
Setelah melewati perdebatan panjang dengan Hermawan, Roy pun akhirnya mengajak anak dan menantu nya itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Ya sudah, nanti saja kita sambung lagi cekcok nya. Sekarang, ayo kita masuk ke dalam!" seru Roy.
Ia merangkul pundak menantu dingin nya itu, lalu membawa nya masuk ke dalam. Hermawan pun menurut dan berjalan beriringan bersama Roy menuju ruang tamu.
Sementara Claudia, ia mengekori langkah mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah kocak kedua lelaki tua yang ada di depan nya.
Claudia terus mengayunkan langkah nya sampai ke dapur, lalu menyalin semua makanan yang ia bawa dari rumah Hermawan ke dalam piring dan wadah lain nya. Setelah selesai, ia pun langsung menghidangkan makanan itu ke atas meja makan.
Sesudah menyiapkan alat-alat makan dan keperluan lainnya, Claudia pun kembali melangkah ke arah rumah tamu lalu mengajak Roy dan Hermawan untuk makan bersama.
"Pak, Om, ayo kita makan!" seru Claudia.
"Oke," jawab Roy dan Hermawan serempak.
Mereka berdua pun segera beranjak dari kursi masing-masing, dan mengikuti langkah Claudia menuju meja makan. Hermawan duduk di kursi kosong yang ada sebelah kiri Claudia. Sedangkan Roy, ia duduk di seberang meja tepat di depan kedua pengantin baru tersebut.
Claudia mulai menyendokkan makanan itu ke atas piring Hermawan dan Roy secara bergantian. Setelah selesai melayani mereka berdua, ia pun mulai mengambil makanan untuk diri nya sendiri.
"Ayo dimakan, Pak, Om! Mumpung masih hangat," seru Claudia kepada Hermawan dan Roy.
"Ya, sayang." Roy mengangguk lalu menyuapkan makanan itu ke mulut nya.
Sedangkan Hermawan, ia tidak menyahut seruan istri nya. Hermawan hanya tersenyum dan mulai memakan makanan nya.
Mereka bertiga menyantap makanan masing-masing dengan suasana hening, tanpa perbincangan apa pun. Setelah acara makan siang bersama selesai, Hermawan dan Roy pun mulai bangkit dari kursi dan kembali melangkah menuju ruang tamu.
Sementara Claudia, ia kembali di sibukkan dengan piring-piring kotor dan alat-alat makan lain nya, yang baru saja mereka gunakan.
Sesudah menyelesaikan tugas dapur nya, Claudia kembali bergabung di ruang tamu, dan duduk bersebelahan dengan suami nya Hermawan.
"Bagaimana dengan hubungan kalian? Apakah sudah ada perkembangan?" tanya Roy membuka percakapan. Ia menatap ke arah Hermawan dan Claudia secara bergantian.
"Sudah," jawab Hermawan singkat.
__ADS_1
Claudia tidak menjawab. Ia tertunduk malu, sambil memilin-milin ujung baju nya. Claudia bingung harus menjawab apa kepada ayah kandung nya tersebut.
Roy melirik Claudia dengan ekor mata nya, lalu kembali melontarkan pertanyaan nya kepada Hermawan.
"Oh, syukur lah kalau begitu. Trus, kira-kira kapan kalian akan memberikan cucu untuk ku?" tanya Roy penuh harap.
"Secepat nya," jawab Hermawan lalu menyalakan rokok dan menghisap nya perlahan.
"Bagus, itu lah yang aku harapkan dari kalian," balas Roy manggut-manggut dan tersenyum lebar.
Lelaki setengah abad itu terlihat bahagia mendengar kabar baik dari menantu nya. Sedangkan Claudia, ia masih saja dengan mode diam dan terus menunduk malu.
Suasana hening sejenak. Mereka bertiga larut dalam lamunan dan isi kepala masing-masing. Setelah beberapa saat saling berdiam diri, Roy pun kembali membuka suara nya.
"Bagaimana dengan perusahaan mu, Her? Apakah baik-baik saja?" tanya Roy.
"Ya, alhamdulillah. Semua berjalan dengan lancar dan baik-baik saja," jawab Hermawan.
"Oh, syukur lah." Roy kembali manggut-manggut, lalu mengalihkan pandangannya kepada Claudia.
Karena merasa canggung, akhirnya Claudia pun pamit untuk masuk ke dalam kamar masa kecil nya.
"Ya sudah, masuk sana! Bapak masih ingin mengobrol banyak hal dengan suami mu," balas Roy.
Setelah mendapatkan izin dari bapak nya, Claudia pun mengalihkan pandangannya kepada Hermawan. Ia seolah-olah meminta jawaban dari suami nya lewat tatapan mata nya.
Hermawan yang langsung paham dengan tatapan Claudia pun hanya mengangguk sebagai jawaban. Selesai berpamitan, Claudia pun segera bangkit dari kursi dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Setelah mengunci pintu, ia langsung menjatuhkan diri di atas ranjang dengan kaki yang masih menjuntai ke bawah. Ia merentangkan kedua tangan, dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.
"Mudah-mudahan saja aku bisa mewujudkan keinginan bapak tadi, ya Allah. Amin amin ya rabbal a'lamin!" doa Claudia kepada sang pencipta, sambil mengelus-elus perut yang masih rata.
"Seperti nya aku harus sering-sering melakukan kegiatan itu dengan si beruang kutub, biar dedek bayi nya cepat jadi. Ya, seperti nya memang harus begitu!" lanjut nya.
Setelah beberapa menit merenung, Claudia pun mulai memejamkan mata dan membetulkan posisi tidur nya. Tak butuh waktu lama, wanita muda itu pun mulai terlelap sambil memeluk guling kesayangan nya.
"Her, apakah Claudia sudah..." Roy menjeda perkataan nya.
"Ya, dia sudah menyerahkan semua nya pada ku," jawab Hermawan.
__ADS_1
"Serius?" tanya Roy seakan tidak percaya dengan pendengaran nya.
"Iya, serius. Untuk apa aku bohong? Gak ada guna nya juga. Kalau kau masih tidak percaya juga, tanya kan saja sama orang nya langsung!" lanjut Hermawan ketus lalu menghisap rokok nya kembali.
"Bukan nya gak percaya, Her. Tapi aku cuma heran aja, kok bisa secepat itu. Secara kan Claudia itu masih suci, belum pernah pacaran atau pun dekat dengan lelaki mana pun. Kok bisa semudah itu dia menyerahkan semua nya pada mu?" jelas Roy.
Hermawan tidak menggubris ucapan Roy. Ia hanya diam, sambil terus mendengarkan celotehan mertua sekaligus sahabat nya tersebut.
"Apa jangan-jangan, kau sudah memaksa nya untuk melakukan hal itu dengan mu?" tuduh Roy menajamkan tatapan nya kepada Hermawan.
Mendengar tuduhan Roy, Hermawan pun langsung menautkan kedua alisnya. Ia merasa tidak terima dengan perkataan mertua nya, dan membalas tatapan mata nya dengan tak kalah tajam.
"Heh, Pak tua! Jangan sembarangan kalo ngomong!" cibir Hermawan ketus.
"Siapa juga yang memaksa anak mu untuk melayani ku, hah? Kan tadi sudah aku bilang, kalau kau masih tidak percaya juga, silahkan saja tanya sama orang nya langsung!" omel Hermawan kesal.
Roy langsung terdiam seketika. Sebenarnya ia masih ragu dengan penuturan Hermawan. Namun, ia juga tidak ingin memancing emosi menantu dingin nya itu, dengan dugaan-dugaan yang belum tentu benar ada nya.
Dengan berat hati, akhirnya Roy pun mengalah dan mengubur rasa penasaran nya itu dalam-dalam.
Melihat keterdiaman Roy, Hermawan pun merasa tidak enak hati karena sudah menyinggung perasaan nya.
"Kau tidak usah khawatir, Roy! Aku tidak akan pernah menyakiti anak mu walau seujung kuku pun. Karena apa? Ya, karena aku sangat menyayangi nya," tutur Hermawan berusaha meyakinkan Roy tentang perasaan nya kepada Claudia.
Roy pun langsung tersenyum sumringah, setelah mendengar pernyataan Hermawan yang sesuai dengan harapan nya.
"Alhamdulillah, syukur lah kalau kau benar-benar menyayangi nya," balas Roy lega.
Hermawan hanya tersenyum miring menanggapi ucapan Roy, lalu mematikan api rokok nya ke dalam asbak yang ada di depan nya.
Setelah perbincangan selesai, Hermawan pun pamit kepada Roy untuk menyusul istri nya ke dalam kamar.
"Oke lah kalau begitu. Aku ke kamar dulu ya, Roy. Mau bobok siang sama istri ku tercinta," ledek Hermawan.
Ia mulai beranjak dari kursi dan melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Roy yang masih terbengong di tempat duduk nya.
"Ya ya ya, pergi lah! Aku juga mau keluar. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan," balas Roy lalu bangkit dari kursi dan melangkah keluar dari rumah.
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favorit nya ya 🌺
__ADS_1