Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Ekstra7


__ADS_3

"Apa aku terlihat sulit untuk bahagia?"


Zaira menghapus air matanya yang menetes.


Brian tidak menjawab, dia melihat kesedihan di diri Zaira sekarang.


"Jawablah, mas. Apa aku tidak boleh bahagia?" Isaknya lagi. Sementara Brian hanya berdiri kaku disana.


Zaira terduduk di sofa, dia menangkup wajah dengan kedua tangan dan menangis sesegukan. Entah mengapa melihat Brian yang begitu keras membuatnya merasa perjuangannya selama beberapa tahun terakhir terasa sia-sia.


Brian tidak bergeming, dia menatap mantan istrinya dengan sayu. Dia tidak mengerti kenapa Zaira menanyakan itu, dia juga tidak paham apa yang membuat Zaira menangis.


Brian memberanikan diri mendekat, duduk disebelahnya lalu mengelus lembut rambut Zaira yang masih menangis.


Sementara Zaira tidak menyangkal, dia hanya ingin mengeluarkan seluruh kepenatan dalam hatinya.


"Zaira, apakah kehadiranku menjadi beban bagimu?"


Zaira terus menangis sesegukan, dia tidak menjawab pertanyaan Brian.


"Baiklah, aku mengerti. Jangan menangis lagi, hm." Brian terus mengelus rambut Zaira.


"Aku akan berangkat sore nanti. Aku akan pulang. Kau jangan menangis lagi, ya?"


"Non.."


Mbok Inah lari tergopoh, "Non, Yara kejang, Non. Yara.."


Spontan Zaira dan Brian ke kamar Yara dan mendapati anaknya itu kejang.


"Bantu miringkan badannya". Ucap Ziara mencoba tenang, dia lalu mengusap kepala gadis kecilnya.


"Sayang, Yara sayang. Yara, mama disini, nak." Ucapnya dengan parau. Sesekali Zaira melirik jam, mendeteksi berapa lama Yara kejang.


Setelah beberapa detik, Yara tersadar.


"Bawakan baju Yara, Mbok. Kita ke rumah sakit." Ucapnya lalu menggendong Yara yang suhu tubuhnya kini meningkat.


"Ayo, biar kuantar." Brian lalu berlari di depan Zaira dan keluar, membukakan pintu mobil untuk Zaira.


Tak lama setelah Mbok Inah masuk, mereka segera menuju rumah sakit.


Yara diinfus, dokter yang menanganinya sedang berbicara dengan Zaira.


Sedangkan Brian duduk di dekat Yara yang tengah tersadar.


"Om baik, mama mana?" Tanya Yara dengan tenang.


"Mama sedang bicara dengan dokter yang periksa Yara tadi. Yara sudah baikan?"


Yara mengangguk.


"Cepat sembuh, nanti Om ajak jalan-jalan".

__ADS_1


"Om io juga bilang gitu ama Ala". Ucap Yara mengingat ucapan Gio padanya kemarin.


"Io? Siapa itu?"


"Papa balu Ala".


Brian membulatkan matanya. "Papa baru?". Melihat Yara mengangguk, badannya melemas. Ternyata benar, Zaira akan menikah. Bahkan Yara sudah memanggilnya dengan Papa baru.


Zaira masuk, dia duduk di kursi sebelah kasur Yara. "Terima kasih, mas. Sekarang Yara mau istirahat". Ucapnya dengan maksud mengusir.


"Baiklah. Aku akan pulang sore ini. Jadi.."


"Om mau kemana?" Tanya Yara.


"Om mau pulang." Jawab Brian dengan tersenyum.


"Nanti kemari lagi, kan?"


Brian diam, melirik ke arah Zaira.


"Rumah Om jauh. Jadi, Om tidak bisa balik lagi." Jawabnya dengan tenang.


"Jangan, Om. Jangan tinggalin Ala.." Yara mulai menangis.


"Eh? Ara kenapa nangis? Kan, ada Mama." Sahut Zaira sambil mengelus lembut kepala Yara.


"Om baik tidak boleh pergi. Om halus main ke lumah Ala agi, bawa balon.." Ujarnya lalu menangis lagi.


"Ara, nanti mama belikan balon dan boneka, ya?" Bujuk Yara.


"Sayang, di rumah kan ada Mbok Inah, ada mama, jadi Ara tidak kesepian, kan? Nanti Mama sering ajak jalan-jalan, ya."


Yara menggeleng lagi dan menutup mata dengan lengannya.


"Ya sudah, nanti sore Om balik ke sini lagi, ya?" Ucapan Brian mendapat lirikan tajam dari Zaira, namun Brian tidak memperdulikannya karena Yara tampak senang.


"Yara mau dibawakan apa?" Tanya Brian dengan gembira.


"Mau boneka besaaaall.."


"Yara.."


"Oke." Jawab Brian dengan cepat dan terus mendapat delikan tajam Zaira.


"Kalau gitu, Om pulang dulu, nanti kesini lagi." Ujarnya lalu mengecup lembut kening Yara.


Brian keluar lalu disusul Zaira.


"Mas, kau ini apa-apaan? Siapa yang mengizinkanmu datang kesini lagi?" Pekik Zaira.


"Lalu, aku harus bilang apa ke Yara?" Tanyanya pada Zaira yang terdiam. "Apa aku harus berbohong padanya?"


Zaira membuang wajahnya, dia sendiri memang tidak tahu harus melakukan apa.

__ADS_1


"Sudahlah, Zaira. Aku hanya menemani Yara sampai sembuh. Setelah itu, aku akan pergi. Kalau ada apa-apa cepat kabari aku, oke?" Ucapnya sambil memegang kepala Zaira, dengan cepat wanita itu menahan tangan Brian.


Brian hanya tersenyum dan melangkah pergi. Walau hanya Yara, setidaknya dia punya waktu sedikit lebih lama bersama Zaira, batinnya.


...*****...


Brian menuju rumah sakit pinggir kota, dia tadi menanyakan pada Andre detail calon suami Zaira. Dengan segala paksaan dan tekanan, akhirnya Andre mau memberitahukan nama dan alamat rumah sakit tempat laki-laki itu bekerja.


Brian sampai di rumah sakit itu, dia masuk dan menuju bagian informasi.


"Permisi, apa saya bisa bertemu dokter Gio?" Tanyanya pada kedua perawat yang tengah berjaga.


"Dokter Gio? Apakah maksud bapak dokter spesialis jantung, Gio Pradifta?" Tanya perawat itu memastikan.


"Ya, benar." Jawab Brian setelah mengingat nama yang diucapkan Andre padanya.


"Beliau sedang ada operasi. Apakah sudah membuat janji?"


Brian tampak berpikir. "Belum. Apa bisa bertemu tanpa janji?"


"Bisa saja jika dokter tidak ada jadwal. Apa bapak saudaranya?"


"Aa, ya, saya saudaranya." Jawab Brian asal.


"Wah, pantas tampan. Ternyata saudara dokter Gio". Sambung perawat yang disebelahnya dan Brian hanya tersenyum.


"Ah, itu dokter Gio." Tunjuk perawat itu, saat melihat Gio lewat dikejauhan berjalan dengan cepat.


"Yang mana?" Tanya Brian.


"Yang memakai pakaian hijau, pak. Masa saudara sendiri tidak tahu?" Sahut perawat itu.


"Aah, yaa, kami terpisah sejak kecil jadi, saya agak lupa wajahnya." Elak Brian dengan alasan yang muncul begitu saja di otaknya.


"Ooh, begitu. Pasti kalian saling merindukan."


"Ya begitulah, hehe".


"Kemarin, dokter Gio datang membawa anak dan istrinya, pak." Ujar salah satu diantara perawat itu.


"Apa? Dia sudah menikah?" Brian terperangah, ucapan perawat itu membuatnya terkejut. Jika dokter Gio sudah punya istri dan anak, lalu mengapa ia akan menikahi Zaira? Apakah Zaira tahu ini? Brian mulai curiga.


"Entahlah, kami juga tidak tahu. Dokter Gio tidak pernah bicara tentang keluarga jadi kami pikir beliau masih single. Tahu-tahu datang membawa anak dan istri yang cantik pula". Jelas perawat itu lagi, berhasil membuat dahi Brian berkerut.


"Sialan, jadi dia sudah menikah?" Gerutu Brian, dia mengepalkan kedua tangannya.


"Wajar bapak yang sejak kecil terpisah tidak tahu berita ini, karena kami pun baru tahu kemarin." Jelas perawat itu lagi.


"Baiklah, terima kasih informasinya, dokter". Ucap Brian lalu pergi dari sana. Dia tidak sabar mengungkapkan fakta ini pada Zaira. Supaya mantan istrinya itu tidak salah pilih laki-laki.


"Hei, kenapa kau bicara seperti itu tentang dokter Gio? Kita tidak boleh memberi informasi seperti itu pada orang asing!" Ujar seorang yang sejak tadi memegang komputer.


"Orang asing apanya, dia itu saudara dokter Gio yang terpisah sejak kecil, tahu!" Jawabnya lalu duduk lagi di tempatnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2