
"Apa kau sudah tanya keberadaan Brian kemarin?" Tanya Andre yang membuat Zaira menaikkan wajahnya.
Ya, dia terdiam sejenak sambil berpikir. Zaira memang memilih tidak bicara saat sedang marah pada Brian. Dia pun menghindari suaminya. Memilih pergi duluan sebelum Brian bangun dari tidurnya.
Melihat Zaira yang hanya diam, Andre tahu jawabannya.
"Cobalah bicara. Tanya baik-baik padanya. Mungkin aku yang terlalu berlebihan menganggapinya. Siapa tahu dia memang ada urusan mendadak." Ucap Andre untuk menenangkan Zaira. Walau dia sendiri menduga bahwa Brian pasti bersama Rinnada kemarin.
"Baiklah". Jawabnya singkat tetapi di dalam hatinya, dia tidak mau melakukan apa yang Andre sarankan.
"Ra, apa kau tahu yang mana Rinnada itu?" Tanya Andre lagi. Memastikan apakah Zaira tahu bahwa anak kepala rumah sakit itu adalah mantan kekasih suaminya?
Zaira menggeleng. "Aku bahkan tidak mau tahu, kak. Itu pasti akan sangat menyiksaku".
Andre menghembuskan napasnya perlahan. "Bagaimana kalau dia adalah orang disekitarmu?"
Pertanyaan Andre membuat Zaira langsung menatapnya. Dia tidak pernah memikirkan itu. Brian dulu tinggal di kota yang jauh dari sini. Tidak mungkin rasanya orang-orang di sekitarnya yang menjadi kekasih Brian. Kalaupun iya, pastilah perselingkuhan suaminya sudah terjadi dari jauh hari.
Zaira menunduk. Dia juga tidak bertanya, siapa orang di sekitarnya itu. Walau di ingat lagi kejadian saat Brian olahraga pagi itu, Zaira tidak mengenal wanita itu.
Zaira pamit keluar. Dia beranjak dari kursi saat percakapannya dengan Andre selesai.
Namun, saat hendak memegang handel pintu, dia berhenti tatkala mendengar suara wanita di luar ruangan memanggil nama suaminya.
Dia terdiam, mendengarkan suara dari perempuan itu. Samar-samar dia mendengar.
"Kenapa? Aku kan hanya menyapa.."
Lalu hening. Sepertinya Brian tengah berbisik.
Zaira memejamkan matanya. Sejenak dia berpikir dengan sedih, ternyata Brian juga bertemu dengan wanita itu saat di kantor. Seintens itu mereka bertemu, membuat hatinya sangat terluka.
Lalu tiba-tiba, Zaira mengingat sesuatu saat Brian menyebut nama Rinnada dengan lembut.
"Rin..nada.." Gumam Zaira pelan.
Dia mengulangnya lagi. "Rin..nada.." Dia memikirkan seseorang dalam benaknya. Lalu mencoba mengingat suara seseorang itu.
Suara wanita itu keluar lagi.
"Apa? kenapa tidak boleh?"
__ADS_1
Zaira membelalakkan matanya. "Nada?" Kenapa suara wanita diluar sangat mirip dengan suara wanita yang belakangan ini sering mendatanginya?
"Ikut aku dulu". Suara Brian juga terdengar. Suara langkah kaki menjauh dari tempat Zaira berdiri. sepertinya mereka sudah pergi.
Dia lalu menoleh pada Andre. Tatapannya penuh rasa sedih. Air matanya menggenang. "Apa...Rinnada itu Nada?" Zaira bertanya untuk meyakinkan apa yang ada dipikirannya sekarang. Rahangnya merapat, takut mendengar wajaban Andre.
Andre yang tengah berdiri di tempatnya mengangguk lambat. Wajah Andre terlihat mengasihani kondisi Zaira saat ini.
Seketika air mata Zaira mengucur deras. Dia memejamkan matanya, mengingat apa yang perempuan itu lakukan selama ini padanya. Ternyata dialah orangnya....
****
Brian meletakkan tasnya di kursi belakang mobil. Dia menoleh pada Rinnada yang duduk disebelahnya.
"Lain kali, jangan berteriak seperti tadi. Apalagi di depan ruangan Andre. Untunglah dia cuti". Brian memperingati Rinnada supaya lebih hati-hati jika ingin hubungan keduanya berjalan lancar.
"Iya, iya baiklah." Ucapnya sambil memegang pipi lelaki itu.
"Ada yang mau ku tanyakan padamu." Brian menjalankan mobilnya sambil memikirkan tempat tujuan. "Kau sudah makan, kan?"
Rinnada mengangguk cepat sambil menyandarkan punggung ke kursi.
"Bagaimana kehidupan Dinnara sekarang?"
"Kenapa menanyakannya?" Alis Rinnada berkerut. Dia tidak suka Brian menanyakan kembarannya itu.
"Bukan begitu". Brian melirik Rinnada sekilas. "Dulu, keadaannya kan, sangat tidak baik".
Rinnada menghela napasnya. "Dia.. baik-baik saja. Sudah melupakanmu dengan sempurna".
"Benarkah? Baguslah kalau begitu." Brian mengangguk-angguk.
"Lalu.. Kenapa kau dulu menghilang?" Brian menanyakan hal yang dulu sering melayang di pikirannya hingga hilang sendiri dan tidak menemukan jawabannya sampai sekarang.
Rinnada memicingkan matanya menatap Brian. "Aku di hukum karenamu. Dan setelah aku datang lagi, kau menghilang entah kemana. Lalu tiba-tiba sudah menikah saja. Sangat menyakiti perasaanku." Ucapnya dengan nada kesal dan wajah yang cemberut.
"Maafkan aku, ya." Brian menggenggam tangan Rinnada. Rasa bersalah tiba-tiba menyelimuti hatinya. Mengingat kejadian dulu yang membuat mereka berpisah. "Apa penyakitmu sudah sembuh?" Tanya Brian lagi.
Rinnada mengangguk. "Sudahlah jangan bahas itu. Yang penting sekarang, kau bisa kembali seperti sedia kala. Itu saja sudah menyenangkanku, kok." Rinnada mencium tangan kiri Brian dengan lembut.
~
__ADS_1
Zaira masih berdiri di tempatnya. Air mata tak mampu ia sembunyikan dari Andre. Bahunya naik turun sebab isakan yang ia tahan. Wajahnya pun sudah basah. Dia bahkan tidak sadar sudah menangis berapa lama disana sampai-sampai Andre mengundurkan semua jadwal pertemuannya dengan klien.
Andre mengajak Zaira duduk. Dirinya hanya berjalan mengikuti arah tangan Andre yang menarik lengannya. Dia seperti pasrah akan keadaannya sekarang. Pikirannya pun sangat kacau. Dia menolak mengetahui siapa wanita itu karena akan sulit baginya untuk memaafkan keduanya nantinya. Baginya, akan ada kesempatan jika Brian menghentikannya. Namun nampaknya, keduanya berusaha bermain cantik di belakangnya.
"Ra, tenangkan dirimu dahulu". Suara Andre lembut walau dalam hatinya mengutuk keras perbuatan kurang ajar sahabatnya itu.
Zaira tidak bisa lagi menangkap suara di telinganya. Pikirannya sudah penuh dengan segala macam pertanyaan dan kemungkinan yang buruk dalam rumah tangganya.
Dia sama sekali tidak pernah memikirkan hal ini akan terjadi.
Andre berkaca pada kejadian lalu, saat Rinnada yang dulu menangis sesegukan persis seperti Zaira saat ini. Mereka sama-sama menangisi nasib bersama Brian. Bedanya, Rinnada menangis karena harus dengan terpaksa merelakan kekasihnya bersama kembarannya dan Zaira menangis karena Rinnadalah yang berusaha merebutnya.
Andre membiarkan wanita itu menangis. Ini merupakan kedua kalinya Zaira menangis di kantornya. Lalu Andre menelpon Hani supaya dia bisa menjemput Zaira yang tidak bisa dibiarkan pulang sendirian.
Andre keluar dari ruangannya. Dia akan membuatkan teh hangat untuk Zaira supaya sedikitnya bisa meredakan perasaan kalutnya.
Lalu saat dia masuk, Andre tidak menemukan lagi Zaira disana. Dia langsung berlari mencari Zaira. Dan tidak juga menemukan mobil milik Zaira yang terparkir di halaman kantornya.
'Sudahlah. Mungkin dia pulang ke rumahnya.' Batin Andre.
Zaira mengendarai mobilnya dengan setengah sadar. Dia tidak bisa memungkiri hal yang terjadi saat ini. Dia harus berpikir realistis dan takkan lagi berdiam diri.
Zaira menepikan mobilnya. Mengetik-ngetik sesuatu di ponselnya. Lalu menjalankan mobilnya lagi dengan sesegukan yang tidak bisa ia tahan lagi.
~
Brian sedang berada di kafe dan duduk sambil mengunyah makanannya. Dia berhadapan dengan Rinnada yang menyeduh teh hangat.
Ponselnya berdering singkat tanda pesan masuk. Brian meraih ponselnya dengan tangan kiri. Tangan kanannya sibuk memegang sendok.
"Makan saja dulu. Jangan pedulikan siapapun saat bersamaku". Ucap Rinnada sambil cemberut. Brian hanya tertawa melihat tingkah Rinnada yang dimatanya sangat imut.
Brian lalu menatap ponselnya lama. Dia membaca seksama pesan yang dikirim oleh istrinya.
"Mari berjumpa di rumah sekarang. Ada hal yang perlu aku sampaikan. Datang dalam 15 menit. Jika terlambat sedetik saja, aku anggap kau menginginkan perpisahan."
Dentingan keras sendok yang terjatuh dari tangan Brian di piring membuat Rinnada terkejut.
Bola mata Brian melotot seperti akan keluar dari tempatnya. Apa-apaan Zaira? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Ada apa dengannya? Mengapa mengatakan perpisahan dengan mudah seperti ini? Batinnya penuh tanda tanya.
Brian langsung menghentikan makannya. Perasaannya sangat tidak enak. Hanya karena terlambat dia menginginkan perpisahan? Brian sesak, sejenak dirinya seperti tak dapat oksigen untuk dia hirup. Dia bertanya dalam batin. 'Apa Zaira mengetahui perbuatanku?'
__ADS_1
Bersambung....