
Hermawan langsung terkesiap dan menoleh ke belakang.
"Nadia?" gumam Hermawan dengan mata membulat sempurna.
"Ya, benar sekali, sayang. Ini aku, Nadia. Kekasih yang sangat kau cintai," balas Nadia mengulas senyum.
Dengan gerakan cepat Hermawan pun langsung menepis rangkulan mantan kekasih nya itu dengan kasar.
Ssedangkan Claudia, ia hanya plonga-plongo melihat wanita seksi itu berkelakuan genit kepada suami nya. Setelah beberapa saat terdiam, Claudia pun mulai membuka suara nya.
"Om, dia...?"
Belum sempat Claudia melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Nadia memotong nya dengan cepat.
"Ya, dugaan mu benar sekali. Nama saya Nadia, kekasih Hermawan."
Nadia mengulurkan tangan ke arah Claudia. Ia memperkenalkan diri sebagai kekasih, dari lelaki yang ada di sebelah nya.
Claudia langsung membelalakkan mata dan menutup mulut dengan kedua tangan nya. Ia tampak syok dan sangat terkejut, setelah mendengar penuturan Nadia barusan.
"Kamu pasti keponakan nya Hermawan kan?" tebak Nadia lalu mengambil kursi kosong, dan duduk di tengah-tengah mereka.
"Bu-bukan, Tante. Saya bukan keponakan Om Hermawan, tapi..." Claudia menjeda perkataan nya, lalu melirik ke arah Hermawan yang berada di sebelah Nadia.
"Dia istriku," sahut Hermawan dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Ia segera bangkit dari kursi dan pindah ke sebelah Claudia.
"Whaaaattt? Istri?" pekik Nadia terlonjak kaget.
"Ya, dia istriku. Dan kau, hanya masa lalu ku. Jadi, jangan pernah mengganggu hidup ku lagi. Atau kalau tidak, kau akan tanggung sendiri akibatnya, ingat itu baik-baik!" tegas Hermawan.
Setelah memberi peringatan keras kepada mantan pacar nya, Hermawan pun segera menarik tangan Claudia, dan mengajak nya untuk makan di tempat lain.
"Ayo, sayang! Kita cari tempat lain saja," ajak Hermawan yang di balas anggukan kepala oleh Claudia.
"Oke, Om."
Mereka berdua bergegas keluar dari restoran itu, dan berjalan menuju parkiran dengan langkah cepat. Hermawan tidak memperdulikan Nadia yang masih terlihat syok di tempat duduk nya.
Sampai di dalam mobil, Hermawan langsung tancap gas menuju restoran yang terletak di pinggir danau.
Melihat kepergian mantan kekasih yang amat di cintai nya, Nadia pun mengepalkan tangan dan menatap sinis ke arah mereka berdua.
"Awas kau, Hermawan! Aku tidak akan tinggal diam atas semua penghinaan mu ini. Lihat saja, aku pasti akan membalaskan sakit hati ku pada kalian berdua," gumam Nadia geram sambil mengeraskan rahang nya.
Setelah mengutuk perbuatan Hermawan, Nadia pun mulai berdiri dari tempat duduk nya, lalu melenggang pergi menuju mobil yang terparkir rapi di halaman restoran.
Wanita yang sudah menginjak kepala tiga itu masuk ke dalam mobil, dan mulai menjalankan kendaraan roda empat nya itu menuju apartemen tempat tinggal nya.
Sementara di tempat yang berbeda, Hermawan dan Claudia kembali duduk berdampingan di tepi danau, dan memesan makanan kepada sang pelayan restoran.
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan tiba, Claudia pun mulai membuka percakapan kembali.
"Hmmmm, Om. Aku boleh nanya sesuatu gak?" tanya Claudia dengan nada ragu.
"Boleh, tanya saja!" jawab Hermawan mengangguk.
Sebelum melontarkan pertanyaan-pertanyaan nya, Claudia menarik nafas terlebih dahulu. Ia sedikit gugup dan tidak tenang, atas kejadian di restoran seafood tadi.
"Hmmmm, Nadia itu siapa? Apakah dia..."
Hermawan yang langsung paham akan maksud pertanyaan Claudia pun, langsung menyambar nya dengan cepat.
"Bukan, dia bukan pacar, Om. Dia itu hanya masa lalu yang harus di kubur dalam-dalam," sahut Hermawan dengan pandangan kosong menatap danau yang ada di depan nya.
"Hah... Maksudnya, Om mau membunuh nya gitu?" tanya Claudia dengan mata membulat.
Ia sama sekali tidak mengerti akan maksud perkataan suami nya. Mendengar pertanyaan nyeleneh Claudia, Hermawan pun langsung menoleh dan menatap wajah istri nya dalam-dalam.
"Bukan begitu, sayang. Nih, kamu denger ya! Nadia itu hanya mantan pacar Om di masa lalu, dan Om tidak ingin mengingat nya lagi. Sekarang kamu sudah mengerti kan maksud nya?" jelas Hermawan dengan penuh kesabaran, dalam menghadapi sikap tulalit istri kecil nya.
"Oooohh, begono toh. Ngomong dong dari tadi, hehehehe..." balas Claudia nyengir kuda, dan memasang wajah seimut mungkin.
Melihat tingkah menggemaskan istri nya, Hermawan pun langsung tersenyum dan menarik tubuh Claudia ke dalam dekapan nya. Ia mengelus-elus rambut pirang Claudia dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Mendapat perlakuan hangat dari Hermawan, Claudia pun langsung membalas nya, dengan melingkarkan kedua tangan nya di perut sixpack lelaki tersebut.
"Permisi, pak, bu! Ini pesanan nya," ucap si pelayan wanita dengan ramah dan sopan.
"Oh, iya, mbak!" balas Claudia tersenyum lalu melepaskan pelukan Hermawan dari tubuh nya.
Setelah menghidangkan makanan dan minuman di atas meja, pelayan itu pun pamit dan kembali ke tempat nya.
"Silahkan di nikmati hidangan nya, pak, bu. Saya permisi dulu, mari!" ucap si pelayan dan berlalu pergi dari hadapan mereka.
"Oke, terima kasih, mbak." Claudia kembali mengulas senyum menatap kepergian si pelayan restoran.
Melihat Claudia terbengong, Hermawan pun menyentuh dagu istri nya itu dan berkata...
"Kok malah melamun sih? Ayo di makan! Mumpung masih anget," ucap Hermawan.
"Eh, iya, ayo!" balas Claudia tersentak kaget akibat ulah jahil suami nya.
Mereka berdua mulai menyantap hidangan yang sudah tersedia di atas meja dengan santai dan tenang, tanpa percakapan apa pun.
"Eegghh, alhamdulillah. Ups..."
Claudia bersendawa dengan suara yang cukup kuat, lalu reflek menutup mulut dengan satu tangan nya.
Lagi... Hermawan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kocak istri nya tersebut.
__ADS_1
"Maaf ya, Om. Aku nggak sengaja, beneran deh, suwer โ๏ธ," ucap Claudia dengan wajah memelas.
"Ya gak papa, santai saja. Om gak marah kok," balas Hermawan menyunggingkan senyum termanis nya.
"Duuuhh, manis banget sih senyum nya. Bikin jantung ku berdebar-debar saja," ucap Claudia dalam hati.
Claudia tersenyum-senyum sendiri sambil terus memandangi wajah Hermawan. Merasa di perhatikan, lelaki itu pun langsung menoleh dan bertanya...
"Kamu kenapa? Kok senyum-senyum gitu? Kesurupan ya?" ledek Hermawan berpura-pura bingung dan menautkan kedua alis nya.
Mata Claudia pun langsung mendelik ketika mendengar kata "kesurupan" dari bibir suami nya.
"Sembarangan bilangin orang kesurupan! Nanti kalau aku kesurupan beneran, gimana coba?" omel Claudia sembarimemanyunkan bibir, dan menepuk bahu Hermawan dengan kuat.
Melihat wajah masam Claudia, Hermawan pun langsung memekik dan mengelus-elus bahu yang baru saja di pukul istri nya.
"Adooooh... Sakit, sayang! Kejam banget sih sama suami sendiri. Nggak kasihan apa, lihat Om kesakitan gini?" oceh Hermawan masih dengan kepura-puraan nya, sambil meringis kesakitan.
"Sokor! Siapa suruh ngomong sembarangan? Kena akibat nya sekarang jadi nya kan," umpat Claudia semakin memajukan bibir nya ke depan, persis seperti bebek.
"Hehehehe, iya maaf. Nggak lagi-lagi deh, suwer โ๏ธ," ucap Hermawan terkekeh sambil menirukan gaya Claudia, dengan membentuk jari nya menjadi huruf V.
Claudia tidak menghiraukan ucapan suaminya. Ia memalingkan wajah ke samping dan melipat kedua tangan di atas perut.
"Jangan ngambek gitu dong, sayang! Entar cantik nya hilang loh," goda Hermawan sambil menoel-noel dagu Claudia.
"Siapa yang ngambek? Perasaan Om aja kali," bantah Claudia tanpa menoleh pada lawan bicara nya.
"Oh, enggak ya? Kirain kamu ngambek tadi." Hermawan senyam-senyum sendiri melihat wajah lucu istri nya.
Claudia tidak bergeming. Ia masih tetap dengan mode bisu nya. Karena tidak ada respon apapun dari wanita cantik yang ada di sebelah nya, Hermawan pun kembali berceloteh, sambil menyindir istri kesayangan nya itu.
"Kalau bukan kamu, berarti yang ngambek angsa putih itu kalinya, hihihihi," ledek Hermawan cekikikan, sambil menunjuk ke arah sepasang angsa yang sedang berenang di depan mereka.
"Iiiiihhhh, apaan sih, Om? Kok aku di sama in dengan angsa itu sih? Bikin kesal saja kerjaan nya," omel Claudia ketus.
Bukan nya merasa bersalah atas perkataan nya, Hermawan malah tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah lucu Claudia.
"Hahahaha..." gelak Hermawan.
Saking asyiknya bercanda, tanpa mereka sadari ternyata dari kejauhan, ada sepasang mata yang sedang mengintai pergerakan mereka.
"Bos, aku sudah menemukan mereka," ucap si pengintai dari sambungan telepon nya.
"Bagus, terus ikuti mereka! Dan laporkan apa saja kegiatan mereka pada ku," jawab seseorang dari tempat yang berbeda.
"Baik, bos."
Lelaki berpakaian serba hitam itu menutup panggilan telepon nya, lalu kembali memperhatikan gerak-gerik Hermawan dan Claudia dari kejauhan.
๐บ Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan favorit nya ya ๐๐๐บ
__ADS_1