
Claudia membelalakkan mata lebar-lebar. Detak jantung nya semakin berdegup kencang. Tangan dan kaki nya juga ikut gemetaran, akibat mendengar pertanyaan Hermawan.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Jujur, aku belum siap untuk melakukan hal itu dengan nya," batin Claudia mulai cemas.
Claudia menunduk sambil memilin-milin gaun yang masih di kenakan nya. Ia gugup sekaligus bingung, harus menjawab apa kepada Hermawan.
"Bagaimana Claudia? Apakah kamu sudah siap?" tanya Hermawan mengulang pertanyaan nya.
"Be-belum, Om. A-aku belum siap untuk melakukan nya," jawab Claudia gugup sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Hermawan menghela nafas berat mendengar jawaban Claudia yang tidak sesuai dengan keinginan nya. Lelaki gagah itu tampak sangat kecewa, karena tidak bisa mendapatkan hak nya sebagai seorang suami.
Tidak ingin memaksakan kehendak, Hermawan pun akhirnya mengalah. Ia memaklumi keadaan Claudia, yang mungkin masih canggung dan takut dengan nya.
Dengan berat hati, Hermawan pun menerima penolakan Claudia dan kembali mendudukkan diri di tepi ranjang.
"Baik lah, Om tidak akan memaksamu untuk melakukan nya malam ini. Tapi, satu hal yang harus kamu tau, Claudia. Kamu akan terus berdosa, jika menolak kewajiban mu sebagai istri, pikirkan itu baik-baik!" tutur Hermawan.
Claudia termenung sejenak. Ia memikirkan perkataan Hermawan yang benar ada nya.
"Iya, ada bener nya juga sih apa yang di katakan om Hermawan tadi. Tapi mau bagaimana lagi? Aku memang benar-benar belum siap untuk melakukan nya. Haduuuh, bagaimana ini? Bikin pusing kepala ku saja," gerutu Claudia dalam hati.
Setelah beberapa saat berperang dengan isi kepala, Claudia pun akhirnya membuka percakapan kembali. Ia mendongak lalu menatap wajah datar Hermawan, dan berkata...
"Maafkan aku ya, Om. Untuk saat ini, aku belum siap untuk melakukan nya. Tapi aku janji, cepat atau lambat aku pasti akan memenuhi kewajiban ku itu," tutur Claudia dengan mimik wajah serius.
"Ya, Om mengerti dengan maksud perkataan mu. Om akan menunggu sampai kamu siap dengan sendirinya." Hermawan berusaha tersenyum walau hanya sekilas.
"Ya sudah, lupakan saja masalah itu! Kamu pasti capek kan?" tanya Hermawan yang di balas anggukan oleh Claudia.
"Sekarang, ganti pakaian mu, istirahat lah!" lanjut Hermawan lalu melepas jas dan kemeja nya.
Hermawan mengganti pakaian nya dengan kaos oblong dan celana pendek, yang sudah di sediakan oleh Roy di dalam lemari pakaian Claudia.
__ADS_1
Gadis cantik itu langsung menutup wajah dan membalikkan badan nya, ketika melihat lelaki yang ada di depan nya sedang berganti pakaian.
"Kenapa kamu belum juga mengganti gaun mu? Apakah kamu membutuhkan bantuan Om untuk membuka nya?" tanya Hermawan.
"Ti-tidak, Om. Aku bisa membuka nya sendiri."
Claudia menjawab tanpa menoleh ke arah sumber suara. Dengan sedikit kesusahan, gadis itu bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian nya.
Beberapa menit kemudian, Claudia pun melangkah keluar dengan memakai setelan piyama berlengan panjang. Ia duduk di depan cermin meja rias, dan mulai merapikan rambut serta wajah nya.
Setelah selesai, gadis itu celingukan kesana kesini dengan tatapan bingung. Ia memandangi Hermawan yang sudah berbaring telentang di atas ranjang milik nya.
"Kalau dia tidur disitu, trus aku tidur dimana? Masa iya, harus tidur bareng disitu? Trus kalau nanti dia khilaf, gimana dong?" batin Claudia mulai bingung.
Di tengah kegalauan melanda hati nya, tiba-tiba terdengar suara Hermawan memanggil nya untuk naik ke atas ranjang.
"Kenapa masih duduk di situ? Kemari lah!" seru Hermawan melambaikan tangan ke arah Claudia.
Claudia masih tetap diam di tempat duduk nya. Ia terus memandang ke arah Hermawan dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
"Kamu tidak usah khawatir, Claudia. Om janji, Om nggak akan berbuat yang tidak-tidak dengan mu, percaya lah!" tutur Hermawan berusaha meyakinkan Claudia.
Claudia langsung tersenyum mendengar penuturan Hermawan. Ia mulai bangkit dari kursi dan merangkak naik ke atas ranjang. Sebelum membaringkan diri, Claudia menoleh ke arah Hermawan lalu mengulurkan jari kelingking nya.
"Janji ya, Om. Kalau Om nggak akan macam-macam dengan ku?" ucap Claudia.
"Ya, Om janji."
Dengan wajah datar seperti papan triplek, Hermawan pun juga ikut mengulurkan jari kelingking nya, lalu mengeratkan jari itu ke jari Claudia.
"Hufff, syukur lah. Akhirnya dia bisa mengerti juga," batin nya lega.
__ADS_1
Gadis itu kembali tersenyum, melihat wajah dingin lelaki yang bergelar suami nya tersebut.
"Dasar, beruang kutub! Muka kok nggak ada senyum-senyum nya dikit pun. Kamu banget," umpat Claudia dalam hati.
"Nggak usah ngedumel. Kedengaran tau," sindir Hermawan sembari melirik dengan ekor mata nya.
"Hah, masa sih Om?" tanya Claudia dengan mata membulat. Ia tampak sangat terkejut dan syok, mendengar pengakuan Hermawan.
"Ya, Om bisa mendengar semua isi hati mu itu. Termasuk umpatan mu tadi," bohong Hermawan.
Ia sengaja membohongi Claudia, agar istri kecil nya itu tidak berpikiran yang aneh-aneh lagi dengan nya.
"Ah, masa iya sih dia bisa mendengar kata hati ku? Apa jangan-jangan, dia punya indera keenam ya? Atau mungkin, dia keturunan dukun? Au ah, pusing!"
Claudia kembali membatin sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia terlihat kebingungan dengan pikiran dan isi kepala nya sendiri.
Hermawan hanya tersenyum miring, melihat tingkah aneh Claudia yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Setelah saling mengikat janji, Hermawan pun mulai memiringkan tubuh nya dan memeluk guling. Ia membiarkan Claudia begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Sabar ya, ntong! Sarang mu belum siap untuk kita masuki. Nanti kalau dia sudah siap, kita akan gempur dia habis-habisan, hahahaha!" gelak Hermawan dalam hati.
Selesai memberi pengertian kepada tongkat sakti nya, Hermawan pun mulai memejamkan mata. Tak lama kemudian, ia pun terlelap dan masuk ke alam bawah sadar nya.
Melihat Hermawan sudah tidak sadarkan diri, Claudia pun menghembuskan nafas kasar dan terus memandangi punggung suami nya dengan tatapan kesal.
"Huuuuu, dasar kebo! Baru aja selesai ngomong. Eeehh, udah langsung molor!" umpat Claudia kesal.
Dengan perasaan dongkol karena di tinggal tidur oleh Hermawan, Claudia mulai merebahkan tubuh lelah nya. Sesudah membaca doa sebelum tidur, ia pun memeluk guling lalu memejamkan mata perlahan.
Tak lama berselang, gadis itu pun menyusul Hermawan ke alam mimpi dengan posisi miring menghadap tembok.
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman, jangan lupa tinggalkan jejak sesudah membaca ya 🥰🌺
__ADS_1