
Brian duduk berdiam di ruangan Andre. Sejak tadi, dia masuk lalu duduk tanpa kata. Andre pula, tidak menanyakannya apapun. Membiarkan Brian dengan pikirannya.
Andre duduk di kursi kerjanya dan mengerjakan pekerjaannya tanpa memperdulikan Brian disana. Tetapi jika dilihat-lihat, wajah Brian sangat berantakan.
Andre berdehem, membuat lamunan Brian buyar. Dia langsung melirik Andre yang fokus mengetik-ngetik di laptopnya.
"Kau sibuk ya, Ndre? Kalau begitu, aku keluar dulu."
"Enggak". Andre menutup laptopnya dan berjalan menuju sofa tempat Brian duduk. Setelah diberi kode berdehem, barulah Brian mau berbicara.
"Apa kau ada sesuatu untuk dikatakan?" Andre duduk di hadapan Brian. Meminum kopi instan yang dibawa Brian sejak tadi.
Brian terdiam lagi. Seperti menimbang-menimbang sesuatu untuk berbicara pada Andre yang jelas-jelas ada dipihak Zaira sekarang.
"Tenang, aku tidak akan mengatakannya pada Zaira".
Brian tersentak. Andre seperti mengetahui apa yang ada di pikirannya.
"Aku janji padamu. Aku akan membantumu selagi kau benar-benar akan mempertahankan rumah tanggamu dengan Zaira."
Mendengar itu, Brian menunduk. Dia sudah banyak menyusahkan Andre yang bahkan belum pernah dengan serius meminta bantuan padanya.
Brian mengeluarkan sebuah amplop kecil berwarna merah jambu dari saku kemejanya dan menyerahkannya kepada Andre.
Andre membuka amplop itu dengan hati-hati.
"Itu dari Rinnada. Dia mengirimkan itu pagi tadi."
Brian mengeluarkan isinya. Itu sebuah foto Brian dan Rinnada. Saat di taman kampus.
Waktu itu Brian dan Rinnada duduk di bawah pohon seperti yang biasa mereka lakukan. Andre datang dengan gembira dan mengatakan kalau skripsinya berhasil disetujui dosen pembimbing.
"Yan, yan. Lihat, aku akan sidang sebentar lagi!" Teriaknya dengan sangat bahagia. Dia menunjukkan berkas yang sudah banyak coretan dari dosennya.
"Selamat kak Andre". Rinnada bertepuk tangan atas keberhasilan Andre.
"Wah, pengkhianat. Bisa-bisanya kau tidak menungguku". Kata Brian sambil memicingkan matanya pada Andre.
"Sorry, nih, ya. Kalau soal ini, aku tidak mau menunggumu. Pasti aku akan terlambat". Ejeknya pada Brian.
"Sialan. Sudahlah, pergi. Menggangguku saja". Usir Brian pada Andre yang masih senyam-senyum memandang berkas di tangannya.
"Sebagai tanda bahagiaku, lihatlah aku membawa ini". Andre merogoh sesuatu di dalam tasnya. "Tadaaaa" dia mengeluarkan sebuah kamera polaroid.
__ADS_1
"Ayo, cepat. Biar ku foto. Kalian kan, tidak punya foto berdua." Andre lalu mundur beberapa langkah. Memposisikan kamera di wajahnya. "Geser dong, kenapa kaku sekali". Andre mengarahkan tangannya supaya kedua orang di depannya saling mendekat.
"Kau hitung saja sampai tiga, aku akan membuat gayaku sendiri". Ucap Brian lalu melirik Rinnada.
"Oke, satu, dua.."
CREK!
"Ah! Kak Iann!!" Rinnada terkejut karena Brian tiba-tiba menggendongnya tanpa permisi.
Kamera itu lalu mengeluarkan hasil jepretan Andre.
Dia menggoyang-goyangkannya sambil melihat adegan mesra Rinnada yang memukuli bahu Brian dengan gemas.
"Nih, hasilnya. Bawa pulang, sana." Andre memberikan foto itu pada Brian dan Rinnada. Melihat hasilnya, Brian tertawa-tawa sambil menyentil pelan jidat Rinnada.
.....
Andre memandangi foto itu. Foto yang dia ambil untuk kenangan mereka berdua. Bukannya menjadi hal yang bahagia, sekarang malah menjadi hal buruk.
Di belakang foto itu, tertulis tanggal dan nama lokasi foto itu diambil.
"Lalu kau bagaimana?" Tanya Andre pada Brian yang memang terlihat sangat bingung.
"Dia mengirimiku semua kenangan kami dulu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku khawatir dia mengirimkannya pada Zaira." Ringisnya dengan lesu. Dia merasa sangat salah dalam memilih jalan.
Andre menghembuskan napasnya. "Kau benar-benar akan berubah, kan?" Pandangan Andre berubah tegas.
Brian berdiam sebentar. "Ya. Aku.."
"Yan.." Andren menarik napasnya lagi. Melihat Brian ragu, dia perlu memberitahunya sesuatu.
"Kau terlihat ragu."
"Bukan begitu, aku cuma.."
"Kau ingin punya anak?"
Pertanyaan Andre membuatnya terdiam.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah. Tapi, aku juga memaklumimu. Dan yang perlu kau tahu, kau tidak bisa mendapatkan semua yang kau mau."
__ADS_1
Brian menundukkan pandangannya. Entah dari mana Andre tahu. Yang pasti, apa yang Andre katakan benar adanya. Dia tidak bisa bersama Zaira jika memilih anak dari darah dagingnya sendiri. Dia juga tidak ingin meninggalkan Zaira karena perasaannya pada wanita itu juga kuat.
"Kau harus memilih. Meninggalkan Zaira dan mencari kebahagiaan yang kau nantikan, atau bersama Zaira tanpa anak dari darah dagingmu". Lanjut Andre lagi.
"Kenapa kau mengatakan itu?" Brian mengerutkan dahi saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Andre, orang yang biasanya selalu mendukung hubungannya agar tetap langgeng dengan Zaira.
Andre menyandarkan punggungnya ke sofa. "Aku kasihan pada istrimu. Pikiranmu berhasil berubah hanya dengan satu kali bertemu Rinnada. Kau juga tidak mau meninggalkan Zaira. Lalu maumu sebenarnya apa? Kau pikirkanlah itu baik-baik. Jangan sampai kau menyesali keputusanmu. Zaira berhak bahagia, kaupun sama."
Mendengar kalimat bijak dari Andre membuatnya semakin bingung. Brian menunduk, menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku tidak bisa meninggalkan Zaira, Ndre. Aku sudah memutuskan itu. Jika memang takdirku tidak bisa memiliki anak, aku akan coba menerimanya. Aku justru takut Zaira meninggalkanku. Saat ini, dia tidak mau kusentuh saja sudah menyakiti hatiku." Raut wajah Brian sangat sedih. Dia memikirkan istrinya yang sudah dia khianati.
Andre merasa kasihan pada Brian. Kisah cinta pertamanya harus berakhir tanpa jawaban pasti. Dia tahu betapa Brian mencintai Rinnada dulu dan menyaksikan keterpurukan Brian berbulan-bulan. Lalu sekarang, dilema menerpanya hingga hampir menghancurkan rumah tangganya. Apalagi, dia sangat menginginkan anak dari darah dagingnya sendiri.
"Pikirkanlah dengan matang, supaya kau dan Zaira sama-sama bahagia."
"Aku yakin, Ndre. Sekarang, aku harus membuat Rinnada berhenti menggangguku."
Andre mengangguk. "Baiklah. Aku akan menemanimu untuk bertemu dengannya. Katakanlah dengan tegas pada Rinnada, supaya dia tidak mengganggumu lagi. Kalau dia masih juga melakukannya, mau tidak mau, kita harus mengatakannya pada Bunda dan kakaknya".
"Kau benar, Ndre. Terima kasih sudah membantuku."
"Tidak masalah." Andre lalu mengingat sesuatu. "Apa kau tahu keadaan Dinnara?"
"Ya, dia baik-baik saja. Setidaknya itu yang Rinnada katakan."
"Kau yakin?"
Brian mengangguk. "Ada apa?"
"Aku baru ke rumah lama Rinnada dan ke makam Dinnara."
"Apa? makam?" Brian mengernyitkan alisnya. Dia mengira salah dengar ucapan Andre.
"Ya, makam. Dinnara sudah meninggal seminggu setelah kita pergi. Gosip yang beredar, dia bunuh diri".
Brian terdiam dan tidak percaya dengan apa yang Andre katakan. "Apa kau yakin, Ndre?" Dia memastikan, karena jelas-jelas Rinnada mengatakan bahwa Dinnara sudah hidup bahagia. Apa maksud Rinnada?
"Aku sendiri yang melihat kuburannya. Jika Rinnada berbohong soal itu, sepertinya banyak yang dia sembunyikan darimu" Andre berdiri dari tempatnya. "Ayo, temui Rinnada sekarang." Ajak Andre pada Brian yang masih membeku ditempatnya. Andre merasa harus segera mengakhiri apa yang sudah dimulai Brian.
Bersambung....
(gambar ilustrasi diambil dari kibrispdr.*rg)
__ADS_1