
Sesudah melewati drama yang cukup panjang dan menegangkan, mereka berempat pun akhirnya mulai menyantap makanan masing-masing dengan suasana hening, tanpa perbincangan apa pun lagi.
Setelah acara makan malam selesai, mbok Saripah mulai membersihkan meja makan dan mencuci piring dan alat-alat makan lain nya, yang baru saja mereka gunakan.
Begitu pun dengan Claudia. Ia juga turut membantu meringankan tugas mbok Saripah dengan senang hati.
Sedangkan para lelaki, mereka kembali berbincang-bincang di ruang tengah, sambil menghisap rokok masing-masing.
"Sudah kenyang sekarang kan?" tanya Hermawan membuka percakapan.
"Sudah, emang nya kenapa kalau aku sudah kenyang?" tanya Jeky dengan alis yang saling bertautan.
"Kalau sudah kenyang, ya pulang lah! Ngapain juga masih nonggok di sini?" jawab Hermawan ketus sambil menghisap rokok nya kembali.
"Ya bentar lah, bos! Baru juga siap makan, masa langsung main usir gitu aja sih? Nasi nya aja masih nyangkut nih di leher, belum turun ke perut," oceh Jeky tak mau kalah.
"Sini, aku bantu! Biar nasi nya cepat turun ke perut," balas Hermawan melambaikan tangan ke arah Jeky.
"Ogah ah, yang ada malah keluar semua isi perut ku kau buat," tolak Jeky mentah-mentah.
"Naaah, tu tau, hahaha..." gelak Hermawan.
"Lagian kenapa sih, buru-buru ngusir aku dari sini? Emang nya kau mau ngapain setelah aku pulang, hah?" tanya Jeky dengan tatapan menyelidik.
"Aku mau bobok syantik sama istri ku tercinta," jawab Hermawan dengan santai nya.
"Widiiiih, lebay amat sih lu. Masa cuma gara-gara mau bobok syantik sama istri mu, kau sampai tega mengusir sahabat karib mu ini? Yang bener aja dong!" omel Jeky tidak terima dengan perlakuan atasan sekaligus sahabat nya tersebut.
"Ya, begitu lah kira-kira," jawab Hermawan masih dengan mode santai nya.
Jeky memajukan bibir nya. Ia tampak semakin kesal dengan sikap Hermawan, yang selalu berbuat seenak jidat nya saja kepada nya.
"Tunggu apa lagi? Ayo, cepetan pergi sana! Aku sudah mulai ngantuk nih, hoamm..." usir Hermawan lagi sambil berpura-pura menguap.
"Halah, alasan! Bilang aja kau mau ehem-ehem sama istri cantik mu itu. Ya kan, ngaku aja deh!" tebak Jeky.
"Kalau sudah tahu, kenapa masih nanya lagi?" balas Hermawan.
"Huuuuu, dasar bujang lapuk gak ada akhlak! Mentang-mentang pengantin baru, mau nya dekat-dekat terus sama ayang beb nya. Bikin iri aku saja," gerutu Jeky dengan wajah masam.
Mendengar kata "bujang lapuk" Hermawan pun langsung membulatkan mata nya. Ia menatap sinis ke arah Jeky, lalu berkata...
__ADS_1
"Heh, kutu kupret! Yang bujang lapuk gak laku-laku itu kau, bukan aku, ngerti! Ralat ucapan mu itu," omel Hermawan tidak terima dengan umpatan sahabat nya.
Jeky menghela nafas panjang. Ia membalas tatapan mata Hermawan dengan tak kalah sinis. Lelaki brewok itu selalu saja kalah telak, jika sudah berhadapan dengan bos dingin nya tersebut.
"Iya iya, ngalah aja lah. Dari pada gak dapat bonus nanti," balas Jeky pasrah lalu berdiri dari tempat duduk nya.
"Naaah, gitu dong. Itu baru nama nya sekertaris yang baik, hahahaha..." ledek Hermawan kembali tergelak.
"Ya lah, suka-suka kau lah situ mau bilangin aku apa? Yang penting, bonus ku harus double bukan depan, ingat itu baik-baik!" tegas Jeky lalu melangkah ke arah pintu utama dengan perasaan dongkol.
"Aman lah itu," jawab Hermawan.
Lalu ia pun ikut bangkit dari tempat duduk nya, dan mengekori langkah Jeky dari belakang.
Jeky terus mengayunkan langkah nya sampai ke depan halaman rumah mewah Hermawan, lalu masuk ke dalam mobil nya. Saat hendak melajukan kendaraan roda empat nya itu, Jeky kembali menoleh karena mendengar suara Hermawan dari depan pintu.
"Hati-hati di jalan ya, Jek! Kalau di tengah perjalanan nanti kau bertemu dengan Mak kunti, bawa pulang saja. Buat teman bobok di rumah, hahahaha..."
Lagi... Hermawan tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut nya yang terasa sedikit kram, akibat kebanyakan tertawa. Ia terus saja meledek Jeky dengan ocehan-ocehan receh nya.
Dengan wajah kesal, Jeky pun menjawab ledekan Hermawan nya dengan tak kalah nyeleneh.
"Bukan Mak kunti yang akan aku bawa pulang, tapi istrimu, hahahaha..." gelak Jeky.
"Waduhhh, gawat nih! Kabooorrr..." ucap Jeky lalu cepat-cepat menginjak pedal gas nya.
Sebelum mendapat lemparan sandal dari atasan nya, Jeky pun langsung tancap gas meninggalkan kediaman Hermawan.
Melihat kepergian Jeky, Hermawan pun hanya tersenyum miring dan menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Takut juga dia rupanya," ucap Hermawan tersenyum miring.
Setelah bayangan Jeky menghilang dari pandangan, Hermawan menutup pintu kembali dan mengunci nya. Setelah itu, ia bergegas melangkah naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar.
Ceklek...
Mendengar suara pintu terbuka, Claudia yang sedang berganti pakaian pun langsung menoleh, dan reflek menyilangkan kedua tangan di dada nya.
"Aduh, Ooom! Kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu kenapa sih? Bikin kaget aku saja," gerutu Claudia lalu berlari kecil ke kamar mandi.
__ADS_1
"Iya iya, maaf. Om kelupaan tadi," balas Hermawan lalu menutup pintu kamar kembali.
Ia memandangi kepergian Claudia dengan tatapan heran. Setelah itu, ia mulai berjalan ke arah ranjang dan melepas semua pakaian nya, hingga menyisakan celana pendek di atas lutut.
Hermawan meletakkan pakaian kotor itu ke dalam keranjang, yang berada di sebelah kamar mandi. Kemudian ia kembali berjalan dan mendudukkan diri di pinggir ranjang.
Tak lama berselang, Claudia pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan daster merah maroon yang sedikit transparan.
Glek...
Hermawan menelan ludah dengan kasar, dan menatap ke arah Claudia dengan mata yang tidak berkedip.
"Haduuuh, kenapa si dedek langsung bangun gini sih, kalau sudah meihat yang beginian?" Bikin repot aku saja," gerutu Hermawan sambil memegangi kepala jamur, yang mulai berdiri tegak di balik celana pendek nya.
Hermawan mulai gelisah dan tidak tenang di tempat duduk nya. Ia terus memegangi kepala jamur itu, dan berusaha menutupi nya dengan kedua tangan nya.
Melihat gelagat aneh Hermawan, Claudia pun mengernyitkan dahi lalu melangkah mendekati suaminya.
"Om, ada apa? Muka nya kok jadi aneh gitu?" tanya Claudia sembari mendudukkan bokong nya di samping Hermawan.
Deg deg deg...
Dada Hermawan berdetak kencang, ketika melihat belahan dada Claudia yang terpampang jelas di depan mata nya.
"Ng-nggak, Om nggak kenapa-kenapa kok." Hermawan tergagap menjawab pertanyaan istri nya.
Claudia memperhatikan gerak-gerik Hermawan yang terlihat semakin aneh menurut nya. Merasa di perhatikan oleh istri nya, Hermawan pun langsung memalingkan wajah ke sembarang arah.
Claudia yang masih penasaran dengan tingkah aneh suami nya pun semakin menajamkan tatapan nya, dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan nya kembali kepada Hermawan.
"Trus, itu nya kenapa? Kok di tutupi gitu? Apa jangan-jangan lagi sakit ya? Sini, coba aku lihat!" ucap Claudia lalu menyingkirkan tangan Hermawan, yang sedari tadi masih terus menempel di atas kepala jamur nya
Melihat kepolosan Claudia, Hermawan pun hanya bisa pasrah, dan membiarkan istri kecil nya itu melakukan apa pun yang ia mau.
Di saat Claudia mengeluarkan kepala jamur itu, tiba-tiba ia pun langsung terkejut dengan mata membulat dan mulut menganga lebar.
"Waduhhh, gede banget kepala jamur nya, Om! Pantesan aja waktu pertama kali di tusuk terasa sakit. La wong yang masuk ke dalam segede ini," ucap Claudia.
Ia terus memfokuskan pandangan nya ke arah benda keras, yang mampu membuat nya melambung tinggi. Sedangkan Hermawan, ia hanya tersenyum mendengar celotehan istri nya.
__ADS_1
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya man teman. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favorit nya ya🌺