Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Ekstra9


__ADS_3

"Zaira depresi?"


Brian termangu, dia tidak menyangka Zaira sampai mengalami hal semacam itu.


"Aku.. tidak tahu."


Winda menghela napas, "aku tahu kau pasti tidak tahu apa-apa sebab kau langsung pergi setelah itu. Begitulah, Zaira menutupi masalahnya. Jika kau ingin tahu, temuilah dokter Revi. Aku yakin dia bisa membantumu."


Brian hanya diam, dia merenungi nasib Zaira selama ini.


Winda menggenggam tangan Brian, "Jika masih mencintainya, jangan lepaskan. Zaira hanya perlu waktu untuk menerimamu kembali. Tapi aku yakin, dia masih menyelipkan namamu dihatinya." Ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kalian harus bahagia, supaya aku bisa hidup lebih tenang". Winda menghapus air matanya. Perasaannya selama ini tidak pernah tenang setiap melihat Zaira datang ke poli jiwa demi mengamankan beban di hatinya.


"Aku tidak tahu. Sekarang keinginanku hanya supaya dia bahagia, walau dengan laki-laki lain sekalipun." Ucap Brian dengan sungguh-sungguh, pikirannya kini telah berubah setelah mendengarkan ucapan Winda hari ini.


******


Gio datang ke rumah Zaira dengan membawa boneka dan balon kesukaan Yara.


Gadis cilik itu tampak amat bahagia. Giopun mengajak Yara bermain di halaman depan, dan Zaira duduk memandang mereka yang tengah bermain lempar balon.


Kesenangan itu terlihat di mata Brian. Dia mengamati mantan istrinya itu dari jauh. Ingin sekali ia menghampiri tetapi dia takut Zaira terbebani dengan kehadirannya lagi.


Brian menancap gas, dia berniat menemui Revi untuk menanyakan perihal Zaira.


Beberapa jam setelah menunggu, Brian akhirnya dipersilakan masuk.


"Sudah lama menunggu?" Tanya Revi saat melihat Brian masuk.


Dia mengangguk.


"Pasien yang lebih penting banyak." Tukasnya yang menandakan bahwa Brian tidaklah penting.


Brian duduk di hadapan Revi.


"Ada yang bisa dibantu? Apa sedang stress?"


Brian menggeleng. "Aku mau minta tolong padamu."


Revi tidak menjawab, dia menunggu Brian menyelesaikan kalimatnya.


"Aku ingin bertanya kabar Zaira yang sebenarnya padamu".


Revi mengerutkan dahi. "Kabar yang sebenarnya?"


"Aku tahu Zaira tidak baik-baik saja sepeninggalku".


Revi menghela napas dan bersandar di kursinya. "Tahu dari mana, kak? Dia baik-baik saja."


"Aku tahu dari seseorang, kalau dia datang kemari untuk menghilangkan depresinya".

__ADS_1


Revi mengetuk-ngetuk penanya ke meja.


"Lalu, kalau tahu, mau apa?"


Brian terdiam, dia menunduk karena sendirinya juga tidak tahu harus berbuat apa.


"Tidak muncul dihadapannya lagi adalah jalan yang baik buat Zaira, kak." Ujar Revi langsung pada intinya, walau dia tahu Zaira juga ingin bertemu dan melihat Brian saat di acara pernikahan Andre waktu itu.


Brian menelan ludahnya. Ucapan Revi memang benar, tetapi tetap saja dia tidak bisa menahan keinginan dalam hatinya.


"Apa aku bisa melakukan sesuatu untuknya?" Tanya Brian. "Selain pergi darinya". Tambahnya saat Revi akan bersuara.


Revi menatap lekat-lekat wajah Brian. "Sebenarnya mau kakak apa? Bukankah sudah jelas bahwa Zaira sudah tidak menginginkan kakak hadir lagi dalam hidupnya"


"Aku akan pergi, setelah benar-benar yakin Zaira tidak menyimpan perasaannya padaku lagi, aku akan berlapang dada jika dia memilih laki-laki lain untuk dinikahinya." Jawabnya dengan senyum getir.


Revi melihat kesungguhan dalam diri Brian saat ini. Sorot matanya pada Zaira waktu itu, memang terlihat masih sangat mencintai mantan istrinya.


Revi terlihat berpikir, dia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.


"Kumohon, tolonglah aku sekali ini saja. Aku rela melakukan apapun asal kau memberiku informasi tentang Zaira. Beritahu aku supaya aku tahu harus berbuat apa kedepannya."


"Haaah. Bisa rusak etikaku sebagai dokter!" Keluhnya dengan keras. Lalu menatap Brian.


"Baiklah, aku beritahu. Ya, Zaira pada beberapa tahun pertama memang masih mencintaimu. Selama ini, Dia berusaha sekuat tenaga untuk melupakanmu. Saat dia mulai bisa melupakanmu, kau dengan tidak tahu malu malah datang meminta kembali. Makanya, kami semua bersekongkol untuk menjodohkannya dengan Gio."


Jelas Revi panjang lebar dan mendapat mata yang memandang ke arahnya dengan sendu.


"Itu dulu. Sekarang mungkin sudah berbeda. Ya, dia memang sering datang kesini untuk berkonsultasi padaku. Hanya sebatas menceritakan bebannya saja. Tidak lebih."


Brian termenung lagi.


"Begini saja, pastikan sendiri dengan mata kepala kakak. Kalau sudah benar-benar yakin, pergilah dan jangan pernah kembali.


"Aku berniat begitu. Aku akan pergi setelah Zaira benar-benar memilih lelaki itu. Aku berjanji tidak akan menghalanginya memilih untuk kebahagiaannya sendiri."


Revi mendesah halus, Brian terlihat amat lemah.


"Aku juga bukan senang-senang. Aku tersiksa karena memikirkan Zaira. Tidak sedetikpun dia lepas dari pikiranku. Makanya, saat melihat dia lagi aku pikir aku bisa, ternyata tidak."


"Lalu bagaimana, itu semua kan karena kakak sendiri".


"Aku tahu, hukuman tiga tahun bukanlah lama jika dibanding tersiksanya Zaira karena diriku. Revi, bantulah aku."


Revi mengerutkan alisnya.


"Bantu supaya aku bisa kembali padanya, aku berjanji tidak akan melukainya lagi."


"Hah?" Revi tertawa renyah.


"Kau yang menghancurkannya sendiri, maka perbaikilah sendiri. Aku yakin jika kakak tulus, kebaikan akan datang padamu". Ucap Revi sambil berdiri dan membuka jas dokternya.

__ADS_1


"Aku sudah selesai dan permisi karena ada hal yang penting untuk dikerjakan". Ucapnya berjalan sambil menenteng jasnya meninggalkan Brian.


...*****...


Gio mengetuk pintu ruangan Zaira. Dia menyempatkan diri singgah karena ada sesuatu yang ia ingin tanyakan pada wanita itu.


"Gio, kau datang?" Zaira tersenyum dan mempersilakan Gio duduk di depannya.


Gio melihat kesana kemari. Ruangan Zaira sangat simpel dan tidak banyak peralatan.


"Gio, ada sesuatu?" Tanya Zaira sambil mengetik-ngetik di laptopnya.


"Zaira.."


"Iya?"


Zaira melirik Gio sekilas karena ia tengah sibuk dengan laptopnya.


"Apa kau sudah lama sendiri?"


Zaira membulatkan matanya, Pertanyaan Gio membuat Zaira menghentikan aktifitasnya.


"Maaf, aku bertanya seperti ini."


"Sudah tiga tahun."


Gio menangguk lambat. "Apa berencana akan menikah?"


Zaira menarik napas sembari menutup laptopnya. "Belum ada".


Gio kembali mengangguk, Zaira masih belum berniat menikah. Bukan tidak, hanya belum.


"Kalau kau?"


Gio menangkat alisnya, Zaira malah bertanya balik. Tidakkah dia mengerti bahwa maksud Gio bertanya karena dirinya ingin serius padanya?


"Aku sedang menunggu seseorang."


"Apakah aku?"


Gio membelalakkan matanya, Zaira amat terang-terangan.


"I-iya. Maaf.."


Zaira tertawa pelan. "Ayolah, diusia kita yang mau mencapai kepala empat, apakah masih bermain-main?"


Gio menunduk malu. "Aku akan menunggumu sampai kau siap".


Zaira menopang dagunya, "benarkah? Kau mau denganku? Aku ini janda." Ucapnya sambil tersenyum jahil.


"Kenapa? Janda juga bukan masalah, asal itu kau." Ucapnya dengan tersenyum melihat Zaira yang juga tengah merekahkan bibir sembari menatapnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2