
Setelah mengusir mantan kekasih suami nya, Claudia pun melangkah masuk ke dalam rumah dengan senyum sumringah. Ia tampak sangat bahagia, karena sudah berhasil memberi pelajaran berharga kepada Nadia.
Saat hendak mengunci pintu, Claudia pun di kejutkan dengan kemunculan mbok Saripah yang secara tiba-tiba di belakang nya.
"Gimana, Non? Nenek sihir nya sudah pergi belum?" tanya mbok Saripah.
"Astaghfirullah... Kaget aku, mbok!" pekik Claudia sembari mengelus dada yang berdebar-debar kencang.
"Hehehehe... Maaf, Non. Si mbok gak sengaja," balas mbok Saripah nyengir kuda.
"Ya gak papa, mbok." Claudia membalas sembari tersenyum.
"Jadi gimana, Non? Nenek sihir nya sudah pergi belum?" Mbok Saripah mengulang pertanyaan nya.
"Sudah, mbok. Nenek sihir nya sudah pergi. Sudah aku mandiin juga tadi, hihihihi..." jawab Claudia cekikikan.
"APA? Di mandiin? Maksud nya gimana sih, Non? Si mbok gak ngerti," tanya mbok Saripah semakin di selimuti rasa penasaran.
Claudia tersenyum lebar. Ia kembali mengingat kejadian yang baru saja di lakukan nya.
"Maksud nya, nenek sihir itu sudah aku siram pakai air juga tadi, mbok. Hehehehe..." jelas Claudia terkekeh geli.
"HAH... Beneran, Non?" pekik mbok Saripah dengan mata terbelalak lebar.
Ia seakan tidak percaya dengan pendengaran nya. Mbok Saripah tampak sangat terkejut, sambil menutup mulut dengan kedua tangan nya.
"Iya beneran, mbok. Kalau tidak percaya, tanyakan saja dengan Yanto! Dia juga menyaksikan nya tadi," balas Claudia.
Ia melangkah pergi menuju kamar yang berada di lantai atas. Claudia meninggalkan mbok Saripah begitu saja dengan keterkejutan nya.
Dengan langkah tergesa-gesa, mbok Saripah pun kembali ke dapur, lalu mengotak-atik ponsel nya. Ia diam-diam menghubungi Hermawan, dan menceritakan kejadian yang baru saja di alami oleh Claudia.
Setelah menemukan kontak sang majikan, mbok Saripah pun langsung menghubungi nya, dan menempelkan benda pipih itu ke telinga kanan nya.
Hermawan terlalu sibuk dengan pekerjaan nya di kantor, hingga membuat nya tidak sempat untuk membuka cctv, dan memantau keadaan kediaman nya sendiri.
Tut... Tut... Tut... Tak butuh waktu lama, panggilan itu pun tersambung.
"Halo assalamualaikum, Pak. Ini saya si mbok," salam mbok Saripah.
"Wa'laikum, ya ada apa, mbok?" tanya Hermawan.
"Hmmmm... Anu, Pak. Tadi nenek sihir itu... Eh, maksud saya tadi Nona Nadia datang kesini sambil teriak-teriak, Pak."
"Aduuuuh, kok bisa keceplosan gini sih ini mulut! Bikin masalah saja," gerutu mbok Saripah dalam hati, sambil menepuk-nepuk pelan bibir nya.
"APA? NADIA DATANG SAMBIL TERIAK-TERIAK?" pekik Hermawan dengan suara menggelegar, hingga membuat telinga mbok Saripah berdengung, dan reflek menjauhkan ponsel itu dari telinga nya.
"I-iya, Pak. Ta-tapi sekarang dia sudah pergi, karena di usir oleh Nona Claudia," balas mbok Saripah tergagap.
__ADS_1
Mendengar penuturan sang ART, Hermawan semakin terkejut. Ia kembali memekik kuat sambil membelalakkan mata lebar-lebar.
"APA? CLAUDIA MENGUSIR NYA?"
"I-iya, Pak." Mbok Saripah menjawab lirih.
"Bukan itu saja, Pak. Nona Claudia juga sempat beradu mulut dengan Nona Nadia, lalu menyiram nya dengan air," lanjut mbok Saripah.
"Oh, gitu. Syukur lah dia bisa melawan perempuan gila itu," balas Hermawan lega.
"Ya sudah, saya tutup dulu ya, mbok. Sebentar lagi saya pulang ke rumah, assalamualaikum!" pamit Hermawan menutup panggilan.
"Ya, Pak. Wa'laikum salam," balas mbok Saripah, lalu menyimpan ponsel nya kembali ke dalam laci lemari makan.
Wanita tua itu melanjutkan pekerjaan nya kembali. Ia memasak menu makan siang, dan mengerjakan tugas lain nya.
Setelah mendapatkan kabar dari mbok Saripah, Hermawan pun bergegas menyelesaikan pekerjaan nya. Setelah selesai, ia langsung bangkit dari kursi dan melangkah menuju sofa, tempat dimana Jeky berada.
"Jek, tolong kamu handle semua pekerjaan ini ya! Aku mau balik ke rumah dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan disana," ucap Hermawan.
Jeki yang sedang fokus mengotak-atik laptop nya pun langsung menoleh. Ia menatap sinis ke arah Hermawan, lalu mencibir nya dengan kata-kata pedas.
"Helehh, alasan. Bilang saja kau mau kikuk-kikuk dengan istri cantik mu itu. Ya kan, hayo ngaku!" tebak Jeky.
"Pake alasan urusan penting segala, basi tau gak?" lanjut nya ketus.
"Bukan nya mau kikuk-kikuk, dodol! Tapi ada urusan yang lebih penting dari pada itu," tutur Hermawan.
Jeky menutup laptop lalu mengernyitkan dahi. Ia menatap wajah atasan nya dalam-dalam dan kembali melontarkan pertanyaan.
"Emang nya ada urusan penting apa sih, Bos? Kok nampak nya serius banget?" selidik Jeky.
"Ini soal Nadia. Tadi mbok Saripah bilang, wanita ular itu datang ke rumah sambil teriak-teriak," jawab Hermawan.
"Whaaaattt? Wanita gila itu datang lagi?" pekik Jeky dengan mata membulat.
"Biasa aja lah muka nya tu. Lebay banget jadi orang," cibir Hermawan ketus.
"Bukan nya lebay, Her. Aku gak nyangka aja, kalau si Nadia masih berani mendatangi mu sampai ke rumah," tutur Jeky memberi penjelasan kepada atasan nya.
Hermawan menghela nafas panjang. Ia menyandarkan punggung ke bahu sofa, lalu mendongakkan kepala. Hermawan menatap langit-langit ruangan kerja nya dengan pandangan menerawang.
"Ini bukan kali pertama dia datang ke rumah, Jek. Tapi sudah yang kesekian kalinya. Aku juga bingung, harus bagaimana lagi menghadapi wanita ular itu," tutur Hermawan.
"Wah wah wah... Benar-benar gila tuh cewek! Masa gak ada bosan-bosannya mengganggu ketenangan orang? Kayak gak ada lelaki lain saja," gerutu Jeky sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Ia terlihat sangat kesal dan juga geram, dengan sifat mantan kekasih bos nya itu. Merasa prihatin dengan keadaan Hermawan saat ini, Jeky pun berinisiatif untuk membantu nya. Ia memiliki ide untuk menambahkan beberapa bodyguard ke kediaman Hermawan.
"Her, gimana kalau kita sewa beberapa bodyguard untuk menjaga keamanan rumah mu?" usul Jeky.
__ADS_1
Hermawan terdiam sejenak. Ia memikirkan usulan Jeky yang cukup bagus menurut nya. Setelah beberapa saat hening, Hermawan pun mengangguk menyetujui ide sekretaris nya.
"Boleh, kamu atur saja semuanya," ujar Hermawan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan hubungi Arman dan juga beberapa orang teman nya. Mereka pasti mau menerima tawaran kita ini," balas Jeky dengan penuh keyakinan.
"Oke, terserah kamu saja!" ucap Hermawan.
Setelah menyetujui kesepakatan bersama, lelaki tampan itu pun mulai bangkit dari sofa, dan memakai kacamata hitam milik nya.
"Ya sudah kalau begitu, nanti kabari saja perkembangan selanjutnya! Aku mau pulang dulu ke rumah," tutur Hermawan.
"Oke siap, Bos!" balas Jeky mengacungkan jempol nya.
Setelah perbincangan selesai, Hermawan melangkah keluar dari ruang kerja nya dan masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai dasar.
Sementara Jeky, ia mulai mengotak-atik ponsel nya untuk mencari nomor kontak Arman. Setelah menemukan nya, Jeky pun langsung menghubungi sahabat masa kecil nya tersebut.
Tut tut tut...
"Halo, Jek. Ada apa?" tanya Arman tanpa basa-basi.
"Ada tugas penting untuk mu," jawab Jeky.
"Tugas penting apa? Ada bonus nya gak?" tanya Arman langsung ceplas-ceplos.
"Ya pasti ada lah. Masa iya meminta bantuan orang secara cuma-cuma? Aneh-aneh saja kamu," cibir Jeky.
"Hehehehe, siapa tau aja?" balas Arman terkekeh.
"Jadi gimana, kamu mau atau tidak menerima tugas ini?" tanya Jeky lagi.
"Ya pasti mau dong. Emang tugas nya apaan sih? Jangan yang aneh-aneh ya, aku gak mau," selidik Arman.
"Gila kamu ya! Siapa juga yang mau ngasih tugas yang aneh-aneh? Bikin emosi saja nih bocah," umpat Jeky.
"Ya... Siapa tau aja kau mau menyuruh ku untuk menculik anak gadis orang, hihihihi..." canda Arman sembari cekikikan.
Arman si tengil
"Heh, kutu kupret! Kau pikir aku ini laki-laki gak laku apa? Sampai nyulik-nyulik anak orang segala?" umpat Jeky semakin kesal.
"Ya kan emang kenyataan nya begitu. Buktinya sampai sekarang kau belum laku juga kan, hahahaha..." ledek Arman tertawa ngakak.
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan favorit nya ya🌺
__ADS_1