Dinikahi Om-Om Dingin

Dinikahi Om-Om Dingin
Bab 6 ~ POV Claudia


__ADS_3

Nama nya Claudia Putri, usia 19 tahun. Gadis cantik bermata biru itu adalah anak tunggal dari pasangan Roy dan Nirmala. Walaupun hidup dalam kesederhanaan, akan tetapi mereka bertiga selalu tampak bahagia dan harmonis.


Roy bekerja di salah satu PT besar yang ada di wilayah nya, dengan gaji yang bisa di bilang lebih dari cukup, untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil nya.


Nirmala tidak bisa memiliki anak lagi selain Claudia, akibat penyakit yang di derita nya. Hingga mengharuskan wanita itu untuk melakukan pengangkatan rahim, demi keselamatan nyawa nya.


Setelah Claudia menginjak usia 16 tahun, penyakit Nirmala pun semakin parah. Hingga membuat nya harus keluar masuk rumah sakit, dan mengeluarkan biaya yang cukup besar.


Berhubung uang tabungan Roy sudah mulai menipis, akhirnya ia pun terpaksa menjual semua perhiasan Nirmala.


Bahkan bukan itu saja, Roy juga harus menjual barang-barang berharga lain nya, untuk menambah biaya pengobatan istri tercinta nya.


Setelah berperang dengan penyakit yang menggerogoti tubuh nya selama bertahun-tahun, akhirnya Nirmala pun menghembuskan nafas terakhir nya di dalam pelukan Roy.


"Mas, tolong jaga anak kita baik-baik ya! Aku tidak bisa menemani kalian lagi. Aku sudah tidak sanggup menahan rasa sakit ini, mas."


Nirmala mengucapkan kata-kata terakhir nya dengan nafas yang mulai tersengal-sengal. Ia menggenggam erat tangan Roy, dan memandang wajah lelaki yang sudah menemani nya selama hampir 18 tahun itu, dengan tatapan sendu.


"Tidak, jangan berkata seperti itu, sayang. Kamu pasti kuat, kamu pasti bisa melawan penyakit ini. Bertahan lah, sayang. Demi aku dan juga putri kita," balas Roy dengan deraian air mata di kedua pipi nya.


"Ti-tidak, mas. Aku sudah tidak mampu untuk melawan nya lagi. Tolong ikhlaskan aku, mas! Biar kan aku pergi dengan tenang, agar aku tidak merasakan sakit ini lagi, uhuk uhuk..."


Nirmala kembali berucap sambil terbatuk-batuk. Ia memegangi dada nya yang terasa sangat nyeri dan panas, seperti layak nya terbakar api.


Claudia yang sedang bersekolah pun tidak mengetahui keadaan ibu nya, yang sedang sekarat menghadapi sakaratul maut.


Melihat keadaan istri nya semakin parah, Roy pun ingin pergi memanggil dokter. Namun itu tidak bisa ia lakukan, karena Nirmala melarang nya dan semakin kuat menggenggam tangan suaminya tersebut.


"Kamu tunggu sebentar ya, sayang! Mas mau panggil kan dokter dulu," ucap Roy dan ingin melepaskan genggaman tangan Nirmala dari tangan nya.


"Ti-tidak usah, mas. Ja-jangan pergi kemana-mana. Te-tetap lah menemaniku di-disini. Ka-karena sebentar lagi, ma-malaikat maut a-akan menjemput ku, mas," pinta Nirmala dengan nafas yang terasa semakin sesak.


"Ssstttt, jangan pernah mengatakan hal itu lagi, sayang! Kamu pasti akan sembuh, dan kembali berkumpul dengan kami, percayalah!" balas Roy dengan mata berkaca-kaca, dan menempel kan jari telunjuk nya di bibir pucat Nirmala.

__ADS_1


Karena sudah tidak sanggup menahan sakit dan sesak di dada nya, Nirmala pun mulai melafazkan kalimat terakhir nya.


"Asyhadu allailaaha illallahu, wa asyhaduanna muhammadar rasulullah..."


Artinya : Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah utusan Allah.


Selesai berucap, Nirmala pun menghembuskan nafas terakhirnya. Genggaman tangan yang tadi nya erat, kini langsung terlepas dari tangan Roy.


Melihat istri tercinta nya yang sudah tidak bernyawa, tangis Roy pun langsung pecah seketika. Air mata nya mengalir deras, hingga membasahi kain putih yang sedang menyelimuti tubuh istri nya tersebut.


"TIDAAAK... KAMU TIDAK BOLEH PERGI. BANGUN LAH, SAYANG! BUKA MATA MU. JANGAN TINGGALKAN KAMI, NIRMALA! TOLONG, BUKA LAH MATA MU!" pekik Roy.


Lelaki itu meraung-raung menangisi jasad istrinya yang sudah terbujur kaku, di atas brangkar rumah sakit.


Mendengar teriakan menggelegar Roy, para tim medis yang bertugas merawat Nirmala pun langsung berlarian, dan bergegas masuk ke dalam kamar, tempat dimana Nirmala di rawat.


Mereka mulai mengurus jasad Nirmala, dan membuka alat-alat bantu yang selama beberapa bulan terakhir ini melekat di tubuh nya.


"Yang sabar ya, pak. Ikhlas kan kepergian bu Nirmala. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT," ucap dokter laki-laki yang selama ini merawat Nirmala.


"Aaamiiiiinn... Iya, dok. Saya akan berusaha untuk ikhlas dan merelakan kepergian nya," balas Roy.


🌺 Singkat Cerita 🌺


Setelah pemakaman Nirmala selesai, Roy pun mulai mendekati Claudia yang masih terus menangisi papan nisan ibu nya.


Gadis remaja itu tampak sangat sedih dan terpukul, atas kepergian wanita yang sangat di cintai nya.


"Ayo, kita pulang, Clau! Biar kan ibu mu beristirahat dengan tenang di sana," bujuk Roy sambil memegangi kedua bahu putri semata wayangnya.



Dengan linangan air mata yang tiada henti-hentinya mengalir, Claudia pun hanya mengangguk sebagai jawaban. Tanpa berkata-kata lagi, Roy pun langsung menuntun tubuh lemas putri nya sampai ke dalam mobil.

__ADS_1


Setelah memasang kan sealbeat ke tubuh Claudia, Roy pun mulai menjalankan kendaraan roda empat nya, dan meninggalkan area pemakaman menuju kediaman nya.


Setibanya di rumah, Claudia bergegas keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam kamar nya. Ia menjatuhkan diri ke atas ranjang dan kembali menangisi kepergian ibu nya.


"Bu... Kenapa ibu tega ninggalin Clau sendirian, bu? Kenapa ibu harus pergi secepat ini, bu? Kenapa? Hiks hiks hiks..."


Tangisan pilu menyayat hati pun mulai menggema, dan memenuhi setiap sudut kamar sederhana tersebut.


Claudia terus saja menangis sampai berjam-jam lama nya, hingga membuat wajah nya tampak semakin sembab dan pucat.


Setelah merasa lelah meratapi kepergian ibu nya, gadis remaja itu pun akhirnya tertidur dengan sendiri nya.


Roy yang sedari tadi memperhatikan kondisi Claudia dari balik pintu pun, langsung menghela nafas lega, saat melihat putri kesayangan nya sudah terlelap.


Karena tidak ingin mengganggu ketenangan Claudia, Roy pun menutup pintu kamar itu dan melangkah menuju kamar pribadi nya.


"Nirmala, aku akan memenuhi permintaan terakhir mu. Aku berjanji, aku akan menjaga anak kita dengan segenap jiwa dan raga ku."


"Dan aku juga akan berusaha untuk membahagiakan nya, dan memberikan yang terbaik untuk hidup nya kelak," gumam Roy sambil memandangi foto pernikahan nya yang tergantung di dinding, tepat di depan nya.


Hari berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun. Setelah melewati hari-hari tanpa kehadiran sosok Nirmala di tengah-tengah mereka, tanpa terasa Claudia pun sudah menginjak usia dewasa.


Kini gadis cantik itu sudah berusia 19 tahun, dan Roy berniat untuk menjodohkan nya dengan sahabat nya yang bernama Hermawan. Seorang bujang lapuk yang hampir seumuran dengan nya.


Lelaki itu belum mempunyai pasangan hidup, karena percintaan nya yang selalu mengalami kegagalan. Maka dari itu, Hermawan sedikit trauma dan enggan menjalin hubungan kepada setiap wanita.


Namun, lama-kelamaan rasa trauma itu pun sedikit memudar, setelah melihat foto Claudia yang dikirimkan oleh Roy kepada nya.


Hermawan langsung jatuh hati pada gadis cantik itu, sejak pandangan pertama. Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk menerima perjodohan dari sahabat karib nya tersebut.


"Claudia Putri... Aku harap, kau tidak seperti wanita-wanita yang selama ini aku kenal. Dan mudah-mudahan saja, kau bisa menyembuhkan rasa trauma ku selama ini."


Hermawan bergumam, sambil mengecup foto Claudia yang ada di layar ponsel nya.

__ADS_1


🌺Jangan lupa tinggalkan jejak sesudah membaca ya man teman, terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya 🙏🌺


__ADS_2