
Hermawan mengepalkan tangan nya, ketika melihat kehadiran sang mantan pacar yang telah lama menghilang. Ia menatap tajam ke arah Nadia sambil mengeraskan rahang.
"Sayang, jangan galak-galak gitu, dong! Apa kamu tidak merindukan kekasih cantik mu ini, hah?" goda Nadia tersenyum genit.
Visual : Nadia Kencana
Usia : 35 tahun
Status : Mantan pacar Hermawan
"Cih, pede sekali kamu, Nadia. Siapa juga yang merindukan wanita murahan seperti kau itu?" cibir Hermawan ketus.
Hermawan mengalihkan pandangannya kepada Jeky, lalu menyuruh sekretaris nya itu untuk segera mengusir Nadia dari ruangan nya.
"Jek, cepat kau usir wanita gila ini dari sini sekarang juga!" teriak Hermawan dengan wajah menyeramkan.
Jeky yang sedari tadi melamun pun langsung tersentak, mendengar teriakan bos sekaligus sahabat nya tersebut.
"Ba-baik, Her."
Jeky mengangguk lalu memegang lengan Nadia, dan dengan paksa menyeretnya keluar.
"Ayo, Nad! Kamu ikut aku sekarang," seru Jeky sambil terus menarik-narik lengan Nadia.
"Tidak, aku tidak mau. Lepaskan tangan ku, laki-laki bodoh! Kalau tidak, aku akan laporkan kau ke polisi atas tindakan kekerasan," ancam Nadia sambil berusaha melepaskan cengkraman Jeky dari tangan nya.
Bukan nya melepaskan cengkraman nya, Jeky malah tertawa ngakak mendengar ancaman konyol dari mantan sahabat nya tersebut.
"Hahahaha, coba saja kalau bisa. Kau pikir aku takut, hah? Hahahaha, dasar perempuan gak waras!" umpat Jeky sambil terus tertawa.
Mendengar ucapan Jeky, Nadia pun semakin emosi lalu menunjuk wajah lelaki brewok itu, dan berkata...
"Kau..."
Belum sempat Nadia meneruskan kata-kata nya, Jeky pun langsung menyambar nya seperti bensin.
"Udah, nggak usah kebanyakan drama. Ayo cepetan, ikut aku sekarang!" tegas Jeky lalu menambah kekuatan nya untuk menarik paksa wanita tersebut.
Dengan terpaksa, akhirnya Nadia pun pasrah dan menuruti perintah Jeky. Namun, sebelum Nadia meninggalkan ruangan itu, ia pun kembali menatap sinis kepada Hermawan dan berucap...
"Awas kau ya, Her! Aku akan membalas perlakuan mu ini, ingat itu baik-baik!" ancam Nadia sembari mengepalkan tangan, dan berlalu pergi dari hadapan Hermawan.
"Silahkan, balas lah sesuka hati mu. Aku tidak akan pernah takut dengan ancaman receh mu itu," jawab Hermawan. Ia memasang wajah datar sambil terus menatap kepergian mantan kekasih nya tersebut.
__ADS_1
"Nadia... Nadia... Jangan salah kan aku, jika aku berubah seperti ini. Karena semua itu adalah salah mu, dan juga karena keegoisan mu sendiri."
"Kau yang meninggalkan ku demi laki-laki lain, dan kau juga yang memutuskan hubungan kita. Jadi, untuk apa lagi kau datang pada ku, Nadia? Untuk apa?" gumam Hermawan.
Ia begitu menyesali perbuatan Nadia yang sudah mengkhianati cinta nya.
Hermawan memandang ke arah luar kaca jendela dengan tatapan kosong. Ia menatap gedung-gedung tinggi, sambil mengingat kisah cinta nya yang kandas di tengah jalan, akibat hadir nya orang ketiga di tengah-tengah mereka.
"Dulu, aku memang sangat mencintai mu Nadia. Tapi, tidak untuk saat ini."
"Claudia sudah berhasil menggantikan posisi mu di hati ku. Dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, untuk kembali menjalin hubungan dengan mu," lanjut Hermawan masih terus merenung kisah cinta nya.
"By the way, gadis kecil ku lagi ngapain ya sekarang?" gumam nya.
Hermawan membalikkan badan dan melangkah menuju meja kerja nya. Ia kembali membuka laptop, dan memantau keadaan di dalam rumah. Terutama memantau keadaan Claudia, istri tercinta nya.
Setelah layar laptop menyala, Hermawan pun langsung membulatkan mata nya, ketika melihat Claudia sedang membuka seluruh pakaian nya di dalam kamar.
"Hah, mau ngapain dia?" gumam Hermawan terkejut, melihat pemandangan yang sangat menggiurkan kan di depan mata nya.
Hermawan terus memandangi gerak-gerik Claudia, yang tampak sedang asyik menikmati kesendirian nya sambil bernyanyi-nyanyi ria.
Setelah membuka pakaian, Claudia pun masuk ke dalam kamar mandi, dan mulai membasahi tubuh nya di bawah guyuran air shower yang hangat.
Berhubung kamar mandi itu berdinding kaca, jadi Hermawan bisa melihat dengan jelas, kegiatan apa saja yang di lakukan Claudia di dalam kamar mandi tersebut.
Hermawan tersenyum-senyum sendiri. Ia sama sekali tidak berkedip, saat memandangi Claudia yang sedang sibuk menyabuni kaki, tangan, dan tubuh ramping nya.
Sedang asyik menikmati keindahan tubuh istrinya, Hermawan pun kembali di kejutkan dengan kehadiran Jeky yang masuk secara tiba-tiba, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Hayo, ketahuan. Lagi lihatin apaan sih? Kok senyam-senyum gitu? Pasti lagi nonton film ehem-ehem ya?" tebak Jeky mulai kepo dengan gelagat aneh atasan nya.
"Sembarangan, kau pikir aku ini laki-laki apaan, hah? Untuk apa juga aku nonton film begituan? Nggak ada gunanya juga. Mendingan aku praktekin langsung dengan istri ku," omel Hermawan dengan wajah masam, lalu segera menutup laptop nya.
Ia tidak ingin Jeky melihat tubuh polos Claudia, yang masih melakukan ritual mandi nya.
"Loh, emang kamu sudah menikah ya, Her?" tanya Jeky dengan mimik wajah terkejut.
"Sudah," jawab Hermawan santai.
Kemudian, ia pun menyalakan rokok dan menghisap nya perlahan. Hermawan tidak menghiraukan wajah Jeky yang sedang memandang ke arah nya, dengan tatapan penuh selidik.
"Hah, serius?" lanjut Jeky.
"Iya, serius." Hermawan mengangguk.
__ADS_1
"Emang masih ada ya, yang mau dengan bujang lapuk seperti mu ini?" ledek Jeky.
Mendengar kata 'bujang lapuk' Hermawan pun langsung naik pitam, dan menatap wajah Jeky dengan mata berapi-api.
"Woy, setan! Jangan asal njeplak kalo ngomong. Asal kau tau ya, tua-tua gini, masih banyak perempuan yang ngantri untuk menjadi istri ku." Hermawan menepuk bahu Jeky dengan kuat.
Dan itu berhasil membuat lelaki brewok itu langsung memekik, sambil mengelus-elus bahu nya.
"Adooooh, sakit dodol!" umpat Jeky kesal.
"Jangan sama kan aku dengan kau, yang tidak laku-laku dari zaman baholak sampe sekarang, hahahaha!" cibir Hermawan sembari tergelak.
Jeky memanyunkan bibir mendengar candaan receh Hermawan. Ia kembali meringis menahan sakit di bahu nya, akibat ulah sahabat jahil nya tersebut.
"Halah, bohong. Mana bukti nya kalau kau sudah menikah?" tanya Jeky tidak percaya dengan perkataan Hermawan.
Merasa tidak terima dengan tuduhan Jeky, Hermawan pun langsung mengeluarkan ponsel dari saku jas nya. Kemudian, ia membuka galeri untuk mencari foto-foto pernikahan nya dengan Claudia.
"Nah, ini buktinya!" ucap Hermawan sambil menyerahkan ponsel nya kepada Jeky.
Jeky menerima ponsel itu, lalu menatap nya dengan wajah serius. Ia mengucek-ngucek mata sampai berulang kali, seolah-olah tidak percaya dengan penglihatan nya sendiri.
"Whaaaattt? Ja-jadi beneran kamu sudah menikah?" pekik Jeky dengan mata melotot, seperti hendak keluar dari sarang nya.
"Ya iya lah, untuk apa aku bohong? Itu kan bukti nya sudah jelas. Emang nya kau mau bukti apa lagi, hah?" oceh Hermawan ketus.
Jeky melihat foto-foto itu satu persatu, dengan tatapan aneh. Ia tidak menyangka jika Hermawan akan menikah dengan gadis belia, yang usia nya sangat jauh berbeda dengan sahabat nya tersebut.
"Eh, tunggu tunggu tunggu... Seperti nya ada yang aneh dengan foto-foto ini?" ucap Jeky.
"Aneh? Aneh apa nya?" tanya Hermawan bingung.
"Sebenarnya ini foto asli atau foto editan sih? Kok muka cewek nya muda banget, kayak anak ABG?" selidik Jeky.
"Ya foto asli lah. Gila apa pake ngedit-ngedit foto segala? Kayak kurang kerjaan saja," omel Hermawan kesal atas tuduhan Jeky, sekretaris resek nya tersebut.
"Hehehehe, siapa tau aja kau memang kurang kerjaan," balas Jeky cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
Hermawan memutar bola mata malas, melihat tingkah konyol sahabat nya.
"Kalau kau masih tidak percaya juga, kau bisa ikut dengan ku ke rumah. Agar kau bisa bertemu langsung dengan istri ku itu," usul Hermawan.
"Boleh, ayo kita ke rumah mu sekarang!" desak Jeky dengan wajah berbinar.
"Oke, ayo!" Hermawan mengangguk lalu bangkit dari kursi kebesaran nya.
🌺 Terima kasih atas kunjungan dan dukungan nya. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya man teman 🌺
__ADS_1