Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Ekstra4


__ADS_3

Andre membantu Brian memasukkan kopernya ke dalam mobil, dia akan berangkat malam ini.


"Sudah?" Tanya Andre pada Brian yang hanya berdiri termenung.


"Kau mau pulang tidak?" Andre menutup bagasi mobil, bertanya pada Brian sebab laki-laki itu terlihat berat.


"Tidak".


"Ck! Sudahlah, cepat masuk!" Andre membukakan pintu mobil dan mendorong tubuh Brian masuk.


Andre mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, tangannya mengetuk-ngetuk kemudi, menikmati alunan musik yang sendu.


Gemuruh langit mulai bersuara, menandakan malam ini sepertinya akan hujan.


Brian menyandarkan tubuhnya, memasukkan tangan di dalam kantong jeket, dia mendengar lirik lagu itu dengan seksama, lirik yang membuatnya hanyut.


🎶 Air mataku selalu menetes jika aku melihatmu. Akupun tak tahu mengapa.


Akankah kembali padaku cinta yang tak bisa dihindari itu.


Aku mencintaimu, aku merasa ini adalah takdirku.


Mari kita jangan berpisah lagi, beradalah disisiku.


Jangan pergi dariku, jangan pergi dariku 🎶


Mendengar lirik itu, Brian menginginkan Zaira kembali padanya, dia sangat merindukan kehadiran wanita itu dalam hidupnya.


Ponsel Andre bergetar, "Ya, Ra?" Sahutnya dengan pandangan tetap ke depan jalan.


Brian langsung menoleh, sepertinya Zaira yang tengah menelepon Andre.


"Montir? Tunggu sebentar, ya". Ucapnya lalu mengakhiri panggilan.


"Siapa?" Tanya Brian penasaran.


"Zaira, mobilnya mogok." Andre dengan perlahan melihat jalanan dan juga ponselnya secara bergantian.


"Halo, Bro, Bisa ke jalan pahlawan? Temanku mobilnya mogok, tolong ya. Sekarang, sip, okee". Andre meletakkan ponselnya.


"Jalan pahlawan bukannya di dekat sini, ya. Ya kan?" Gumam Andre seperti berbicara sendiri.


Brian menepuk-nepuk dashboard mobil. "Stop, stop, Ndre!"


Spontan Andre menepikan mobil, "kenapa, ada apa?"


Brian keluar dari mobil, dia langsung berlari ke arah berlawanan.

__ADS_1


Andre ikut keluar, "Hei, Yaaannn!" Teriak Andre pada Brian yang sudah berlari kencang dan menjauh.


Andre menggeleng kepala. "Dasar gila!".


Setetes air jatuh di tangannya. "Ah, Hujan." Andre langsung masuk ke dalam mobil, karena hujan sudah deras. Dia melaju, mencari jalan untuk memutar balik dan menjemput Brian yang sudah pasti ke tempat Zaira.


"Bro, sorry, tidak usah jadi, ya". Ucapnya pada montir yang dipesannya tadi.


~


Brian berdiri di tepi jalan yang sepi, membiarkan dirinya terguyur hujan yang amat deras. Dia merasa sangat hampa, sebab Zaira terlihat benar-benar tidak menyisakan sedikitpun harapan untuknya.


Hati yang Brian kira layu, ternyata sudah mati. Wanita itu menutup rapat hatinya untuk Brian.


Brian mengepalkan tangan, dia menunduk. Hujan membuatnya semakin bersedih, dia tidak bisa menyembunyikan air matanya yang ikut mengalir deras bersamaan dengan hujan.


Sementara tak jauh dari belakangnya, Andre memperhatikan Brian yang masih berdiri di tempatnya. Usahanya gagal, Ziara sepertinya memang tidak menginginkan Brian kembali, bahkan Zaira enggan disentuh oleh pria itu.


Seperti selalu mengerti, Andre membiarkan temannya disana sampai dia benar-benar menghabiskan seluruh air matanya yang tumpah untuk Zaira malam ini.


...*****...


Zaira meringkuk di kamar, badannya mulai terasa panas karena hujan-hujanan tadi malam.


"Mama, ayo ma". Yara menarik tangan Zaira dari tempat tidur.


"Mbok, minta tolong antar Yara ke P**laygroup, ya. Aku sedikit demam." Suara Zaira serak, Mbok Inah langsung datang ke kamarnya.


"Apa mau saya teleponkan dokter, Non?"


"Tidak perlu, Mbok. Yang seperti ini masih bisa kuatasi sendiri." Ucapnya lalu melambaikan tangan pada Yara.


Zaira berbaring lagi ke kamarnya, dia mengantuk karena reaksi obat yang tadi dia minum.


Ponselnya bergetar beberapa kali, Zaira tidak mendengar sebab ia sudah tertidur pulas.


Sementara di tempat lain, Brian berjalan kesana kemari menelepon Zaira. Ya, nomor dan alamat yang ia dapat dari Andre tadi malam. Nampaknya Andre kasihan padanya hingga memberikan itu supaya Brian mendapatkan jawaban yang membuatnya benar-benar mundur dari Zaira.


Andre sedikit kesal dengan kelakuan Brian yang mulai berulah, padahal Zaira sudah bersusah payah membangun kembali dirinya setelah pernikahannya berakhir. Lalu tanpa diminta, Brian mendekati Zaira lagi padahal Andre sendiri sudah sering mengatakan padanya di telepon, jika ia hadir di pesta pernikahannya, Brian harus bersikap biasa pada Zaira.


Pada awalnya, Brian memang melakukan itu. Bertemu dan menyapa seperti biasa, tetapi setelah melihat Zaira, hatinya berdegup lagi. Perasaan yang ia tahan selama ini muncul kembali sehingga dia sendiri tidak bisa menahannya lagi.


Brian ingin sekali berbicara lagi, masih banyak yang ingin dia ucapkan, dia ingin Zaira tahu apa yang ia rasakan selama dirinya ditinggal wanita itu.


Brian mengambil jeketnya, Zaira tak kunjung mengangkat telepon. Dia berencana ke rumah sakit untuk menemuinya.


Sesampainya disana, Brian mendapati Zaira tidak hadir karena sakit. Dengan cepat dia menuju alamat yang Andre berikan.

__ADS_1


Dia memencet bel, beberapa kali hingga akhirnya dibuka.


Zaira terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya.


Brian berdiri dengan wajah cemas, menatap Zaira seakan wanita itu tengah sakit keras.


Zaira menutup pintu, tetapi dengan cepat kaki Brian menghalangi dan melangkah maju ke dalam rumah.


"Ada apa lagi?" Pekiknya pada Brian.


Brian menunduk, dia tahu apa yang dia lakukan mungkin membuat Zaira semakin tidak menyukainya.


"Maafkan aku, Ra."


"Astaga, Mas! Kau sudah berulang kali mengucapkan kata itu dan aku juga sudah memaafkanmu jauh-jauh hari."


"Tapi nyatanya kau tidak mau melihatku".


Zaira menggeleng, tidak percaya atas apa yang ia hadapi sekarang. "Aku memaafkanmu tapi bukan berarti menerimamu kembali, mas.Tolong hargai keputusanku."


"Aku sulit melakukan itu, aku sulit menghargai keputusan itu." Ucapnya lalu melihat wajah Zaira yang pucat.


Brian melangkah maju, "Zaira, apa kau sakit? Aku akan mengantarmu ke.."


Zaira mundur dengan memberi kode tangannya supaya Brian berhenti.


"Cukup. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Sekarang pulanglah, aku tidak membutuhkanmu disini." Ucapnya dengan nada pelan, berharap Brian mengerti.


Brian sejenak berdiam, hatinya berat sekali untuk pergi. Tetapi dia mengenal Zaira dengan baik, wanita itu benar-benar akan marah saat nada bicaranya mulai lebih rendah.


"Baik, aku akan pergi. Tapi aku akan terus berusaha supaya dirimu menerimaku kembali".


Zaira langsung mendorong tubuh Brian dan menutup pintu, menguncinya supaya Brian tidak bisa masuk.


Dia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, meneteskan air matanya lagi. Brian membuatnya semakin sesak, bahkan memunculkan lagi memori buruk dalam ingatannya beberapa tahun yang lalu.


Sementara Brian masih di depan pintu, dia belum bergerak dari tempatnya.


Zaira masuk ke dalam kamarnya, tak lama ponselnya bergetar. Dia membaca pesan dari nomor baru,


'Zaira, jika kau membutuhkan sesuatu atau apapun itu, kau bisa mengatakannya padaku, ya.'


Zaira melemparkan ponselnya ke tempat tidur, tanpa diberitahu pun dia sudah tahu kalau itu Brian. Pria sialan yang sekarang mulai mengganggunya.


TBC


Apakah kalian mempunyai visual khusus untuk karakter Brian dan Zaira? Kalau untuk aktor Indonesia, kira-kira siapa ya, yang cocok untuk karakter Brian dan Zaira?

__ADS_1


__ADS_2