
Jeky, Arman, dan kedua teman nya mengedarkan pandangan masing-masing. Mereka berempat terus mengamati keadaan sekitar sambil berpikir keras.
"Gimana kalau kita tanyakan saja kepada nenek itu? Siapa tau beliau bisa dimintai keterangan?" usul Arman yang di balas anggukan oleh kedua teman nya.
"Hmmmm, ide bagus tuh. Ayo, kita kesana!" seru Jeky menyetujui usulan Arman.
Jeky dan Arman menyebarang jalan dan menghampiri si nenek penjual bunga. Sementara itu, kedua teman Arman tetap berdiri di tempat sambil terus mengedarkan pandangan nya.
"Assalamualaikum, Nek?" salam Jeky dengan wajah ramah.
"Wa'laikum salam, ada perlu apa, Cu? Apakah kalian ingin membeli bunga?" tanya si nenek yang berusia sekitar 70 tahunan itu.
Jeky dan Arman saling pandang-pandangan. Mereka seolah-olah sedang berbicara dari tatapan mata nya.
"Gimana, Man? Apakah kita harus membeli bunga nenek ini?" tanya Jeky dalam hati sambil terus menatap manik mata Arman.
"Ya, beli saja. Setelah itu, baru kita mulai mengintrogasi nya!" jawab Arman mengangguk pelan.
Setelah saling berbicara lewat tatapan mata, Jeky pun kembali mengalihkan perhatian nya kepada si nenek.
"Iya, Nek. Kami ingin membeli bunga ini satu kantong," ucap Jeky menunjuk satu kantong bunga yang ada di depan nya.
"Oh, iya silahkan, Cu! Pilih saja yang mana yang kalian mau," balas si nenek dengan senyum mengembang di wajah keriput nya.
"Berapa harga nya, Nek?" tanya Jeky.
"Lima belas ribu saja, Cu."
"Oh, ya sudah. Ini uang nya, Nek!" ucap Jeky sembari menyerahkan selembar uang merah ke tangan si nenek.
"Jadi kembalian nya delapan puluh lima ribu ya, Cu."
"Tidak usah, Nek. Kembalian nya buat nenek saja," ucap Jeky kembali mengulas senyum.
Wajah sang nenek pun langsung berbinar cerah. Ia tampak begitu senang karena mendapatkan rezeki nomplok dari lelaki brewok yang ada di depan nya.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak ya, Cu. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan berlipat-lipat ganda," tutur sang nenek.
"Aaamiiiiinn... Terima kasih atas doa nya ya, Nek." Jeky kembali menyunggingkan senyum termanis nya.
"Iya sama-sama, Cu."
Setelah itu, Jeky mengambil kantong plastik hitam yang berisikan bermacam-macam bunga, lalu menyerahkan nya ke tangan Arman.
"Nek, saya boleh nanya sesuatu gak?" tanya Jeky ragu.
__ADS_1
"Boleh kok, Cu. Silahkan saja, apa yang mau kamu tanyakan?" tanya nya balik. Nenek tua itu memandangi wajah Jeky dengan tatapan penasaran.
"Hmmmm, waktu terjadi kecelakaan tadi, nenek ada disini gak?" ucap Jeky masih dengan nada ragu.
Sang nenek pun langsung mengangguk dan menjawab pertanyaan Jeky.
"Iya, Cu. Nenek tadi ada disini. Emang nya kenapa, Cu? Apakah wanita muda yang tertabrak itu adalah teman kamu atau kerabat dekat kamu?" selidik si nenek.
"Bukan, Nek. Dia itu adalah istri dari bos saya. Dan sekarang, saya di tugas kan untuk menyelidiki kasus ini," jawab Jeky.
Arman yang sedari tadi bungkam pun, kini mulai membuka suara nya.
"Ya, benar sekali, Nek. Wanita muda itu adalah istri dari bos kami. Kira-kira nenek lihat tidak, seperti apa ciri-ciri orang yang ada di dalam mobil itu?" tanya Arman.
Sang nenek pun langsung mengalihkan pandangan nya kepada Arman, lalu menggelengkan kepala.
"Tidak, Cu. Nenek tidak lihat, tapi nenek masih ingat warna dan nomor plat mobil itu," jawab si nenek.
Arman dan Jeky langsung membulatkan mata masing-masing. Mereka saling pandang-pandangan, lalu kembali mengintrogasi wanita tua yang ada di hadapan nya.
"Waaahhh, kebetulan sekali, Nek. Itu sangat membantu mempermudah penyelidikan kami. Boleh nenek sebutkan warna dan nomor plat nya sekarang!" pinta Arman sedikit mendesak.
Jeky pun langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu mengetik informasi yang keluar dari bibir sang nenek.
Setelah selesai, ia pun langsung menyimpan ponsel itu kembali, dan mengucapkan terima kasih kepada wanita tua tersebut.
"Oke, terima kasih banyak atas informasinya ya, Nek. Lain waktu, kami akan kembali lagi kesini," ucap Jeky sembari mencium punggung tangan sang nenek, dan menyelipkan dua lembar uang merah ke dalam genggaman nya.
"Iya sama-sama, Cu. Terima kasih juga untuk salam tempel nya, hehehehe..." balas si nenek terkekeh, saat melihat lipatan uang merah di tangan nya.
Setelah itu, kini giliran Arman yang mencium punggung tangan sang nenek, dan mereka berdua pun langsung pamit undur diri.
"Ya sudah kalau begitu, kami pamit dulu ya, Nek. Kapan-kapan kami kesini lagi," ucap Arman.
"Iya, hati-hati di jalan ya, Cu. Semoga istri bos kalian cepat pulih dan kembali sehat seperti semula," balas si nenek dengan senyum sumringah di bibir nya.
"Aaamiiiiinn, terima kasih doa nya, Nek." ucap Jeky.
Setelah berpamitan, Jeky dan Arman pun kembali melangkah dan menghampiri kedua teman nya, sambil membawa sekantong bunga.
"Bagaimana? Apakah kalian sudah berhasil mendapatkan informasi dari si nenek tua itu?" tanya salah seorang teman nya kepada Arman dan Jeky.
"Sudah," jawab Jeky mengangguk, lalu menunjukkan layar ponsel nya kepada kedua teman nya itu.
__ADS_1
"Trus gimana? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Arman kepada Jeky.
Lelaki brewok itu terdiam sejenak. Raut wajah nya terlihat bingung sambil memutar-mutar ponsel yang ada di tangan nya. Setelah menemukan solusi, Jeky pun memutuskan untuk mengajak Arman dan kedua teman nya ke suatu tempat.
"Kalian bertiga, ikut aku sekarang!" seru Jeky dengan mimik wajah serius.
"Kemana?" tanya Arman penasaran sambil menautkan kedua alis.
"Udah, gak usah banyak tanya. Ikut saja," tegas Jeky lalu melangkah masuk ke dalam mobil hitam milik nya.
Arman dan kedua teman nya saling pandang-pandangan, lalu mengendikkan bahu masing-masing. Tanpa bertanya apa-apa lagi, mereka bertiga pun langsung masuk ke dalam mobil, dan mengikuti mobil Jeky dari belakang.
Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir setengah jam, Jeky dan Arman pun memarkirkan mobil nya di halaman gedung apartemen yang menjulang tinggi di depan nya.
"Untuk apa dia membawa kita kesini?" tanya salah seorang teman nya kepada Arman.
"Entah lah, aku juga tidak tahu," jawab Arman kembali mengendikkan kedua bahu nya.
Arman dan kedua teman nya masih terus berdiam diri di dalam mobil, sambil menunggu aba-aba dari Jeky. Tak lama kemudian, suara dering ponsel pun terdengar dari dalam saku celana Arman.
Kring kring kring...
Arman segera mengambil ponsel nya, lalu menerima panggilan dari Jeky.
"Ya halo, ada apa?" tanya Arman sembari memperhatikan keadaan sekitar apartemen.
"Coba lihat di bagian sisi kanan mu! Apakah benar itu mobil nya?" tanya Jeky meminta pendapat Arman atas apa yang sedang ia lihat saat ini.
Mendengar ucapan Jeky, Arman pun langsung memutar pandangan nya. Alangkah terkejut nya ia, ketika melihat sebuah mobil sport putih yang sedang terparkir rapi di bagian sisi kanan nya.
"HAH..." pekik Arman dengan mata terbelalak lebar.
Kedua teman nya langsung terlonjak kaget, ketika mendengar suara cempreng Arman. Karena penasaran dengan reaksi Arman, akhirnya mereka pun mengikuti arah pandangan sahabat nya itu. Alhasil, mereka berdua pun ikut terkejut dengan mata membulat sempurna.
"Lololoh, bukan nya itu mobil seperti yang ada di dalam petunjuk ya?" ucap salah seorang teman nya.
"Iya, bener. Plat nya juga sama," sambung teman satu nya lagi.
Sedang asyik bergelut dengan isi kepala masing-masing, tiba-tiba Arman kembali di kejutkan dengan suara Jeky yang masih tersambung di ponsel nya.
"Gimana, Man? Apakah mobil itu yang kita cari?" tanya Jeky memastikan.
"I-iya, bener. Itu memang mobil yang sedang kita cari," jawab Arman terbata. Ia tidak menyangka jika Jeky akan dengan mudah nya menemukan mobil itu.
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan favorit nya untuk mendukung karya Author ya 🌺
__ADS_1