Dinikahi Om-Om Dingin

Dinikahi Om-Om Dingin
Bab 46 ~ Ziarah


__ADS_3

Setelah acara makan bersama selesai, Roy dan Hermawan pun langsung beranjak dari kursi masing-masing, dan melangkah kan kaki menuju ruang tamu. Mereka berdua duduk berhadapan di atas sofa lalu menyalakan rokok.


"Her, kau mau ikut gak?" tanya Roy membuka perbincangan.


"Kemana?" tanya Hermawan balik.


"Ziarah ke makam ibu nya Claudia," jawab Roy sambil sesekali menghisap rokok yang ada di tangan nya.


"Kapan?" tanya Hermawan lagi.


"Nanti, agak siangan dikit," jawab Roy.


"Oh," balas Hermawan manggut-manggut.


"Cuma, oh? Kau itu sebenar nya mau ikut atau tidak?" tanya Roy dengan wajah bingung.


"Ya ikut lah, males banget kalau harus tinggal sendirian di rumah mu ini," jawab Hermawan ketus.


"Selow lah, bro! Tinggal jawab iya atau tidak aja kok, pake acara ngegas segala. Emosian banget jadi orang," omel Roy kesal.


Hermawan memutar bola mata malas, lalu kembali membalas perkataan bapak mertua nya.


"Iya iya, aku ikut. Punya mertua kok bawel nya nauzubillah!" cibir Hermawan dengan suara pelan dan hampir tidak kedengaran.


"Heh, menantu edan! Gak usah pake ngedumel segala. Telinga ku masih bisa mendengar omongan mu itu, tau gak?" oceh Roy.


"Siapa yang ngedumel? Salah dengar kali? Maka nya kalau punya kuping itu di korek, biar gak budeg," sindir Hermawan.


"Sembarangan bilangin orang budeg. Gua keperet, nyahok lu!" umpat Roy semakin kesal mendengar ucapan menantu nya.


"Coba saja kalau berani!" tantang Hermawan tak mau kalah.


"Kau..."


Belum sempat Roy meneruskan kata-kata nya, tiba-tiba terdengar suara pekikan Claudia dari arah dapur. Wanita muda itu datang dengan langkah tergopoh-gopoh, untuk menghampiri Roy dan Hermawan.


"STOOOPPP...!" teriak Claudia dengan suara cempreng.


"Kalian ini apa-apaan sih? Sudah kayak kucing sama anjing saja, heran!" omel Claudia dengan wajah horor.


Mendengar suara Claudia yang cukup memekakkan telinga, Hermawan dan Roy pun saling pandang-pandangan, lalu kembali menatap ke arah wanita cantik yang sedang berdiri tegak di depan mereka.


"Suami mu tuh, bandel banget kalo di bilangin!" tunjuk Roy kepada menantu laki-laki nya.


"Enak aja bilangin orang bandel," gerutu Hermawan tidak terima atas tuduhan mertua nya.


"Dia tuh yang mulai duluan, bukan Om." bantah Hermawan sambil menunjuk ke arah Roy dengan bibir nya.

__ADS_1


"Bohong, Clau. Dia yang cari gara-gara duluan, bukan bapak," balas Roy membela diri.


Melihat perdebatan Roy dan Hermawan yang semakin menjadi-jadi, wajah Claudia pun langsung merah padam. Ia terlihat begitu kesal dan jengkel melihat kedua nya.


"Sudah sudah, tidak usah saling menyalahkan! Bikin kepala ku tambah puyeng saja," omel Claudia sambil memegangi kepala yang mulai berdenyut nyeri.


Kedua lelaki itu pun langsung terdiam tanpa sepatah kata. Hermawan terus memandangi wajah istri nya, yang sedang meringis menahan sakit di kepala nya.


"Kamu kenapa, sayang? Kok kayak sedang kesakitan gitu?" tanya Hermawan. Ia segera bangkit dari sofa dan melangkah mendekati Claudia.



Hermawan berdiri tegak di depan Claudia, sambil terus memperhatikan gerak-gerik istri kecil nya.


"Iya nih, kepala ku langsung mendadak sakit melihat tingkah kalian berdua," jawab Claudia.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit sekarang! Biar penyakit di kepala mu itu tidak semakin parah," ajak Hermawan.


Ia memegang bahu Claudia dan ingin menuntun nya ke arah pintu utama.


"Gak usah, Om! Ini cuma sakit kepala biasa aja kok, bentar lagi juga sembuh," tolak Claudia.


"Beneran?" tanya Hermawan memastikan.


"Iya beneran," jawab Claudia.


"Jadi gimana, Pak? Jam berapa kita berangkat ziarah nya?" tanya Claudia.


"Terserah kamu saja, Clau. Bapak ngikut saja," jawab Roy.


"Oh, ya udah kalo gitu. Clau siap-siap dulu ya, sebentar lagi kita berangkat," ucap Claudia.


"Oke," balas Roy mengangguk menyetujui ucapan anak kesayangan nya.


Setelah itu, Claudia dan Hermawan pun melangkah pergi menuju kamar yang berada di lantai atas.


"Om tunggu di situ sebentar ya, aku mau ganti baju dulu!" ucap Claudia sembari menunjuk ke arah pinggir ranjang.


"Siap, sayang."


Hermawan mengangguk, lalu mendudukkan bokong nya di tempat yang sudah di tunjuk oleh istri nya.


Claudia bergegas berganti pakaian dan merapikan penampilan nya di depan cermin. Setelah selesai, ia mengambil tas kecil berwarna ungu yang tergantung di belakang pintu, lalu memasukkan dompet beserta ponsel ke dalam nya.


"Ayo Om, kita berangkat! Aku sudah siap nih," seru Claudia sembari merangkul lengan kiri suami nya.


"Oke, sayang."

__ADS_1


Hermawan bangkit dari duduk nya, dan berjalan beriringan bersama Claudia keluar dari kamar.


Setibanya di ruang tamu, mereka berdua pun menghentikan langkah nya. Claudia menghampiri Roy dan mengajak nya untuk segera pergi.


"Ayo, Pak! Kita berangkat sekarang," seru Claudia.


"Oke, yok!" balas Roy.


Ia langsung berdiri dari sofa, lalu mengikuti langkah Claudia dan Hermawan dari belakang. Sesudah mengunci pintu utama, mereka bertiga pun langsung masuk ke dalam mobil hitam milik Hermawan.


Setelah memasang sabuk pengaman ke tubuh masing-masing, Hermawan pun langsung menginjak pedal gas dan melajukan kendaraan nya menuju pemakaman, yang berada tidak jauh dari kediaman Roy.


Tak butuh waktu lama, mereka bertiga pun sudah tiba di area pemakaman. Setelah memarkirkan mobil di tempat yang sudah tersedia, mereka semua pun langsung keluar dari kendaraan roda empat itu.


"Kalian tunggu disini sebentar ya, bapak mau beli bunga dulu di sana!" ucap Roy sambil menunjuk ke arah penjual bunga yang berada di seberang jalan.


"Ya hati-hati, Pak." Claudia mengangguk.


Hermawan tidak menyahuti ucapan mertua nya. Ia hanya diam sambil terus memasang wajah dingin nya.


Setelah itu, Roy pun langsung berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah si penjual bunga. Setelah mendapatkan sekantong bunga segar, Roy pun kembali berjalan ke arah tempat dimana Claudia dan Hermawan sedang menunggu nya.


"Sudah dapat bunga nya, Pak?" tanya Claudia.


"Sudah, nih." Roy menunjukkan sekantong bunga yang ada di tangan nya kepada Claudia.


"Oh, ya udah. Ayo, kita masuk!" seru Claudia.


"Yok!" balas Roy. Mereka bertiga pun mulai melangkah masuk ke dalam area pemakaman.


Sesampainya di makam almarhumah istri nya, Roy pun langsung terduduk lemas di samping batu nisan yang berdiri kokoh di depan nya.


Raut wajah nya menampakkan kesedihan yang begitu mendalam, karena kepergian istri tercinta nya.


Begitu pula dengan Claudia. Ia juga merasakan hal yang sama, seperti yang di rasakan Roy atas kepergian ibu kandung nya.


Selesai memanjatkan doa dan menaburkan bunga ke atas makam, mereka bertiga pun kembali melangkah menuju parkiran yang berada di pinggir jalan.


Saat hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba...


BRAAAKKK...


Sebuah mobil sport putih melaju kencang dari arah belakang, dan berhasil menabrak Claudia hingga membuat nya terpental jauh ke depan, dan mengalami pendarahan yang cukup fatal di bagian kepala nya.


"CLAUDIAAAA...!" teriak Hermawan dan Roy bersamaan.


🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favorit nya ya 🌺

__ADS_1


__ADS_2