
🌺 Kembali ke rumah sakit 🌺
Selesai menghubungi Jeky, Hermawan menyimpan ponsel nya ke dalam saku, dan kembali duduk bersandar sambil memikirkan keadaan istri tercinta nya.
Ia mengusap wajah kasar dan sesekali menghela nafas berat. Begitu pun dengan Roy, ia juga tak kalah panik seperti yang di rasakan Hermawan.
Roy juga terlihat gusar sambil terus memandang ke arah pintu ruang UGD, tempat dimana anak kesayangan nya sedang bertaruh nyawa.
"Ya Allah, tolong selamatkan nyawa putri hamba, ya Allah. Amin amin ya rabbal a'lamin!" doa Roy dalam hati.
Tak lama kemudian, akhirnya pintu pun terbuka. Roy dan Hermawan langsung bergegas menghampiri sang Dokter untuk menanyakan tentang Claudia.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Hermawan.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Roy.
"Alhamdulillah, semua nya berjalan dengan lancar. Luka di kepala nya tidak terlalu parah dan sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap," jawab sang Dokter tersenyum tipis.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak ya, Dok! Kami sangat senang mendengar nya," ucap Roy dan Hermawan bersamaan.
Mereka berdua tersenyum sumringah, sambil mengusap air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata nya. Roy dan Hermawan tampak sangat bahagia, setelah mendengar penuturan sang Dokter.
"Bapak-bapak, berterima kasih lah kepada sang maha pencipta. Karena, dia lah yang menentukan segala nya. Saya hanya sebagai perantara saja," ucap sang Dokter.
Tak lama berselang, beberapa perawat pun keluar sambil mendorong sebuah berangkar. Tampak lah Claudia sedang terbaring lemah di atas nya dengan mata terpejam dan balutan perban di kepala nya.
Roy, Hermawan, dan sang Dokter pun mengikuti langkah para perawat itu sampai ke dalam sebuah kamar rawat inap.
Setelah memindahkan Claudia dan memasang alat-alat medis ke tubuh nya, sang Dokter pun pamit undur diri.
"Bapak-bapak, saya pamit keluar dulu ya! Kalau ada apa-apa, bapak bisa menghubungi saya dengan memencet tombol ini," ucap sang Dokter sambil menunjuk tombol merah yang ada di samping berangkar.
"Baik, Dok!" ucap Hermawan mengangguk.
__ADS_1
Selesai berpamitan, sang Dokter pun melangkah keluar dan di ikuti oleh para perawat wanita di belakang nya. Setelah kepergian sang Dokter, Hermawan langsung duduk di atas kursi plastik, lalu menggenggam erat jari-jemari Claudia.
Sedangkan Roy, ia hanya berdiri sambil terus memandangi wajah pucat anak kesayangan nya dengan tatapan sendu.
Suasana hening seketika. Mereka berdua sibuk dengan lamunan dan pikiran masing-masing. Beberapa menit kemudian, Roy pun mulai membuka suara dan melontarkan beberapa pertanyaan kepada menantu nya.
"Her, kira-kira kamu tahu tidak, siapa dalang di balik kecelakaan ini?" tanya Roy mengalihkan pandangan nya kepada Hermawan.
"Tidak, aku tidak tahu. Tapi aku sudah menyuruh Jeky untuk menyelidiki nya," bohong Hermawan.
Ia tidak ingin membuat Roy semakin khawatir, jika ternyata dugaan nya benar tentang Nadia. Hermawan mengalihkan perhatian nya kembali kepada Claudia, dan sesekali mengecup punggung tangan nya.
"Apa jangan-jangan, ini semua ulah saingan bisnis mu?" tebak Roy menduga-duga.
"Entah lah, aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti nya, aku tidak akan membiarkan orang yang sudah menyakiti istri ku, bisa hidup tenang di luaran sana!" jawab Hermawan.
Hermawan mengeraskan rahang dan memasang wajah horor. Ia tampak begitu murka atas apa yang sudah menimpa Claudia, istri yang sangat di cintai nya itu.
"Ya, aku percaya kalau kau akan secepatnya menemukan orang itu, dan memberikan pelajaran berharga kepada nya." Roy menepuk bahu Hermawan dan memberikan semangat kepada nya.
Setibanya di lokasi, Jeky pun memarkirkan mobil di bahu jalan, lalu mengedarkan pandangan nya ke sekitaran tempat kejadian.
"Gimana cara nyelidiki nya, kalau tempat nya sepi kayak kuburan gini?" gumam Jeky bingung sambil terus mengamati keadaan sekeliling nya.
Saat pandangan mata nya tertuju ke arah pemakaman umum yang berada tidak jauh dari tempat nya saat ini, Jeky pun langsung terlonjak kaget dengan mata membulat.
"Astaga...! Ternyata memang ada kuburan, pantesan aja suasana sepi kayak gini. Bikin serem aja, hiiiiii..." lanjut nya sembari bergidik ngeri, saat melihat beberapa pohon beringin yang berukuran sangat besar di area pemakaman umum tersebut.
"Siang aja sepi nya kayak gini, apa lagi malam ya? Pasti banyak Mak kunti bergelantungan di atas pohon itu. Loh, kok aku tiba-tiba jadi merinding gini sih? Hiiiiii, horor banget!" gumam Jeky sambil mengusap kasar kedua lengan serta tengkuk leher yang mulai meremang.
Saat sedang sibuk bergelut dengan isi kepala nya, tiba-tiba Jeky di kejutkan dengan kehadiran Arman dan dua orang teman nya, yang sudah berdiri tegak di depan kaca mobil sebelah kiri.
"Eh, hantu beranak, eh ada hantu..." latah Jeky dengan mata terbelalak lebar dan jantung berdegup kencang.
__ADS_1
Mendengar Jeky ucapan Jeky, tawa mereka pun langsung pecah seketika. Arman tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut nya. Begitu pun dengan kedua teman nya. Mereka juga ikut mentertawai Jeky, karena merasa lucu melihat keterkejutan nya.
"Hahahaha... Dasar penakut! Mana ada hantu berkeliaran siang bolong begini? Aneh-aneh aja nih bocah, hahahaha...!" ledek Arman.
"Hufff, kalian ini apa-apaan sih? Bukan nya ngucapin salam kek, atau ngasih kode kek. Ini enggak, malah main nyelonong gitu aja," umpat Jeky.
"Untung aja jantung ku gak copot akibat ulah kalian semua," lanjut Jeky ketus.
Lelaki brewok itu membuang nafas kasar dan memasang wajah masam. Ia tampak sangat kesal dengan tingkah Arman dan teman-teman nya, yang sudah berhasil membuat dada nya dag-dig-dug tidak karuan.
"Yeeee, kok malah nyalahin kami sih? Kan kau sendiri yang melamun, kenapa jadi kami yang di salahkan? Aneh banget," balas Arman tak mau kalah.
Lagi... Jeky menghela nafas panjang dan menatap sinis ke arah Arman. Ia terlihat semakin kesal dengan perkataan lelaki bertubuh atletis yang ada di samping nya.
Karena tidak ingin memperpanjang masalah, akhirnya Jeky pun terpaksa mengalah dan mulai keluar dari kendaraan roda empat nya. Ia berdiri bersandar di samping mobil hitam milik nya, lalu memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku celana.
"Ya sudah lupakan saja! Jadi gimana, apakah kalian mau membantu ku untuk menyelidiki masalah ini?" tanya Jeky dengan wajah serius.
"Ya, kami mau. Tapi jangan lupa, bonus nya di tambahin, hehehe..." ucap Arman terkekeh dan di sambut anggukan kepala oleh kedua teman nya.
"Kalau masalah itu, kalian tidak usah khawatir, pasti aku tambahin kok. Yang penting kasus ini harus cepat selesai, dan pelaku nya juga harus segera di tangkap!" balas Jeky.
"Kenapa tidak lapor polisi saja? Biar mereka yang menangani kasus ini?" tanya Arman penasaran.
"Bos Hermawan tidak melapor ke polisi, karena dia ingin menghukum si pelaku dengan tangan nya sendiri," jawab Jeky.
"Ooohhhh, gitu!" ucap Arman dan kedua teman nya sambil manggut-manggut.
Arman mulai mengedarkan pandangan nya ke sisi jalan, dan mengamati keadaan sekitar. Ia menautkan kedua alis, saat melihat tidak ada satu rumah pun yang ada di sekitaran tempat kejadian. Kecuali seorang nenek tua si penjual bunga, yang berada di seberang jalan.
"Tempat nya sepi begini, gimana cara nyelidiki nya?" gumam Arman.
"Iya bener, aku juga bingung bagaimana cara memecahkan masalah ini? Gak ada cctv, dan juga gak ada saksi mata, kecuali nenek penjual bunga itu!" sambung Jeky membenarkan ucapan Arman, sambil menunjuk ke arah tempat penjual bunga.
__ADS_1
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan favorit nya untuk mendukung karya Author ya 🌺