
Zaira benar-benar pulang ke rumah Brian. Tempat pertama yang Brian hadiahkan untuknya. Tapi sekarang, Zaira tidak minat. Dia sudah membeli sebuah apartemen tak jauh dari rumah sakit. Dia akan tinggal disana dengan Mbok Inah yang sudah bersamanya bahkan sebelum menikah dengan Brian.
Zaira menyalakan lampu ruangan. Dia memperhatikan setiap ruang dengan baik. Dia menyayangi rumah itu walau sekarang pemiliknya mungkin akan berpindah tangan.
Sebuah foto besar di dinding memperlihatkan raut kebahagiaan Brian dan Zaira. Foto saat mereka berlibur di sebuah pulau indah negeri seberang.
Senyum kecut terlukis di wajah Zaira. Tidak ada gunanya dia menatap lama-lama bingkai kayu itu. Toh, sebentar lagi akan dibuang.
Kini Zaira memasuki kamarnya dengan Brian. Kenangan paling banyak dan mendebarkan ada disana. Dia duduk di tepi tempat tidur. Lalu memikirkan, seseorang mungkin akan tidur disitu bersama Brian. Lagi-lagi, hal itu membuatnya tersiksa sendiri.
Zaira membuang napasnya dengan kasar. Dia mulai peregangan seolah-olah akan melakukan lari jarak jauh. Padahal hanya dia akan membereskan seluruh barang-barangnya.
Dia mengambil koper yang terletak di atas lemari. Ada beberapa disana. Dia menyusun semua pakaiannya tanpa sisa. Lalu memasukkan barang-barang mikinya yang lain yang ada di berbagai ruang dan langsung memasukkannya ke bagasi mobilnya. Dia lalu teringat sesuatu, dan masuk lagi ke dalam rumah itu.
Zaira membuka satu laci di sudut tempat tidur. Dia mengambil beberapa album foto yang dia selalu rajin untuk mengisinya. Banyak sekali foto disana. Mulai dari lamaran, sampai liburan terakhir kali sekitar 6 bulan lalu.
Dia mengambil semua foto itu. Lalu menuju ke belakang rumahnya. Zaira mengambil korek dan mulai membakar satu persatu foto-foto itu.
Perlahan-lahan Zaira membakarnya. Mengamati foto-foto itu dengan senyum kecut lalu memasukkannya ke dalam kobaran api di depannya.
Zaira duduk memeluk lututnya di atas rumput dan menggenggam satu foto yang dulu sangat ia sukai. Saat Brian memeluknya dari belakang lalu mencium pipi Zaira yang tertawa bahagia.
Dulu, Zaira mengira Brian adalah laki-laki yang sempurna. Bagaimana pun, dia mampu bertahan dengannya tanpa keturunan. Brian bahkan sama sekali tidak berubah padanya. Tetap memperlakukan dirinya bagai permaisuri.
Zaira meneteskan air matanya lagi. Tidak pernah dalam benaknya hal seperti ini akan terjadi. Brian, orang yang sangat ia cintai karena ketulusannya, sekarang menjadi seorang yang buta karena cinta masa lalunya.
Dia menyentuhkan ujung foto itu pada api di depanya. Memandang wajah Brian yang lalu terbakar hingga menghanguskan semuanya menjadi abu.
"Ra.."
__ADS_1
Brian datang dengan wajah panik saat melihat banyak asap yang masuk dari pintu belakang. Zaira dengan cepat menghapus air matanya.
Brian terbelalak melihat Zaira membakar hangus semua kenangan-kenangan mereka. Raut wajahnya mulai menunjukkan kemarahan.
"Kenapa kau bakar semua, Ra. Apa yang terjadi? Bukankah hari ini kau pulang dan kita bersama lagi?" Pekiknya pada Zaira yang diam saja menatap wajah Brian yang seperti tak berdosa.
Zaira tidak menjawab. Dia berdiri dari duduknya, lalu menyerahkan selembar kertas pada Brian.
"A-apa ini?" Brian meraih kertas itu dan matanya terbelalak saat membaca isi surat permohonan Zaira untuk bercerai dengannya. Terlebih, nama Andre juga ada disana sebagai pengacara istrinya.
"Ka-kau." Brian menatap Zaira dengan mata yang mulai berair. Dia lalu mengoyak-ngoyakkan kertas itu dan membuangnya ke kobaran api.
"Aku tidak akan pernah bercerai denganmu". Pekiknya lalu masuk ke dalam rumah menuju kamar tidurnya.
"Kita harus pisah. Aku sudah tidak bisa bersamamu lagi, mas". Tukas Zaira yang mengikuti Brian dari belakang.
Brian berhenti di samping tempat tidur dan membalikkan badannya menghadap Zaira untuk memberinya peringatan. "Tidak bisa. Tidak akan aku setujui sampai kapanpun. Aku tidak mau berpisah denganmu." Kata Brian dengan lantang. Dia akan membuat semuanya batal. Bahkan Andre tidak akan bisa membantu Zaira berpisah dengannya.
"Kenapa? Katakan, kenapa? Apakah menyenangkan memiliki anak dengan orang lain dan tetap bersamaku?" Zaira menaikkan nada suaranya sambil meneteskan air matanya.
"Aku tidak sengaja, Zaira. Bukan kemauanku." Elak Brian.
Zaira menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Kau terus saja menipuku. Kau mengira aku ini sangat mudah, ya kan? Apa itu? Kau pikir aku mau merawat anak itu?" Pekik Zaira yang mengingat cerita Andre yang mendengar kejadian di kantor Brian tadi.
"Itu juga anakku!" Teriak Brian di depan Zaira.
"Bagus. Kau ternyata senang dengan anak hasil perselingkuhanmu itu. Akhirnya kau mengakui perbuatanmu dan menghasilkan anak yang entah punya siapa!" Amuk Zaira.
"Apa maksudmu? Dia anakku. Rinnada hamil anakku. Dia memberiku anak. Kau harus tau itu. Dia dengan baik hati memberiku keturunan tanpa minta menikah denganku. Sesuatu hal yang bahkan kau tidak bisa berikan!"
__ADS_1
Tamparan keras melayang di pipi kiri Brian. Zaira mengeraskan rahangnya, dia sangat marah pada laki-laki di depannya itu. Zaira sudah tidak tahu, Bagaimana akhirnya Brian sanggup mengeluarkan kata-kata itu padanya.
"Marah. Silahkan marah! Tapi aku tidak bisa menghiraukan anak itu!"
Zaira tidak mendengarkan ucapan Brian. Dia melangkah mengambil setumpuk kertas di dalam laci lemari.
"Ini!" Zaira menggenggam kertas di tangannya. "Aku sungguh capek, Brian. Aku capek dianggap bodoh dan tidak subur oleh semua orang!"
Brak! Zaira melempar lembaran-lembaran itu tepat di wajah Brian.
"Kau harus tahu posisimu sekarang". Ucap Zaira yang melihat Brian mengutip lembaran itu dan membacanya dengan perlahan.
Dia terperanjat. Membeku di tempatnya tatkala tulisan-tulisan itu menujukan sesuatu hal pada dirinya. "A-apa? Oligo- Apa itu? aku?" Brian terbata sambil membalik-balik lembaran. Dia menemukan namanya tertulis sebagai infertil. Dengan oligoasthenoteratozoospermia.
Dia ternganga mendapati apa yang terjadi pada dirinya. Dia membaca dengan seksama penyakit seperti apa itu. Kesuburan dirinya ternyata sangat rendah dan tidak memungkinkan mempunyai anak dengan jalur alami.
Brian terjatuh, berlutut di tempatnya. "Ke-kenapa.."
"Kenapa?" Zaira menghapus air matanya. Lalu tersenyum sinis. "Kenapa kau bilang? Memangnya kau tidak sadar dengan ucapanmu selama ini? Kau selalu mengira akulah yang tidak bisa punya anak. Kau ingat, saat aku ingin mengatakan hasilnya? Belum lidah ini berbicara, dengan bodohnya kau menyabarkanku, memelukku, menganggap seolah-olah akulah yang tidak bisa punya anak! Aku menutupinya karena aku tidak ingin kau kecewa pada dirimu sendiri dan akupun berpikir kau tidak akan meninggalkanku hanya karena ini! Sekarang kau harus tahu, Brian. Kau harus tahu, seperti apa dirimu sebenarnya." Zaira panjang lebar berteriak pada Brian yang sudah tidak bertenaga.
Dia mengeluarkan isi hatinya yang dari dulu sengaja ia simpan demi suaminya. Tapi apa yang Brian lakukan sekarang membuatnya sangat muak. Zaira keluar dari sana, dia meninggalkan Brian dengan segala keterpurukannya.
Sesuatu yang besar telah menimpa Brian. Dia membeku di tempatnya. Napasnya tertahan menerima kenyataan pahit yang selama ini ditutup rapat oleh istrinya. Dia sesak, seakan tidak bisa menangkap oksigen dalam parunya. Hal buruk telah terjadi. Hal yang bahkan tidak diketahui dirinya terlebih Rinnada. Lalu, anak siapa yang dikandung wanita itu?
Bersambung.....
Hallo♡
Ada yang udah baca Syahdu?? Yuk dibaca. Dijamin bikin baper🥰🥰
__ADS_1