Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
End (1)


__ADS_3

Zaira berjalan dengan anggun, dia memakai gaun berwarna peach diatas lutut, senada dengan gaun Yara yang tertidur pulas di dalam stroller.


Hari ini adalah pesta pernikahan sahabatnya, Hani. Hari bahagia yang sudah dinanti-nantikan sejak lama oleh gadis itu.


Zaira mendatangi Hani di atas pelaminan dan memeluknya dengan erat. "Selamat, Hani. Semoga pernikahanmu terus dihiasi oleh kebahagiaan. Aku menyayangimu, Hani. Terima kasih sudah banyak membantuku". Ucapnya dengan parau. Tidak bisa di pungkiri, dia sangat menyayangi sahabatnya itu.


Hani dengan erat membalas pelukan Zaira. "Terima kasih, sayang." Ucapnya sambil mengelus punggung Zaira.


"Ikut.."


Suara yang mereka kenali pun tiba. Revi ikut berpelukan seperti tidak memperdulikan orang-orang yang memperhatikan mereka. Mereka tampak terharu, menangis bahagia. Terlebih perasaan mereka terhadap Zaira. Perempuan yang belakangan harus dengan sedih mengakhiri pernikahannya.


"Dengar ya, mas Niko, kau harus membahagiakan sahabat kami. Awas saja, kalau kau berani macam-macam aku akan mengirimmu ke poli jiwa". Ancam Revi pada suami Hani. Lelaki itu hanya mengangguk sambil tersenyum dibarengi tawa Hani dan Zaira.


Setelah sesi foto-foto, Zaira kembali duduk bersama Mbok Inah yang menjaga Yara. Bayi mungil itu masih terlelap, membuat Zaira tersenyum melihatnya.


"Zaira, benarkan?" Seorang wanita cantik menegurnya juga beberapa orang di sebelahnya.


"Zaira, kau cantik sekali. Wajahmu tidak berubah, ya". Ucap yang lain lalu tertawa kecil.


Zaira hanya tersenyum. Dia mengingat teman-teman kuliahnya yang tidak begitu dekat.


"Mana suamimu?" Tanya yang lain.


"Benarkah gosip kalau ternyata kau bercerai dengan suamimu yang tampan itu?"


"Apa? Kau bercerai Zaira? Ah, tidak disangka."


"Suaminya Zaira, bukankah dia terlihat sangat romantis?"


"Jadi, kau tidak dengar beritanya?"


Mereka malah asyik bercerita tentang seseorang yang dihadapan mereka.


"Bukankah alasannya karena kau tidak bisa mengandung?"


"Apa? Yang benar?"


Pertanyaan itu membuat Zaira melongos. Ingin sekali dia kabur dari tempatnya.


"Jadi, itu anak siapa?" Tanya yang lain.


"Halo, apa kalian teman Zaira?" Revi muncul dan berdiri di tengah. "Kalian dapat gosip darimana, sih? Dengar ya, Zaira bercerai karena suaminya infertil. Tahu infertil? Yaitu tidak bisa punya anak juga karena suaminya main gila dengan wanita lain. Kalian bukannya wanita karir, ya? Kenapa terlihat kampungan?"


Revi lalu mengeluarkan kartu nama Zaira yang disimpannya dalam tas kecilnya. "Ini, silakan hubungi Zaira jika kalian mulai sakit jantung saat mendengar berita tadi. Gratis operasi dari Zaira." Revi tersenyum saat melihat mereka semua bungkam, lalu menggandeng Zaira pergi dan diikuti Mbok Inah dari belakang.


"Kenapa sih, diam saja?" Bisik Revi dengan kesal.

__ADS_1


"Memangnya penting, ya".


"Penting, dong. Lihat, betapa mereka meremehkanmu." Ucapnya lagi.


"Jadi, kenapa kau memberikan kartu namaku?"


Revi berhenti. "Supaya kau terlihat keren!"


"Lalu, operasi gratis?" Zaira mengerutkan dahinya.


"Oh, hehe. Kau bilang saja waktunya hanya sampai malam ini." Ucapnya sambil menyengir, membuat Zaira menggelengkan kepalanya.


Andre menghampiri mereka. Dia terlihat semakin manawan dengan setelan berwarna hitam.


"Ada apa?" Tanyanya saat melihat kejadian tadi dari jauh.


"Tidak ada apa-apa, kak. Wah, kau terlihat tampan". Puji Revi pada Andre yang hanya tersenyum.


"Apa Brian datang?" Tanya Revi lagi.


"Tidak, dia pulang ke rumah Papanya."


Mendengar itu, Zaira diam. Terakhir kali ia menelepon mertuanya saat membicarakan perceraiannya dengan Brian. Ingin rasanya ia menjenguk pria yang sudah dianggapnya sebagai ayah itu.


"Kau tidak apa-apa, Ra?" Tanya Andre saat melihat Zaira menunduk.


"Baiklah. Aku kesana dulu". Ucapnya lalu berjalan menuju suatu tempat.


"Kak Andre?"


Andre menoleh.


"Benar, kak Andre. Apa ini pesta teman kakak?"


Andre tersenyum saat ingatannya menangkap wajah seseorang yang menolongnya. "Kau rupanya".


Yuna tersenyum.


"Adikku yang menikah."


"Apa? Jadi Hani adik kakak?" Tanyanya antusias.


"Ya, apa dia temanmu?"


Yuna tertawa. "Bukan, suaminya sepupuku, itu artinya kita menjadi keluarga". Ucap gadis itu sumringah.


"Benarkah? Kita keluarga?"

__ADS_1


Yuna tersenyum cerah. Begitu juga Andre yang tersenyum karena melihat senyum Yuna yang ternyata sangat manis.


Sementara di kota yang jauh, Brian menangis. Dia berlutut di sebuah gundukan tanah bertuliskan nama Rinnada, nama yang sudah diganti oleh orang suruhan Winda.


Brian tersedu, hal yang tidak seharusnya ia lakukan. Hanya saja, dia merasa sangat menyesal dan berlaku bodoh.


Rinnada mengharapkan dirinya bahagia dengan pilihannya. Ucapan yang dulu hanya supaya membuat Rinnada panas, ia ucapkan lalu menjadi do'a. Menikahi wanita hebat. Lalu dia menyia-nyiakannya begitu saja hanya karena bayang masa lalunya dengan Rinnada.


Ia terlena oleh perasaan cinta pertama yang ia rasakan saat perasaan itu mencuat keluar dari lubuk hatinya, dia tiba-tiba merindukan masa lalu yang tidak jelas akhirnya.


"Kau salah, Rin." Brian mengusap air matanya. "Kau salah tentangku. Aku bukan lelaki hebat. Aku lelaki bodoh. Aku membuang istriku hanya karena hatiku mengingat masa lalu denganmu.


Kau tahu, Tuhan mengabulkan ucapan yang bahkan tak kuanggap doa. Dia memberiku wanita sehebat Zaira. Dia menyembunyikan fakta bahwa akulah yang bermasalah.


Rin, kau beruntung tidak memilikiku. Kau beruntung, tidak melihat aku yang sekarang. Kau pasti sudah bahagia disana."


Brian mengusap nisan Rinnada. "Maafkan aku, Rin. Aku tidak bisa menepati janjiku."


Brian berdiri. Dia menatap lama ke kuburan Rinnada. Hatinya terasa sakit karena telah meninggalkan dua perempuan kuat yang pernah singgah di hatinya. Dia menyadari kebodohannya, sebab itulah dia tidak bisa memiliki wanita hebat dalam dirinya.


Brian melangkah gontai. Setelah ini, dia sudah tidak punya rencana lagi. Dia juga sudah mendapatkan surat sidang perdana tentang perceraiannya, mau tidak mau, dia mengikuti saja kemauan istrinya walau dengan berat hati, dia tidak ingin berpisah dengan Zaira.


*****


"Zaira, kau bodoh sekali!" Bentak Revi sambil menggebrek meja tanpa peduli tatapan orang-orang disekitarnya.


"Kenapa kau tolak? Itu kesempatan yang bagus, tahu!"


Zaira santai saja dengan makanan di depannya. Hari ini dia mendapat tawaran rekomendasi menjadi kepala rumah sakit, tetapi wanita itu menolaknya.


"Haaah! Kau membuatku frustrasi!" Revi menyeruput es tehnya dengan cepat.


"Aku tidak butuh itu. Lagipula hidupku sudah sangat berkecukupan, aku juga tidak ingin menyita banyak waktu sampai tidak bisa menikmati hidup dengan Yara". Jawabnya sambil angkat bahu.


"Ah, kalau saja itu aku. Aku! Kenapa malah kau sih, yang dapat tawaran. Aku saja seharusnya!" Teriaknya dengan kesal, siapa tahu kepala tata usaha mendengar keluhannya.


Zaira tertawa. "Kau juga, buat apa? Suamimu bekerja hanya untukmu".


"Haa, bicara soal suamiku, aku mau mengundangmu dan Hani untuk kesana. Bagaimana? Kita cuti sama-sama, yaa". Pintanya pada Zaira.


"Yara masih terlalu kecil. Aku tidak berani membawanya".


"Lho, kenapa takut? Kan, ada Hani. Percuma ada dokter kandungan diantara kita."


"Tidak boleh, tahu. Aku sudah tanya duluan, karena mau membawa Yara bertemu orang tuaku. Minimal 3 bulanlah". Jelas Zaira.


"Yaah, lama sekali.." Revi melemas, meletakkan kepalanya dia atas meja.

__ADS_1


Zaira hanya tertawa sambil mengelus-elus rambut Revi.


__ADS_2