
Ennata langsung gegas berlari lagi saat sekilas melihat Rinnada sudah merintih kesakitan.
"Bun.." Rinnada meraih tangan bundanya. Dengan tangannya yang melemas, dia menggenggam dengan lembut tangan Winda.
"Iya, Nada. Kamu mau apa?" Winda mengelus punggung tangan anaknya dan mulai menangis. Wajah Rinnada benar-benar sudah pucat. Gadis itu seperti tahu dirinya sedang di ujung batas.
"Katakan pada Brian.." Rinnada terhenti, memegang dada kirinya yang terasa semakin nyeri.
"Bilang padanya, aku.. menunggunya. Aku menunggunya datang.." Rinnada merintih lagi. Dia sekuat tenaga berusaha menyampaikan pesannya pada Winda.
"Iya, akan bunda sampaikan. Akan bunda bawa kemari, asal Nada bertahan dan sembuh" Winda terisak, ia tidak tega melihat Rinnada yang menahan sakit pada tubuhnya.
Dokter dan perawat lainnya datang dan mendorong tempat tidur Rinnada untuk pindah ruang.
Dinnara menarik tangan Winda saat dia akan mengikuti perawat yang membawa Rinanda.
"Sebentar, Bunda".
Winda menghapus air matanya. "Ada apa?"
"Nada kenapa?"
Winda mengelus lembut pundak putrinya. "Komplikasi. Bunda belum tahu pasti."
"A-apa.. dia bisa selamat?"
Winda menunduk, lalu mulai menangis lagi. Dia tidak sanggup, dia tidak bisa mengatakannya.
"Bunda, aku ingin bilang sesuatu.."
"Bilang saja." Ucap Winda yang melihat keraguan pada wajah Dinnara.
Dinnara meraih tangan Bundanya "Tolong bun, jangan biarkan Brian tahu tentang Rinnada". Dinnara tertunduk. Dia takut dengan reaksi Bundanya.
"Apa?" Winda mengerutkan dahinya. "Kenapa?"
Dinnara tampak ragu. Dia mempunyai sebuah rencana untuk dirinya dan juga Brian.
"Bilang saja Brian sibuk, Bun. Jangan biarkan Brian tahu Rinnada sakit". Ucapan Rinnada tidak dipahami Winda. Dia belum mengerti apa maksud putrinya itu.
"Bunda, maafkan aku. Bunda tolong jangan marah padaku."
"Langsung saja, Ra. Kau menginginkan apa?"
"Biarkan aku yang menjadi Rinnada, bun. Aku ingin menjadi Rinnada." Dinnara menegang. Detak jantungnya seolah berhenti berdetak karena takut dengan jawaban Bundanya. Tetapi Bundanya malah terdiam menatap Dinnara.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bun." Dinnara menunduk dalam. Dia sadar perkataannya telah salah dan tidak paham kondisi.
"Bunda, dokter Sam meminta bunda untuk datang ke kantornya." Seru Ennata yang tiba-tiba datang.
Winda tidak bicara apa-apa, dia hanya langsung berjalan meninggalkan Dinnara yang masih tertunduk dalam..
~
"Kak, apa Brian akan datang?" Rinnada tersadar. Dia melihat Ennata duduk di berselonjor di atas sofa.
"Belum, Nada. Dia.." Ennata tidak tahu harus beralasan apa pada Rinnada yang terus menanyakan keberadaan Brian. Entah mengapa Winda hanya diam saja saat dirinya memintanya membawa Brian ke sini.
"Baiklah kak, mungkin dia benar-benar sibuk." Ucapnya mengalah supaya Ennata tidak memikirkannya lagi. Rinnada mengambil sebuah buku yang dibawa bi Sum dari rumah.
Rinnada bangkit dari kasurnya, dia berdiri dan memeluk sebuah buku diary miliknya.
"Kak, aku sangat berharap bisa bertemu dengannya walau untuk yang terakhir kalinya, aku.." Rinnada menghapus air matanya yang tidak bisa ia tahan.
"Aku hanya ingin tahu keadaannya." Rinnada terisak. Dia memegang dadanya sesekali karena terasa nyeri saat dirinya menangis. "Aku sangat merindukannya.."
Ennata mendengarkan adiknya, dia ingin sekali menjemput laki-laki yang sudah tidak ada kabarnya itu. Tetapi, Ennata tidak sanggup mengatakannya pada Rinnada.
"Aku minta kakak memberikan ini padanya. Tolong, sampaikan ini padanya, kak. Aku tidak mau dia terus mengingatku, jangan sampai dia lupa pada dirinya sendiri karena kepergianku. Aku.. aku tidak mau dia berjalan ditempat."
Ennata tidak bergeming. Rinnada seolah memberikan pesan terakhir untuk Brian. Dia Seolah mengatakan pada Ennata bahwa mungkin besok dia akan tiada.
"Tidak, aku ingin kakak berjanji padaku. Aku takut Brian akan tertipu. Kakak harus janji, buku ini harus sampai pada Brian."
Ennata mengambil buku di tangan Rinnada. "Dia tidak akan tertipu, Rin. Aku yakin dia mengenalmu lebih dari apapun."
"Entahlah. Aku hanya tidak tenang. Perasaanku tidak enak". Ucapnya dengan lesu.
"Makanya, istirahat supaya pikiranmu lebih tenang. Semoga besok sudah bisa pulang, ya. Aku akan mengantarmu sampai ke depan rumahnya. Bagaimana?"
Kalimat Ennata mampu membuat Rinnada tersenyum manis. Padahal, dia tahu betul sakitnya kali ini akan lebih lama dari biasanya.
Ennata menyelimuti adiknya. Gadis kecil yang ia sayangi, adik perempuan yang paling baik, lebih memikirkan orang lain dari pada dirinya sendiri.
"Maafkan kakakmu ini, ya." Ennata mengelus lembut rambut Rinnada.
Rinnada tertawa kecil. Dia bisa merasakan kekhawatiran di dalam diri Ennata.
"Apa kakak menyayangiku?"
__ADS_1
"Kau bertanya apa, tentu saja. Kau adikku". Gerutunya pada Rinnada yang tertawa.
"Syukurlah. Ada yang menyayangiku."
Ennata tersentak dengan ucapan adiknya. Dia merasa bersalah karena sekolah kedokterannya kini membuatnya berjarak dengan Rinnada yang tidak akrab dengan kembarannya.
"Semua orang menyayangimu. Lihatlah, laki-laki sehebat Brian juga jatuh hati padamu".
Rinnada tersenyum. Dia juga merasakan itu, perasaan luar biasa Brian pada dirinya.
"Apa kakak tahu, Aku pernah bilang pada Brian, jika suatu hari aku pergi, dia harus menemukan cintanya. Dan kakak tahu dia bilang apa? Katanya, jika aku meninggalkannya, dia akan mencari wanita yang lebih hebat dariku".
"Dia bilang begitu?"
Rinnada mengangguk cepat. "Ya, itu bentuk kekecewaannya karena ucapanku" Rinnada terkekeh. Brian mengatakan itu untuk membuat Rinnada cemburu dan berhenti untuk terus bercerita tentang dirinya yang akan pergi. Seolah-olah Rinnada benar-benar akan meninggalkannya.
"Lalu, dia bilang, aku tidak boleh mengacaukannya saat dirinya mulai hidup baru. Karena dia pasti akan kembali padaku". Rinnada tertawa riang, diikuti tawa Ennata. Hingga Rinnada memegang dadanya lagi saat terasa nyeri.
"Apa sakit?" Tanya Ennata penuh kekhawatiran.
Rinnada mengangguk. Dia menahan sakitnya yang mulai lebih terasa.
"Jaga Bunda ya, kak". Suara Rinnada lirih hampir tak terdengar. Sakit di bagian dadanya semakin menjadi-jadi. Dia tidak mampu menahan lagi.
"Tidurlah, Rin."
"Buku itu harus sampai ya, kak. Supaya Brian bahagia".
"Iya, tidurlah". Ennata terus mengelus puncak kepalanya.
Rinnada tertawa lagi mengingat Brian di pikirannya. Tetapi kali ini dengan air mata. Dia lalu menutup matanya, menikmati usapan lembut Ennata yang sudah lama tidak ia rasakan. Untunglah, bahkan disaat terakhir tetap ada orang yang menyayanginya walau hanya seorang.
Ennata meneteskan air matanya. Dia terisak, tangannya menghapus air mata yang terus tertumpah di pipinya. Dia lalu mencium kening adiknya dan akan berusaha melakukan apa yang dia minta.
"Tenang disana, adikku sayang".
Rinnada, kini terlihat lebih berseri. Jauh lebih tenang. Dia tidak lagi menahan rasa sakitnya..
Bersambung....
Hallo♡
Terima kasih ya sudah mendukung Author dengan Like, Komen, Vote, dan Hadiahnya💐
Jangan lupa baca cerita Author "Sang Penakluk yang Takluk" 🙈
__ADS_1
(gambar ilustrasi diambil dari pin by alessandra)