Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Tersingkapnya Kebenaran (2)


__ADS_3

Brian masih terduduk di tempatnya. Dia bahkan tidak bergerak selama bermenit-menit lamanya. Bagaimana mungkin kini hal yang buruk terjadi padanya sesaat setelah dia mulai menaruh harap pada janin yang dikandung Rinnada.


Ah, Rinnada. Anak siapa yang di kandungnya itu? Apa dia menipu Brian?


Brian sekarang ini tidak bisa berpikir bagaimana ia kedepannya, karena kini justru ia memikirkan hal-hal yang terjadi belakangan yang membuat Zaira tersiksa karenanya.


Dia menganggap Zaira istri terbaiknya, Lalu hatinya mendesiskan satu hal yang paling kuat membuat kebaikan Zaira seolah lenyap. Yaitu soal kehamilan.


Walau awalnya dia tidak begitu peduli, pada akhirnya Rinnada mampu membuat hatinya terbalik, menjadi seorang yang ingin mempunyai seorang buah hati.


Brian menangis. Bahunya terguncang karena isakan yang tidak bisa ia tahan.


Brian bukan menangisi dirinya yang ternyata tak bisa mempunyai anak, namun karena dia merasakan hal pilu yang dilalui Zaira belakangan ini karena keegoisannya.


Dia menggigit lidahnya. Perkataannya telah menyakiti hati Zaira, sangat pantas Zaira marah dan menampar dirinya.


Brian kemudian tersadar. Dia melihat Zaira sudah tidak ada di depannya. Kemudian ia bangkit dan mengerjar Zaira keluar rumah, namun percuma. Wanita itu sudah tidak ada disana. Dia telah pergi, barang-barangnya juga sudah ia bawa.


Luka yang teramat dalam ia tancapkan pada hati Zaira yang ternyata melindungi dirinya selama ini.


Brian mengutuk dirinya dan kebodohan yang membuat hidupnya kini dalam keterpurukan.


...*****...


Brian memencet bel apartemen Rinnada berkali-kali tanpa henti, namun pintunya tidak juga terbuka. Dia lalu menggedor-gedor pintu itu, tapi tidak ada jawaban. Sepertinya, tidak ada orang di dalam.


Brian terdiam sejenak, mencoba memikirkan hal lain untuk dilakukan.


Dia lalu menuju apartemen Andre untuk menanyakan alamat Zaira. Dia ingin meminta maaf dan berlutut pada Zaira atas kesalahannya. Bagaimanapun, dia terlalu bersalah atas apa yang terjadi.


Brian memencet bel pintu apartemen Andre tanpa jeda, hingga membuat Andre yang terlelap harus terpaksa bangun dengan kesal.


"Siapa pula yang datang dan berisik di jam segini!" Andre bangkit dari tidurnya. Dia melirik jam dinding. Pukul 12 malam.


Andre menggerutu kesal. Dia berjalan tanpa baju dan hanya memakai celana pendeknya saja.


Dia mengintip dari celah pintu, lalu membuka pintunya dan mendapati Brian berdiri dengan penampilan yang kacau. Wajahnya lembab seperti habis menangis. Brian langsung masuk tanpa diminta.


"Apa?" Sentak Andre sembari mengerutkan alisnya, dia masih berdiri di depan pintunya. Andre malas meladeni Brian yang sudah tidak waras itu.


"Beritahu aku alamat Zaira". Ucapnya dengan napas terengah antara menahan tangis atau amarah.


"Aku tidak tahu". Tukas Andre.


"Kau jangan menipuku. Kau pasti tahu." Brian berdiri dan mencengkram kedua bahu Andre. "Cepat. Dimana alamatnya, kau pasti tahu dan tidak perlu menyembunyikannya dariku!"

__ADS_1


Andre mendorong tubuh Brian yang tak berdaya hingga terjerembap di atas lantai.


"Pulanglah dan mulai hidup barumu dengan Rinnada. Kau jangan ganggu Ziara. Biarkan dia menata hidupnya lagi".


Brian tergeletak disana. Dia tidak bangkit dan malah menangis menutup wajah dengan lengannya.


"Aku salah, Dre. Aku menyesalinya. Aku menyayangi Zaira melebihi apapun". Dia terisak, membiarkan dirinya terkulai dan hanyut dalam penyesalan terdalam. Air matanya tumpah tanpa henti.


Andre memandangi keadaan Brian yang semakin memprihatinkan. Dia mengasihani sahabatnya, karena kebodohannya sendiri akhirnya dia terjatuh ke jurang yang cukup dalam.


Andre mengulurkan tangannya pada Brian. "Bangunlah. Aku akan membantumu untuk yang terakhir kalinya."


Brian mengumpulkan tenaganya dan meraih tangan Andre. Dia bangkit dan berdiri menghadap sahabatnya itu.


"Kau mau bantu?"


Andre mengangguk. "Asal tidak kembali pada Zaira".


Brian berdecak kecewa. Dia lalu menghela napas. "Dre. Tolonglah aku untuk bersama Zaira lagi, aku memohon untuk yang terakhir kali. Aku janji padamu takkan meminta apapun setelah ini." Brian mengatupkan kedua tangannya di dada, memohon pada Andre dengan wajah yang basah.


Andre membuang wajahnya dengan helaan napas kasar. Brian benar-benar tidak tahu malu. Dia bahkan tidak paham kalau Zaira sudah menyerah dan tak ingin lagi bersamanya.


Melihat reaksi Andre yang menolak secara tidak langsung, Brian memohon lagi. "Kalau begitu, ku mohon padamu. Beritahu saja padaku alamatnya. Aku ingin memohon ampun padanya karena dia sudah menutupi kekuranganku selama ini". Suara Brian terdengar berat.


"Ternyata dia sudah memberitahumu, ya".


Andre mengangguk lambat. "Kau sudah tahu sekarang, perjuangan istrimu menutup aibmu. Dihina dan dianggap tidak layak sebagai istri untuk menutupi kekuranganmu".


"Kau tahu, Dre?" Brian terbelalak. Dia bahkan tidak bilang apa yang terjadi, Andre sudah tahu?


"Ya. Aku tahu dari awal. Keputusannya bulat untuk diam saja saat melihatmu tetap menyabarkannya padahal dia belum memberitahumu hasilnya. Bukankah istrimu itu luar biasa?"


Brian membelalakkan matanya. "Kau tahu tapi tidak memberitahuku?"


"Zaira yang meminta untuk tutup mulut. Aku sudah berusaha terus mengingatkanmu agar tidak menyesal. Lalu kau?"


Brian menunduk. Dia mengaku salah. Salah sesalah-salahnya sampai dia merasa tidak ada sesuatupun dari dirinya yang patut untuk dibela.


"Aku memang brengsek". Gumamnya pelan, memaki dirinya sendiri.


"Benar. Sudah, pulang sana." Usir Andre pada Brian karena dirinya mulai mengantuk lagi.


Namun nampaknya, Brian tidak bergerak keluar. Dia malah duduk lagi di sofa.


"Aku numpang tidur, Dre".

__ADS_1


Andre melongos dan masuk ke kamarnya meninggalkan Brian sendiri disana.


...*****...


Brian melamun di meja kerjanya. Tadi pagi-pagi sekali dia sudah menunggu Zaira di rumah sakit. Tetapi ternyata dia tidak datang. Perawat bilang, Zaira sedang mengisi acara seminar disuatu tempat.


Lamunannya buyar saat mendengar ketukan pintu. Lalu seorang laki-laki bertubuh gempal masuk. Berpakaian rapi dan formal. Brian menyipitkan matanya, dia mengenal orang itu.


"Ennata?"


"Wah, kau masih mengenalku." Ennata tersenyum lalu duduk di sofa saat Brian mempersilahkannya.


Brian meremas jarinya. Dia bertanya-tanya apa yang menyebabkan Ennata sampai jauh-jauh datang menemuinya.


"Apa kau baik-baik saja?" Ennata melihat wajah Brian yang sedikit sembab.


"Ya, begitulah." Ucapnya seadanya. "Lalu, ada apa kemari?" Tanyanya penasaran.


"Aku sudah mendengar ceritamu. Aku tahu, aku bukan kakak yang baik buat adikku. Aku bahkan tidak bisa merubah Bundaku."


Kalimat Ennata tidak dimengerti Brian. Ada apa dengannya sampai dia mengatakan itu?


"Jadi, aku berusaha untuk mengatakannya padamu saja." Ennata mengeluarkan sebuah kotak yang agak besar dari ranselnya.


"Maaf aku terlambat datang. Tapi, itu lebih baik daripada tidak sama sekali". Ennata menyerahkan kotak itu pada Brian yang masih tidak paham maksud Ennata.


"Aku tidak bisa berlama-lama. Aku pamit dulu. Semoga kehidupanmu bisa lebih baik."


Ennata lalu keluar ruangan, diantar Brian sampai kedepan pintunya.


Brian menatap kotak itu dengan rasa penasaran. Dia lalu membukanya.


Mata Brian membulat saat menemukan barang-barang Rinnada ada di dalam sana, juga barang-barang yang pernah ia hadiahkan untuk Rinnada.


"Apa maksudnya ini? Kenapa dia memberiku ini?"


Brian lalu membuka selembar kertas yang terlipat.


Dia lalu terperanjat tak percaya, ketika membaca surat kematian Rinnada tertulis jelas disana.


Bersambung....


Hallo♡


Terima kasih ya sudah mendukung Author dengan Like, Komen, Vote, dan Hadiahnya💐

__ADS_1


Jangan lupa baca cerita Author "Sang Penakluk yang Takluk" 🙈


__ADS_2