Dinikahi Om-Om Dingin

Dinikahi Om-Om Dingin
Bab 22 ~ Sang Pengintai


__ADS_3

Selesai berbincang-bincang, Hermawan dan Claudia pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.


Sesudah membayar tagihan makanan di meja kasir, mereka berdua pun keluar dari restoran sambil bergandengan tangan. Sampai di dalam mobil, Hermawan pun mulai menyalakan mesin mobil, lalu melajukan kendaraan roda empat nya itu menuju kediaman nya.


Saat di tengah perjalanan, tiba-tiba Claudia meminta Hermawan untuk menghentikan kendaraan nya, ketika melihat penjual martabak di pinggir jalan.


"Om, berhenti dulu, Om! Aku mau belikan martabak buat mbok Saripah," ucap Claudia.


"Oke," balas Hermawan mengangguk, lalu memarkirkan mobil nya tepat di depan gerobak penjual martabak.


Setelah itu, Claudia pun langsung keluar dari mobil dan memesan satu kotak martabak kepada Abang penjual.


"Bang, martabak manis nya satu ya!" ucap Claudia.


"Baik, mbak," jawab Abang penjual.


Tak butuh waktu lama, sekotak martabak pun sudah selesai di buat.


"Ini martabak nya, mbak!" ucap Abang penjual sambil menyerahkan kantong plastik, yang berisikan martabak itu kepada Claudia.


"Oke, makasih ya, bang!" Claudia menerima kantong plastik itu lalu menyerah uang kepada Abang penjual.


"Ya, terima kasih kembali, mbak." Abang penjual mengangguk dan menerima uang dari tangan Claudia.


Setelah itu, Claudia kembali masuk ke dalam mobil dan meletakkan kantong plastik itu di atas pangkuan nya.


"Sudah, sayang?" tanya Hermawan mulai menyalakan mesin mobil nya kembali.


"Sudah, Om. Ayo, kita pulang!" jawab Claudia tersenyum.


"Oke," balas Hermawan dan mulai menjalankan kendaraan nya kembali.


Melihat kepergian Hermawan dan Claudia, si pengintai pun menghubungi bos nya kembali, dan melaporkan tentang apa saja yang sudah di lakukan oleh target nya.


"Halo, bos."


"Ya, bagaimana? Apa yang mereka lakukan sekarang?" tanya seseorang sambil memegang gelas anggur di tangan nya.


"Tidak ada, bos. Mereka hanya berbincang-bincang saja, tidak ada melakukan hal yang aneh-aneh. Sekarang, mereka ingin pergi dari tempat ini," jawab si pria berpakaian serba hitam.


"Oh, ya sudah. Terus ikuti mereka, dan laporkan apapun yang mereka lakukan, ngerti!" tegas seseorang itu lalu meneguk anggur nya hingga tandas tak bersisa.


"Oke siap, bos," jawab nya lalu menutup panggilan sepihak.

__ADS_1


Setelah panggilan berakhir, lelaki itu mulai beranjak dari kursi dan membayar tagihan minuman nya.


Ia berjalan dengan langkah cepat keluar dari tempat itu, dan masuk ke dalam mobil. Lelaki misterius itu mengikuti mobil Hermawan sampai ke kediaman nya.


"Oh, jadi ini rumah nya," gumam lelaki itu sambil memandangi rumah bertingkat Hermawan.


Setelah beberapa menit memperhatikan kediaman Hermawan, lelaki itu pun mulai menjalankan kendaraan nya kembali menuju tempat tinggal nya.


Sementara Hermawan dan Claudia, mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu kembali.


"Om, aku ke dapur dulu ya. Mau ngasih ini untuk mbok Saripah," ucap Claudia sambil menunjuk kotak martabak manis yang ada di tangan nya.


"Ya udah, sana! Om mau ke kamar dulu," jawab Hermawan lalu melangkah naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar.


"Oke, Om. Bentar lagi aku nyusul."


Claudia mengangguk lalu berjalan menuju dapur, dengan senyum sumringah di wajah cantik nya.


"Lagi ngapain, mbok?" tanya Claudia lalu duduk di kursi, dan meletakkan kantong plastik itu di atas meja makan.


Mbok Saripah yang sedang memotong sayuran pun langsung menoleh, dan menjawab...


"Lagi motong sayuran buat makan malam, Non."


"Ini kotak apa, Non?" tanya mbok Saripah penasaran.


"Oh, ini martabak manis untuk sampean, mbok," jawab Claudia lalu menyerahkan bungkusan itu ke tangan mbok Saripah.


"Waaahh, terima kasih banyak ya, Non!" ucap mbok Saripah.


Wanita setengah abad itu tampak sangat bahagia menerima pemberian dari Claudia. Ia tidak menduga, jika majikan baru nya itu begitu perhatian kepada nya yang hanya seorang asisten rumah tangga.


"Ya, sama-sama, mbok." Claudia tersenyum melihat kebahagiaan wanita tua yang ada di samping nya.


"Non tau aja kalau si mbok suka martabak, hehehehe!" tutur mbok Saripah dengan wajah berbinar.


"Alhamdulillah, syukur lah kalau mbok suka," balas Claudia masih dengan senyum manis di wajah nya.



Karena merasa lelah dan mengantuk, Claudia pun akhirnya pamit untuk kembali ke kamar nya.


"Ya sudah, saya ke kamar dulu ya, mbok. Mau istirahat," ucap Claudia lalu berdiri dari tempat duduk nya.

__ADS_1


"Oke silahkan, Non!" jawab mbok Saripah.


Setelah berpamitan, Claudia pun mulai melangkah menuju kamar yang berada di lantai dua.


Sedangkan mbok Saripah, ia menatap nanar kepergian Claudia dan bergumam...


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau telah memberikan hamba majikan yang begitu baik seperti Non Claudia," ucap syukur mbok Saripah sambil mengulas senyum.


Setelah bayangan Claudia hilang dari pandangan mata nya, mbok Saripah pun mulai m membuka kotak martabak itu dan memakan nya.


Sesampainya di kamar, Claudia sedikit terkejut melihat pemandangan yang sangat mendebarkan di depan nya.


Mata Claudia langsung melotot ketika melihat Hermawan yang sedang duduk santai di pinggir ranjang, hanya dengan menggunakan handuk di pinggang nya.


"Loh, Om. Kok cuma pake handuk saja sih? Baju nya kemana?" tanya Claudia lalu melangkah masuk dan mengunci pintu kembali.


"Tuh, di keranjang baju!" jawab Hermawan sambil menunjuk ke arah keranjang plastik yang ada di samping kamar mandi.


"Om baru siap mandi, maka nya cuma pake handuk saja," jelas Hermawan.


"Ooohhh, gitu." Claudia manggut-manggut menanggapi ucapan Hermawan.


Kemudian, ia pun mengambil daster pendek di dalam lemari pakaian dan membawa nya ke kamar mandi.


"Mau ngapain? Kok bawa-bawa baju segala?" tanya Hermawan heran melihat tingkah istri nya.


Mendengar pertanyaan Hermawan, Claudia pun langsung menghentikan langkah nya dan menoleh ke belakang.


"Mau ganti baju, Om," jawab nya lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu nya.


"Dasar, aneh! Mau ganti baju aja, pake acara ke kamar mandi segala. Emang nya kenapa kalau ganti baju di sini? Toh, aku juga sudah melihat semua nya," gerutu Hermawan sembari menggeleng-gelengkan kepala.


Tak lama kemudian, Claudia pun keluar dengan pakaian yang sangat minim di tubuh nya. Dan itu berhasil membuat Hermawan membelalakkan mata selebar-lebar nya, dan menelan ludah dengan susah payah.



Penampakan baju yang di kenakan Claudia


Glek...


"Wow, kamu cantik sekali, sayang! Om jadi ingin memakan mu lagi," ucap Hermawan mengangumi kecantikan Claudia dengan senyum menyeringai.


"APA? Ingin memakan ku lagi?" pekik Claudia dengan mata membulat dan mulut menganga lebar.

__ADS_1


🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya 🌺


__ADS_2