Dinikahi Om-Om Dingin

Dinikahi Om-Om Dingin
Bab 39 ~ Siang Bolong


__ADS_3

Claudia berjalan menuju ruang tengah, dimana tempat suami nya berada. Ia duduk di sebelah Hermawan, lalu menyandarkan kepala di bahu kekar lelaki itu.


"Om, tadi nenek sihir itu datang lagi kesini," ucap Claudia membuka percakapan.


"Oh, ya?" tanya Hermawan berpura-pura terkejut mendengar penuturan istri nya.


"Iya, kalau Om gak percaya, tanya saja sama Yanto dan mbok Saripah!" jawab Claudia.


"Gak perlu, sayang. Om percaya kok. Trus gimana? Kamu berhasil mengusir dia?" tanya Hermawan lagi.


"Ya pasti berhasil dong, Om. Kalau cuma ngadepin nenek sihir yang model begituan mah, keciiiillll..." jawab Claudia sambil menjentikkan jari telunjuk nya.


Mendengar perkataan Claudia, tawa Hermawan pun langsung pecah seketika. Ia merasa sangat lucu melihat gaya bicara wanita yang ada di samping nya.


"Hahahaha, ada-ada saja kamu!" gelak Hermawan sambil mengacak-acak rambut pirang istri nya.


"Iiiiihhh, apaan sih, Om... Lihat nih rambut ku! Jadi berantakan gini Om buat," omel Claudia kesal.


Ia menepis tangan Hermawan, lalu merapikan rambut dengan jari-jemari nya. Sedangkan Hermawan, ia hanya tersenyum miring melihat tingkah kocak istri kecil nya.


"Om, aku boleh nanya sesuatu gak?" tanya Claudia ragu.


"Boleh, tanya saja!" jawab Hermawan.


"Hmmmm, sebenarnya Om masih ada hubungan apa sih sama si nenek sihir itu? Kok dia ngejar-ngejar Om terus? Padahal kan dia sudah tahu, kalau Om sudah menikah dengan ku?" cecar Claudia.


Hermawan menghela nafas panjang. Ia melingkarkan tangan di pundak Claudia, lalu membelai rambut nya dengan lembut. Lelaki tampan itu menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.


Ia kembali mengingat kejadian beberapa tahun silam. Dimana Nadia sudah mengkhianati cinta dan kepercayaan nya.


"Dulu sewaktu kami masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, Nadia sudah mengkhianati cinta Om," tutur Hermawan mulai menceritakan kisah cinta nya dengan Nadia.


"Dia sudah berselingkuh dengan lelaki bule, dan meninggalkan Om begitu saja. Bahkan bukan itu saja, dia juga mengirimkan foto-foto mesra nya di atas ranjang bersama laki-laki itu," lanjut Hermawan.


"HAH, masa sih, Om?" pekik Claudia dengan mata membulat.


Wanita muda itu tampak sangat terkejut mendengar penuturan suami nya. Ia tidak menyangka jika Nadia akan berbuat sejahat itu kepada kekasih nya sendiri, yaitu Hermawan.


"Iya beneran, sayang. Om gak bohong. Kalau kamu gak percaya, tanya kan saja sama orang nya langsung!" jawab Hermawan meyakinkan.


"Iiiiihhh, ogah banget! Ngapain juga aku harus repot-repot nanyain ke dia segala? Kayak kurang kerjaan aja," gerutu Claudia kesal lalu memanyunkan bibir ke depan.


"Ya... Siapa tau aja kamu ingin membuktikan kebenaran nya, hehehehe..." balas Hermawan nyengir kuda.


"Cih, ora sudi!" jawab Claudia sembari berdecih.

__ADS_1


"Hahahaha..."


Hermawan kembali tergelak dengan suara menggelegar. Ia tampak sangat terhibur dengan tingkah-tingkah lucu istri tercinta nya.


Sedang asyik bersenda gurau dengan sang istri, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang cukup kuat dari dalam saku celana Hermawan.


Kring kring kring... Kring kring kring...


"Om, ada yang nelpon tuh!" seru Claudia.


"Iya, sayang. Om juga denger kok. Kamu kira kuping Om budeg apa?" balas Hermawan lalu merogoh saku celana nya, untuk mengambil benda pipih yang sedang berdering tersebut.


"Bukan budeg, Om. Tapi pekak, hihihihi..." jawab Claudia meluruskan sambil terkikik geli.


"Sama aja, sayaaaaang!" balas Hermawan tak mau kalah.


Setelah berhasil mendapatkan nya, Hermawan pun langsung menyipitkan mata, ketika melihat nama Jeky yang tertera di layar ponsel itu.


"Jeky? Kira-kira, ada perlu apa ya dia menghubungi ku?" batin Hermawan sedikit was-was.


Melihat keterdiaman Hermawan, Claudia pun mengernyitkan dahi. Ia bingung dengan gelagat suami nya yang tampak sedikit gelisah, sambil memandangi ponsel nya sendiri.


"Kok gak di angkat, Om? Emang nya siapa yang nelpon?" tanya Claudia penasaran.


"Jeky," jawab Hermawan.


Hermawan tidak bergeming. Ia masih terus menatap layar ponsel yang sedang memekik kuat di genggaman tangan nya.


"Om, kok malah bengong sih? Ayo, cepetan di angkat! Siapa tau aja ada keperluan penting yang ingin dia sampaikan," seru Claudia sambil menyenggol lengan Hermawan.


Lelaki itu langsung tersadar dari lamunan nya. Ia menoleh ke arah Claudia, lalu menganggukkan kepala.


"Oke," balas Hermawan lalu menekan aikon hijau, dan menempelkan benda pipih itu ke telinga kanan nya.



"Halo, ada apa, Jek?" tanya Hermawan tanpa basa-basi.


"Ya halo, gak ada apa-apa kok, Her. Aku cuma mau ngabarin, kalau mulai besok pagi Arman dan dua orang teman nya akan datang ke rumah mu, untuk melaksanakan tugas nya," jawab Jeky dari seberang sana.


"Oh, soal itu. Oke, aku akan tunggu kedatangan mereka besok," balas Hermawan manggut-manggut.


"Ya sudah kalau begitu. Eh, tapi soal bayaran nya gimana?" tanya Jeky.


"Gampang, aku yang akan atur semua nya. Oke, udah dulu ya, bye..." jawab Hermawan menutup panggilan dari sekretaris pribadi nya.

__ADS_1


"E e e e eh, tunggu dulu, Her! Aku belum siap ngo..."


Belum sempat Jeky melanjutkan kata-kata nya, tiba-tiba terdengar suara... Tut tut tut...


"Huuuuu, dasar bos gak ada akhlak! Main tutup sembarangan aja, tadi kan aku belum sempat ngomong tentang Arman dan teman-teman nya," gerutu Jeky.


Ia tampak sangat kesal dengan kelakuan atasan sekaligus sahabat nya itu. Jeky melemparkan ponsel ke atas ranjang, lalu membaringkan tubuh kekar nya.


Setelah panggilan terputus, Hermawan meletakkan ponsel nya ke atas meja, lalu kembali berbincang-bincang hangat dengan Claudia.


"Jeky ada ngomong apa, Om?" tanya Claudia penasaran.


"Ngomong soal orang yang akan menjaga rumah kita, sayang. Besok pagi mereka akan datang kesini," jawab Hermawan jujur.


"Loh, kenapa harus menambah orang untuk menjaga rumah kita? Bukan nya sudah ada Yanto ya?" selidik Claudia.


Hermawan menghela nafas berat, lalu menoleh ke arah wajah cantik Claudia. Ia memegang kedua pipi wanita itu, dan menatap manik mata nya dalam-dalam.


"Om menambah penjagaan di rumah kita, karena Om tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu, sayang." jelas Hermawan.


"Terjadi apa-apa? Maksud nya?" tanya Claudia semakin bingung dengan ucapan suami nya.


"Maksud nya, Om tidak ingin Nadia kembali lagi kesini, dan mengganggu ketenangan rumah tangga kita," jawab Hermawan.


"Oooohhh, nenek sihir itu toh."


Claudia manggut-manggut. Ia langsung mengerti akan maksud perkataan suami tua nya.


Hening...


Mereka berdua sama-sama terdiam dan sibuk dengan isi kepala masing-masing. Claudia kembali menyandarkan kepala di bahu Hermawan, lalu bergelayut manja di lengan nya.


Hermawan tersenyum tipis, sambil sesekali melirik ke arah wanita muda yang ada di sebelah nya. Ia kembali membelai rambut pirang Claudia, dan mendaratkan kecupan hangat di dahi nya.


"Sayang, kita ke atas yok!" seru Hermawan.


Ia mengajak Claudia untuk kembali ke dalam kamar yang berada di lantai dua. Mendengar ucapan suami nya, Claudia pun langsung mengangkat kepala dan menatap tajam ke arah wajah tampan itu.


"Mau ngapain Om ngajak aku ke atas?" tanya Claudia mulai curiga dengan gerak-gerik Hermawan.


"Mau minta jatah siang," jawab Hermawan dengan santai nya.


"APA? JATAH SIANG?" teriak Claudia dengan mata membulat dan mulut menganga lebar.


"Iya, emang nya kenapa?" tanya Hermawan balik.

__ADS_1


"Yang bener aja dong, Om. Masa iya siang-siang bolong gini minta jatah? Aneh-aneh aja," gerutu Claudia.


🌺 Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favorit nya ya bestie 🥰😘🌺


__ADS_2