
"Wah, Yara ingin Papa, tuh!" Celetuk Revi sambil menyikut Zaira yang tidak bisa berkata-kata.
Zaira langsung menggendong Yara. "Bilang apa sama Om untuk permennya?"
"Timaacih, Om". Ucap Yara lalu Zaira menggendong Yara keluar.
"Kode dari Yara, tuh". Celetuk Hani sambil terkikik.
"Ada-ada saja". Jawabnya sambil ikut tertawa.
...*****...
"Kau kenapa lagi?"
Andre bertanya tanpa melihat, dia fokus pada ketikan dilaptopnya.
"Zaira kemana, ya? Aku tadi kerumahnya. Berkali-kali mengetuk tetapi tak ada jawaban". Ungkap Brian resah.
"Dia lagi tamasya".
"Apa? Kemana? Sama siapa?" Tanyanya penasaran.
"Sama mantan pacarnya 10 tahun lalu, sebelum bersamamu." Jawab Andre santai, sambil tetap fokus pada pekerjaannya.
"Siapa?"
"Dokter spesialis jantung, Dulu dia dan Zaira sempat menjadi perbincangan karena kolaborasi mereka yang sering membantu orang yang kurang mampu untuk operasi jantung secara gratis."
Brian mencoba mengingat, dulu dia sempat dengar itu dari Hani, hanya saja Zaira tak izinkan sahabatnya itu menceritakan masa lalu yang sudah tak penting baginya.
"Jadi maksudmu, mereka sedang menjalin hubungan?" Wajah Brian berubah. Kini dia terlihat gusar.
Andre melirik Brian, dia mulai mengerjai Brian. "Yaaaa, bisa saja begitu". Ucapnya sambil menahan tawa.
"Kalau sudah begitu, terus terang saja, sainganmu berat. Pasalnya, dokter itu keren, sih." Andre menutup laptopnya.
"Dengar ya, dulu Zaira dan dokter itu, pisah dalam keadaan baik-baik tanpa masalah. Hanya karena jarak, mereka memutuskan berpisah dan sialnya Zaira bertemu denganmu". Ucapan Andre membuat Brian melirik tajam ke arahnya. Sial katanya?
"Setelah tahu Zaira single dan makin cantik, wajar saja kan kalau dia datang? Lagi pula Zaira juga mau."
Brian terdiam, pandangannya menunduk, membuat Andre sedikit merasa bersalah.
"Kapan kau pulang?"
Brian menyandarkan punggung sambil memejamkan mata, dia enggan menjawab karena masih ingin berjuang disini.
"Kau ini keras sekali. Padahal Zaira sudah menolakmu bahkan sebelum kau berjuang."
"Tidak perduli apa katamu. Aku sudah sangat tersiksa beberapa tahun ini. Tidak bisa dipungkiri lagi, aku masih sangat mencintai istriku".
"Mantan istri, maksudmu?"
Brian tak menyahut.
"Bagaimana kalau dia menikah dengan dokter itu?"
Brian terkesiap. "Apa mereka akan menikah?"
"Ya, mungkin dalam hitungan bulan." Jawab Andre asal, lalu melihat gurat kesedihan di wajah sahabatnya.
"Jadi, aku tidak punya kesempatan lagi?" Tanyanya dengan nada merendah.
__ADS_1
Andre mulai menyesali perkataannya. "Yaa, kurasa Zaira sendiri tidak lagi ingin menemuimu. Iya, kan?"
Brian tak menyahut lagi. Dia tampak amat menyedihkan.
"Yan, kau sesedih itu?" Andre memperhatikan wajah sahabatnya yang menunduk. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa bersalah pada ucapannya.
"Baiklah, begini saja, kau perjuangkan cintamu itu pada mantan istrimu. Tapi, kalau dari mulutnya menyuruhmu untuk berhenti, kau harus benar-benar berhenti."
"Dia sudah mengatakan itu kemarin".
"Apa? Jadi kau mau bagaimana lagi? Kau kan, sudah ditolak!" Pekik Andre.
Tetapi Brian memilih bungkam, berselonjor di sofa ruangan Andre dan memejamkan mata untuk sejenak tertidur.
"Dasar gila!" Pekik Andre kesal.
...****...
Zaira memilih pulang duluan karena Yara tiba-tiba demam tinggi, membuatnya sangat risau dan langsung mengantarnya ke rumah sakit terdekat, tempat Gio bekerja. Ditemani oleh Gio dan Mbok Inah.
"Apa kata dokter, Yo?" Tanya Zaira saat Gio baru saja masuk ke dalam ruangan Yara.
"Demam biasa, Ra. Jangan khawatir." Ucap Gio sembari duduk di pinggiran tempat tidur Yara.
"Anak baik, walau sakit tetap makan, ya. Nanti kalau sembuh, Om ajak jalan-jalan beli eskrim". Ujar Gio pada Yara yang terlihat mengangguk-angguk.
"Makasih ya, Yo."
"It's Okay, Ra. Jangan terlalu panik. Yara sudah boleh pulang, kok."
"Baiklah. Aku akan urus administrasinya dulu." Zaira beranjak dari tempatnya.
"Ah, kau tidak perlu, Gio. Aku bisa sendiri".
"Ini pelayanan gratis dari rumah sakit kalau ada anggota keluarganya yang sakit disini." Ucap Gio supaya Zaira tidak merasa tak enak.
"Begitukah?" Zaira mencoba menetralkan pikirannya saat Gio mengatakan kata keluarga.
Gio tersenyum, "Kalau gitu biar aku yang membawa Yara."
Gio menggendong Yara dan Zaira ikut berjalan di sampingnya. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga hingga membuat para pegawai yang mengenal dokter tampan itu gempar.
Beberapa diantara mereka berbisik menanyakan status dokter Gio yang sebenarnya.
Setahu mereka, dokter Gio masih single dan belum menikah. Lalu hari ini, dia datang membawa seorang anak dan wanita ke rumah sakit.
Apalagi, anak dan wanita itu sangat cantik. Membuat sebagian penggemar dokter Gio iri dan langsung menyerah.
"Dokter Gio, selamat siang." Sapa seorang dokter muda.
"Selamat siang, dokter."
"Wah, siapa disebelah dokter?" Tanyanya tanpa sungkan, dia memberanikan diri karena rasa penasarannya. Apalagi saat ini dokter Gio menggendong Yara yang terlelap di pundaknya.
"Ini Zaira. Dokter bedah toraks di rumah sakit tengah kota." Ucap Gio dengan senyuman karena merasa senang bisa mengenalkan Zaira pada kenalannya.
Dokter muda itu mengangguk lambat.
Tak lama, tersebar gosip di tempat Gio bekerja bahwa dokter Gio ternyata telah berumah tangga dengan seorang dokter ahli di tengah kota.
Jelas gosip tersebut membuat beberapa dokter muda maupun perawat yang sering melihat Gio menjadi sedih, karena merasa tidak punya harapan lagi sebab dokter itu bukan seorang single seperti yang selama ini mereka ketahui.
__ADS_1
...****...
Zaira baru saja bangun tidur, dia menggeliat, lalu bangkit dan menuju ruang tamu yang berisik.
"Mbok, siapa yang datang?" Tanya Zaira saat Mbok Inah menuju ruang depan membawa segelas kopi.
"Anu, Non. Den Brian."
"Apa?"
Zaira langsung cepat-cepat menuju ruang tamu dan melihat Yara duduk berdempetan dengan Brian sambil menggenggam balon dan boneka beruang.
"Mamaa.." Yara melambaikan tangan, dia amat girang.
"Kenapa kemari, mas?!" Tanya Zaira langsung pada intinya.
Brian berdiri dari tempatnya, "Aku dengar Yara sakit, jadi.."
Zaira dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu seperti ini. Aku bisa sendiri. Dan dia juga sudah sembuh."
"Maafkan aku, Ra. Aku hanya ingin menjenguk Yara."
Zaira melengos kesal, dia memanggil Mbok Inah.
"Mbok, tolong bawa Yara masuk kamar". Titahnya pada Mbok Inah.
"Mau kemana, Mbok, Ala mau disini". Ucap Yara saat Mbok Inah menggendongnya.
"Kita main di kamar dulu ya, sayang". Mbok Inah dengan cepat membawa Yara masuk ke dalam kamarnya.
"Ra, aku hanya ingin.."
"Apa yang kuucapkan padamu kurang jelas, mas?" Tanya Zaira dengan tegas, matanya menyorot tajam ke arah Brian.
Brian hanya menunduk. Dia tahu kesalahannya, apalagi Zaira terlihat benar-benar tak meyukainya lagi.
"Aku sangat sadar kesalahanku, Ra. Tapi, aku hanya ingin berusaha mengembalikan apa yang telah kuperbuat dan.."
"Engga ada lagi yang perlu di usahakan, apalagi kembali. Tidak ada, mas. Cukup. Semua selesai sejak tiga tahun yang lalu. Apa kau tidak paham juga?" Pekik Zaira
Brian menatap wanita di depannya dengan sendu, dia memaklumi apa yang Zaira lakukan padanya, hanya saja hatinya berdenyut sebab selama menikah Zaira tidak pernah meninggikan suara padanya.
"Aku dengar kau akan menikah, Ra. Apa itu benar?"
Zaira terbelalak mendengar ucapan Brian.
"Aku sangat sedih mendengar itu. Aku tidak tenang, Ra. Aku selalu kepikiran. Jadi Kumohon, izinkan aku datang menemuimu sampai kau benar-benar menikah dengan orang lain. Setelah itu, aku janji tidak akan mengganggumu."
Zaira mengerutkan alisnya, drama apa yang ada di depannya ini? Siapa yang menyebarkan gosip dirinya akan menikah?
"Zaira, aku.. sangat merindukanmu". Ucapnya lirih, melihat pada Zaira yang wajahnya tak menghadapnya.
Zaira hanya diam saja, dia sudah berulang kali mendengar itu dari mulut Brian.
"Mas."
"I-iya.." Brian menatap wanita di depannya yang mulai memasang wajah sendunya.
"Apa aku terlihat sulit untuk bahagia?" Tanyanya lalu meneteskan air mata.
Bersambung...
__ADS_1