Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
FB (3)


__ADS_3

Pada Malam hari sebelum Rinnada menghembuskan napas terakhirnya, Winda dan Dinnara pulang kerumah.


Dinnara meminta Tono mengantarnya ke alamat Brian untuk menemuinya karena sudah beberapa hari Brian bahkan tidak menampakkan diri.


"Permisi"


Dinnara mengetuk pintu rumah yang lumayan besar.


Beberapa kali dia mengetuk, tidak ada satupun yang keluar membukakan pintu.


"Halo, apa mencari Brian?"


Seorang wanita menyapa dari sebelah rumah Brian. Wanita itu berpakaian cukup terbuka, menyapa dengan senyuman.


"Benar. Apa orangnya sedang diluar?" Tanya Dinnara sopan.


"Ah, sayang sekali. Dia baru saja pergi pagi tadi." Tuturnya dengan wajah lesu. "Apa kamu Rinnada?"


Wanita itu mengenal Rinanda?


Dinnara mengangguk ragu. Walau kembar, tetap saja mendengar itu membuatnya kesal.


"Wah, cantik sekali ternyata. Tapi, apa Brian tidak bilang kalau dia sudah pindah?" Ujar wanita itu pada Dinnara yang tampak terkejut.


"Pindah? Kemana?"


"Wah, saya juga kurang tahu. Tapi tadi pagi-pagi sekali dia berangkat. Katanya sih, cari kerja di luar kota." Jelas wanita itu pada Dinnara yang sudah tidak bisa berkata-kata.


Dinnara langsung masuk mobil dengan marah. Dia mencurigai Rinnada yang pura-pura sakit supaya bisa kabur dengan Brian.


"Cepat jalan, Pulang!" Sentaknya pada Tono yang terkejut lalu menyalakan mobil.


Dinnara sudah berapi-api. Dia benar-benar mengira Brian kabur bersama Rinnada.


"Sialaaan!" Teriaknya dalam mobil. Emosi gadis itu sudah pada puncaknya, dia tidak sabar sampai rumah dan mengadu pada Bundanya. "Cepat cepat cepat! Jangan lambat!" Teriaknya lagi pada Tono.


~


Dinnara berjalan cepat menuju pintu rumah. Dia membuka dan membanting pintu dengan keras, membuat Winda yang sedang menelepon tersentak kaget dengan kelakuan putrinya.


"Nara! Apa-apan kau!" Sentak Winda sembari meletakkan gagang teleponnya.


"Bunda! Bunda tahu tidak, Rinnada kabur dengan Brian!" Teriaknya pada Winda.


"Kau bicara apa, kita baru pulang sore tadi, Rinnada masih disana, kan?"

__ADS_1


"Dia pasti sudah kabur sekarang aku yakin itu!" Sentaknya tersungut-sungut meluapkan emosinya.


"Bunda baru saja menelepon Rinnada. Dia juga tidak bisa lepas dari sana. Kabur apanya? Siapa yang kabur?" Tanya Winda dengan alis berkerut. Dia tidak mengerti apa yang membuat anaknya semarah ini.


"Brian! Dia kabur. Dia pindah ke luar kota!" Dinnara menangis histeris, Winda mencoba memeluknya namun gadis itu memberontak.


"Lepas! Bunda harus cari tahu dia pergi kemana. Suruh dia datang, Suruh bunda!" Teriaknya lagi.


"Aku tidak mau ditinggalkannya. Aku mau bersamanya, Bunda. Aku mau Briaaan!!" Dinnara teriak-teriak lalu menghancurkan barang-barang yang ada disekitarnya.


Emosi Dinnara diluar batas, dia teriak-teriak seperti orang yang kesetanan.


Tono terlihat panik saat Winda meminta pertolongan. Karena Dinnara terus melempari keramik-keramik hiasan milik Winda ke sudut ruang.


Tak lama, seseorang datang ke rumahnya menanyakan perihal yang terjadi disana.


Ternyata, teriakan Dinnara terdengar oleh tetangga-tetangganya. Beberapa orang terlihat penasaran di depan gerbang.


"Mohon maaf pak, masalah keluarga. Tolong jangan berkumpul di depan" Ucap Tono pada orang-orang itu lalu mengunci gerbang.


Winda dengan panik masuk ke kamarnya meninggalkan Dinnara yang tampak depresi ditinggal oleh Brian. Winda dengan cepat menelepon Ennata dan menceritakan kejadiannya.


"Tolong jaga Rinnada, ya. Jangan bilang kalau Brian sudah pindah."


Dinnara masuk ke dalam kamar Rinnada dengan amarah yang berkecamuk, dia menghancurkan foto-foto Rinnada, mencampakkan semua barang-barang kembarannya, baju-baju, apapun yang terlihat oleh matanya dibongkar dan dicampakkan begitu saja.


Dinnara lalu terhenti pada sebuah kotak. Dia melihat isi di dalamnya. Ada foto mereka, dan hadiah-hadiah yang Brian berikan padanya. Dinnara juga menemukan buku catatan kecil Rinnada mengenai hal penting apa yang ia dan Brian lakukan.


Dia dengan marah membentangkan catatan kecil itu dan bersiap mengoyak-ngoyaknya. Lalu dia teringat sesuatu, Dinnara memasukkan hal-hal penting yang berkaitan dengan Rinnada ke dalam kotak itu, dan membawanya ke kamarnya.


Dinnara belum berhenti, dia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya, terisak kuat, menjerit, dia merindukan lelaki itu.


Tak lama, beberapa orang datang dengan seragam putih. Mereka membantu Winda menenangkan Dinnara. Lalu menyusun keperluan seadanya, membawa Dinnara yang mulai tenang dan tengah terisak itu keluar dari rumah.


~


Winda membawa Dinnara ke psikiater yang agak jauh dari rumahnya. Menyembunyikan keadaan jika putrinya mulai kena gangguan jiwa.


Winda yang menangis sejak malam tadi, mulai lemas karena belum makan apa-apa.


Dia juga tidak bisa menjenguk Rinnada lantaran Dinnara juga sedang tertidur akibat obat penenang.


Winda meratapi nasibnya dan anak-anaknya. Dia menangis, memikirkan sebab apa yang membuatnya hidup seperti ini. Rinnada mungkin akan menyusul ayah dan adiknya, sedangkan Dinnara, dia sepertinya sangat tertekan batin.


Ponsel Winda berbunyi, dia mengangkatnya dan terdiam sejenak mendengar suara tenang Ennata dari seberang, namun Winda justru terisak mendengar berita darinya. Winda menatap lekat Dinnara di depannya. Kini, tinggal dialah satu-satunya anak perempuannya.

__ADS_1


Dinnara terbangun, melihat Winda terisak disebelahnya, dia bangkit.


"Bunda, kenapa?"


Winda memeluknya. Dengan napas yang tersendat-sendat dia mengabarkan pada Dinnara bahwa kembarannya itu telah tiada.


Dinnara memeluk Bundanya, mengelus lembut punggungnya. Dia tidak mengatakan apapun. Sebab pikirannya hanya tertuju pada Brian. Ternyata Brian memang lari darinya, bukan kabur dengan Rinnada.


Tiga hari setelah meninggalnya Rinnada, Dinnara kembali ke makam kembarannya. Dia membawa nisan baru bertuliskan namanya.


Dinnara bersama seseorang yang ia bayar datang untuk mengganti nama nisan Rinnada dengan nisan bertuliskan namanya.


Melihat namanya tertera di nisan itu membuatnya menarik sebelah garis senyumnya.


"Selamat menjalani hidup baru, Rinnada". Ucapnya lalu melangkah pergi.


...*****...


Flash Back Off~


Brian tercekat, jantungnya seperti berhenti berdetak. "Rinnada.. meninggal?"


Seperti membutuhkan kepastian, dia mengacak lagi barang di dalam kotak. Dia menemukan sebuah buku berwarna hitam. Di dalamnya, banyak cerita dan kisah-kisah mereka saat pacaran dahulu.


Dari buku itu, secarik surat terjatuh. Brian memungutnya, lalu membuka kertas yang sepertinya belum pernah disentuh.


Tulisan tangan Rinnada tertera disana.


...Dear Brian tersayang,...


...Aku berharap kau membaca suratku sebelum aku meninggalkanmu untuk selamanya. Aku sangat ingin bertemu denganmu walau sekali. Aku menunggumu datang ke rumah sakit tempatku dirawat, tapi sepertinya kau sibuk sekali, kak....


...Kak, selamat Wisuda. Semoga apa yang kau citakan tercapai. Aku ingin sekali menjadi pasanganmu saat itu, tetapi masalah yang kita lalui sepertinya tidak mengizinkan itu terjadi....


...Kak, maafkan aku yang tidak bisa berada disampingmu hingga akhir. Aku harus pergi. Dadaku sudah semakin sesak dan tidak bisa kutahan lagi....


...Kak, Tolong tepati janjimu padaku, bahwa kau akan menikah dengan perempuan yang jauh lebih hebat dariku, bahwa kau akan temukan kebahagiaanmu, Aku percaya lelaki hebat sepertimu pasti menemukan cintamu dengan luar biasa....


...Kak, bacalah ini setiap kali kau mulai ragu dengan sesuatu dari masa lalumu yang mungkin akan datang kembali. Aku meyakinkanmu, jika aku memang bukan jodohmu, aku tetap akan mendukung untuk kebahagiaanmu walau tidak denganku. Aku tidak akan merusak itu. Aku janji padamu. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku....


...Kak, Anggaplah semua telah usai. Aku mengerti hubungan kita memang tidak bisa dipaksakan. Aku menyerah, kak. Tapi kau, jangan pernah menyerah untuk hidupmu. Kau adalah Brian, laki-laki terbaik yang pernah aku temui. Aku mohon, jangan pernah lihat ke belakang. Jangan pernah tergoda jika wajah sepertiku hadir dimasa bahagiamu. Karena percayalah, Aku tidak ada lagi di dunia ini. Jadi, kuatlah kak. Jangan berbalik pada kebahagiaan yang semu....


...Aku mencintaimu, Brian. Terima kasih banyak untuk cinta luar biasa yang kau berikan padaku....


...Your Love, Rinnada....

__ADS_1


__ADS_2