Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
KONFLIK (3)


__ADS_3

Zaira duduk di tepi tempat tidurnya. Dia termenung disana hingga melewatkan makan malam. Mbok Inah pun tidak memanggil. Seperti tahu majikannya pasti tidak ingin diganggu.


Zaira menautkan jari-jarinya di atas lutut dengan air mata yang terus menetes di tangannya. Kali ini, dia tak ingin lari menghindari masalah lagi. Apa yang Brian lakukan padanya sudah sangat menyakiti hatinya. Jelas sekali, Brian tidak peduli padanya lagi. Sudah Zaira tekankan prinsipnya berkali-kali, namun jika dia melanggar, artinya dia memang sudah tidak ingin lagi menjalani pernikahan dengan Zaira.


Zaira menoleh ke samping. Tempat kotak biru itu tergeletak. Dia memberanikan diri membuka kotak itu. Mengambil satu foto dan mengamatinya dengan hati yang gusar.


"Tega sekali kau, Brian". Zaira memegang foto itu dengan gemetar. Sudah berjam-jam, air matanya tak juga mengering. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk tenang. Tetapi setiap detik wajah Brian terpampang di pikirannya, membuatnya sangat sakit dengan pengkhianatan yang dia lakukan.


Tidak ada jalan lain. Zaira meraih ponselnya, mengetik satu nama, dan meletakkan di telinganya.


"Iya, Ra?" Suara Andre diseberang terdengar jelas.


"Bantu aku mengurus perceraianku, kak". Ucapnya dengan suara lirih. Tangannya menggenggam ujung baju. Bahunya terisak. Dia tidak bisa menahan air matanya yang tumpah berkali-kali.


Andre terdiam diseberang sana. Dia hanya mendengarkan suara Zaira yang menangis tersedu-sedu hingga beberapa saat.


"Baiklah, Ra. Aku akan mengurusnya sampai tuntas". Ucapnya tanpa bertanya. Tangisan Zaira di telinganya sangat membuatnya yakin, bahwa Zaira sudah di ujung batasnya. Perempuan penyabar itu, sudah menentukan jalannya sendiri.


Zaira menutup kedua wajah dengan tangannya. Dia menangis lagi. Begitukah akhirnya, kisah rumah tangga yang dia bangun atas dasar kepercayaan dan ketulusan Brian, berakhir dengan perceraian?


...****...


Brian berdiri di depan pintu rumahnya. Dia menarik napas berkali-kali. Jantungnya berdegub kencang saat akan membuka handel pintu. Bagaimana pun, Zaira belum mengetahui kejadian itu. Pikirnya.


Dia masuk dan berjalan menuju kamarnya. Jam segini, Zaira pasti sudah tidur. Dia langsung menuju kamarnya dan melihat Zaira duduk di tepi tempat tidur dengan mata sembabnya.


Brian terhenti. Melihat Zaira yang seperti itu membuatnya gemetar dan kalut. Apakah Zaira tahu?


Dia mendekat dan berdiri di hadapan Zaira yang bahkan tidak melihatnya.


"Sayang.."


Zaira hanya diam. Brian sudah menghancurkan perasannya berkali-kali. Bagaimana mungkin dia bisa berpura-pura seperti itu?


Brian kaku. Melihat Zaira terisak sambil menutup matanya membuatnya keheranan. Apakah Zaira sudah mengetahuinya? Tapi dari mana?


Brian berjongkok di bawah kaki Zaira. Wanita itu tersedu-sedu menutup wajahnya. Bahunya naik turun, suara tangisannya pecah. Brian memegang erat tangan Zaira dan mendapat tangkisan keras.


"Jangan sentuh". Ucap Zaira dengan suara berat. Dia menggeser posisinya menjauh dari Brian.


Seperti paham, Brian terduduk. Ternyata Zaira benar-benar sudah mengetahui apa yang terjadi. Rinnada, apakah dia yang memberitahunya?

__ADS_1


Brian menunduk. Dia tahu kesalahannya. Hanya saja, mengapa dampaknya begitu menyakiti banyak pihak? Bukan hanya Zaira, dia juga bahkan merasa sesak.


"Maafkan aku. Aku tidak sadar melakukannya".


Pernyataan yang keluar dari mulut Brian semakin membuat tangis Zaira menjadi. Bagaimana mungkin tidak sadar? Laki-laki dan perempuan dewasa yang berselingkuh, memang mustahil tidak melakukan apa-apa.


Zaira terisak hingga membuat napasnya sesak. Brian dengan gampangnya mengucapkan kata-kata itu.


"Ra, aku meminta padamu, dengan seluruh harga diriku. Jangan tinggalkan aku, Ra. Ayo, kita pindah dari sini"


Permintaan konyol itu membuat mata Zaira terbelalak. Dia berdiri dari duduknya menatap tajam ke arah Brian yang berlutut di hadapannya.


"Kau gila. Kau pikir apa yang kau lakukan?" Suara Zaira mengeras. Matanya memerah melihat wajah khianat Brian yang dengan enteng memintanya menerimanya lagi.


Brian menunduk dalam. Dia sadar akan kesalahannya.


"Aku tahu, aku sangat menyakitimu. Tapi aku tidak sengaja, Ra."


Brian berdiri dan memohon pada Zaira. "Ayo kita kabur dari tempat ini setelah Rinnada melahirkan anakku." Ucapnya sambil meraih tangan Zaira.


PLAK!


Tamparan keras dilayangkan Zaira di pipi Brian. Zaira kini tidak mengerti apa yang merasuki Brian yang sesuka hatinya meminta ini dan itu tanpa memikirkan perasaannya.


Brian mengejar Zaira sambil terus memohon untuk tidak meninggalkannya. Sesuatu hal yang sia-sia dia lakukan sampai mobil Zaira meninggalkan dirinya yang ikut terisak memikirkan nasibnya. Dia terjatuh disana. Menangis karena keinginan dan permintaan bodohnya yang membuat Zaira semakin meninggalkannya.


...*****...


Zaira tengah termenung di meja kerjanya. Walau suasana hatinya sangat buruk, dia mencoba sekuat tenaga untuk tetap menjalankan pekerjaannya dengan benar.


Suara ketukan terdengar, membuat dia mengelap pipinya. Khawatir jika ternyata ada bekas air yang masih tersisa.


Saat melihat seseorang yang masuk itu, Zaira membuang wajahnya dengan kesal.


Rinnada masuk dengan wajah sendu. Entah apa yang membuatnya begitu berani menampangkan wajahnya di depan Zaira, yang jelas, dia adalah wanita tanpa harga diri di mata Zaira.


"Maafkan aku mengganggu, dokter". Dia duduk tanpa di minta. Memegang perutnya seolah memberitahu dengan jelas bahwa dia tengah mengandung.


"Aku tahu dokter pasti sudah mendengar kabar tentangku dan suami dokter. Asal dokter tahu saja, aku tidak meminta pertanggung jawabannya."


Perkataan Rinnada membuat Zaira menoleh ke arahnya sekilas. Tidak meminta pertanggung jawaban? Tidak masuk akal. Batinnya.

__ADS_1


"Aku tidak masalah, kok. Kalau kak Ian tidak menikahiku. Aku hanya ingin memberinya hadiah kecil. Sesuatu yang istrinya bahkan tidak mampu melakukannya". Dia tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya. Menganggap remeh Zaira dengan ucapannya.


Zaira tidak bersuara. Dia bahkan tidak melihat kepergian wanita itu dari ruangannya.


Entah apa maksud wanita itu, Zaira tidak peduli. Yang jelas, dia akan benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Brian.


Zaira menitikkan air mata lagi, entah untuk yang keberapa kali. Yang dia pikirkan selama ini benar, Brian dan Rinnada akan terus berkaitan entah sampai kapan.


...****...


Brian datang ke apartemen Rinnada. Dengan bujuk rayu, Rinnada akhirnya bisa membuatnya datang.


"Kak Ian, apa kau baik-baik saja?" Rinnada mengelus lembut lengan Brian. Dia melihat wajah dan penampilan yang sangat kacau dari Brian.


Dia duduk tanpa berbicara. Menyandarkan punggung dan kepalanya sambil melihat langit-langit.


"Kak, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu senang. Jika anak di kandunganku ini tidak membuatmu bahagia, aku akan pergi jauh dari sini." Suara Rinnada membuat Brian meliriknya sesaat.


"Kak, aku hanya ingin menyenangkanmu dengan memberimu anak. Apa kau mau, kak? Aku akan memberikannya untukmu dan istrimu. Demi kebahagiaanmu".


Rinnada mengatakan hal yang tidak mungkin bisa diterima Zaira. Namun ucapan itu sedikit meluluhkan hati Brian.


"Zaira tidak mau mengadopsinya." Jawabnya dengan lesu.


"Benarkah? Jahat sekali. Padahal ini anakmu. Seharusnya, jika dia mencintaimu, maka dia harus menerima anakmu. Karena dia kan, tidak mampu memberikan anak untukmu. Jadi, dia harus bisa terima anak ini." Ucap Rinnada dengan nada yang dibuat kesal supaya Brian memikirkan hal yang sama.


"Benarkah? Apa boleh begitu?"


"Tentu saja. Aku pun, jika ternyata tidak bisa hamil, mau tidak mau menerima keputusan suamiku sebagai bentuk cintaku padanya. Lagipula, aku hanya merawat anaknya. Bukan membiarkan suamiku menikah lagi." Ujarnya sambil tersenyum menatap Brian yang melihatnya dengan anggukan kecil.


"Tapi, Zaira bisa saja menuntutku ke pengadilan karena bukti perselingkuhan".


"Dia takkan tega melakukan itu padamu. Percayalah". Rinnada lalu meraih tangan Brian dan meletakkannya di perutnya.


"Tenanglah kak, ada darah dagingmu disini. Walau seandainya istrimu meninggalkanmu, kami selalu menerimamu dengan tangan terbuka".


Ucapan Rinanda membuatnya memikirkan Zaira. Dia belum sanggup menerima apabila Zaira memutuskan untuk bercerai dengannya.


Bersambung....


Hallo♡

__ADS_1


Terima kasih ya sudah mendukung Author dengan Like, Komen, Vote, dan Hadiahnya💐


Jangan lupa baca cerita Author "Sang Penakluk yang Takluk" 🙈


__ADS_2