Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Ekstra14


__ADS_3

Brian memeluk Zaira, menarik selimut hingga menutupi kaki mereka yang berselonjor di atas sofa besar.


"Ah.. lega sekali rasanya.." Ucap Brian sambil memeluk Zaira.


"Love you.." bisik Brian lagi, meletakkan dagunya di atas kepala Zaira.


"Jadi, kau batal pergi kan, mas?" Tanya Zaira. "Bagaimana kak Andre?" Ucapnya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Brian.


"Yah, aku dimarahi. Karena ini kedua kalinya aku gagal pulang."


"Kedua?"


"Yang pertama, aku membantumu memperbaiki mobil."


Zaira tersenyum. "Jadi karena itu gagal berangkat?"


"Iya. Lagipula memang sangat berat untuk pergi dari sini." Brian menepuk-nepuk punggung Zaira.


"Lalu, kenapa tidak menghubungiku dalam 3 tahun ini?"


Brian menghela napas beratnya. "Aku mencoba menghubungi, tetapi kau mengganti semua nomormu. Andre dan yang lain juga tidak mau memberitahu. Setelah itu, aku sadar kalau kau memang ingin aku pergi dari hidupmu". Jawabnya dengan nanar, mengingat lagi pedihnya tahun-tahun yang ia lewati.


Zaira mengeratkan pelukannya, ia lalu memejamkan mata.


"Lalu, apa dalam 3 tahun ini kau ada berhubungan dengan wanita lain?" Tanya Zaira penasaran. Tidak mungkin Brian tidak menjalin hubungan dengan perempuan lain, kan? pikirnya.


"Ya, ada".


Mata Zaira terbuka saat mendengar jawaban Brian, dia mendongak melihat wajah lelaki itu. "Ada?"


"Hm. Aku mencoba membuka hati supaya bisa teralihkan dari wajahmu. Wanita itu terus mendekatiku, lalu kupikir tidak ada salahnya mencoba hubungan baru. Tapi, semakin hari malah semakin mengingatmu. Setiap melihatnya melakukan ini itu, aku teringat terus dengan perlakuan sama yang kau lakukan padaku dulu. Ternyata, aku tidak bisa lepas dari dirimu ini". Ucapnya lalu mengecup lembut kening Zaira.


Zaira tersenyum bangga dalam hatinya. "Apa hanya sekali?" Tanyanya lagi semakin penasaran.


"Iya, satu kali saja. Tidak ada perempuan yang menarik lagi dimataku. Semua hidupku sudah terkunci atas namamu". Katanya pada Zaira yang ia pahami sifatnya, Zaira takkan berhenti jika belum mendengar jawaban yang memuaskan hatinya.


Wanita itu tersenyum puas. "Begitu ya, kalau aku..."


Brian mengecup sekilas bibir Zaira. "Tidak perlu dijelaskan, aku tidak bertanya, tidak mau tahu, dan tidak mau mendengarnya!"

__ADS_1


Zaira terkekeh, padahal dia juga mau bilang bahwa dia tidak berhubungan dengan siapapun setelah kepergiannya. Zaira menolak banyak lelaki karena dia tidak ingin menikah lagi waktu itu.


"Tapi aku bersyukur kita melewati semua itu. Aku yakin kalau kau datang di tahun pertama, aku mungkin tidak akan mau bertemu denganmu karena belum bisa memaafkanmu". Jelas Zaira pada Brian.


"Setelah beberapa tahun berlalu, aku baru menyadari, bahwa kesalahan juga ada padaku. Aku selalu lari dari masalah. Aku juga jarang memberitahu isi hatiku dan lebih memilih diam supaya kau yang bahagia, sampai-sampai itu semua menumpuk dihatiku."


Brian membelai rambut Zaira. "Maka dari itu mulai sekarang, katakan jika aku melakukan kesalahan apapun itu, ya. Kita harus saling jujur supaya hati lebih tenang." Ucapnya lalu mendapat anggukan dari Zaira. "Sekarang tidurlah. Besok kau bekerja, kan?"


"Tidak, Yara besok pulang ke rumah."


"Benarkah? Kalau begitu besok aku akan mengurus surat-surat dan mendaftarkan ulang pernikahan kita."


"Besok?"


"Hm, lebih cepat lebih baik" ucapnya lalu memejamkan matanya dan Zaira hanya tersenyum mendengarnya, menatap wajah Brian yang perlahan memulas dengan bibir yang sedikit terbuka.


Zaira menyentuh rahang tegas Brian, dulu bulu-bulu halus tumbuh disekitar itu. Sekarang sudah tidak ada, begitu mulus dan rapi. Tidak ada yang berubah, wajah Brian tetap setampan dulu. Malah dadanya semakin bidang dan badannya agak berisi.


Selama 3 tahun dia tidak tahu kabar apa-apa tentang Brian. Zaira sempat berpikir kalau Brian pasti sudah menikah lagi dan itu sempat membuatnya frustrasi. Tetapi ternyata, Brian masih mencintainya, bahkan cinta itu tumbuh dan berkembang dengan sendirinya.


Zaira mengecup dagu Brian hingga membuat mata Brian terbuka.


"Zaira, jangan menggodaku. Kau tahu seberapa kuat aku menahannya sekarang? Kau mau malam hangat ini menjadi malam yang panas?" Kata Brian dengan suara yang mulai memberat.


Brian tersenyum lalu menutup lagi matanya saat mendengar tawa Zaira yang terpendam di dadanya.


~


Zaira membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang, dia menunggu Mbok Inah datang dan mereka akan segera pulang.


Dia melirik Brian, pria itu masih tertidur pulas, terdengar dengkuran halus dari mulutnya membuatnya menahan tawa. Pemandangan yang lama sekali tidak ia lihat.


Zaira memilih keluar, menuju ruangannya untuk mengerjakan sesuatu.


Diluar, dia bertemu Revi yang tengah berjalan santai menuju kantin rumah sakit.


"Rev.." sapa Zaira.


"Eh, Ra.." suara Revi dengung dan hidungnya memerah.

__ADS_1


"Kau kenapa? Habis nangis?" Tanya Zaira.


"Nangis apanya! Aku Flu, tahu."


Zaira terkekeh, baru kali ini dia melihat Revi keluar dengan pakaian tidur.


"Kau menginap? Memangnya ada apa, baru kali ini aku lihat kau menginap di rumah sakit."


Revi mendekatkan kepalanya. "Mengurus Dinnara. Nanti aku ceritakan. Aku lapar, mau beli sarapan dulu." Ucapnya pelan lalu pergi, kemudian membalikkan badan lagi.


"Eh, bagaimana urusanmu dengan kak Brian?"


Wanita itu tak menjawab, namun melihat senyum cerah Zaira, Revi sudah tahu jawabannya.


"Ya, ya, selamat ya." Ucapnya lalu pergi begitu saja.


Setelah urusannya selesai, Zaira kembali ke ruangan Yara dan mendapati Brian tengah membelakanginya tanpa baju. Lekukan tubuhnya dari belakang terlihat lebih bagus. Nampaknya Brian tidak melewatkan olahraganya.


Brian memakai kaos dalamnya, lalu kemeja hitamnya.


"Mas, mau kemana?"


Brian membalikkan badan, dia mengancing kemejanya. "Aku harus kembali siang ini, Ra. Ada urusan penting." Ucapnya sambil merapikan kemejanya ke dalam celana panjang.


"Urusan penting?"


"Hm. Usaha Papa kan, sekarang aku yang pegang. Cabang di kota D ada kendala. Jadi aku harus terbang kesana setelah mendaftarkan pernikahan kita." Brian mendekati Zaira, mengulurkan tangannya meminta Zaira memasangkan kancing ditangannya.


"Mungkin aku akan disana beberapa hari sampai semuanya kembali normal. Aku janji akan segera kembali setelah semua selesai."


Zaira hanya diam, dia merapikan kerah baju Brian seperti yang dulu ia lakukan.


"Tidak apa, kan?" Tanya Brian sedikit menunduk melihat Zaira.


"Sepertinya kau akan sering pergi-pergi."


"Kemungkinan begitu, karena cabangnya ada dimana-mana. Sebenarnya aku sudah ada orang kepercayaan, tetapi kalau kondisi darurat, tidak bisa diwakilkan." Ucap Brian lalu memegang kedua bahu Zaira.


"Aku akan segera kembali, kau percaya padaku, kan?"

__ADS_1


Zaira mengangguk "iya, aku percaya." Ucapnya lalu mengecup kening Zaira.


Pintu terbuka, Mbok Inah terperanjat melihat dua orang di hadapannya, begitu juga Zaira dan Brian yang langsung berjauhan dan salah tingkah karena ketahuan oleh Mbok Inah.


__ADS_2