
Selesai membersihkan diri, Marcho keluar dari kamar mandi dengan wajah fresh dan segar. Ia kembali mendekati Nadia yang masih anteng duduk di tepi ranjang, dengan handuk yang melilit di pinggang.
Visual : Marcho / kekasih Nadia.
Usia : 37 tahun
"Ada apa, sayang? Kenapa kamu melamun terus dari tadi?" tanya Marcho lalu mendudukkan diri di sebelah Nadia.
"Tidak ada apa-apa, beib. Aku hanya sedikit lelah saja," bohong Nadia lalu tersenyum manis kepada Marcho.
"Beneran?" selidik Marcho sedikit mencondongkan wajah nya ke arah Nadia.
"Iya beneran, beib. Kamu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja kok," lanjut Nadia berusaha meyakinkan Marcho bahwa diri nya dalam keadaan baik-baik saja.
"Oh, ya sudah kalau gitu."
Marcho beranjak dari tempat duduk nya, untuk mengambil pakaian yang tergantung di samping lemari pakaian lalu memakai nya. Setelah selesai, ia berpamitan kepada Nadia untuk kembali bekerja.
"Sayang, aku balik ke kantor dulu ya! Nanti malam aku kesini lagi," ucap Marcho sembari memberikan kecupan mesra di dahi Nadia.
"Oke, hati-hati di jalan ya, beib." Nadia kembali tersenyum dan mengangguk.
"Oke, sayang." Marcho membalas senyuman Nadia lalu melangkah keluar dari apartemen mewah tersebut.
Lagi... Nadia termangu menatap kepergian Marcho. Setelah bayangan lelaki bule itu hilang dari balik pintu, Nadia pun kembali merebahkan tubuh lelah nya di atas ranjang.
Ia menatap langit-langit kamar dan kembali mengingat tentang Hermawan, mantan kekasih yang amat di cintai nya.
"Hermawan, aku mencintaimu. Saaangat mencintaimu," gumam Nadia lalu mulai memejamkan mata perlahan.
Tak butuh waktu lama, wanita itu pun tertidur lelap dan masuk ke alam bawah sadar nya.
🌺 Kembali ke kediaman Hermawan 🌺
Tepat jam 12 siang, Hermawan segera merapikan meja lalu melangkah keluar dari ruangan kerja nya. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba terdengar suara Jeky memanggil nya.
"Her, mau kemana?" tanya Jeky sembari melangkah terburu-buru mendekati nya.
"Pulang," jawab Hermawan dingin lalu kembali melanjutkan langkah nya menuju lift.
"Oh, ya sudah kalo gitu." Jeky mengikuti langkah Hermawan dari belakang, dan ikut masuk ke dalam boks besi tersebut.
Sampai di lantai dasar, Hermawan dan Jeky berpisah dan melangkah ke arah yang berlawanan. Hermawan berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu keluar, Sedang kan Jeky berjalan ke arah kantin kantor untuk makan siang.
Setibanya di halaman kantor, Hermawan segera masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan nya menuju arah kediaman nya.
Sesampainya di depan rumah, Hermawan bergegas keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah cepat masuk ke dalam rumah. Lelaki itu terus mengayunkan langkah nya sampai ke lantai atas, tempat dimana kamar nya berada.
__ADS_1
Hermawan langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ceklek...
"Kamu sudah siap, sayang?" tanya Hermawan sembari meletakkan tas kerja nya di atas meja.
Claudia yang sedang duduk di depan meja rias pun langsung menoleh, saat mendengar pertanyaan suami nya.
"Sudah, Om."
Claudia mengangguk lalu segera bangkit dari kursi. Ia mendekati Hermawan lalu mencium punggung tangan nya takzim. Begitu pun dengan Hermawan, ia memeluk tubuh ramping Claudia lalu memberikan kecupan hangat di dahi wanita muda tersebut.
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang!" ujar Hermawan mulai melepaskan pelukan nya, dan menggenggam tangan Claudia keluar dari kamar.
"Oke, Om."
Claudia menurut lalu berjalan beriringan menuju ke lantai dasar. Setibanya di meja makan, Claudia meminta mbok Saripah untuk membungkus makanan yang sudah terhidang di atas meja, untuk di bawa ke rumah bapak nya Roy.
"Mbok, tolong bungkus kan semua makanan ini ya! Saya mau ke rumah bapak, mau makan siang di sana," pinta Claudia.
"Baik, Non."
Mbok Saripah mengangguk lalu bergegas membungkus semua makanan yang sudah ia siap kan di atas meja. Setelah selesai, mbok Saripah menyerahkan bungkusan itu ke tangan Claudia, lalu berkata...
"Ini makanan nya, Non!" ucap mbok Saripah.
Ia mencium punggung tangan mbok Saripah, dan kembali melangkah bersama Hermawan menuju pintu utama.
"Sama-sama, Non." Mbok Saripah tersenyum dan memandangi kepergian kedua majikan nya dengan tatapan sendu.
"Semoga saja hubungan kalian berdua langgeng sampai maut yang memisahkan, amin amin ya rabbal a'lamin," gumam mbok Saripah lalu kembali ke dalam dapur dan melanjutkan aktivitas nya.
Setelah memasang sealbeat ke tubuh masing-masing, Hermawan pun langsung tancap gas menuju ke kediaman Roy, bapak mertua sekaligus sahabat nya tersebut.
Tak butuh waktu lama, mereka berdua pun sudah tiba di depan halaman rumah sang mertua. Dengan senyum sumringah, Claudia pun segera keluar dari mobil sambil menenteng bungkusan makanan di tangan nya.
Penampakan rumah Roy
Begitu pula dengan Hermawan, ia juga ikut keluar dari mobil dan mengekori langkah Claudia dari belakang.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum, Pak!" salam Claudia sembari mengetuk-ngetuk pintu rumah masa kecil nya.
Hening...
Tidak ada sahutan dari dalam rumah bertingkat dua tersebut. Suasana tampak sunyi senyap seperti layak nya kuburan di malam hari. Claudia dan Hermawan saling pandang-pandangan, lalu berkata...
__ADS_1
"Coba ketuk lagi! Siapa tahu dia lagi molor di kamar nya?" usul Hermawan.
"Oke," jawab Claudia menyetujui usulan suami nya.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum, Pak! Bapak buka pintu nya! Ini Claudia datang sama om Hermawan," pekik Claudia dengan volume yang cukup kuat.
Tak lama kemudian, terdengar suara Roy menyahuti teriakan putri nya.
"Ya, tunggu bentar!" pekik Roy lalu membuka pintu rumah nya.
Setelah pintu terbuka lebar, Mata Roy pun langsung berkaca-kaca ketika melihat anak semata wayangnya sudah berdiri tegak di hadapan nya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Claudia pun langsung berhambur ke dalam pelukan bapak kandung nya.
"Pak, Claudia kangen sama bapak, hiks hiks hiks..." ucap Claudia sembari terisak.
"Sama, nak. Bapak juga kangen banget dengan mu. Rumah ini terasa hampa tanpa kehadiran mu, sayang."
Roy memeluk erat tubuh Claudia, dan membelai rambut pirang nya dengan penuh kasih sayang.
Melihat mertua dan istri nya saling berpelukan, Hermawan pun langsung memasang wajah masam. Ia terlihat cemburu dengan kedekatan anak dan bapak yang ada di depan nya.
"Ekhem... ekhem..." Hermawan berdehem untuk mengalihkan perhatian Claudia dan Roy.
Mendengar suara Hermawan, mereka berdua pun langsung tersadar dan mulai merenggang kan pelukan masing-masing.
"Udah udah, jangan pelukan terus! Risih aku lihat nya," sindir Hermawan ketus.
Tawa Roy pun langsung pecah seketika, saat mendengar sindiran pedas dari menantu nya.
"Hahahaha... Ternyata ada yang cemburu nih," ledek Roy.
"Bukan nya cemburu, tapi risih, paham!" tegas Hermawan.
"Halah, alasan. Bilang saja kau cemburu dengan ku, ya kan?" balas Roy sembari tersenyum miring meledek lelaki yang ada di depan nya.
"Cih, siapa juga yang cemburu dengan lelaki tua seperti mu? Kurang kerjaan banget," balas Hermawan tak mau kalah.
Lagi... Roy tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Hermawan.
"Hahahaha... Tua-tua gini, aku tetap lah mertua mu, ingat itu baik-baik!" ucap Roy kembali mengingatkan Hermawan akan status nya.
"Iya aku ingat, bapak mertua yang tersayang," cibir Hermawan sembari memutar bola mata malas.
"Naaah, gitu dong! Itu baru nama nya menantu yang baik, hahahaha..." lanjut Roy kembali mentertawai Hermawan.
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favorit nya setelah membaca ya 🌺
__ADS_1