
๐บ Flashback On ๐บ
Setelah masuk ke dalam kamar, Hermawan langsung mengambil ponsel dari saku celana dan mencari nomor kontak Jeky. Setelah mendapatkan nya, Hermawan pun segera menghubungi sekretaris pribadi nya tersebut.
Tut... Tut...Tut...
Tak lama kemudian, panggilan itu pun tersambung.
"Ya halo, ada apa, Her?" tanya Jeky langsung to do point.
"Ada tugas untuk mu," jawab Hermawan dingin.
"Tugas? Soal apa?" tanya Jeky penasaran.
"Soal Nadia. Tolong kau cari informasi tentang wanita gila itu, sebelum dia menjadi bom penghancur untuk rumah tangga ku," jawab Hermawan sambil mengepalkan tangan nya.
"Bom penghancur? Maksud nya gimana sih? Aku gak ngerti," selidik Jeky sambil mengernyitkan dahi nya.
"Dia akan menjadi perusak rumah tangga ku, jika tidak segera di lumpuhkan," jelas Hermawan.
"Ooohhh, gitu." Jeky manggut-manggut sambil terus mendengarkan perkataan atasan nya.
"Jadi, tolong kau cari tahu dimana tempat tinggal nya, dan juga apa saja kegiatan nya sehari-hari. Bila perlu, sewa beberapa orang untuk mengintai pergerakan nya, mengerti!" tegas Hermawan memberi perintah kepada Jeky.
"Oke, kamu tenang saja! Beberapa jam lagi, aku pasti akan membawakan informasi itu pada mu," jawab Jeky dengan penuh keyakinan.
"Oke, god. Aku tunggu kabar baik itu di rumah," balas Hermawan lalu menutup panggilan sepihak.
"Siap, bos!" jawab Jeky lagi.
Setelah panggilan terputus, Jeky pun segera menghubungi orang kepercayaan nya, untuk membantu tugas nya dalam mencari informasi tentang keberadaan Nadia, mantan kekasih bos nya tersebut.
"Halo, bro! Aku butuh bantuan mu sekarang," ucap Jeky.
"Bantuan apa?" tanya seorang lelaki yang bernama Arman dari kejauhan.
"Tolong bantu aku untuk mencari keberadaan seorang wanita," jawab Jeky.
"Emang nya kenapa dengan wanita itu? Apakah dia sudah menolak cinta mu?" tebak Arman asal.
"Sembarangan...! Bukan aku, dodol. Tapi bos ku. Dia meminta ku untuk mencari tahu tentang wanita itu," jawab Jeky ketus.
"Ooohhh, kirain dirimu, hehehehe...!" balas Arman terkekeh.
__ADS_1
Visual : Arman
Usia : 37 tahun
"Udah, gak usah haha hihi segala! Kamu mau bantu aku atau tidak?" tanya Jeky semakin kesal dengan Arman karena sudah mentertawai nya.
"Ya pasti mau dong, asal ada uang jalan nya, hihihi..." jawab Arman cekikikan.
Jiwa humor Arman langsung muncul, jika sudah berhadapan dengan sahabat koplak nya Jeky.
"Ya pasti ada lah, dodol! Kau kira aku ini gak punya hati apa? Main suruh gitu aja, tanpa ada imbalan nya," gerutu Jeky dengan wajah masam.
"Naaah, gitu dong. Itu baru nama nya sahabat yang baik, hahahaha..." gelak Arman.
"Ya ya ya, terserah kau saja lah. Tunggu aku di tempat biasa ya, aku otewe sekarang!" ucap Jeky lalu memutus panggilan.
"Oke siap, bos ku!" jawab Arman lalu menyimpan ponsel ke dalam saku celana, dan bergegas keluar dari rumah nya.
Arman masuk ke dalam mobil hitam milik nya, dan langsung tancap gas menuju tempat yang sudah ditentukan oleh Jeky.
Begitu pun sebaliknya, Jeky juga bergegas keluar dari rumah dan memasuki mobil sport nya.
๐บ Flashback off ๐บ
Kembali ke kediaman Hermawan. Setelah melihat foto-foto yang di berikan Jeky, Hermawan pun meletakkan nya kembali ke atas meja, lalu berkata...
"Apa lagi yang kau ketahui tentang dia?" tanya Hermawan sembari menyalakan rokok dan menghisap perlahan.
"Ada seorang laki-laki yang sudah beberapa kali keluar masuk apartemen Nadia. Kalau filing aku sih, seperti nya ada hubungan khusus di antara mereka berdua," jawab Jeky menduga-duga tentang wanita yang di intainya.
Hermawan manggut-manggut menanggapi penuturan Jeky. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu, sambil terus menghisap rokok yang ada di tangan nya.
Hening...
Hermawan dan Jeky sama-sama terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. Tak lama berselang, mbok Saripah datang dengan membawa sebuah nampan yang berisikan dua gelas kopi hitam di tangan nya.
"Permisi, Pak. Ini kopi nya," ucap mbok Saripah lalu meletakkan dua gelas kopi itu di atas meja.
"Oke, terima kasih ya, mbok," ucap Hermawan kepada asisten rumah tangga nya tersebut.
"Sama-sama, Pak," balas mbok Saripah lalu kembali melangkah ke dapur, dan melanjutkan aktivitas nya kembali.
"Ayo, silahkan diminum kopi nya, Jek! Mumpung masih hangat," ucap Hermawan.
__ADS_1
"Itu bukan hangat, tapi panas, dodol! Apa kau ingin melihat bibir ku yang seksi ini berubah jadi jontor ya, gara-gara kopi panas itu?" umpat Jeky kesal.
Hermawan tersenyum miring melihat kekesalan sahabat nya, dan berucap...
"Heh, bujang lapuk! Kalo ngomong sama atasan itu yang sopan, jangan asal njeplak aja mulut mu itu," gerutu Hermawan.
"Jam kerja sudah berakhir, jadi kau bukan atasan ku lagi, paham! Hahahaha..." bantah Jeky sembari tertawa terbahak-bahak.
"Huuuuu, dasar sekertaris gak ada akhlak!" umpat Hermawan lalu melempar bantal sofa ke arah Jeky.
Mendapat serangan mendadak dari Hermawan, Jeky pun langsung sigap menangkap bantal sofa itu, lalu menjulurkan lidah nya ke arah Hermawan.
"Gak kena, weeek! Hahahaha..." ledek Jeky sambil terus mentertawai lelaki paruh baya yang ada di depan nya.
"Dasar, gila!" umpat Hermawan dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
Setelah mematikan api rokok ke dalam asbak, Hermawan pun melanjutkan celotehan nya kembali.
"Kamu sudah makan, Jek?" tanya Hermawan basa-basi.
"Belum, emang nya kenapa? Apakah kau ingin mengajak ku makan malam bersama dengan istri cantik mu itu?" tanya Jeky dengan wajah memelas.
"Jangan harap, Ferguso! Aku tidak akan sudi untuk mengajak mu makan malam bersama istri ku," jawab Hermawan ketus.
"Lah trus, untuk apa kau tanya aku sudah makan atau belum?" tanya Jeky bingung.
"Maksud ku, kalau memang kau belum makan, lebih baik kau pulang saja. Karena perut ku sudah lapar banget, aku ingin makan berdua dengan istri ku," jelas Hermawan dengan santai nya.
Mendengar penuturan Hermawan, mata Jeky pun langsung membulat sempurna.
"Wah wah wah, tega bener sih jadi orang. Ada tamu datang bukan nya di tawarin makan, malah di usir gitu aja! Sadis amat lu, bro!" omel Jeky sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Hermawan mengulum senyum melihat wajah masam Jeky yang tampak lucu menurut nya. Saat hendak menjawab ucapan Jeky, tiba-tiba...
"Om, kita makan yuk! Perut ku sudah lapar banget nih. Sekalian ajak Om Jeky juga ya," seru Claudia yang sedang menuruni anak tangga. Setelah itu, ia pun kembali berjalan ke arah meja makan.
Wajah Jeky yang tadi nya masam seperti jeruk lemon pun langsung berubah manis, ketika mendengar ucapan Claudia yang sesuai dengan harapan nya.
"Waaahh, kebetulan sekali. Aku juga belum makan malam. Kalau begitu, ayo kita makan sekarang! Perut ku juga sudah keroncongan nih dari tadi," oceh Jeky.
Lelaki itu segera beranjak dari tempat duduk nya, dan mengikuti langkah Claudia menuju meja makan, tanpa memperdulikan tatapan tajam dari mata elang Hermawan.
"Hufff, dasar kambing congek! Ganggu kesenangan orang saja kerjaan nya," umpat Hermawan semakin kesal, lalu bangkit dari sofa dan mengikuti langkah Jeky dari belakang.
๐บ Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favorit nya setelah membaca ya ๐บ
__ADS_1