
"Kau yakin mau pulang?" Tanya Andre yang melihat Brian menyusun barang-barangnya ke dalam koper.
"Iya. Aku sudah berpikir lagi. Zaira sudah ada yang menjaga. Jadi kurasa, aku tidak perlu khawatir lagi." Brian duduk di tepi ranjangnya. "Selama ini aku hanya memikirkan perasaanku saja dan tidak memikirkan Zaira sedikitpun." Ucapnya lalu menunduk dalam.
Andre duduk disebelah Brian, menepuk-nepuk pundak pria itu. "Lebih baik kau temukan saja wanita lain, supaya pikiranmu berhenti dari Zaira."
"Saran yang bagus, tetapi tidak dulu." Brian berdiri, melanjutkan menyusun barangnya.
"Laki-laki itu tidak baik sendiri lama-lama".
"Kau lebih lama sendiri daripada aku. Berani-beraninya kau yang baru menikah menasehatiku tentang itu."
Andre terkikik. "Kalau saja aku tahu menikah seindah itu, tentu dari dulu aku akan menikah. Tapi, bertemu Yuna-nya juga terlambat, sih."
Brian ikut tersenyum. "Kau jagalah. Jadikan aku sebagai pelajaran. Jangan sia-siakan dia, nanti kau menyesal". Ucapnya pada Andre yang hanya diam saja. Brian lalu mengancing koper dan meletakkannya di atas lantai.
"Jam berapa berangkat?" Tanya Andre.
Brian melirik jam di dindingnya. "Jam 9 malam."
"Artinya ada waktu 12 jam lagi, kan? Mau jalan-jalan?"
Brian menghela napas panjang. "Aku sudah tidak tertarik jalan-jalan. Kau ajak saja istrimu, aku akan berkeliling untuk melepas rindu di kota ini."
"Apa itu? Seperti tidak akan kembali lagi."
Brian menarik seutas senyum dengan raut yang sedih. "Aku mungkin tidak akan kesini lagi. Lebih baik tidak sama sekali daripada melihat Zaira hidup bersama laki-laki lain." Brian mendesah kasar, "memikirkannya saja sudah menyayat hatiku."
Andre mengangguk, "Semoga kau menemukan jalan yang baik buatmu, ya. Pikirkanlah ucapanku untuk mencari penggantinya. Aku pergi dulu, nanti akan aku antar ke bandara. Kau telepon saja jika butuh apa-apa". Ucap Andre sambil menepuk bahu Brian dan berlalu pergi.
Brian membuka ponselnya, melihat foto dirinya dan Zaira yang masih ia simpan. Dia merenungi nasibnya kini yang akan terus menyendiri, dia tidak bisa memikirkan orang lain saat hati dan pikirannya penuh dengan mantan istrinya.
"Yah.. beginilah akhirnya, yang salah akan menerima hukumannya. Dan yang sesabar dirimu, akan menemukan kebahagiaannya." Gumamnya sambil mengelus lembut wajah Zaira di layar ponselnya.
Brian berdiri, melanjutkan lagi apa yang perlu ia lakukan.
~
Zaira tengah merenung, padahal Revi dan Hani asyik bercerita di ruang Hani sambil mengunyah beberapa cemilan.
"Ra, kenapa diam saja?" Tanya Hani yang sejak tadi memperhatikan Zaira.
"Tidak, aku hanya memikirkan Yara."
Hani menggenggam tangan Zaira. "Yara pasti baik-baik saja. Kau terlalu banyak berpikir belakangan ini, Ra. Jangan terlalu dipaksakan."
Revi menatap Zaira dengan suatu hal yang berbeda, entah mengapa Zaira terlihat seperti memendam sesuatu.
__ADS_1
"Iya, terima kasih, Han."
"Gio bagaimana, ya? Apa sudah datang lagi?" Tanya Hani lagi dan Zaira hanya menggeleng.
"Dia pasti merasa amat bersalah karena tidak bisa menjaga Yara." Sambung Revi.
"Aku tidak menyalahkannya, kok. Aku sudah mengatakan itu padanya berkali-kali." Ucap Zaira yang bolak-balik mendapat permintaan maaf dari Gio.
"Kasihan juga dia. Pasti terus kepikiran dan jadi takut dekat lagi denganmu." Tukas Hani sambil menyeruput minumannya.
"Kalau gitu, aku kembali dulu. Yara mungkin sudah bangun." Zaira bangkit dan meninggalkan kedua temannya, dia menuju kamar Yara dan mendapati gadis kecilnya masih tertidur pulas.
Zaira masuk ke kamar mandi di kamar itu untuk mencuci wajahnya yang terlihat kusam karena menjaga Yara semalaman.
Dia memandangi wajahnya di cermin dan mengucapkan terima kasih pada dirinya sendiri sebab sudah berjuang sendirian untuk hal-hal berat sekalipun. Zaira memejamkan matanya dengan tetesan air di mukanya, tiba-tiba saja dia terus merasa hatinya seperti tertekan, sakit, dan.. sesuatu yang ia tidak bisa ungkapkan.
Zaira menghanduki wajahnya lalu keluar dan mendapati beberapa balon helium diikat di pinggir ranjang Yara, namun tidak mendapati siapapun di dalam.
Zaira memperhatikan balon yang masih bergoyang, artinya orangnya belum jauh dari sini.
Dia keluar ruangan untuk mencari siapa yang menaruh balon itu. Ia menuju arah pintu keluar rumah sakit. Zaira berjalan cepat, matanya mencari kesana kemari, mencari wajah yang sudah terlukis di benakanya. 'Pasti dia..' batin Zaira.
Zaira terhenti saat melihat orang yang berbeda dari pikirannya sedang di depannya, mengobrol dengan Revi.
"Ra.."
"A-apa kau yang..."
"Iya, aku yang menaruh balon itu. Maaf, aku takut membangunkan Yara". Ucapnya dengan lembut, sementara Zaira hanya mengangguk lambat, ternyata tebakannya salah.
"Aku menyempatkan datang untuk menjenguk Yara. Kuharap dia segera pulih." Ucap Gio dan Zaira hanya tersenyum tipis sambil menaggukkan kepalanya lagi.
"Aku pergi dulu." Pamitnya pada Zaira dan Revi.
Sepeninggal Gio, Zaira menyentuh tengkuk lehernya dengan raut yang agak sedih.
"Kau kenapa?" Tanya Revi yang memperhatikan sejak tadi.
"Ha? Aku? Tidak apa-apa." Jawabnya sedikit bingung.
Revi memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jasnya, menatap Zaira lekat-lekat. "Memangnya kau bisa bohong padaku? Kau seperti mencari sesuatu."
Zaira tergelak. "Mencari apa? Tidak ada, sudah ya." Ucap Zaira lalu beranjak dan Revi menahan lengannya.
"Apa tidak lelah, Ra?"
Zaira menatap Revi dengan sendu, lalu tersenyum samar menggenggam tangan sahabatnya. "Aku tidak apa-apa. Aku serius."
__ADS_1
"Berhentilah mengatakan sesuatu yang sebaliknya. Dari dulu kau menahan semuanya sendiri. Sudahilah, Zaira. Aku tahu, kau mengira itu tadi Brian, kan?"
Zaira membuang wajahnya sambil menghembuskan napas. "Aku..."
"Apa kau akan terus seperti ini, Zaira?"
"Aku tidak tahu." Zaira menunduk, lalu menangis. Entah mengapa perasaannya amat sakit padahal dia tidak kenapa-napa.
Revi memeluknya dan membiarkan Zaira menangis. Dia mengelus lembut pundak Zaira lalu membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu hingga mata Zaira membulat.
"Kau.." Zaira melepaskan pelukannya, menatap Revi yang kini tersenyum di depannya.
Revi mengangguk, "Maafkan aku. tapi aku merasa, Kau pasti lelah selalu sendirian dengan masalah-masalah beratmu."
Zaira menunduk dan terisak lagi.
"Aku takut kau menyesal, Zaira. Selesaikanlah apa yang masih mengganjal di hatimu".
Zaira mengangguk walau dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Zaira balik ke kamar Yara setelah berhasil menghapus air mata dan sesegukannya.
Dia membuka pintu dan mendapati Brian duduk di sebelah ranjang Yara yang masih tertidur.
Brian berdiri saat mendapati Zaira berdiri di depan pintu.
"Maaf, aku hanya ingin melihat perkembangan Yara. Sepertinya dia semakin membaik."
Zaira menutup pintu dan berjalan perlahan. Dia berdiri tak jauh dari Brian dan mulai mengingat lagi bisikan Revi padanya tadi.
Mereka saling diam dalam pikiran masing-masing.
"Aku akan pulang malam nanti." Ucap Brian memecahkan hening diantara mereka.
Zaira mengangguk lambat dan tercipta keheningan lagi diantara mereka.
Brian ingin sekali bercerita banyak hal, tetapi melihay raut wajah Zaira saat berhadapan dengannya membuatnya enggan. "Kalau gitu, aku permisi. Aku akan mampir sebentar nanti malam sebelum berangkat, apa boleh?"
Zaira mengangguk.
Brian menatap Zaira beberapa saat. Hatinya amat berat, tetapi dia harus melakukannya.
Brian lalu pergi tanpa dilihat Zaira yang sejak tadi hanya menatap Yara yang tertidur.
Brian keluar dari ruangan itu, tangannya masih di handel pintu. Ingin sekali dia memeluk wanita itu sekali saja sebelum dia pergi. Tetapi itu tidak mungkin, karena Zaira pasti tidak akan mengizinkannya.
Brian melangkah, meninggalkan ruangan itu tanpa ia sadari Zaira sudah menangis sedari tadi didalamnya.
__ADS_1
Bersambung....