Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Makam


__ADS_3

"Begitu, ya. Tapi tidak apa, Bu. Saya akan pergi mencarinya sendiri. Terima kasih atas informasinya, Bu." Ucap Andre lalu sedikit membungkukkan badannya.


"Sebentar. Lebih baik kau pergi ditemani Yuna. Dia kan, sedang libur". Ujar Tini senyam-senyum melirik Yuna.


"Apa?"


"Ah, tidak apa-apa, Bu. Saya bisa sendiri." Tolak Andre secara halus.


"Jangan begitu, Yuna ini anak baik yang rajin membantu. Nanti dia sedih kalau kau tidak menerima kebaikannya." Goda Tini lagi.


"Aku tidak sedih... Aww!" Pekiknya saat Tini memukul pelan kaki Yuna dengan tongkatnya.


"Tidak apa-apa, Andre. Supaya kau cepat menemukan apa yang kau cari saat ini. Yuna akan membantumu. Iya kan, Yuna?" Senyuman Tini melebar hingga matanya tertutup.


Yuna menatap wajah wanita tua di depannya. "Baiklaaahh.." ucap Yuna setengah terpaksa. Dia lalu masuk ke dalam rumahnya untuk bersiap.


"Sebenarnya saya tidak apa-apa kok Bu, kalau sendiri". Ujar Andre yang melihat keterpaksaan Yuna.


"Yuna akan membantumu. Tenang saja. Dia tahu jalan cepat kesana." Ucap Tini pada Andre yang dinilainya sopan dan baik. Mereka lalu mengobrol singkat menunggu Yuna bersiap.


~


Andre dan Yuna berjalan masuk ke area pemakaman yang cukup luas.


Andre melongo melihat deretan makam di hadapannya. Benar kata Bu Tini. Dia pasti sulit menemukan makam yang dia cari kalau sendirian.


"Baiklah, aku akan periksa di sebelah sini dan kau di sebelah sana ya, kak". Tanpa jawaban dari Andre gadis itu melangkah ke deretan makam di sebelah kanannya.


"Siapa tadi namanya?" Tanya Yuna sambil melihat-lihat nama makam yang ada disana.


"Rinnada atau Dinnara".


Andre mulai mencari. Kalau dilihat dari deretan tahunnya, sepertinya dia harus agak kebelakang karena berdasarkan cerita dari Tini, kejadian itu masih di tahun yang sama saat dia dan Brian kabur dari kota itu.


Andre terdiam sejenak. Bagaimana jika Brian menyalahkannya atas kematian salah satu dari gadis kembar itu. Bukankah kejadiannya tepat saat Andre memaksanya pergi dari kota ini? Pikiran Andre mulai berkecamuk.


"Apa sudah ketemu?" Suara teriakan Yuna membuyarkan lamunannya.


"Belum" jawabnya dengan sedikit keras. Andre mulai menelusuri lagi.


Lama mereka mencari hingga beberapa saat kemudian mereka menemukannya.

__ADS_1


"Ini, aku ketemu." Yuna melambaikan tangannya ke arah Andre yang langsung berlari pelan ke arah Yuna.


Dadanya bergemuruh, darahnya mengalir deras. Keringat di dahinya mulai berjatuhan. Dia mendekati makam dimana Yuna berdiri.


Andre menelan ludahnya. Tanpa dia sadari tubuhnya gemetaran. Pelan-pelan dia melirik nama yang ada di nisan itu.


"Ah.. dia.." Lutut Andre melemas. Rasanya ingin roboh, namun Andre tetap menahan pijakannya.


"Apa kau baik-baik saja?" Yuna memegang lengan Andre yang nampaknya sangat terpukul.


"Tidak apa-apa. Aku sudah selesai. Ayo, aku antar kau pulang". Andre langsung melangkah keluar dengan cepat. Perasannya campur aduk. Rasanya dia ingin sekali berteriak pada keadaan belakangan ini yang membuatnya ikut terlibat.


Yuna menatap kepergian lelaki itu. Dia masih berdiri di sebelah makam yang dia sendiri tidak mengenalinya.


"Apa wanita ini kekasihnya?" Gumam Yuna, lalu berjalan menyusul Andre yang sudah menjauh.


~


Andre dan Yuna berdiam cukup lama di dalam mobil. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Wajah Andre tampak syok berat. Sesekali dia menggigit kuku di tangan kanannya.


"Apa.. dia kekasihmu, kak?" Suara Yuna membuatnya langsung menoleh. Dia hampir tak sadar ada orang lain di dalam mobilnya.


"Apa? Ah. Bukan. Dia teman di kampusku". Jawab Andre seadanya. Karena tidak mungkin dia menceritakan panjang lebar kisah mengerikan dari sahabatnya itu.


"Apa kau dulu tinggal disini?" Tanya Yuna sengaja mencari topik demi mencairkan wajah Andre yang dari tadi terlihat beku.


"Iya. Dulu aku tinggal di kota ini. Bagaimana kau tahu?" Tanya Andre yang mulai mencair.


"Melihatmu tahu arah-arah jalan. Aku kira seharusnya tidak perlu ikut tadi." Jawab Yuna lagi.


"Tidak. Kau memang harus ikut setelah aku melihat luasnya area makam". Ucapnya dengan sedikit candaan.


"Hahaa aku sudah menduganya."


Mereka mengobrol santai hingga Andre menepikan mobilnya di depan rumah Yuna.


Andre turun dari mobil. Dia melihat Tini sudah tidak ada di tempatnya.


"Terima kasih sudah mengantarku". Ucap Yuna yang berdiri tepat di pintu gerbang.


"Aku yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih, ya. Sekarang masuklah." Ucap Andre dengan senyuman di bibirnya.

__ADS_1


"Baik. Hati-hati di jalan." Yuna lalu membuka gerbang dan masuk meninggalkan Andre yang masih berdiri disana.


Dia menatap pintu gerbang itu lama. Sejenak dia melupakan bebannya saat mengobrol bersama Yuna tadi. Dan sekarang, beban itu seperti menyantol lagi di pundaknya.


****


Andre tersentak. Dia langsung tersadar dari lamunan panjangnya saat mendengar ketukan dari pintu ruangannya.


"Masuk". Perintahnya pada orang diluar.


Zaira muncul dari balik pintu dengan wajahnya yang sendu. Dia duduk di hadapan Andre.


Zaira berdiam cukup lama. Begitu juga Andre yang sebenarnya berat dengan hasil penelusurannya kemarin.


"Bagaimana, kak?" Suara Zaira serak. Dia terlihat sangat kacau.


Andre menundukkan matanya. Melihat jari-jarinya yang terpaut di depan dada.


"Sebelumnya, apa kau sudah tahu cerita tentang masa lalu Brian?" Tanyanya pada Zaira yang mungkin saat ini belum mengetahui siapa mantan kekasih suaminya dulu.


Zaira menggeleng lambat. Dia, entah bagaimana sangat tidak ingin mengetahui itu. Karena dia sadar, itu pasti akan menyakitinya apalagi wanita masa lalu itu kembali muncul hingga membuat Brian beralih padanya.


"Dengarlah, Ra. Ini sesuatu hal yang harus kau tahu."


Brian lalu menceritakan kisah pelik yang di hadapi Brian delapan tahun yang lalu. Bagaimana ia berkenalan hingga berpisah dari kekasihnya.


Ekspresi Zaira tampak biasa saja. Dia bahkan tidak terkejut saat Andre bercerita tentang menakutkannya kembaran Rinnada.


"Lalu, tahukah siapa sekarang yang bersama Brian?" Tanya Andre yang masih syok dengan nama yang tertera di batu nisan makam yang ia cari kemarin.


Zaira masih dengan ekpsresi yang sama, dia tidak sepenasaran itu. Baginya, baik Rinnada ataupun Dinnara yang ada saat ini, Brian tetaplah tergoda.


"Dia memang Rinnada". Jawab Andre lemas.


Andre sendiri selama ini berpikir bahwa yang datang pada Brian adalah Dinnara. Sebab kelakuan Rinnada berbanding terbalik dengan Dinnara. Brian pasti tahu itu. Tapi entah apa yang membuat pria brengsek itu tidak menyadarinya.


Lalu, bagaimana Rinnada bisa berubah? Andre memang melihat gaya dan cara bicaranya mirip Rinnada. Tetapi prilakunya sangat berbeda. Entah apa yang merubah wanita itu hingga berlaku tega menghancurkan rumah tangga orang lain.


Zaira terdiam. Wajah sendunya sedikit menunduk.


"Lalu aku harus apa?" Gumamnya pelan tapi Andre masih bisa mendengar suara yang sedih itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2