
"Aaaaaaaaaa...!" pekik Claudia histeris.
Mendengar teriakan kuat Claudia, Hermawan yang sedang berbaring pun langsung terlonjak kaget, dan bergegas bangkit dari ranjang.
"Ada apa, sayang? Kenapa kamu teriak-teriak gitu? Sudah kayak Tarzan di hutan saja," ucap Hermawan asal.
"I-ini darah apa, Om?" tanya Claudia dengan wajah panik, sambil menunjuk ke arah pangkal paha nya.
Hermawan mengikuti arah telunjuk Claudia, dan melihat bercak darah yang belepotan di sekitaran area pribadi nya.
Bukan nya ikut panik melihat keadaan Claudia, Hermawan malah tersenyum manis lalu berkata...
"Kamu tidak usah takut, itu hanya darah kesucian mu," jelas Hermawan.
"Oooohhh, gitu." Claudia manggut-manggut mengerti akan maksud perkataan suami nya.
"Maafkan Om ya, sayang. Om tidak bisa menahan diri lebih lama lagi," ucap Hermawan dengan penuh penyesalan.
Selesai berucap, ia pun langsung memeluk tubuh Claudia dan mendaratkan kecupan mesra nya di pipi wanita itu.
Mendapat perlakuan hangat dari suaminya, Claudia pun hanya pasrah dan membiarkan Hermawan melakukan apa pun kepada nya.
"Ya, gak papa, Om. Semua nya sudah terlanjur terjadi, dan aku juga sudah mengikhlaskan nya." Claudia mengangguk lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Hermawan.
Mendengar penuturan Claudia yang sudah memasrahkan diri nya, Hermawan pun langsung tersenyum sumringah, dan semakin mempererat pelukannya kepada istri kecil nya tersebut.
"Makasih ya, sayang. Akhirnya kamu mengerti juga dengan kebutuhan Om," ucap Hermawan girang.
"Iya, sama-sama, Om."
Claudia tersenyum lalu melingkar kan kedua tangan nya di pinggang sixpack Hermawan, dan membalas pelukan nya.
Setelah beberapa saat hening, Hermawan pun mulai merenggang kan pelukan nya, dan mengajak Claudia untuk segera membersihkan diri ke kamar mandi.
"Ayo kita mandi, sayang!" seru Hermawan.
"Ya, ayo!" jawab Claudia mengangguk.
Saat hendak turun dari ranjang, tiba-tiba...
"Aaaaaa..." Ia kembali berteriak karena terkejut dengan tingkah Hermawan yang secara tiba-tiba mengangkat tubuh nya dari ranjang.
"Aduh, Om! Bikin kaget saja kerjaan nya," gerutu Claudia lalu melingkarkan kedua tangan nya di leher Hermawan.
Melihat keterkejutan Claudia, tawa Hermawan pun langsung pecah seketika.
"Hahahaha..."
Sampai di kamar mandi, Hermawan segera menurunkan Claudia ke dalam bathtub yang sudah berisi air. Setelah itu, ia pun ikut masuk ke dalam nya dan duduk di belakang Claudia.
"Om bantu bersihin ya, sayang!" ucap Hermawan.
Ia merentangkan tangan untuk mengambil sabun cair yang tergantung di sebelah nya, lalu mulai menyabuni punggung Claudia dengan lembut.
"Ya, Om. Silahkan saja!" jawab Claudia kembali menganggukkan kepala.
Saat hendak menyabuni leher jenjang Claudia, Hermawan pun menelan ludah dengan kasar.
__ADS_1
Glek...
Ia kembali bergairah dan ingin mengulang pergumulan panas itu kembali. Namun dengan berat hati, ia pun harus mengubur keinginan itu dalam-dalam.
Hermawan merasa iba dan tidak tega melihat keadaan istri nya yang tampak sudah lemas, akibat melayani hasrat nya sebanyak dua kali berturut-turut.
"Haduuuh, kok jadi deg-degan gini sih? Masa cuma nyabuni gini aja langsung nyetrum sih? Aneh banget," gerutu Hermawan dalam hati.
Karena tidak ingin tergoda dengan pemandangan yang ada di depan nya, Hermawan pun akhirnya menutup mata dan berusaha untuk menahan diri, agar tidak terpengaruh oleh hasutan setan yang terus-menerus berbisik di telinga nya.
"Ayo, Hermawan! Tunggu apa lagi? Gempur saja istri mu itu, agar dia semakin luluh dan tergila-gila dengan kegagahan mu," bisik si setan.
Dengan mata yang masih terpejam, Hermawan pun menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. Ia berusaha menepis hasutan setan yang terus saja terngiang-ngiang di kedua telinga nya.
"Tidak, aku tidak akan melakukan nya lagi," gumam Hermawan pelan, namun masih bisa terdengar oleh telinga Claudia.
"HAH... Ngomong apa, Om?" tanya Claudia membalikkan badan, dan menatap heran ke arah suaminya.
Hermawan yang sedang asyik bergelut dengan isi kepala nya pun langsung membuka mata, ketika mendengar pertanyaan Claudia.
Ia langsung gelagapan, karena sudah ketahuan oleh si empunya badan.
"Eh, itu anu..."
"Aduuuuh, ini mulut kok receh banget sih! Jadi ketahuan kan sekarang jadi nya," umpat Hermawan kesal sambil menepuk-nepuk pelan bibir nya sendiri.
Claudia tersenyum geli melihat aksi kocak suami nya. Ia sama sekali tidak menduga jika lelaki tua yang super duper dingin itu, bisa bertingkah konyol seperti ini di depan nya.
Ia tertawa terbahak-bahak melihat wajah Hermawan yang tampak lucu menurut nya.
"Hahahaha... Om ini sebenarnya kenapa sih? Kok muka nya aneh gitu?" tanya Claudia sambil terus mentertawai suami nya.
"Muka Om kan memang sudah begini dari sono nya, gak bisa di rubah-rubah lagi, hehehehe..." lanjut Hermawan nyengir kuda.
"Hmmmm, iya juga sih. Muka Om memang sudah setelan pabrik, jadi tidak bisa di download dengan bentuk yang lain lagi, hihihi..." ledek Claudia sembari terkikik geli.
"Naaah, tu tau! Ya sudah, tidak usah di bahas lagi. Sekarang kita lanjutin lagi mandi nya ya, siap tu kita jalan-jalan ke luar. Gimana, kamu mau kan?" tanya Hermawan lalu melanjutkan kegiatan nya kembali.
"Oke, Om." Claudia kembali mengangguk dengan senyum mengembang.
Setelah melewati drama yang cukup panjang, akhirnya mereka berdua pun melanjutkan ritual mandi nya kembali. Setelah selesai, Hermawan dan Claudia kembali berpakaian dan merapikan diri masing-masing.
Penampilan Hermawan tampak santai, dengan setelan baju kemeja dan celana jeans panjang yang menutupi tubuh nya.
Begitu pun sebaliknya, Claudia terlihat sangat cantik dengan baju hitam tanpa lengan, yang melekat di tubuh ramping nya.
Hermawan yang sedang duduk di kursi pun tampak sangat terpana melihat penampilan Claudia. Ia menopangkan dagu, sambil terus memandangi kecantikan istri nya.
Selesai memakai sepatu kets dan menyilangkan tas kecil di badan nya, Claudia pun melangkah menghampiri Hermawan.
"Ayo Om, kita berangkat sekarang!" ajak Claudia sambil menarik lengan Hermawan.
"Oke, ayo!" jawab Hermawan lalu segera bangkit dari kursi, dan berjalan beriringan keluar dari kamar.
__ADS_1
Sampai di lantai bawah, mereka berdua pun berpapasan dengan mbok Saripah, yang tampak sedang sibuk membersihkan ruangan tengah.
"Mbok, kami keluar dulu ya!" pamit Claudia lalu mencium punggung tangan wanita tua itu dengan takzim.
Hermawan hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah laku istri nya.
"Baik, Non. Hati-hati di jalan ya, Non, Pak!" balas mbok Saripah sembari tersenyum.
Mbok Saripah tampak sangat bahagia dan tersanjung, melihat perlakuan Claudia yang begitu menghormati nya.
Ya, walaupun status nya hanya sebagai ART, namun majikan muda nya itu sama sekali tidak menganggap nya sebagai pekerja di rumah itu. Melainkan, menganggap nya sebagai orang tua nya sendiri.
"Ya, mbok. Terima kasih atas perhatiannya. Ya sudah, kami berangkat dulu ya, mbok. Assalamualaikum," pamit Claudia lagi lalu kembali menggandeng lengan Hermawan.
"Ya, Non. Wa'laikum salam," balas mbok Saripah mengangguk dan melanjutkan pekerjaan nya kembali.
Selesai berpamitan, mereka berdua pun kembali melangkah dan keluar dari rumah. Setibanya di garasi, Hermawan dan Claudia pun langsung masuk ke dalam mobil, lalu memasang sabuk pengaman ke tubuh masing-masing.
"Sudah selesai, sayang?" tanya Hermawan sembari menyalakan mesin kendaraan nya.
"Sudah, Om." Claudia menoleh lalu menganggukkan kepala.
Hermawan tersenyum tipis, lalu menjalankan mobil nya dengan kecepatan sedang, menuju salah satu restoran seafood yang cukup terkenal di kota tersebut.
Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih setengah jam, Hermawan pun mulai menghentikan laju kendaraan nya di halaman parkir yang sudah tersedia.
Sesudah memarkirkan mobil, mereka berdua segera membuka sealbeat dan keluar dari kendaraan roda empat itu.
Hermawan menggenggam tangan Claudia dengan erat, lalu mengajak nya untuk masuk ke dalam restoran.
Setelah mendapatkan tempat yang kosong, Hermawan dan Claudia pun duduk berdampingan. Tak lama kemudian, seorang pelayan wanita datang menghampiri mereka berdua, sambil membawa buku menu di tangan nya.
"Silahkan, mbak, mas!" ucap si pelayan dengan ramah, sambil menyerahkan buku dua menu ke atas meja.
"Oke, bentar ya, kak! Kami lihat-lihat dulu," balas Claudia lalu mengambil salah satu buku menu itu dan membuka nya.
"Baik, mbak."
Pelayan itu mengangguk dan berdiri di samping Claudia, sambil menunggu pesanan mereka.
"Om, kita mau makan apa?" tanya Claudia sambil membolak-balik kan buku menu di tangan nya.
"Terserah kamu, sayang. Om ngikut saja," jawab Hermawan.
"Oh, oke lah," balas Claudia.
Setelah itu, ia pun beralih kepada pelayan yang masih setia menunggu pesanan nya.
"Kak, saya pesan ini, ini dan ini ya!" ucap Claudia sambil menunjuk beberapa gambar di dalam buku menu tersebut.
"Oke siap, di tunggu ya, mbak!" balas si pelayan lalu pergi meninggalkan meja mereka.
"Oke, kak," jawab Claudia.
Setelah pelayan itu pergi, Hermawan pun kembali memusatkan pandangan nya kepada Claudia yang tampak sedang asyik mengotak-atik ponsel nya.
Saat Hermawan hendak membuka percakapan, tiba-tiba hal yang tidak terduga pun terjadi.
__ADS_1
"Hai, sayang! Apa kabar?" ucap seorang wanita seksi, sambil merangkul pundak Hermawan dengan mesra.
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya 🌺