Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Jalan Buntu


__ADS_3

Rinnada melempar tasnya ke atas sofa dengan kasar. Dia mengacak-acak rambutnya dan berteriak histeris.


Dia lalu menggigit kukunya sambil berjalan kesana kemari. Pikirannya sangat berantakan. Bahkan melihat reaksi Zaira yang sangat santai membuatnya sulit merancang rencana.


"Tidak. Aku tidak bisa hanya berdiam saja. Aku harus melakukan sesuatu."


Rinnada berjalan menuju laci kamarnya. Dia membuka sebuah kotak berwarna biru. Senyumnya mengembang melihat apa yang ada di dalam.


"Besok, aku akan memperlihatkanmu ini. Aku tahu, Brian. Kau masih sangat menyayangiku. Kisah kita belum selesai. Aku yang akan membantumu lepas dari wanita egois itu." Ucapnya lalu menyeringai.


Rasa bencinya memuncak pada Zaira. Dia benar-benar akan menghancurkan hidup wanita itu.


****


Zaira bertemu Andre di sebuah kafe. Tak lupa mengajak Hani supaya tidak menjadi gosip saat melihat Zaira dan Andre hanya duduk berdua di sekitar rumah sakit.


Dia meminta Andre melakukan sesuatu. Karena hanya Andre yang bisa melakukan itu untuknya. Dengan sangat rela, Andre menerima permintaan Zaira.


"Apa kau tidak percaya kepada suamimu?" Tanya Andre kemudian.


Zaira menyeruput minumannya. "Aku tidak suka bermain-main dan dia tahu itu. Dia melanggar peraturan yang kami sepakati. Dan aku, tidak bisa memberi toleransi pada perselingkuhan".


Andre mengangguk. Menurutnya, setiap pasangan punya komitmen masing-masing dalam pernikahan. Jika Zaira dan Brian membuat peraturan dan dilanggar oleh satu pihak, mau tidak mau, konsekuensi tetap harus berjalan.


"Ra, aku bukan membela kak Brian, tapi.. menurutku kak Brian pasti sudah berubah dan tidak akan mengulanginya lagi". Hani menggenggam tangan Zaira di hadapannya. Mendengar cerita Zaira kemarin, dia seperti meyakini sesuatu. Hani juga bisa melihat ketulusan Brian yang sangat menyayangi Zaira sepenuh hati.


"Bagus kalau memang begitu. Aku hanya curiga saja. Melihat kegigihan Rinnada membuatku tahu betapa Brian punya posisi penting di hidupnya. Begitu juga Brian, dia bahkan mengatakan hal-hal yang ia sembunyikan dariku pada wanita itu".


Andre dan Hani terdiam. Karena mereka tahu, Zaira pasti lebih paham banyak ketimbang mereka.


Zaira menundukkan pandangannya. Dia menatap jari-jarinya yang saling bertautan di atas meja.

__ADS_1


"Aku sudah pasrah. Mau bagaimana Brian membentuk rumah tangga ini, aku serahkan padanya. Aku sebenarnya masih sangat berat hati melihatnya. Tetapi rasanya tidak adil jika aku tidak memberikannya kesempatan. Apalagi dia bilang tidak melakukan apa-apa dengan wanita itu."


Hani menggenggam tangan Zaira lagi. Disaat dirinya akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat, sahabatnya malah sedang dilanda badai di dalam rumah tangganya.


"Aku hanya ingin memastikan saja. Kumohon kakak tidak menutupinya dariku. Jika memang dia masih menerima kehadiran wanita itu, maka aku yang akan mundur. Aku tidak bisa melihat kemungkaran di dalam rumah tanggaku" Zaira mulai meneteskan air mata. Baginya, perselingkuhan itu sangat merusak moral dan harga diri. Jika dia membiarkan itu terjadi, maka harga dirinya pun ikut tercoreng.


"Baiklah. Aku akan membantumu. Akupun sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya beberapa tahun silam. Kedatangan Rinnada ini, aku sangat menyesalinya." Andre tertunduk.


Beberapa hari ini menjadi hari berat. Dia bahkan susah tidur setelah menemukan makan Dinnara dan melihat perubahan dalam diri Rinnada demi memperjuangkan perasaan cintanya pada Brian.


"Tidak perlu begitu, kak. Kakak sudah melakukan yang terbaik buat kak Brian." Hani mengelus lembut pundak kakaknya. Walau dia tidak tahu banyak kisah masa lalu kakaknya dan Brian, namun dia tahu kakaknya menyayangi sahabatnya itu.


"Aku hanya merasa bodoh. Kalau saja aku membiarkannya menyelesaikan masalahnya dahulu, mungkin dia akan lebih bijak dalam bersikap sekarang. Dia begitu, karena aku yang memaksanya pergi sementara dirinya dan Rinnada belum menyelesaikan apapun."


Pikiran Andre melayang ke masa-masa dulu. Saat Ennata menyuruh Brian dan Rinnada pergi jauh dari Dinnara dan Winda.


Entah bagaimana, Dinnara mengetahui rencana Brian yang akan menikahi Rinnada diam-diam.


Brian menemui Rinnada di lorong rumah sakit dan mengatakan akan membawanya pergi. Rinnada mengangguk cepat dan menangis karena merasa bahagia akan bebas dengan Brian.


Brian, Rinnada, dan Andre yang bersiap beranjak keluar, berlari menuju ruangan Dinnara saat mendengar jeritannya.


Dinnara yang melihat Brian masuk, mengancam akan melukai tangannya jika Brian berani keluar selangkah saja bersama Rinnada.


Ennata menenangkan adiknya. Dia merasa bersalah karena Dinnara mengetahui kalau ide itu adalah miliknya.


"Diam kak! Ini semua ulah kakak!" Bentaknya pada Ennata yang mencoba menenangkannya.


Winda hanya menangis. Dia tidak sangka anaknya sampai berbuat seperti itu demi seorang laki-laki.


"Nara, Bunda mohon padamu, Nak. tenangkan dirimu." Isaknya pada anaknya yang tengah dikuasai kemarahan.

__ADS_1


"Bunda sama saja. Pasti Bunda juga bersekongkol dengan mereka. Lebih baik aku mati. Aku tidak dihargai". Dinnara menangis sesegukan. Bahunya naik turun hingga membuatnya sulit berdiri tegak. Melihat Dinnara lengah, Ennata menggenggam tangan adiknya yang memegang pisau. Lalu menangkis pisau itu hingga terjatuh ke lantai.


Dinnara teriak histeris. "Lepaskan aku, lepas!" Dia meronta. Dibantu perawat, Ennata mengikat tangan Dinnara lalu dokter menyuntikkan cairan penenang hingga beberapa saat, Dinnara mulai terlelap dengan masih sedikit meracau. "Jangan tinggalkan aku, brian.." dia terlelap.


Mendengar gumaman dari mulut Dinnara, membuat Rinnada terisak-isak. Dia menatap Brian. Lalu menggelengkan kepala tanda bahwa ia tidak bisa ikut dengannya.


Winda menangis melihat kondisi putrinya. Dia merasa gagal. Selama ini, dia tidak pernah tahu apa yang dialami kedua putrinya. Yang dia tahu, keduanya tumbuh sehat dan hanya bertengkar sedikit layaknya saudara kandung.


Rinnada memeluk Bundanya yang berlutut dilantai. Dia ikut sesegukan. Hatinya berdenyut. Berulang kali mulut Rinnada mengucapkan kata maaf di telinga Bundanya. Dia bahkan menyesal sudah sempat berpikir untuk kabur dari Winda. Bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan Winda dengan kondisi Dinnara yang seperti itu.


Andre mengajak Brian yang masih terpaku untuk pulang. Kejadian luar biasa yang mereka alami, membuatnya sulit berpikir.


"Ayo, Yan. Besok kita kemari lagi. Sekarang, tidak ada lagi yang perlu kau lakukan". Andre menepuk pundak Brian. Namun lelaki itu hanya diam tak bergeming menatap Rinnada yang sangat terpukul sambil memeluk Bundanya.


Dia tidak bisa pergi dengan Rinanda jika situasinya seperti ini.


Ennata menghampirinya. Dia menepuk-nepuk pundak Brian seolah-olah menyuruhnya untuk bersabar. Ennata lalu keluar ruangan dan pergi entah kemana.


Brian berjalan lunglai. Di belakangnya, Andre mengikuti.


Pikirannya buntu dan tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan kedepannya untuk memperjuangkan cintanya.


Brian mengadahkan wajahnya ke atas langit yang gelap. Membiarkan tetesan gerimis satu persatu menyentuh wajahnya.


Andre ikut berhenti dibelakang dan membiarkan Brian menenangkan pikirannya.


"Berat sekali jalanku ini, Dre". Gumamnya pelan dengan mata yang tertutup mengadah ke atas langit.


Andre tidak menyahut. Dia tahu kejadian ini pasti membuat sahabatnya frustrasi.


__ADS_1


Rintikan hujan mulai menderas. Andre tahu, sahabatnya itu tengah menangis. Batinnya tersiksa karena jalan apapun tidak bisa dilakukan. Terhalang oleh kelakuan Dinnara hingga restu orang tua Rinnada. Bagaimanapun, dia masih ingin memperjuangkan perasaannya pada cinta pertamanya.


Bersambung....


__ADS_2