Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Tanggung Jawab


__ADS_3

Brian menatap ponselnya yang bergetar di atas dashboard mobilnya. Ponsel itu sudah berulang kali bergetar namun dia hanya memandangi saja deretan nomor yang dia tandai sebagai nomor Rinanda. Dia sampai hapal dengab nomor yang selalu bising menelponnya.


Tadi malam, Brian menginap di mobil yang ia parkirkan di rumah sakit tempat Zaira bekerja. Dia tidak tahu istrinya berada dimana. Sebab sudah beberapa hari Zaira tidak pulang. Tapi baju-bajunya masih utuh di lemarinya.


Brian pula tidak bisa tidur di rumahnya. Kenangannya bersama Zaira sangat kental dan selalu muncul di pikirannya. Melihat rumah itu kosong tanpa akfitas Zaira membuat dirinya terasa hampa.


Brian kemarin malam bermimpi Zaira. Wanita itu tengah berjalan dengan seorang laki-laki. Bergandengan tangan dan terlihat sangat bahagia.


Melihat itu, Brian tidak senang dan berang. Namun entah bagaimana, laki-laki yang bersama Zaira ternyata adalah dirinya.


Dia seperti melihat dirinya dan Zaira bermain-main di sebuah taman bunga.


Brian pun berteriak, mencoba mengatakan kepada Zaira kalau laki-laki yang bersamanya adalah Brian palsu. Tetapi sepertinya Zaira tidak mendengarkannya. Istrinya itu terus tertawa bersama Brian palsu.


Brian merasa Zaira sangat bahagia bersama Brian palsu itu. Lelaki palsu itu memberinya bunga, dengan senang Zaira menerimanya. Wanita itu menangis bahagia memeluk Brian dan mencium pipinya.


Hal itu terjadi di depan mata kepala Brian yang sakit hati atas apa yang terjadi. Sakit itu sangat menusuk di hatinya hingga ia menangis.


Brian tersentak. Dia terbangun dan menemukan air mata yang dia keluarkan di dalam mimpi ikut mengalir sampai ke dunia nyata. Dia memegang jantungnya, sakit di dalam mimpi entah bagaimana terbawa saat dia bangun tidur.


Bagaimana bisa seperti itu? Brian mendesah. Mimpinya benar-benar terasa aneh karena terbawa hingga ia bangun tidur.


Brian melihat mobil Zaira masuk ke parkiran rumah sakit. Dia segera keluar dan menuju mobil Zaira.


Zaira keluar, dan mendapati Brian berdiri di sebelahnya. Wajahnya kusam dan penampilannya yang berantakan membuat Zaira tahu kalau lelaki itu pun sedang tidak baik-baik saja.


Brian meremas kedua tangannya dengan wajah yang mengharapkan sesuatu.


Brian memandang wajah Zaira. Seperti biasa, istrinya selalu cantik dan wangi. Namun tetap terlihat gores kesedihan di wajah Zaira.


"Ra.." Brian ingin sekali memeluknya. Melihat wajah sendu Zaira membuatnya mengingat mimpinya.

__ADS_1


"A-ku.. Maafkan aku, Ra. Aku tahu aku salah. Sangat salah. Ra, pulanglah. Aku mohon." Suaranya memelas dan memohon pada Zaira yang sedari tadi memandang Brian dengan wajah tenang. Walau hatinya sangat tidak mengharapkan kehadiran Brian yang membuat suasana hatinya memburuk.


"Maafkan aku, Ra. Maaf.." Berulang kali lidah Brian mengucapkan maaf, tetapi tidak membuat hati Zaira bergerak mengampuninya. Belum, sakit hati yang Zaira rasakan masih sangat terasa hingga dirinya sulit sekali berkonsentrasi.


"Kau tinggal dimana, Ra. Kenapa tiba-tiba tidak pulang berhari-hari seperti itu? Rumah sepi, Ra. Aku kesepian."


Zaira tidak menyahut. Pertemuan dirinya dengan Sivia menguatkan hatinya. Dia tidak ingin menangis lagi untuk lelaki di depannya itu.


"Aku mohon. Pulanglah, Ra. Ayo, kita bicarakan baik-baik."


Zaira melirik jam tangannya. Dia ingat ada keperluan pagi ini. Supaya cepat, dia menjawab seadanya agar Brian tidak mengganggu hari-harinya.


"Baiklah, aku akan pulang".


"Benarkah? Kau akan pulang? Apa mau aku jemput?" Tanyanya dengan riang. Dia merasa berhasil membujuk Zaira.


"Tidak perlu. Aku akan datang sore nanti. Jika sudah selesai, aku masuk dulu." Ucapnya lalu melangkah masuk tanpa menoleh lagi.


"Aku pulang, untuk ambil barangku". Gumam Zaira pelan sambil berjalan meninggalkan Brian yang tengah bersenang karena akhirnya Zaira akan pulang.


Winda menyempatkan dirinya untuk datang ke apartemen Rinnada. Dia hanya ingin mengunjungi anaknya yang keadaannya kian membaik. Suasana hati Rinnada sedang bagus. Terlihat dari dirinya yang selalu tersenyum ceria.


Winda masuk ke dalam kamar Rinnada untuk membantu anaknya beres-beres dan dia terkaget saat melihat sepasang kaus kaki bayi berwarna biru berada di atas kaca rias Rinnada.


"Rin.." Winda menemui Rinnada yang tengah berada di dapur dengan membawa kaus kaki bayi itu di tangannya.


"Apa ini?" Rinnada menoleh dan melihati benda kecil di genggaman Bundanya.


Rinnada hanya diam. Dia memang belum mengatakan apa-apa pada Bundanya.


"Bunda, itu..." dia tampak Ragu apakah Winda bisa menerima atau tidak.

__ADS_1


Winda tidak bisa menebak. Lantaran kaus kaki kecil menandakan sesuatu di benaknya. Tetapi dia tidak ingin berasumsi sendiri. Dia harus mendengarnya dari anaknya.


"Aku.. hamil, Bunda".


Winda terbelalak. Dia menahan napasnya. "Hamil?" Bukankah hubungan Rinanda sudah selesai dengan Brian. Lalu, dia hamil anak siapa?


"Katakan. Kau hamil anak siapa?" Teriak Winda dengan gurat kekecewaan karena Rinnada ternyata tidak bisa menjaga diri.


Rinnada menelan ludahnya. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu sampai Winda tidak bisa terima sesuatu yang terjadi pada anaknya saat ini.


"A-aku.. Ini a-anak Brian". Ucapnya dengan terputus-putus. Rasa khawatir menyelimuti hatinya.


Winda melemas. Dia kaku di tempatnya. "Anak Brian katamu?" Bagaimana bisa Brian melakukan itu pada Rinnada padahal beberapa minggu yang lalu dia datang untuk memutuskan hubungan yang memang tidak baik sejak awal.


"Apa dia tahu kau hamil?" Tanyanya tanpa tenaga. Dia ingin sekali tumbang. Dia tidak habis pikir anaknya hamil dengan suami dokter yang bekerja satu atap dengannya.


Rinnada mengangguk.


Winda menutup matanya dengan rapat. Kenyataan pahit yang harus dia telan sekarang adalah masa depan anaknya yang dirusak oleh Brian. Entah apa yang akan terjadi, apalagi jika semua orang di rumah sakit tahu tentang perselingkuhan anaknya dengan suami seorang dokter terbaik di sana.


"Apa dia menerimanya?" Namun sekarang, yang terpenting adalah bagaimana Rinnada bisa hidup dengan baik kedepannya.


Rinanda hanya diam. Karena dia sendiri sedang berusaha supaya Brian beralih padanya. Belakangan ini, Brian malah sulit dihubungi dan dia tahu, Brian masih memohon pada istrinya untuk memaafkannya.


"Jadi, dia tidak mau tanggung jawab, ya." Wajah Winda mulai menunjukkan amarah. Bagaimana pun, anaknya telah dinodai. Wajib bagi Brian untuk bertanggung jawab. Apalagi, Zaira tidak bisa memiliki anak bersama Brian.


"Ikut aku. Kita akan menemuinya. Dia harus tanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan padamu." Winda beranjak dari tempatnya. Dia ingin mendatangi Brian ke kantornya dan memberinya pelajaran supaya laki-laki itu tahu cara bertanggung jawab.


"Bunda, tunggu. Tidak perlu sampai seperti itu. Aku akan bicara sendiri. Dia pasti akan bertanggung jawab." Ucap Rinnada sambil menahan lengan Winda. Dia tidak ingin rencananya luntur karena setitik kesalahan yang dilakukan Bundanya.


Winda menghela napasnya dengan kasar. "Baiklah. Pergilah sekarang. Jika kau tidak bisa mendapatkan tanggung jawab darinya, biar aku yang akan melakukannya." Tutur Winda dengan gejolak amarah di dalam dirinya.

__ADS_1


Anak gadis satu-satunya itu harus mempunyai masa depan yang baik dengan laki-laki yang baik pula. Dia takkan membiarkan putrinya menanggung deritanya sendirian.


Bersambung....


__ADS_2