Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Ekstra8


__ADS_3

Brian berjalan cepat, dia tadi ke ruangan Yara dan hanya mendapati Mbok Inah disana. Dia menuju Cafetaria yang ditunjukkan Mbok Inah padanya.


Disana sudah ada Revi dan Hani bersama Zaira yang sibuk dengan laporannya.


"Ra.." Brian duduk disebelah Zaira tanpa di minta, wajahnya terlihat panik.


"Aku ada informasi penting." Ucapnya pada Zaira dan yang lain, sekalian semua harus tahu, pikirnya.


Zaira mengerutkan alis, dia sebenarnya tidak tertarik pada berita yang dibawakan Brian.


"Ra, ternyata dokter Gio itu sudah punya anak dan istri!" Ucapnya lalu semua terdiam, menatap Brian yang ikut tegang.


"Aku baru dari rumah sakitnya dan para perawat bilang, kemarin dia datang bersama seorang perempuan dan anak yang tengah sakit. Itu istrinya, Ra. Kau jangan sampai ketipu."


"Pfft.." Hani menutup mulutnya, menahan tawa yang hampir pecah karena ucapan Brian.


Begitu juga Revi yang mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat supaya tidak tertawa.


Lain dengan Zaira yang tertunduk sembari memegang dahinya.


"Aku bicara serius!" Tukasnya lagi.


Zaira berdiri, membereskan barangnya lalu pergi mendekap berkas di tangan kirinya.


Brian mengikuti Zaira. "Ra, kau harus percaya padaku." Ucapnya sambil menyamakan langkah dengan Zaira.


Sementara Hani dan Revi sudah tertawa lebar.


"Ya, aku percaya padamu". Jawab Zaira dengan malas.


"Aku kesana dan mendapatkan cerita itu dari perawat yang setiap hari bersamanya, Ra."


Zaira berhenti, menatap Brian dengan wajah lesu. "Aku percaya padamu, sekarang pergilah."


"Kalau gitu, jangan menikah dengannya". Tukas Brian sambil memegang lengan kiri Zaira.


"Jangan mencampuri urasanku". Ucapnya lalu melepaskan tangannya dari Brian dan berjalan lagi.


"Aku hanya memeriksanya.."


"Hah. Kau datang dan menyelidikinya? Kau sampai melakukan itu? Untuk apa?" Tanya Zaira dengan suara ditekan, ia tidak ingin banyak orang mendengarnya.


"Aku hanya ingin kau bahagia, Zaira. Aku tidak mau kau mendapatkan laki-laki yang tidak baik."


"Lalu, kau?"


Brian terdiam.


"Kalau dia tidak baik, lalu kau apa?" Tatap Zaira dengan tajam.

__ADS_1


Brian menelan ludahnya, perkataan Zaira mengenai ulu hatinya. Dia terdiam sementara Zaira melanjutkan jalannya yang terlihat kesal.


Brian duduk di kursi panjang, melipat tangan dan menyandarkan kepalanya ke dinding. Apa yang dikatakan Zaira benar, dia mau supaya Zaira mendapat laki-laki yang tepat, Lalu yang seperti apa, sebab dirinya juga ingin kembali pada Zaira.


"Aku belum rela kau bahagia dengan yang lain, Zaira. Membayangkannya saja sudah membuatku gundah.." lirihnya lalu menangkup kedua tangan di wajah, dia tidak bisa memikirkan hal semacam itu dalam benaknya. Itu terlalu menyakiti perasaannya.


Brian berjalan lagi, melangkah pergi dari rumah sakit ke tempat tujuannya untuk Yara.


...🧸...


Zaira memijit dahinya yang terasa pusing. Hari ini, pekerjaannya belum selesai, masih ada beberapa pasien yang menunggu hingga dia tidak bisa pulang lebih cepat, oleh karena itu dia terus memantau Yara melalui Mbok Inah.


Ponselnya bergetar, Zaira membuka pesan dari Mbok Inah, gambar Yara dan boneka badut besar dipeluk oleh Yara dan gadis kecil itu tersenyum lebar.


Melihat itu, Zaira ikut merasa bahagia melihat putri kecilnya.


"Eh, siapa badut ini?"


Saat akan membalas, pintunya diketuk dan seorang pasien masuk. Zaira langsung menyimpan ponselnya.


Beberapa jam kemudian, Zaira masuk ke dalam ruang Yara, dia melihat Yara tengah tertidur dengan seseorang berbadan badut ikut tertidur di pinggir tempat tidur.


Zaira mendekat, dia melihat Brian dengan baju badut yang belum ia lepaskan.


Ruangan pula sudah terlihat cantik dengan banyak balon dan bunga-bunga.


"Kau sudah pulang?"


Zaira terkesiap, Brian membuyarkan lamunannya.


"Maaf, aku ketiduran". Ucapnya dengan pelan supaya Yara tidak terbangun.


"Kau yang melakukan ini?" Mata Zaira menatap ke atas dimana balon-balon melayang di atas.


"Dia bilang padaku, dia bosan. Jadi aku membuatnya seperti ini". Ucapnya lalu mengelus lembut rambut Yara.


Brian berdiri dan melepaskan baju badutnya, dia terlihat kegerahan.


"Terima kasih sudah membuat Yara senang, mas". Ucapnya dengan senyum tulus. Melihat foto-foto Yara yang tampak amat bahagia membuatnya merasa perlu mengucapkan kata itu.


Brian hanya membalasnya dengan senyuman. Dia tidak sangka akhirnya Zaira mau memberikan senyumannya lagi pada dirinya yang belakangan selalu membuatnya marah.


"Baiklah, Aku pulang dulu, kalau ada apa-apa segera kabari aku." Ucapnya lalu mengecup kening Yara dengan lembut, memperlakukannya seperti anaknya sendiri.


Lalu, pintu terbuka. Gio datang dengan membawa boneka beruang di tangannya.


"Hai". Sapa Gio pada Zaira yang senyunggingkan senyum tipis.


"Oh, ini.." Gio menggantungkan kalimatnya pada Brian.

__ADS_1


"Saya badut yang disewa".


Ucapannya membuat mata Zaira terbelalak.


"Oh, begitu. Yara sedang tidur, ya". Ucapnya sambil berjalan ke arah Yara. Kemudian dia dan Zaira mengobrol santai soal beberapa hari setelah Yara kejang.


Zaira tampak melupakan kehadiran Brian saat bertemu Gio. Brian pula melihat rasa nyaman di mata Zaira saat mengobrol dengan dokter itu.


Brian sudah mendapat kabar dari Andre dan menceritakan kejadian yang sebenarnya tentang dokter Gio itu.


Sedikitnya ia merasa malu, pada akhirnya memang ia terlihat kalah dari dokter Gio.


Brian terus melihat ke arah Zaira yang sesekali tertawa, rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat Zaira tertawa seperti itu karena ulahnya.


Brian keluar saja tanpa pamit dengan membawa pakaian badut di tangannya, sekilas dia melihat tatapan Gio yang memang terlihat sangat tertarik pada mantan istrinya itu.


Brian menutup pintu dengan perlahan, setelah melihat kedua orang di dalam ruangan itu, dia merasa bersalah sebab terlalu memaksa Zaira untuk bersamanya.


Walau berat, dia akan berlapang dada apabila Zaira menikah dengan laki-laki pilihannya itu. Bagaimana pun, Zaira memang berhak untuk bahagia. Tiga tahun dia menyendiri, itu sudah membuktikan dirinya bisa bertahan walau tanpa laki-laki di hidupnya.


"Brian.."


Seorang wanita paruh baya menyapanya, Brian menoleh dan mendapati bunda Rinnada di depannya.


"Brian, syukurlah akhirnya aku bertemu denganmu. Boleh bicara sebentar?"


Brian mengikuti Winda yang berjalan membawanya kesebuah bangku panjang di tengah taman.


"Brian, maafkan aku. Aku sungguh menyesali perbuatanku yang dulu padamu. Aku bahkan tidak menemuimu karena rasa maluku padamu. Aku benar-benar minta maaf."


Winda menundukkan kepalanya, dia menyampaikan permohonan maaf yang bahkan Brian tidak harapkan.


"Aku sudah melupakan semuanya, Tante."


"Tetap saja aku belum meminta maaf secara langsung. Tuhan sudah menghukumku. Kini demi rasa bersalahku pada kedua putriku, aku hanya akan merawat Dinnara sepanjang hidupku."


Matanya melihat ke depan, Brian ikut melihat ke arah mata Winda yang ternyata tertuju pada Dinnara yang tengah duduk sambil memeluk boneka. Dinnara termenung, tidak bergerak sama sekali.


"Aku merasa bersalah karena hubunganmu dengan Ziara rusak karenaku."


"Tidak, itu memang kesalahanku sepenuhnya". Ucap Brian.


"Zaira tersiksa selama ini karenaku juga."


"Apa maksudnya?" Tanya Zaira heran saat mendengar ucapan Winda barusan.


"Dia selalu konsultasi pada dokter Revi beberapa tahun setelah berpisah denganmu. Aku tahu dia tertekan karena kelakuan putriku. Jadi, aku selalu berhati-hati supaya Zaira tidak melihat wajah Anakku agar dia tidak semakin mengingat masa-masa buruknya".


Penjelasan Winda, mengagetkan Brian. "Zaira tertekan?" Tanyanya penuh dengan rasa penasaran, hal apa yang ia lewatkan hingga ia tidak tahu Zaira semenderita itu setelah mereka berpisah beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2