
Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa hari pernikahan pun tiba. Claudia tampak sangat cantik, dengan kebaya putih yang melekat di tubuh ramping nya.
Setelah tim MUA selesai merias dan mendandani Claudia, gadis cantik itu pun mulai keluar dari kamar, dengan di temani dua wanita paruh baya yang berstatus sebagai tetangga dekat nya.
Setiba nya di ruang resepsi, Claudia duduk di sebelah Hermawan sambil terus menundukkan kepala nya. Ia tidak berani menatap wajah calon suami nya, dan wajah orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Wah... Kamu cantik sekali, Claudia!" puji Hermawan dalam hati, saat melihat calon istri nya duduk di sebelah nya.
Setelah melihat mempelai wanita sudah duduk di depan nya, pak penghulu yang bertugas menikahkan mereka pun mulai membuka suara.
"Bagaimana, pak? Apakah acara nya sudah bisa di mulai?" tanya pak penghulu kepada Roy yang sedari tadi duduk bersila di sebelah nya.
"Sudah, pak. Silahkan di mulai acara nya!" jawab Roy mengangguk.
"Baik, pak." Pak penghulu mengangguk dan memulai acara tersebut.
Hermawan mulai menjabat tangan Roy, dan mengucapkan ijab kabul dengan sempurna hanya dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu.
Sah...
Sah...
Sah...
"Alhamdulillah..." ucap mereka serempak.
Selesai mengucapkan ijab kabul, Claudia pun mencium punggung tangan Hermawan dengan takzim.
Begitu pula dengan Hermawan, ia memegang kedua pipi Claudia, lalu mencium kening nya dengan lembut.
Air mata Claudia langsung menetes seketika. Ia merasa senang sekaligus sedih dengan pernikahan nya.
Di satu sisi, ia merasa senang karena sudah menjadi seorang istri. Tapi di sisi lain, ia merasa sedih karena akan berpisah dengan Roy. Orang tua tunggal yang selama ini sudah merawat dan membesarkan nya, dengan penuh kasih sayang.
"Selamat ya, Her. Gelar bujang lapuk mu sudah berakhir hari ini, hahahaha!" ledek Roy.
Hermawan tersenyum tipis mendengar ledekan sahabat, sekaligus mertua nya tersebut.
"Kamvret kau, Roy!" umpat Hermawan sembari meninju pelan bahu Roy.
"Heh heh heh, jaga mulut mu! Aku ini bapak mertua mu, jadi kau harus menghormati ku dan berkata sopan dengan ku, ngerti!" tegas Roy lalu tersenyum miring.
__ADS_1
"Males banget harus sopan dengan mu. Kau itu tetap sahabatku, bukan bapak mertuaku, paham!" balas Hermawan tak mau kalah.
"Hahahaha, Hermawan... Hermawan..." Roy merangkul pundak menantu nya dan berkata...
"Asal kau tau ya, menantu ku sayang. Biar bagaimanapun juga, aku ini tetap lah bapak mertua mu. Dan kau tidak bisa membantah status ku itu. Ingat itu baik-baik, hahahaha!" oceh Roy kembali tergelak.
Hermawan memutar bola mata malas, mendengar celotehan Roy yang benar ada nya.
"Cih, sombong banget. Baru jadi mertua saja, belagu nya minta ampun. Apa lagi jadi..." umpatan Hermawan terpotong.
"Udah, nggak usah pake acara ngedumel segala. Mau tidak mau, atau suka tidak suka, kau tetap harus memanggil ku dengan sebutan bapak mertua, ngerti!" tegas Roy lagi.
Karena tidak ingin memperpanjang perdebatan, akhirnya Hermawan pun mengalah.
"Ya baik lah, ba-pak mer-tua." Hermawan mengeja gelar baru Roy, dengan nada kesal dan wajah cemberut.
"Naaah, gitu dong. Itu baru nama nya menantu yang baik, hahahaha!" gelak Roy sambil menepuk-nepuk pundak Hermawan.
Claudia hanya berdiam diri, sambil terus mendengarkan candaan receh kedua lelaki yang ada di samping nya.
Melihat Claudia yang sedari tadi menunduk, Hermawan pun melirik ke arah istri kecil nya itu dengan ekor mata nya, lalu membatin...
"Mengapa raut wajah mu tampak bersedih seperti itu, Claudia? Apakah kau tidak bahagia dengan pernikahan ini? Apakah kau merasa terpaksa menerima ku, untuk menjadi suami mu?" tebak Hermawan dalam hati.
Setelah acara ijab kabul selesai, Claudia dan Hermawan pun masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
Penampakan pelaminan
๐บ Malam harinya ๐บ
Setelah melewati hari yang cukup melelahkan, Claudia dan Hermawan pun kembali masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Penampakan kamar pengantin Claudia dan Hermawan.
Masih dengan menggunakan gaun pengantin di tubuh nya, Claudia pun duduk termenung di kursi meja rias.
Ia terus memandangi wajah nya yang tampak sangat cantik, dari pantulan cermin dengan tatapan kosong.
"Siapa yang akan membantu ku untuk membuka gaun ini? Apakah aku harus meminta bantuan om-om jutek itu?" batin nya bingung.
Claudia kebingungan untuk membuka gaun pengantin yang masih melekat di tubuh nya. Ia tidak berani meminta pertolongan Hermawan, untuk membantu nya membuka resleting gaun putih tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Hermawan, ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi punggung Claudia yang berada tepat di depan nya.
Penampakan gaun pengantin yang di kenakan Claudia
"Apakah kamu akan tidur dengan gaun itu, Claudia?" tanya Hermawan memecah keheningan di antara mereka.
Claudia yang sedang termenung pun langsung tersentak, saat mendengar suara Hermawan.
"Ti-tidak, Om." Claudia tergagap.
"Trus, kenapa belum di buka juga?" tanya Hermawan heran.
Claudia menatap wajah datar Hermawan dari pantulan cermin, lalu menjawab...
"A-aku tidak bisa membuka nya sendiri, Om," ucap Claudia masih tergagap.
Mendengar jawaban Claudia, Hermawan pun langsung bangkit dan melangkah mendekati istri kecil nya.
"Kamu berdiri lah, biar aku bantu!" pinta Hermawan.
"Ba-baik, Om." Claudia menurut dan segera berdiri dari tempat duduk nya.
Dengan tangan sedikit gemetaran dan dada berdegup kencang, Hermawan pun mulai membuka resleting gaun yang sedang di pakai Claudia.
Deg deg deg...
Detak jantung Hermawan semakin menjadi-jadi, saat melihat punggung Claudia yang sangat mulus dan putih.
Glek...
Hermawan menelan ludah dengan susah payah, karena ini lah kali pertama ia melihat tubuh seorang wanita.
"Hufff, bikin jantung ku mau copot saja melihat nya," batin Hermawan sambil menghela nafas berat.
Begitu pula dengan si empunya badan, perasaan gadis itu juga tidak jauh beda dengan Hermawan.
Claudia juga tampak sangat gugup dan gelisah, karena akan menghadapi malam pertama dengan lelaki yang baru saja menjadi suami nya tersebut.
"Haduuuh, kok jadi gelisah gini sih?" gerutu Claudia dalam hati.
Sepasang pengantin baru itu terlihat sama-sama gugup dan gelisah. Mereka saling membisu dan sibuk dengan isi kepala masing-masing.
Setelah bersusah payah membuka resleting gaun pengantin itu, Hermawan pun memberanikan diri untuk memutar posisi Claudia untuk menghadap pada nya.
__ADS_1
"Claudia, apakah kau sudah siap untuk menjadi seorang istri yang sesungguhnya?" tanya Hermawan.
๐บ Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman, jangan lupa tinggalkan jejak sesudah membaca ya, tengkyu ๐๐บ