Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Kesembuhan Mental


__ADS_3

Brian pulang ke rumahnya dengan hati gundah. Walau terlihat sangat egois, Entah bagaimana dia ingin sekali Zaira mengasuh anak yang dikandung Rinnada.


Dia masuk ke rumah yang tidak dikunci. Seluruh ruangan terasa gelap. Seperti tidak ada orang di dalamnya.


"Ra.." Brian masuk perlahan. Menyalakan satu-satu lampu ruang yang dia lewati.


"Mbok.." panggilnya dari dapur. Namun wanita paruh baya itu tidak kunjung hadir.


Brian menuju kamarnya. Kamar itu juga gelap. Tidak ada orang di dalam.


Brian terdiam sejenak. Tidak ada orang di rumah, bahkan mbok Inah juga tidak ada.


Brian lalu membuka lemari. Baju Zaira masih ada disana. Lalu, kemana mereka?


Dia mencoba menghubungi. Namun nampaknya nomor Brian sudah di blokir oleh Zaira.


Brian mengurut keningnya yang terasa pusing. Cepat sekali Zaira meninggalkannya. Padahal dia belum berkompromi, belum ada penyelesaian masalah. Memang Zaira tipikal yang selalu kabur dan tidak mau menghadapi masalah.


Namun dia tidak bisa menghindari perasaannya yang pilu ditinggal Zaira seperti itu. 'Kemana Zaira?'


Brian menggolekkan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit tetapi pikirannya tembus ke atas. Dia sudah mempunyai pilihan. Jika Zaira mencampakkannya, berarti dia akan bersama Rinnada.


Dia meringkuk dan memendamkan wajahnya pada guling. Berat sekali. Dia sudah menyakiti Zaira. Tetapi, dia juga tiba-tiba menginginkan anak yang dikandung Rinnada. Kejadian yang luar biasa membuatnya menutup mata. Dia pun tertidur disana hingga memimpikan Zaira. Brian meneteskan air mata dalam tidurnya.


...******...


Zaira berjalan ke sudut atap gedung rumah sakit. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di telinga.


"Halo, Anakku". Suara di seberang terdengar. Zaira meneteskan air matanya. Entah bagaimana perasaan mertuanya jika mendengar keputusannya saat ini.


"Zaira. Ada apa?" Zaymusi mendengar napas berat Zaira diseberang. Membuatnya mulai merasa sesuatu hal menimpa rumah tangga putranya. Padahal, kemarin mereka sudah saling telepon dan memberi kabar baik untuk sang mertua. Jika Zaira berani menelponnya dalam keadaan sedih, artinya Zaira memang sudah tidak kuat menahannya.


"Pa, apa kabar?" Suara Zaira terdengar serak. Musi segera menjawab. Mencoba mencerna kejadian yang sedang terjadi.


"Papa selalu sehat. Katakanlah, Nak. Apa yang membuatmu menelepon dengan keadaanmu yang sekarang. Apakah Bian menyakitimu?"

__ADS_1


Zaira tidak menjawab. Dia menangis lagi. Sesegukan hingga tidak bisa berkata-kata. Padahal dia sudah mengumpulkan kekuatan untuk mengatakannya pada sang mertua.


"Maaf, Pa. Maafkan Zaira." Dia terisak lagi.


Musi hanya berdiam mendengar menantunya diseberang yang belum bisa emosi kesedihan dalam dirinya.


"Pa, apakah aku tetap jadi anak Papa jika berpisah dengan Brian?"


Zaymusi menundukkan pandangannya. Berat hatinya mendengar ucapan Zaira yang menandakan keretakan rumah tangganya dan Brian.


"Sampai kapanpun kau tetap anakku. Apapun yang terjadi. Zaira, kau adalah perempuan terbaik yang kutemui setelah istriku."


Zaira terisak. Perempuan terbaik pun bisa tersakiti, apakah itu adil? Batinnya.


Dia ingin sekali memeluk Papa Brian. Sayang, jarak mereka sangat jauh.


"Papa tahu kau sudah berusaha, Nak. Kau sudah di ujung batasmu." Ucapnya dengan bijak. Walau dia belum tahu dengan jelas masalah apa yang membuat rumah tangga anaknya hancur, tetapi dia sangat sadar, semua adalah ulah Brian.


"Maafkanlah Papa, yang tidak benar dalam mendidik anak."


Zaira terus menangis. Entah sampai kapan, air matanya pun masih terasa penuh. Papa Brian sangat menghargai perempuan. Zaira mengira, Brian akan meniru Papanya yang tetap setia hingga ajal menjemput. Tetapi ternyata tidak, Anak dan Ayah ini sangat berbeda. Mereka dua orang dengan jalan pikir yang berbeda.


Zaira menutup ponselnya. Dia berjongkok sambil memeluk lutut. Menangis sesegukan. Kata maaf yang di dengarnya dari Papa Brian membuatnya sakit. Brian sendiri belum mengucapkan itu padanya. Apakah Brian tidak merasa salah pada dirinya?


...*****...


Hani memeluk pundak Zaira. Dia mengelus lembut punggungnya dengan rasa iba. Sahabatnya dari semasa kuliah kini diterpa kesedihan yang amat dalam.


Revi juga ikut menepuk-nepuk pelan bahu Zaira. "Kau adalah wanita yang kuat, Ra. Apapun itu, kau sudah memikirkannya dengan matang. Aku mendukung keputusanmu. Tidak benar jika kau berada di ambang kesusahan hati karena cintamu pada Brian. Kau harus terus memikirkan kondisi mentalmu". Nasihatnya pada Zaira. Dia merasa Zaira benar-benar tangguh.


"Aku memberanikan diri mengurus perceraianku. Padahal aku sendiri sebenarnya belum sanggup. Tapi setiap kali mengingat foto itu, rasa sakitku meningkat. Aku tidak suka perasaan ini." Setetes air mata mengalir menuju dagunya. Dia membiarkan saja semua tumpah untuk sekarang. Supaya takkan ada lagi setetespun air mata untuk menangisi Brian keesokan harinya.


"Kau sudah bekerja keras demi perasaan dan rumah tanggamu. Kau berhak bahagia sekarang." Ucap Hani dengan lembut. Menyemangati Zaira yang akan memulai kehidupannya sendiri.


"Sekarang, Ayo, ikut aku bertemu Sivia."

__ADS_1


Zaira mengerutkan alis. Tidak mengenal siapa yang Revi maksud.


"Dia perempuan itu. Aku memberinya nama Sivia. Dia mulai membaik. Ayo".


Hani dan Zaira mengikuti Revi menuju poli Jiwa. Tempat wanita yang tengah hamil tua itu berada.


Sesampainya disana. Mereka melihat Sivia sudah rapi dan bersih. Rambutnya terurai panjang. Dia mamakai kaus oblong. Menatap keluar jendela yang membuat wajahnya disentuh semilir angin lembut.


Revi membuka kunci kamarnya. Dia menoleh.


"Hai, Sivia" Revi tersenyum padanya. Dia tidak membalas. Wajahnya menoleh lagi keluar jendela.


"Dia sudah sangat membaik. Walau belum mau bicara, dia mau menjawab walau dengan anggukan" Revi menyentuh lembut pundak Sivia.


Zaira menatap wajah sendu Sivia. Dia merasa hidupnya sama dengan wanita itu. Bagaimana pun, Wanita itu sudah bertahan dengan perasaan cintanya yang tidak terbalas dengan baik. Dia menahannya sendirian. Teman yang dianggapnya paling baik malah menusuknya dari belakang. Keluarganya pula tidak menginginkannya kembali.


Melihat Sivia, dia merasa bersyukur mempunyai sahabat yang peduli padanya. Dia juga semakin yakin dengan keputusannya untuk bercerai dengan Brian.


"Apa kau membatalkan adopsinya?" Suara Hani membuyarkan lamunan Zaira.


"Tidak. Aku akan tetap mengadopsinya. Aku sudah sangat menyukai wanita ini". Ucapnya sambil tersenyum menatap Sivia yang beralih menatapnya. Sivia melihat Zaira dengan tenang. Dia memberikan senyum tipis pada Zaira, lalu beralih lagi menghadap jendela.


"Ah... Ra, dia menyukaimu." Hani terperangah. Dia juga melihat sekilas senyuman di wajah Sivia.


"Dia juga mengerti maksud kita. Tapi, dia hanya belum begitu mau berkomunikasi. Hati dan beban pikirannya masih sangat berat." Ucap Revi membelai lagi rambut Sivia. Dia senang akhirnya Sivia perlahan-lahan membaik. Pertemuan Zaira dan Sivia sangat membantu untuk keduanya saling berkaca.


Zaira akan melihat dirinya terbebani secara mental jika dirinya tetap memilih Brian. Sedangkan Sivia, dia akan lebih bahagia jika dirinya melepas saja cintanya demi kebahagiaan batinnya.


Bersambung.....


Hallo♡


Terima kasih ya sudah mendukung Author dengan Like, Komen, Vote, dan Hadiahnya💐


Jangan lupa baca cerita Author "Sang Penakluk yang Takluk" 🙈

__ADS_1


__ADS_2