
Revi dan Zaira tengah duduk di meja kafetaria rumah sakit, mengobrol dan makan siang bersama sembari Zaira membawa laptop untuk mengerjakan sesuatu.
Hani tiba-tiba datang dengan terburu-buru seperti membawa berita bahagia.
"Ra, Ra.. coba tebak aku tadi bertemu siapa?" Tanyanya dengan girang lalu duduk dan menyeruput kopinya menunggu Zaira menjawabnya.
Zaira menggelengkan kepalanya. Melihat kegirangan Hani, dia benar-benar tidak bisa menebaknya.
"Siapa?" Tanya Revi penasaran.
"Aku bertemu Gio!" Jawabnya dengan senyum lebar.
"Siapa itu?" Celetuk Revi.
Hani melihat kedua temannya bergantian, yang satu, jelas tidak mengenal karena Gio adalah mantan Zaira sebelum bertemu Revi di rumah sakit ini. Sementara Zaira, responnya diluar perkiraan Hani. Wanita itu tampak datar saja.
"Kok, reaksinya gitu?" Keluh Hani pada Zaira.
"Ya, terus, aku harus bagaimana?"
"Gio beda sekali, Ra. Dia tambah cuakep!" Hani mengacungkan jempolnya. "Badannya juga atletis sekarang. Aneh ya? Padahal dulu saat bersamamu, badannya buntel, gitu. Haha". Tawanya berhenti saat melihat Gio muncul dari belakang Zaira.
"Lagi nyeritai aku, ya?" Sambung Gio membuat semua mata beralih padanya.
"Gio, sini duduk!" Hani mempersilahkan Gio duduk di kursi kosong sebelah Zaira.
"Kenalin, ini teman kami, namanya Revi, Pskiater disini" Hani memperkenalkan Revi, mereka saling bersalaman.
"Rev, ini nih, mantannya Zaira dulu sekitar 11 tahun lalu, kali ya." Ucapnya pada Revi.
"Wah, mantan Zaira bisa cakep juga, ya." Puji Revi.
"Dulu engga, kok. Dulu dia tuh, enggak kaya gini. Jelek dia, tapi Zaira tetap mau. Apalagi sekarang, ya." Ucap Hani sambil tergelak dan mendapat delikan tajam dari Zaira.
"Jadi, ada apa kemari, Gi?" Tanya Zaira.
"Ada urusan di rumah sakit ini. Tidak sengaja bertemu Hani dan dia ajak kemari." Jelasnya.
Gio memandang Zaira sembari tersenyum sebab dia melihat Zaira sangat cantik dengan bando di kepalanya. Wanita disebelahnya seperti tidak berubah dari beberapa tahun yang lalu.
"Gio, akhir minggu ini kami mau rekreasi ke Villa. Mau ikut?" Ajak Revi yang mendapat sorotan mata dari Zaira di depannya.
"Benar? Memangnya boleh?"
"Bolehlah, kan kami yang ajak." Sambung Hani dengan antusias.
"Wah, sepertinya seru. Nanti aku cek jadwal. Kalau cocok, aku ikut."
"Oke, ini nomorku, nanti hubungi kesini, ya!" Kata Hani sambil memberi kartu namanya.
Gio menerimanya. "Aku duluan, ya. Sebentar lagi ada jadwal operasi." Ucapnya lalu berdiri dan pamit pergi.
__ADS_1
"Hei, Ra. Kenapa, sih? Bukannya bagus ya, kalau dia ikut?" Tanya Revi karena menyadari keberatan Zaira.
"Inikan acara kita, masa orang baru ikut kau tidak keberatan?"
Revi terkikik, "dia sepertinya masih suka padamu, tuh".
Zaira hanya menggelengkan kepala, fokus lagi pada laptopnya.
*****
"Kenapa, sayang?" Zaira mengelus rambut Yara saat gadis itu datang dengan keadaan menangis.
Seorang guru Yara berjalan cepat ke arahnya.
"Dokter Zaira, saya minta maaf." Ucapnya tiba-tiba.
"Ada apa, bu?"
"Begini, permainan anak-anak hari ini tentang mendeskripsikan ciri Ayah mereka, jadi.."
"Iya, saya paham." Ucap Zaira sambil mengangguk dan tersenyum.
"Kami sudah ubah konsepnya bagi sebagian anak supaya menggambarkan ibunya, tetapi Yara menangis, katanya..". Guru itu menghentikan kalimatnya karena Zaira hanya menyunggingkan sedikit senyum sambil mengelus kepala Yara.
"Mohon maaf, dokter. Saya permisi".
Zaira berjongkok, menangkup kedua pipi putrinya sambil tersenyum.
Yara menggeleng, dia mengucek matanya yang basah.
"Mama, Papa itu apa?"
Zaira membulatkan matanya. "Memangnya menurut Ara, Papa itu apa?"
"Kata ibu gulu, Papa itu teman Mama di lumah."
Zaira tersenyum mendengar jawaban Yara.
"Begitu, ya? Ya sudah, Yara masuk dulu yuk, Mama ajak jalan-jalan, mau?"
Yara mengangguk, lalu dituntun Zaira masuk ke dalam mobil.
Zaira tidak berpikir secepat itu Yara mulai mempertanyakan seorang Ayah. Padahal dia sudah menyusun kata-kata untuk Yara saat dia mulai mengerti, nyatanya anak itu justru menangis karena tidak punya gambaran seperti apa Ayahnya. Mungkin dia selama ini tidak pernah melihat laki-laki ada di rumahnya.
Dia belum mau menjawab pada Yara yang pasti belum paham, sekarang dirinya hanya mengalihkan perhatian Yara supaya dia tidak memikirkan apa dan siapa Ayahnya itu. Zaira membuang napas, ternyata waktu berjalan dengan sangat cepat, batinnya.
*****
Akhir pekan telah tiba. Zaira, Revi, dan Hani sudah menentukan titik temu mereka untuk pergi bersama-sama ke Villa yang baru dibeli Revi.
Hani bersama suaminya membawa bayi kecil mereka, juga Zaira bersama Yara dan Mbok Inah. Kecuali Revi, tentu saja dia sendiri walau suaminya berencana datang beberapa minggu lagi.
__ADS_1
"Kalau sudah, ayo berangkat sekarang". Kata Zaira saat melihat yang lain hanya diam padahal sudah mengumpul semua.
"Sebentar, ya. Sebentar". Pinta Hani sambil tersenyum jahil seperti menyembunyikan sesuatu. Dan benar saja, beberapa menit setelahnya, Gio muncul dengan koper kecilnya.
"Maaf ya, terlambat. Pasien dadakan." Ucapnya sambil nyengir, dan yang lain menyambut hangat.
"Kami mengerti, kok." Ucap Revi. "Nah, Gio kan tidak bawa mobil. Jadi, aku bersama Hani, Gio bersama Zaira. Bagaimana?"
"Bukannya tadi kau bilang, kau bersamaku?"
"Ya, kan biar ada laki-laki di mobilmu". Jawabnya seperti sudah direncanakan.
Zaira mengangguk, lalu Gio dengan sigap mengambil posisi depan untuk menyetir di mobil Zaira. Merekapun menuju Villa yang jaraknya tidak begitu jauh dari lokasi mereka.
~
Sesampainya disana, Zaira dibantu Mbok Inah membawa barang, masuk ke halaman rumah yang cukup besar dan pemandangan alam yang indah. Udaranya sangat sejuk, sampai Yara mengeluh dingin.
Mereka disambut pasangan suami istri paruh baya yang dipekerjakan oleh Revi untuk menjaga Villanya.
"Kau benar-benar dokter jiwa ya, Rev. Ini sangat bagus untuk menenangkan pikiran!" Pekik Hani kegirangan.
"Jelaslah. Sekarang, kita istirahat dulu." Katanya lalu menggotong koper miliknya.
"Zaira, mau sekamar denganku?" Ajak Revi saat mulai menunjukkan kamar-kamar mereka.
"Bebas saja."
"Kalau gitu, sekamar dengan Gio saja bagaimana?"
"Apa?"
Revi terbahak sementara Gio menggeleng-gelengkan kepala. "kau bilang, bebas" Ucap Revi tanpa dosa namun mendapat tatapan ancaman dari Zaira.
"Ya sudah. Kau bersamaku, Mbok Inah dengan Yara. Gio, kamarmu di sana".
Setelah pembagian kamar dan makan siang, mereka mengobrol di halaman rumah yang disuguhi pemandangan indah.
"Yara, mau permen?" Tawar Gio pada Yara yang bermain boneka.
Yara datang, lalu mengambil permennya. "Om ciapa?" Tanya Yara.
"Om adalah teman mama".
"Berarti Papa Ala?"
Semua tersentak, beralih pada Yara dan Gio secara bergantian. Termasuk Zaira yang menganga.
"Kata bu Gulu, papa itu teman mama, belalti, om papa Ala?" Tanyanya dengan polos, sementara Gio menahan senyum karena keimutan gadis kecil itu.
"Wah, Yara ingin Papa, tuh!" Celetuk Revi sambil menyikut Zaira yang tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1
TBC