
Flash Back On~
Dinnara kembali ke rumah setelah dua hari opname di rumah sakit. Dia dibantu Ennata untuk berjalan ke kamarnya.
Sementara Rinnada membantu Winda membawa tas yang sudah berisi pakaian kotor mereka saat di rumah sakit.
Gadis itu berdiri di depan pintu masuk yang terbuka, memandang ke arah pagar hitam yang menjulang tinggi. Dia termangu dan berharap seseorang muncul dari sana.
"Nada, cepat kasih tas itu pada Bi Sum". Suruh Winda pada Rinnada yang tampak tak bergeming.
Winda menghampiri Rinnada, menengok ke luar dan matanya ikut tertuju apa yang tengah di perhatikan oleh anaknya.
Merasa tidak ada apa-apa, Winda mulai mengerti. "Kau menunggu Brian?"
Pertanyaan Winda membuat Rinnada berkedip, memecahkan lamunannya. Rinnada diam, dia tidak menjawab dan menunduk.
"Kau jangan coba-coba lari lagi ya, Nada. Kau sudah tega berbuat demikian pada Rinnada. Kalau kau masih berpikir untuk lari, Bunda tidak akan menganggapmu sebagai anak lagi. Kau paham itu?"
Belum Rinnada menjawab, Winda sudah meninggalkannya menyusul Dinnara di kamarnya.
"Non, sini. Biar Bi Sum bawa ke belakang" Bi Sum mengambil tas yang Rinnada pegang. Gadis itu tampak pasrah dengan mata berkaca mengarah pada luar halaman.
Bi Sum mengelus pundak Rinnada, dia sudah mendengar cerita di rumah sakit dari Tono, si supir. Dia mengasihani gadis itu, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia pun kembali ke belakang rumah meninggalkan Rinnada yang sudah meneteskan air mata.
Dia menangis tanpa suara, padahal Bundanya sudah setuju akan menikahkannya dengan Brian. Lalu Dinnara berulah dan entah bagaimana dia bisa membujuk Bunda supaya membatalkan rencana Brian dan dirinya.
Brian pun tak kunjung datang membantunya bangkit kembali. Padahal, saat ini dirinya membutuhkan pundak Brian sebagai satu-satunya sandaran.
Rinnada berjalan menuju kamarnya. Dia menyeret langkahnya yang terasa berat. Rinnada berhenti sejenak, mencari pegangan karena kepalanya terasa sangat pusing. Dia mencoba berjalan lagi namun pandangannya mulai goyang, berputar, Rinnada ambruk di atas lantai.
"Astaga, Non!" Teriak Bi Sum yang sejak tadi memperhatikannya dari jauh.
"Ada apa, Sum?" Winda keluar dari kamar Dinnara saat mendengar teriakan pembantunya.
Dengan cepat Ennata berlari menggendong adiknya ke kamar dan membaringkannya disana. Ennata mengecek denyut nadi dan suhu tubuh Rinnada.
"Bunda, kapan terakhir kali Nada transfusi darah?" Tanya Ennata dengan panik.
Winda gelagapan, karena dia sendiri tidak pernah tahu jadwal check up-nya Rinnada.
"Sepertinya dua minggu yang lalu, den." Jawab bi Sum setelah mengingat kapan tepatnya Rinnada ke rumah sakit untuk memeriksa darahnya.
"Apa?!"
__ADS_1
Mendengar itu, Ennata langsung membopong tubuh Rinnada keluar kamar. "Cepat, siapkan mobil!"
Tono berlari menuju mobil, membuka pintunya sambil membantu Ennata dengan perlahan masuk ke dalam mobil.
Winda terlihat bingung. Dia melihat Dinnara yang masih tergeletak di atas tempat tidurnya.
"Sum!" Panggilnya pada bi Sum yang tergopoh berlari menuju mobil membawa barang-barang Rinnada.
"Kau temani Nada. Saya jaga Nara disini."
Bi Sum mengangguk dan langsung berlari saat suara klakson mobil terdengar kencang memanggilnya.
Winda memijit jari-jarinya. Dia tampak tegang sekaligus khawatir karena Rinnada yang pingsan setelah berapa lama putrinya itu sangat rutin menjaga pola hidupnya yang bergantung pada transfusi darah.
"Bunda.." Dinnara memanggil dari kamarnya. Winda segera berlari menemui putrinya.
~
"Kak.." Rinnada terbangun setelah beberapa jam pingsan. Dia sudah mulai terlihat segar kembali.
"Ya? Sudah bangun?" Ennata mendekat dan mengelus lembut puncak kepala adiknya.
"Kak, apa Brian datang?"
"Ini sudah malam. Tidurlah, besok kakak akan menghubunginya, ya."
Rinnada meneteskan air matanya. Beban berat kembali menumpuk di pikirannya.
"Kak, aku sudah tidak kuat". Ucapnya lirih. Dia mulai sadar, Brian sudah pergi. Lelaki itu sepertinya menyerah karena tidak punya jalan dari permasalahan mereka saat ini.
"Hei, jangan begitu. Kuatlah, Nada. Kakak berusaha supaya besok Brian sudah ada disini, ya" bujuk Ennata pada Rinnada yang sudah tidak punya semangat hidup.
Dia sangat khawatir, sebab hal yang paling penting dari seorang pasien adalah membuatnya terus bersemangat. Jika Rinnada mulai kehilangan itu, akan membuatnya sulit kembali sembuh.
Rinnada mengangguk lalu menghapus air matanya. Dia tahu Ennata hanya menenangkan hatinya saja. Padahal kakaknya itu juga pasti sedang bingung untuk membuat Brian datang kesini.
Keesokan harinya, Winda dan Dinnara datang ke rumah sakit. Kini gantian, Rinnadalah yang dirawat.
Rinnada masih tertidur. Tadi pagi-pagi sekali dia bangun dan menanyakan Brian, Ennata beralasan pada waktu yang masih pukul 4 pagi.
"Bagaimana keadaan Nada, En?" Winda mengecek suhu tubuh anaknya yang masih sama dengan kemarin.
Ennata diam sejenak. Dia sudah berdiskusi dengan dokter yang menangani Rinnada perihal penyakit adiknya itu.
__ADS_1
"Ada gejala penyakit lain yang timbul akibat terlambatnya Nada transfusi darah." Ennata menjawab dengan lesu. Dia lalu mengajak Winda keluar, dan berbincang disana meninggalkan Dinnara yang mulai kasihan pada kembarannya.
Selang beberapa menit, Nada terbangun. Dia melihat Nara tengah membaca majalah di sebelahnya.
"Kau kemari?" Suara Rinnada serak.
"Hm. Kau bagaimana?" Tanyanya mulai perhatian.
"Aku haus."
Dinnara mengambilkannya segelas air dan membantu Rinnada duduk bersandar dengan bantal dibelakangnya.
"Mana Bunda?"
"Ke ruangan doktermu" jawabnya sambil membaca majalah lagi.
"Ra, aku bisa minta tolong padamu?"
"Apa?"
"Bisa minta Brian datang kemari? Ada hal yang mau aku katakan". Ucap Rinnada lirih. Dia mulai merasa sesak dibagian dadanya.
"Kak En sudah menyuruh pak Tono rumahnya. Dan ku dengar, dia akan wisuda beberapa hari lagi. Jadi, dia takkan kemari".
Dinnara masih fokus pada majalahnya, dia tidak melirik kembarannya yang mulai menangis.
"Ra, katakan padanya aku sakit dan membutuhkannya. Dia pasti akan langsung kemari menjengukku". Ucapnya dengan sendu. Matanya sayu dan wajahnya pucat. Dia merasa tubuhnya mulai sakit lagi, tetapi tidak sesakit saat Brian kini tidak memperdulikannya.
Apakah Brian menyerah karena dirinya yang menolak pergi bersamanya? Tetapi, jika Dinnara tidak ingin mengalah, mereka memang tidak punya jalan lain.
"Baik, akan aku coba sebisaku." Jawabnya asal supaya Rinnada berhenti meracau dan mengganggunya membaca majalah.
Sementara di tempat lain, Winda tengah terduduk di bangku koridor rumah sakit. Dia menangkup wajahnya yang tengah berair dengan kedua tangan. Dia merasa sangat sedih memikirkan Rinnada yang mungkin akan menyusul Rihanna.
Dia melahirkan anak kembar 3 dan dua diantaranya terlahir dengan penyakit Thalasemia.
"Bunda! Kak En! Cepat kemari!" Suara teriakan terdengar, Winda langsung menuju ruangan anaknya. Dia terperanjat melihat Rinnada yang meringkih sambil memegang dada kirinya.
"Bun.." Rinnada menatapnya dengan mata sendu dan air mata yang terus mengalir.
"Nada, sayang, bertahan ya. Bunda akan panggilkan dokter." Ucapnya panik bersama air mata yang mengucur deras.
Ennata masuk dengan terburu-buru.
__ADS_1
"En, cepat panggil dokter Sam! Cepat!" Pekik Winda pada Ennata yang baru saja masuk.