bagasi yang berada di sebelah kiri rumah nya.
Setelah itu, ia kembali mengayunkan langkah nya menuju pintu utama. Hermawan tidak mengetuk pintu, ia langsung nyelonong masuk ke dalam rumah, sambil mengucapkan salam...
Ceklek...
Claudia yang sedang sibuk membantu mbok Saripah untuk menyiapkan makan malam pun langsung menyahuti salam suami nya.
"Wa'laikum salam," jawab Claudia dengan suara melengking.
Ia cepat-cepat mencuci tangan, lalu berlari kecil menghampiri Hermawan. Claudia mencium punggung tangan suami nya dengan takzim, lalu tersenyum manis pada nya.
"Mau mandi, Om? Biar aku siap kan air hangat nya," tawar Claudia.
"Tidak usah, sayang. Om mandi pakai air dingin saja, biar segar."
"Oh, ya sudah kalau begitu," balas Claudia manggut-manggut, lalu berjalan beriringan menuju kamar mereka yang berada di lantai atas.
Sampai di dalam kamar, Hermawan langsung membuka seluruh pakaian nya, dan melemparkan nya ke dalam keranjang. Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi, dengan handuk yang melilit di pinggang nya.
Sedangkan Claudia, ia mulai sibuk mempersiapkan baju santai untuk Hermawan dan meletakkan nya di atas ranjang.
Sambil menunggu Hermawan selesai mandi, Claudia duduk melamun di tepi ranjang. Ia menatap wajah nya sendiri dari pantulan cermin meja rias yang berada tepat di depan nya.
"Bapak apa kabar nya ya? Jadi kangen," gumam nya lirih.
Claudia merenung tentang orang tua tunggal nya, yang tinggal sendirian di rumah masa kecil nya itu. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Roy dan berniat ingin menjenguk nya.
__ADS_1
"Kira-kira, Om Hermawan mau gak ya, kalau aku ajak ke rumah bapak?" lanjut nya ragu.
Claudia mengalihkan pandangan nya ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Ia sangat berharap jika suami tua nya itu mau di ajak ke rumah orang tua nya.
"Ah, coba saja lah. Siapa tau dia mau," tambah nya lagi.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi itu pun terbuka lebar. Hermawan melangkah keluar dengan rambut basah dan acak-acakan, serta handuk putih yang menutupi bagian terpenting nya.
Melihat wajah murung istri nya, Hermawan pun datang mendekat. Ia berdiri di depan Claudia dan sedikit membungkuk kan badan nya. Hermawan menyentuh dagu istri kecil nya itu, dan menatap manik mata nya dalam-dalam.
"Ada apa, sayang? Kenapa muka nya di tekuk gitu?" tanya Hermawan.
"Hmmmm, gak ada apa-apa, Om. Aku hanya teringat dengan bapak," jawab Claudia dengan mata berkaca-kaca.
Hermawan tersenyum tipis melihat kesedihan Claudia. Ia langsung duduk di samping wanita muda itu, lalu memeluk tubuh nya dari samping.
"Kalau kamu ingin bertemu dengan bapak mu, ayo bersiap lah! Kita akan berangkat kesana sekarang!" titah Hermawan.
"HAH... Beneran, Om?" teriak Claudia dengan mata membulat.
"Iya beneran, sayang. Ayo cepetan ganti baju nya, entar keburu Maghrib!" lanjut Hermawan melepas pelukan nya.
"Oke, Om." Claudia mengangguk lalu bergegas melangkah menuju lemari pakaian.
Ia langsung mengganti pakaian dan memoles wajah di depan cermin. Begitu pun dengan Hermawan, ia memakai pakaian yang sudah di sediakan Claudia lalu merapikan rambut nya.
Hermawan tersenyum manis saat melihat penampilan istri nya, yang masih tampak seperti anak ABG.
Karena merasa di perhatikan, Claudia pun langsung menoleh ke belakang, dan bertanya...
"Kenapa, Om? Kok senyum-senyum gitu? Apa ada yang aneh dengan ku?" tanya Claudia dengan alis yang saling bertautan, sambil memperhatikan penampilan nya sendiri dari atas sampai bawah.
"Gak ada yang aneh kok, sayang. Kamu malah kelihatan semakin cantik menggunakan baju itu," jawab Hermawan lalu melingkarkan kedua tangan nya ke pinggang Claudia.
Ia memeluk tubuh wanita itu, dan mendarat kan kecupan mesra di dahi nya. Claudia hanya tersenyum tipis mendengar pujian Hermawan, lalu membalas pelukan nya.
Setelah beberapa saat saling berpelukan, Hermawan pun mulai melepaskan tubuh Claudia, dan mengajak nya untuk segera berangkat ke rumah mertua nya Roy.
"Ayo, kita berangkat sekarang, sayang!" seru Hermawan.
"Oke, yok!" balas Claudia menganggukkan kepala dan mengambil tas kecil yang tergeletak di atas meja rias.
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya bestie.. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian sesudah membaca ya 🌺
__ADS_1