
Claudia dan Hermawan turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, mereka berdua pun kembali naik ke atas ranjang dan merebahkan diri masing-masing.
"Kita bobok ya, sayang!" bisik Hermawan sembari membawa tubuh Claudia ke dalam dekapan hangat nya.
"Ya, Om." Claudia mengangguk lalu menenggelamkan wajah di dada bidang suami nya.
Hermawan dan Claudia mulai memejamkan mata masing-masing. Tak lama berselang, mereka berdua pun mulai terlelap dan masuk ke alam mimpi masing-masing.
๐บ Keesokan Paginya ๐บ
Kukuruyuuuukkk...
Suara kokok ayam tetangga terdengar begitu nyaring memecah keheningan di pagi hari. Claudia mulai mengerjap-ngerjapkan mata dan menggeliat kan badan.
Ia mendongak ke atas, menatap wajah teduh Hermawan yang masih tertidur pulas di sebelah nya.
Tidak ingin mengganggu mimpi indah suaminya, Claudia pun mulai melepaskan diri dari dekapan Hermawan dengan sangat perlahan dan berhati-hati.
Dengan pandangan yang masih kunang-kunang, Claudia menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 05:30.
"Alhamdulillah, masih ada waktu untuk shalat subuh," gumam nya.
Dengan langkah sempoyongan, Claudia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi dan berwhudu, Claudia pun kembali berpakaian lalu melaksanakan kewajiban nya sebagai umat muslim, yang di lanjutkan dengan berzikir dan membaca ayat suci Al-Quran.
Selesai melaksanakan kewajiban nya, Claudia keluar dari kamar dan melangkah turun ke lantai dasar. Sampai di dapur, ia menghampiri mbok Saripah yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.
"Lagi masak apa, mbok?" tanya Claudia sembari mendudukkan diri di kursi meja makan.
"Eh, sudah bangun, Non. Ini mbok lagi masak mie untuk sarapan," jawab mbok Saripah.
Wanita tua itu sedikit terkejut melihat kehadiran Claudia yang secara tiba-tiba di belakang nya.
"Waaahh, enak tuh!" puji Claudia tersenyum lebar.
Setelah menyelesaikan tugas nya, mbok Saripah menghidangkan masakan nya ke atas meja makan. Kemudian ia juga menyiapkan dua gelas teh hangat dan alat-alat makan lain nya.
__ADS_1
Claudia pun tak tinggal diam. Ia juga turut membantu mbok Saripah untuk menyiapkan segala keperluan tersebut.
Setelah semua nya tertata rapi di atas meja, Claudia pun kembali naik ke lantai atas dan bergegas masuk ke dalam kamar.
Ia merangkak naik ke atas ranjang, lalu memeluk tubuh Hermawan yang masih tampak setia dengan mimpi indah nya.
"Om, ayo bangun! Hari sudah siang nih," bisik Claudia sambil mengelus-elus dada bidang Hermawan dengan jari-jari lentik nya.
Mendapat sentuhan-sentuhan lembut di dada nya, Hermawan pun mulai terjaga dari tidur panjang nya. Ia membuka mata perlahan, lalu menoleh ke arah Claudia yang sedang asyik menjahili tubuh kekar nya.
"Jangan mancing-mancing singa yang sedang tidur, sayang. Entar kamu kena terkam loh," ucap Hermawan dengan suara serak khas bangun tidur.
Bukan nya merasa takut dengan ucapan Hermawan, Claudia malah semakin menjadi-jadi dengan kejahilan nya. Ia segera naik ke atas tubuh Hermawan lalu mengungkung nya.
"Coba saja kalau berani, hehehehe...!" tantang Claudia nyengir kuda.
Wanita muda itu memandangi wajah bantal suami nya dengan tatapan meledek. Melihat tingkah nakal Claudia, Hermawan pun langsung tersenyum menyeringai. Ia menyambut tantangan istri kecil nya dengan senang hati.
"Oke, siapa takut?" balas Hermawan.
Tanpa basa-basi lagi, lelaki tampan itu pun langsung menyergap tubuh Claudia lalu menciumi bibir nya dengan rakus. Mendapat serangan mendadak dari suami nya, Claudia pun tidak menolak. Ia malah membalas nya dengan tak kalah ganas.
"Sayang, kita olahraga pagi dulu ya sebentar!" bisik Hermawan.
Setelah mendapatkan izin oleh si empunya badan, Hermawan pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia kembali menyatukan bibir nya dengan bibir Claudia, dan mengabsen seluruh isi mulut istri kecil nya.
Setelah puas menciumi bibir dan leher Claudia, Hermawan pun mulai menurunkan cumbuan nya ke bagian dada dan perut ramping istri nya.
"Geli banget, Om. Ahh..." erang Claudia dengan mata tertutup.
Ia mulai mendes*h dan menggeliat-geliat seperti ulat bulu, di saat Hermawan sedang meminum susu dari sumber nya. Kedua tangan Hermawan pun tak tinggal diam.
Ia mengulurkan tangan kanan nya ke arah pangkal paha Claudia, lalu mulai mengobrak-abrik bagian inti wanita itu dengan jari-jari nakal nya.
Dan itu berhasil membuat Claudia semakin tidak terkendali akibat perbuatan suami nya. Karena sudah tidak sanggup menahan nya lagi, akhirnya Hermawan pun mulai menancapkan benda pusaka nya dengan sekali hentakan kuat.
Setelah berhasil menerobos masuk, Hermawan mulai memaju mundur kan pinggul nya dengan kecepatan tinggi. Hingga membuat tubuh dan kedua benda kenyal Claudia berguncang-guncang tidak karuan.
Setelah memadu kasih selama hampir satu setengah jam dengan berbagai gaya dan posisi, Hermawan pun semakin mempercepat laju gerakan nya. Hingga pada akhirnya...
__ADS_1
"Aaakkkhh...!" teriak Hermawan dan Claudia dengan tubuh yang sama-sama bermandikan keringat.
Mereka berdua pun mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan. Hermawan menyemprotkan benih nya ke dalam rahim Claudia sampai habis tak bersisa.
Setelah acara penyatuan selesai, Hermawan menjatuhkan tubuh lemas nya di sebelah Claudia, dengan nafas yang masih naik turun tidak karuan.
"Ayo mandi, sayang!" seru Hermawan lalu beranjak dari ranjang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"Ya," jawab Claudia turut mengikuti langkah suaminya dari belakang.
Selesai membersihkan diri masing-masing, mereka bedua kembali berpakaian dan merapikan penampilan di depan cermin meja rias.
"Ayo, kita keluar!" seru Hermawan.
"Oke, yok!" balas Claudia mengangguk.
Hermawan dan Claudia berjalan beriringan menuju lantai bawah, lalu duduk bersebelahan di kursi meja makan. Selesai menyantap sarapan pagi, Hermawan pun pamit untuk pergi bekerja.
"Om pergi mencari nafkah dulu ya, sayang. Kamu di rumah saja, jangan pergi kemana-mana. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi Om!" pesan Hermawan.
"Iya, Om."
Hermawan memeluk tubuh Claudia dan mendaratkan kecupan-kecupan kilat di wajah nya. Begitu pun sebaliknya, Claudia membalas pelukan Hermawan dan mencium punggung tangan suami nya dengan takzim.
Claudia menggandeng lengan Hermawan, dan mengantarkan nya sampai ke depan teras. Setelah Hermawan masuk ke dalam mobil, Claudia pun melambaikan tangan sembari tersenyum manis kepada suami tua nya.
"Hati-hati di jalan ya, Om!" ucap Claudia.
"Oke, sayang. Om pergi dulu ya, assalamualaikum," pamit Hermawan membalas lambaian tangan istri nya.
"Ya, Om. Wa'laikum salam," jawab Claudia.
Setelah bayangan Hermawan hilang dari pandangan, Claudia pun kembali melangkah masuk ke dalam rumah, dan tidak lupa untuk mengunci pintu kembali.
Saat hendak menapaki anak tangga untuk menuju ke lantai atas, tiba-tiba Claudia menghentikan langkah nya, karena mendengar suara berisik dari luar pagar rumah nya.
Wanita muda itu langsung berlari kecil menuju jendela kaca yang berada di samping pintu utama. Ia mengintip dari balik gorden dan mengedarkan pandangan nya ke arah luar pagar.
Mata Claudia langsung terbelalak lebar saat melihat sosok Nadia yang sedang bercekcok ria dengan Yanto, security yang bertugas menjaga kediaman nya.
__ADS_1
"Ck, mau ngapain lagi sih nenek sihir itu datang-datang kesini? Bikin mood ku rusak saja," gerutu Claudia berdecak kesal.
๐บ Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya ๐๐บ