Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Rinnada dan Dinnara (2)


__ADS_3

"Jawab aku! Dengan siapa aku sebenarnya menyatakan perasaanku dan siapa yang menerimaku!" Sentaknya marah. Rinnada benar-benar membuat Brian kesal setengah mati. Bukan sebentar mereka berhubungan. Selama itu pula tidak pernah dia membahasnya.


Brian bahkan selalu berpikir positif tentang Rinnada yang sering berubah mood dan perilakunya, juga lupa momen penting mereka. Dia mengira Rinnada punya gangguan mental hingga memaklumi semua yang terjadi selama ini. Tak disangka, ternyata mereka ada dua orang. Brian benar-benar merasa dipermainkan.


Rinnada menarik napasnya. Genangan air menumpuk lagi di matanya. "Itu aku".


Walau dengan dada yang naik turun, sedikitnya Brian merasa lega. Dia bahkan tidak tahu harus berbuat apa seandainya yang mendengar pernyataan cintanya bukan Rinnada, melainkan Dinnara.


"Yang pertama bertemu denganmu, itu aku. Yang kau tembak, itu aku dan menerimamu, itu aku. Yang selalu kau jumpai di kampus, itu juga aku. Yang menemanimu di kebun binatang dan pantai, itu aku."


Rinnada memejamkan matanya. Perlahan, dia melanjutkan. "Yang kau jumpai di Kafe, itu Dinnara. Yang sering kau telpon sampai tertidur, itu juga dia. Aku tahu, aku bersalah. Aku selalu berdoa supaya kau hanya menyentuh dan menciumku, bukan Dinnara."


Brian membuang muka. Sangat keterlaluan, Batinnya.


"Aku meminjam payungnya waktu itu. Lalu dia mengungkitnya. Dengan memakai payung sebagai jawaban, itu artinya dialah yang berpacaran denganmu."


"Dia bilang, kau menyukai gadis yang suka dengan merah jambu. Sedangkan aku selama ini hanya menghindari apa yang dia suka."


Brian masih diam. Dia sendiri sedang kacau dengan pikirannya. Hal-hal yang telah ia lakukan bersama Rinnada selama ini terasa mengkhawatirkan. Sebab ternyata, kasih sayang yang ia curahkan bukan hanya Rinnada yang merasakannya. Namun juga Dinnara. Brian memutar lagi kenangan-kenangan itu. Dia ingin sekali mengingat apa saja yang ia lakukan dengan Dinnara di kafe itu.


"Saat malam setelah kau memberiku coklat, dia yang mengangkat telepon itu. Karena aku sedang berada di luar."


"Kamar kami terpisah. Tetapi ada pintu di tengahnya. Kuncinya hanya ada dikamar Dinnara sehingga dia bisa keluar masuk dan mengambil handphone ku."


"Kak, apa kau tahu kenapa aku jarang sekali memintamu bertemu saat malam. Atau bertemu hanya sampai sore hari? Sebab aku selalu tidur cepat. Badanku lelah saat malam. Dan dia yang menggantikan posisiku disitu".


Rinnada menahan napasnya. Dia tahu Brian pasti akan marah mendengar itu.


"Apa! Kau tahu itu, kan. Dan kau hanya diam! Bukankah kau tau perbuatanmu itu menyakitiku?? Apa kau tidak cemburu, Rinnada!" Bentaknya kuat. Suaranya menusuk di telinga Rinnada.


"Maafkan aku. Aku sangat cemburu, Hiks". Ia menangis. "Tapi aku tidak bisa berkata apa-apa, Bunda yang memintaku begitu". Ucapnya dengan nada lirih. Air mata keluar menetes di pipinya.

__ADS_1


"Bundamu?"


Rinnada mengangguk lambat. "Dinnara bercerita ke semua orang dirumah bahwa dia mempunyai pacar. Dia memberikan fotomu ke Bunda, Kak En, juga seluruh isi rumah. Dia selalu memujimu, menceritakanmu. Aku sempat bilang bahwa akulah sebenarnya, bukan Dinnara.". Suara Rinnada terisak. Dia tersedu-sedu sebab Dinnara pandai memainkan perannya.


"Dia juga mengatakan bahwa kau akan menikahinya. Lalu aku harus apa?" Nangisnya semakin menjadi. Beban di pundaknya kini ia perlihatkan dihadapan Brian.


Brian mengelus pelan punggung gadis itu. "Aku yang akan bicara pada mereka."


Rinnada hanya menangis sesegukan. Dirinya bahkan diminta sang bunda mengalah perihal cinta. Menurutnya, Rinnada maupun Dinnara sama saja karena wajah mereka serupa.


"Aku selalu ingin lari. Aku ingin terus bersamamu. Aku tidak mau kau menikah dengan Dinnara!"


"Aku... terlalu banyak mengalah, kak. Kali ini, Aku tidak mau mengalah lagi." Brian mendekatkan diri dan memeluk Rinnada. Entah mengapa dia ikut merasakan apa yang ia rasa.


"Aku akan mengatakan kepada mereka. Bahwa aku mencintai Rinnada yang tidak menyukai warna merah jambu. Aku menyukai Rinnada yang rajin belajar. Aku menyukai Rinnada yang anggun".


Ucapan Brian menyentuh hati Rinnada. Dia bersyukur Brian bisa membedakan dirinya dan Dinnara. Hal itu sudah terlihat jelas saat Rinnada keluar dari mobil siang tadi.


"Ada satu hal yang membedakan wajah kalian. Dan aku bisa melihat itu". Ucap Brian lembut.


"Garis senyummu." Brian menyeka air mata Rinnada. Dia menyentuh bibir gadis itu dengan ibu jarinya. "Senyummu begitu menawan, Rinnada. Hal itu tidak ku temukan saat bersama Rinnada merah jambu". Ucapnya sambil tersenyum. Rinnada yang mendengar itu ikut tertawa.


"Ada satu hal lagi." Rinnada mengeluarkan pita kuning di saku kemejanya. "Aku selalu menyimpan barang-barang yang kau beri dengan aman. aku tak ingin dia tahu dimana aku menyimpan ini. Jadi, lihatlah, dia tidak akan menyentuh barang pemberianmu. Hanya aku yang memiliki ini. Aku akan memastikannya." Rinnada menggenggam erat Pita kuning pemberian Brian. Selama ini, dia terus membawa pita itu kemana pun ia pergi.


Brian menyentuh pipi Rinnada. "Maafkan aku. Aku marah padamu. Aku membentakmu. Maafkan aku". Brian menatap gadis di depannya dengan wajah yang merasa bersalah. Entah mengapa setelah mendengar ceritanya, dia semakin menyayangi gadis dihadapannya yang selalu mengalah ini.


"Akulah yang salah. Aku yang dari awal tidak mengatakannya."


Brian mengecup kening Rinnada. Dia memahami gadis ini. Dia sangat menyayanginya.


"Rin.. Sekarang jujurlah dalam segala hal. Ceritakan padaku, apa ada hal lain yang kau tidak ceritakan padaku?" Tanya Brian sambil menatap matanya.

__ADS_1


Rinnada terdiam. Dia menundukkan matanya dari pandangan Brian.


"Benarkan, kau tidak menceritakan semuanya. Cepat ceritakan padaku. Jangan lagi sembunyikan apapun dariku." Pintanya dengan wajah bertekuk-tekuk tidak senang.


Rinnada terdiam cukup lama. Brian membiarkannya mengambil napas supaya dia benar-benar sanggup untuk menceritakannya.


"Kak, kembaranku kena penyakit Thalasemia".


"Iya, kau sudah mengatakannya tadi."


"Dan aku juga mengalami hal yang sama".


"Apa? jelaskan dengan benar, Rin. Itu penyakit seperti apa?"


"Kakak tahu kenapa aku sering menghilang selama dua atau tiga hari?"


Brian mengangguk.


"Tubuhku selalu kekurangan sel darah merah. itu sebabnya dalam satu minggu, aku menyempatkan diri untuk transfusi darah supaya darahku tetap normal".


"Apa,, itu berbahaya?" Tanya Brian dengan suara tercekat. Dia takut mendengar sesuatu yang ia tak ingin dengar.


Rinnada tersenyum. "Entahlah, akupun tidak tahu. Dulu, aku mulai lelah melakukannya. Tapi semenjak bertemu denganmu, aku sangat ingin hidup terus didekatmu".


"Aku sangat capek dan sempat ingin berhenti tranfusi dan membiarkan diriku begitu saja. tapi, aku juga masih ingin belajar dan melajutkan hidup dengan normal. Lalu, aku bertemu denganmu". Wajah Rinnada cerah. Lagi, senyum khasnya merekah di bibirnya. Tetapi hal itu tidak membuat Brian senang. Ia justru sangat sedih sekaligus khawatir.


"Setelah mendengar ini, apa kakak masih mau bersamaku? Aku akan terus merepotkanmu". Ucapnya perlahan namun penuh kekhawatiran. Khawatir jika Brian meninggalkannya setelah mendengar ucapannya ini.


Brian memeluk tubuh gadis itu. Semua ucapan Rinnada telah menjawab semua pertanyaan dalam dirinya. Tidak gentar sedikit pun, bahkan ia ingin Rinnada terus di dekatnya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Bertahanlah, demi aku. Rinnada".

__ADS_1


Air mata Rinnada tumpah. Dia menangis di pelukan Brian. Dia bersyukur pada Tuhan, sebab telah mempertemukannya dengan lelaki seperti Brian. Dia menguatkan tekad, dia akan terus hidup. Dia mau hidup, bersama Brian sampai takdir mengatakan bahwa waktunya telah usai di dunia.


Bersambung....


__ADS_2