Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Amukan Rinnada


__ADS_3

Brian terdiam. Rinnada menatap pecahan vas yang ia lempar ke bawah dengan keras. Dia sangat marah pada Brian.


Dia muak mendengar Brian mengatakan 'istriku.. istriku' seolah-olah dia mencintai istrinya itu.


"Rin, kenapa kau melakukan itu?" Brian mengerutkan dahinya melihat sikap Rinnada yang tiba-tiba sangat kasar.


"Lucu sekali. Seharusnya akulah yang bertanya begitu padamu" Rinnada menatap Brian dengan wajah marah.


Brian mulai menegang. "Aku tidak bisa melanjutkan ini, Rin! Dia tahu hubungan kita. Aku tidak mau kalau sampai dia meninggalkan aku. Aku tidak sanggup".


"Diam!!" Teriak Rinnada yang marah mendengar kalimat yang dilontarkan Brian.


"Kau harus paham itu. Seharusnya kaupun tidak menggodaku saat tahu aku sudah menikah". Lanjut Brian lagi yang sudah berdiri dari duduknya.


"Aku tidak pernah menggodamu. Kaulah yang ternyata masih menyimpan cinta di hatimu!" Suara Rinnada mulai meninggi.


Brian mengusap kasar wajahnya. Dia memang sempat tergoda. Apalagi Rinnada mampu mengembalikan debaran pada cinta pertama yang dulu ia rasakan. Dia sempat teralihkan karena perasaan indah itu muncul kembali.


"Bagaimana kalau aku hamil? Kau harus tanggung jawab!" Bentak Rinnada keras.


Brian terkesiap. "Aku tidak melakukan apapun padamu. Aku bahkan tidak ingat apa-apa!"


"Apaa!!!" Urat leher Rinnada menegang. Dia kesal setengah mati mendengar ucapan Brian barusan.


"Kau gila ya! Kau sudah dengan ganas menyerangku di ranjang lalu tidak mengakuinya?!! Apa kau tidak lihat merah-merah di leherku waktu itu??"


Mendengar ucapan Rinnada, Brian membelalak tak percaya. Kata-kata yang Rinnada keluarkan sungguh membuatnya malu. Apalagi waktu itu, dia memang sempat melihat bekas merah di leher Rinnada. Tetapi dia tidak mengingat apapun pada malam hari itu.


Rinnada mulai sesegukan. "Kau memang bajingan, Brian. Kau mencampakkanku setelah menikmatiku?" Rinnada melempar dengan keras hiasan keramik di atas kabinet hingga membuat kebisingan.


"Hei, Rin. Apa yang kau lakukan!" Brian memdekati Rinnada yang mulai terlihat garang. Amukan Rinnada membuat pecahan kaca berserakan di atas lantai.


"Kau bajingan, Brian. Kau sangat brengsek! Pergi dari sini. Aku tak mau melihatmu!" Rinanda melemparkan vas kecil di dekat kaki Brian hingga benda itu pecah.


"Hei, sadarlah!" Suara Brian mengeras. Dia mencengkram erat kedua bahu Rinnada hingga tubuh wanita itu terguncang.


Rinnada sesegukan. Matanya merah dan wajahnya sudah basah. Dia terlihat memelas. "Jangan tinggalkan aku, ku mohon." Rinnada memeluk tubuh Brian. Dia berusaha mengambil alih hati Brian lagi.



"Aku takut kau tinggalkan lagi. Dulu kau membuatku hancur dan sekarang kau melakukannya lagi" Rinnada meraung di dada Brian. Dia memohon supaya Brian tetap di sampingnya.


Tubuh Brian kaku. Sejenak dia mengingat mimpi yang berulang kali hadir tentang Rinnada yang terus menangis. Lalu dia mengingat perjuangannya yang membujuk Zaira belum selesai. Istrinya itu bahkan belum mau disentuh.


Brian melepaskan pelukannya dengan paksa. "Aku harus pergi. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi."


Brian melangkah pergi meninggalkan Rinnada yang teriak sekencang-kencangnya demi mendapatkan perhatian Brian.


"Kau memang Brengsek. BRIAAAN!!'

__ADS_1


BRAK!! Brian menutup pintu dengan keras. Melihat Rinnada sehisteris itu membuatnya menyesali jalan yang dia ambil belakangan ini. Dia pasti sangat menyakiti perasaan Rinnada saat ini.


****


Hani tengah melongo. Dia terkejut saat Zaira menceritakan kejadian yang ia alami dengan Brian. Yang lebih membuatnya kaget adalah mantan kekasih Brian adalah anak seorang kepala rumah sakit tempat mereka bekerja.


Lain dengan Revi yang bersandar di kursi sambil melipat tangan di dada, dia seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.


"Dia itu agak aneh, sih." Sahut Revi kemudian. Dia memicingkan mata, mengingat kejadian di depan ruangan Zaira beberapa waktu lalu.


"Aku merasa dia sedikit..." Revi memutar-mutarkan jari telunjuk di kepalanya.


"Maksudmu kurang waras, gitu?" Sambung Hani tak percaya. "Wah. Kalau dokter Winda dengar, bisa dipecat kau".


Revi sejenak terdiam. Memang dia belum menganalisa lebih dalam sebab pertanyaan demi pertanyaan yang dia lemparkan untuk Rinnada dijawab dengan santai seperti sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti itu.


Zaira menopang dagunya di atas meja. "Dia bahkan beberapa kali mendatangiku untuk curhat tentang kekasihnya". Setelah tahu Nada adalah kekasih lama Brian, Zaira langsung memutar otaknya atas apa yang Rinnada lakukan padanya.


Wanita itu pernah memandangi foto dirinya dan Brian di ruangannya. Lalu mengatakan bahwa kekasihnya memandangnya dengan hangat sama seperti saat pertama mereka berkencan dulu.


Juga saat bertemu di kafe kopi dan Rinnada mentraktir Zaira karena perasaannya yang sedang berbunga. Pantas saja wanita itu memesan kopi yang biasa Brian pesan.


KRAK!


Zaira meremas botol kosong di tangannya. Matanya menyiratkan kemarahan akibat kebodohannya selama ini. 'Awas saja kalau kau berani bermain lagi di belakangku, Brian' Batin Zaira.


Zaira hanya mengangguk. Kini rahangnya tampak menegang. Tiba-tiba saja perasaan muak menghampiri batinnya. Entah mengapa Brian membuatnya sulit lagi untuk dipercaya. Padahal, kemarin Zaira bisa merasakan bahwa Brian sungguh-sungguh tidak ingin ditinggalkan olehnya.


"Kisah luar biasa ini, bisa-bisanya Andre sialan itu tidak mau cerita padaku!" Umpat Hani pada kakaknya. Padahal, dia sering menelpon dan menanyakan kabar Brian dan Zaira. Tetapi pria itu selalu mengatakan tidak tahu.


"Sudahlah. Aku memberinya satu kesempatan supaya terlihat adil saja. Walau aku, entah bagaimana merasa mereka akan terus saling berkaitan". Suara Zaira melemah.


Dia memasrahkan apapun yang terjadi dengan rumah tangganya. Baginya Brian memang tidak berubah sikap namun perbuatan hinanya ini sangat membekas di hati Zaira. Bahkan sulit sekali dia berhenti memikirkan masalah pelik yang tengah terjadi.


~


Zaira melangkah lambat menuju ruangannya. Sebenarnya, dia tidak bersemangat. Tetapi tidak ingin masalah pribadi sampai menjalar ke pekerjaannya yang menyangkut nyawa manusia.


Di depan pintu, dia menarik napas panjang. Dia berusaha menyingkirkan masalah hidupnya yang sekarang supaya dia bisa fokus pada pekerjaannya.


Dia terhenti saat membuka pintu ruangannya dan mendapati seseorang telah duduk santai sambil membaca majalah di sofanya.


Zaira menatap dingin ke wajah Rinnada yang sedari tadi menunggunya disana.


Ingin sekali Zaira menampar dan menyeretnya keluar karena telah lancang masuk tanpa izin darinya. Namun dia mengurungkan keinginannya itu sebab tidak mau mengotori tangannya.


Zaira melipat tangannya di dada dan menunjukkan wajah tidak sukanya secara terang-terangan pada Rinnada.


Wanita itu menutup majalah yang sejak tadi dibacanya. Dia tersenyum seperti biasa. "Halo, dokter. Lama tidak bertemu. Apa cutinya menyenangkan?" Tanyanya sambil melayangkan senyum miringnya.

__ADS_1


Zaira enggan menjawab. Dia tidak ingin mood baik yang dia bangun dari tadi berantakan karena ulah orang yang tidak punya malu ini.


Rinnada berdiri. Dia menatap Zaira dengan senyuman palsu.


"Sepertinya tidak baik. Apa karena Kak Ian tiba-tiba tidak pulang ke rumah?" Tanyanya sengaja memancing.


Zaira menyipitkan matanya. 'Kak ian?' Panggilan yang luar biasa akrabnya.


Zaira melongos. Dia sama sekali enggan melayani wanita di depannya.


"Maaf ya, bu dokter. Dia tidak pulang karena..." Rinnada sengaja menghentikan kalimatnya dan berjalan mendekat ingin membuat Zaira panas.


"Pergilah". Ucap Zaira dengan tegas dan melihat Rinnada terhenti hingga raut wajah yang berubah masam.


"Pasienku sungguh sangat banyak. Orang penting sepertiku sangat tidak ada waktu untuk melayanimu. Sekarang...." Zaira merentangkan tangan kanannnya. Mempersilahkan Rinnada untuk keluar.


"Silakan keluar, pintu sudah saya buka lebar sejak tadi." Ucapnya dengan tersenyum tipis sambil berjalan menuju kursi kerjanya lalu menekan satu tombol di telepon. "Tolong panggil pasien pertama, Sus". Ucapnya pada suster jaga di luar.


Rinnada termangu di depan pintu. "Apakah kau tidak mencintai suamimu?" Dia merasa aneh sebab Zaira tampak biasa saja dengan perselingkuhan suaminya.


"Apa kau penasaran?" Zaira berdiri dari kursinya. Berjalan mendekati Rinnada sambil tersenyum. "Aku tidak peduli tentangmu. Sedikitpun!" Ucap Zaira perlahan namun terdengar sangat tegas di telinga Rinnada.


"Apakah aku harus minta maaf karena ternyata suamiku hanya bermain-main denganmu, mempermainkan perasaanmu? Pada akhirnya dia sangat tidak ingin meninggalkanku, kan? Kau pasti tahu itu".


Ucapan Zaira membuat amarah di hatinya memuncak. Apalagi mengingat ucapan tak masuk akal Brian yang memintanya berhenti menghubungi karena takut istrinya menceraikannya.


"Makanya kau kemari hanya untuk memanasiku, kan. Sayang sekali. Sedikitpun aku tidak panas karena aku tahu Brian telah mencampakkanmu." Ujar Zaira dengan wajah tersenyum lebar persis seperti yang biasa Rinnada lakukan.


"Bagaimana? Apa aku perlu menjelaskan apa yang terjadi pada kami di kamar kemarin? Sebaiknya tidak. Ah tapi aku akan beritahu sedikit saja supaya penasaranmu berkurang. Kami..." Zaira mendekatkan wajahnya ke telinga Rinnada dan berbisik.


Raut wajah Rinnada berubah seketika. Dia mengepal kuat kedua tangannya. Rinnada tersungut dan marah. Dia keluar ruangan dengan membanting pintu.


Zaira tersentak. Lalu menatap pintu yang tertutup itu dengan sendu. Ucapannya pada Rinnada sangat berhasil melumpuhkan wanita itu sesaat.


'Semakin panas di atas ranjang? Cih..' Zaira merasa sedih sendiri dengan bisikannya pada Rinnada tadi. Sebab itu hanyalah kebohongan. Karena yang terjadi sebenarnya, dia tidur membelakangi Brian bahkan sangat enggan disentuh olehnya.


Bersambung....


Halo Teman-teman semua. Terima kasih banyak sudah mendukung Author ya😭 Itu sangat menyemangatikuu..


Oh ya, pingin banget up banyak episode dalam satu hari. Tapi Author lagi nulis 2 novel sekaligus, Nih. bantu dukung karya Author yaaa... ^-^



JUDUL: SANG PENAKLUK YANG TAKLUK.


Terimakasih banyak🌼🌼🌼🌼🌼


(gambar ilustrasi diambil dari kibsrispdr.*rg)

__ADS_1


__ADS_2