
Dinnara berjalan kesana kemari menggigit kukunya sembari menelepon Brian. Dia menyesali perbuatannya. Melihat amukan Brian karena ditipu membuatnya sangat sedih.
Rencana yang ia susun bertahun-tahun lamanya harus runtuh. Padahal, dia berusaha mati-matian sembuh dari penyakit mentalnya, membaca seluruh buku diari Rinnada, belajar menyukai apa yang disukai kembarannya dengan susah payah. Lalu hanya karena Ennata akhirnya menemukan seluruh barang-barang Rinnada yang ia sembunyikan, semua itu gagal dan hancur total. Padahal, dia hampir saja mendapatkan Brian seutuhnya.
"Halo Brian"
Dinnara antusias saat ternyata telepon miliknya di angkat oleh Brian.
"Halo" Sahutan diseberang membuat Dinnara terdiam sejenak. Suara itu, bukanlah suara Brian.
Disana terdengar berisik. Bunyi sirine begitu ramai dan orang-orang terdengar berteriak.
"Ini siapa?" Tanya Dinnara menegang.
"Maaf, mba. Yang punya ponsel kecelakaan lalu lintas"
Dinnara terperanjat, dia menjatuhkan ponselnya. Mendengar pernyataan orang barusan membuatnya hampir pingsan.
Melihat itu, Winda langsung mengambil ponsel Dinnara yang terjatuh. "Halo, iya,"
"Tolong Mba, ini saudaranya mengalami kecelakaan serius dan cukup parah." Suara dari seberang menjelaskan lagi.
"A-apa? Brian kecelakaan? Cepat bawa ke rumah sakit A! Cepat antar sekarang!" Teriak Winda lalu menelan ludah. Secepat itu takdir berjalan. Brian baru saja pulang dari sini, lalu tak lama ia mengalami kecelakaan parah.
"Nara, cepat bangkit. Tidak ada waktu untuk meratap! Kita harus kesana secepatnya!" Pekik Winda yang melihat Dinnara menutup wajahnya dengan tangan. Dia menangis lagi.
Winda membantu Dinnara berdiri dan mereka bergegas menuju rumah sakit.
*****
Zaira baru saja tiba di rumah sakit setelah secara mendadak kepala rumah sakit menyuruhnya mengisi sebuah seminar di salah satu kampus kedokteran. Walau dengan berat hati, dia mengikuti saja apa yang diminta dokter Winda itu.
Zaira mendapati Hani tengah mondar-mandir di depan ruangannya. Wajahnya terlihat tegang.
"Han, ada apa?"
"Ya ampun, Zaira. Kau kemana saja? Aku sulit menghubungimu!" Ucapnya dengan panik seperti terjadi sesuatu pada dirinya.
"Aku baru dari semi..."
"Sudahlah. Cepat kau temui kepala rumah sakit." Hani mendorong punggung Zaira yang tampak bingung.
"Ada apa, sih?"
Hani menyerahkan sebuah surat pada Zaira.
"Ini. Dokter sialan itu memindahkanmu dari rumah sakit ini ke rumah sakit kota P. Tidak tanggung-tanggung, jauh sekali!".
Zaira membaca surat perintah pindah tugas yang telah ditanda tangani pimpinan rumah sakit.
"Dasar kurang ajar! Bisa-bisanya dia mengusirmu dari rumah sakit ini hanya supaya anaknya bisa bersama kak Brian!" Hani menggerutu. Dia menyugar rambutnya dengan kesal lantaran sahabatnya harus secara tidak adil dipindahpaksakan dari pekerjaannya sekarang.
"Ah, aku terlambat apa?" Revi datang dengan sedikit berlari. Melihat kepanikan di wajah kedua sahabatnya membuatnya ikut panik.
"Kau baca ini!" Hani menarik surat dari tangan Zaira yang tak bergeming dengan perintah di surat itu.
"Apa? Kenapa begini? Memangnya bisa?" Revi ikut tersungut membaca surat itu.
"Jadi kau sudah tidak ada izin praktek disini?" Tanya Revi lagi saat membaca detail surat itu lagi.
__ADS_1
"Tidak bisa seperti ini. Aku harus bertemu dengan dokter Winda". Zaira melangkah cepat ke arah ruangan kepala rumah sakit diikuti ketiganya yang juga akan memberontak tak terima sahabatnya dipindahkan dengan susuka hati, apalagi sudah jelas alasannya memindahkan Zaira karena apa.
Sesampainya disana, mereka mengetuk beberapa kali, tidak ada sahutan. Lalu seorang perawat mengatakan bahwa dokter Winda sedang tidak ada di ruangannya.
Ketiganya melemas. Sebab sepertinya dokter Winda melarikan diri karena tahu dirinya akan diprotes keras oleh Zaira.
"Kau tadi dari mana, Ra?" Tanya Revi sambil berjalan menuju ruangan Zaira lagi.
"Aku mengisi seminar di kampus kedokteran XX. Itu juga yang menyuruh dokter Winda". Ucapnya dengan jalan cepat-cepat.
"Astaga, yang benar? Apa maksudnya itu!" Pekik Hani tak kalah marah.
Mereka masuk ke dalam ruangan dan menghempaskan tubuh ke atas sofa.
Zaira menyandarkan kepalanya, memejamkan mata dan memijit-mijit dahinya yang mulai terasa sakit.
"Apa dia sengaja menyuruhmu pergi, Ra?"
"Entahlah aku tidak tahu."
"Kau baik-baik saja, Ra?" Revi pindah kesebelah Zaira. Dia membantu Zaira memijat dahinya.
"Jahat sekali, dokter Winda. Aku tidak sangka. Padahal dia terlihat tidak peduli dan hanya mementingkan karir dan ketegasan di rumah sakit supaya semua berjalan sempurna" Hani melipat tangan di dada. Sosok Winda yang terlihat disegani sangat ia kagumi. Setelah hari ini, dia langsung membenci wanita itu.
"Terus bagaimana, Ra? Apa kau harus pindah?" Tanya Revi lagi.
Zaira menegakkan punggungnya. Dia melirik lagi surat di tangannya.
"Aku akan coba bujuk dia. Akan aku bilang baik-baik bahwa aku sama sekali tidak akan mengusik hidup anaknya dan juga kekasih sialannya itu. Hah!" Zaira membuang napasnya dengan keras.
"Mungkin dia sakit hati dengan ucapanku waktu itu." Sambungnya lagi.
"Tetap saja, dia tetap tidak boleh begitu. Tidak bisa mencampuradukkan antara pekerjaan dan juga hubungan pribadi. Dia sangat tidak profesional." Sentak Hani lagi. Dia terikut emosi.
"Ah! Aku ingin sekali menjambak anaknya itu! Kesannya seperti kau yang merebut suaminya. Padahal kan, itu dia!" Hani tersungut-sungut.
"Kecilkan suaramu. Dasar! Kalau orang lain dengar, bisa-bisa kau juga dipindahkan." Ujar Revi pada Hani yang nampak tak peduli.
"Ra.. aku tidak mau pisah denganmu, hiks". Hani memeluk Zaira yang masih terlihat bingung. Walau bagaimana pun, dia sendiri tidak ingin pindah. Dia sudah merasa nyaman berada di rumah sakit ini.
"Tapi mungkin, tidak ada salahnya aku ikuti saja ini." Ucap Zaira sambil memandangi kertas di genggamannya.
"Apa? Kenapa kau malah berubah pikiran?" Teriak Hani tak terima.
"Supaya aku bisa lebih tenang. Jauh dari Brian dan Rinnada." Jawabnya dengan kesedihan. Melihat itu Hani tidak berontak lagi. Apa yang dirasakan Zaira, dia tidak benar-benar ikut merasakannya.
Alarm Kode Biru terdengar di ruangan Zaira, membuat ketiganya terkesiap.
Zaira langsung berdiri bersiap lari. Lalu dia tertahan karena mengingat sesuatu.
"Ra, Blue Code. Cepat! Kau kan dokter penanganan darurat!" Sentak Hani pada Zaira yang tiba-tiba berhenti di tempat.
"Ah.. iya. Surat itu.." Ucap Hani terbata saat melihat Zaira memandang lagi surat di tangannya.
~
Para medis langsung berhamburan menuju ambulan yang baru saja tiba. Perawat yang membawa pasien sudah mengatakan bahwa korban terluka parah di bagian dada kiri yang tertusuk benda tajam.
"Cepat! Cepat! Ayo siapkan ruangannya!"
__ADS_1
Suara para medis terdengar dari ruangan Zaira yang bersebelahan dengan lorong masuk unit gawat darurat.
Tok tok..
Ketukan terdengar dari pintu. Seorang perawat membuka pintunya dengan napas tersengal.
"Dok! Pasien gawat darurat, dok. Korbannya ada dua orang" Ucapnya lalu berlari kecil menuju ruang operasi.
"Ra, apa mereka tidak tahu?" Tanya Hani lagi.
Zaira masih berdiri di tempatnya memadangi kertas itu.
"Sepertinya kecelakaan besar sampai seperti ini". Revi berjalan keluar. Dia melihat para perawat yang hilir mudik dan sibuk masing-masing.
Roda hospital bed mulai memasuki lorong, disebelah kiri kanannya para tenaga medis sibuk dengan perannya masing-masing, memberikan oksigen supaya korban tetap selamat.
Roda Tempat tidur itu di dorong dengan cepat melewati Revi yang berdiri disana memperhatikan.
Revi menyipitkan matanya berusaha melihat Korban yang sudah berlumur darah.
Dia terdiam saat matanya menangkap sekilas wajah Brian dengan luka akibat serpihan kaca.
"Raa! Raa! Brian! Itu Brian!" Teriak Revi dari luar ruangannya.
Zaira hanya melihat Revi dengan wajah panik.
"Ra, yang kecelakaan Brian!" Ucapnya lagi.
Zaira langsung berlari keluar.
"Itu, Ra. Disana!" Tunjuk Revi pada ruang operasi.
Zaira langsung lari ke arah tangan Revi menunjuk.
Dia melihat para perawat dan dokter darurat menggunting pakaian Brian.
Zaira mematung. Lututnya terasa lemas, dia keringat dingin melihat kondisi Brian yang sangat parah. Jantungnya berdegub kencang. Air mata mulai menetes dari sudut matanya.
Seorang perawat mendatanginya dari belakang. "Dokter, ini laporan pasien yang sudah di periksa. Kita harus segera mengoperasi, bagian jantungnya terkena benda tajam". Ucapnya menjelaskan, membuat jantung Zaira ikut berdenyut.
"A-ku, tidak bisa-mengoperasinya.." Ucap Zaira terbata-bata. Tangannya gemetar memegang kertas yang melarangnya melakukan tindak operasi mulai hari itu...
Bersambung...
Karya Baru Author niihhh...
"Tanda tangani kontrak itu. Jika kau setuju, aku akan membantu seluruh biaya rumah sakit nenekmu."
Aku meremas ujung rokku dengan geram. Ibuku memang seorang wanita malam, tapi bukan berarti aku akan melakukan hal yang sama! Pekikku dalam hati namun sialnya aku malah menandatangi surat itu.
Persetan! Aku tidak peduli yang penting nenekku, keluargaku satu-satunya yang tersisa, bisa hidup dan melanjutkan hidup bersamaku.
Dia Arga Alexander, lelaki blasteran yang kaya raya dan populer di kampus tengah 'menolongku' dan aku harus menjadi teman tidurnya selama 2 tahun.
Walau begitu, dia tidak melarangku berhubungan dengan Aditya Wicaksana, kekasihku yang sudah 7 tahun berpacaran denganku.
Lalu Bagaimana Syahdu dan Arga menjalani kehidupan mereka selama dua tahun? Bagaimana pula hubungan Syahdu dengan Wicak, lelaki yang amat dia cintai itu?
(Visual Tokoh dalam Cerita berjudul: SYAHDU)
__ADS_1