Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
End (2)


__ADS_3

Zaira mendapat kabar bahwa Papa Brian meninggal dunia, karena sakit yang ia tahan dari dulu.


Dengan segera dia mengemas barang dan berangkat ke kampung halaman Brian. Walau hubungannya sudah berakhir dengan Brian, tetapi tidak begitu dengan Papanya, Zaymusi sudah dianggap ayah oleh Wanita itu.


Baru kemarin dia ber-Video Call dengan mantan mertuanya itu, mengenalkan Yara padanya. Dengan senyum lebar dia menyapa anak Zaira yang tertidur. Tak lupa Zaira memohon maaf sesering mungkin, dia tetap takut hati ayah mertuanya terluka karena perceraiannya dengan Brian.


Lalu, mendapat kabar duka seperti ini membuatnya sangat sakit. Padahal, dia berniat membawa Yara padanya. Tetapi hal itu tidak sempat ia lakukan.


Brian berdiri di sebelah ayahnya yang sudah terbaring tanpa napas di atas ranjang, Perawat baru saja melepas infusnya.


Padahal tadi malam kondisinya sangat baik, bahkan dia memberi nasihat pada Brian yang telah gagal membina rumah tangga.


"Kau jangan terus sendirian. Setelah ini, carilah pendamping. Walau bersalah pada yang lalu, bukan berarti kau dilarang menikah. Hanya saja, kau harus berubah menjadi lebih baik". Ucap Zaymusi sambil melahap buah yang Brian potongkan untuknya.


Zaymusi tidak ingin jauh-jauh, dia lebih memilih rumah sakit yang terdekat supaya dia bisa dikuburkan dekat dengan makam istrinya yang sudah ia minta untuk dikosongkan. Entah mengapa, dia seperti tahu waktunya sudah tak lama.


Dia menepuk bahu anaknya yang tertunduk. "Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Bangkitlah. Kau memang harus terpuruk karena menyakiti Zaira, tetapi bukan berarti kau berhenti disana."


Ucapan Papanya ia simpan dalam ingatan. Kini dia menangis tersedu, sudah tidak ada lagi yang menemaninya.


Zayra, sebulan bulan lalu sudah resmi bercerai dengannya. Dia memilih tinggal di kota lamanya, lalu sekarang ayahnya pula ikut menyusul ibunya, membuat hatinya yang belum benar-benar sembuh harus tergores luka baru lagi.


Brian meminta untuk segera menguburkan Zaymusi di sebelah makam ibunya, sesuai permintaan papanya itu.


Zaira baru sampai di pemakaman, dia terlambat datang karena jarak yang jauh. Padahal dia ingin sekali melihat mertuanya untuk yang terakhir kali.


Dia melihat Brian masih terisak di dekat pusara Zaymusi. Tempat itu hampir sepi karena orang-orang yang mulai meninggalkan tempat itu.


"Mas.."


Zaira menghampiri, Brian tidak menoleh walau tahu dengan jelas suara siapa yang memanggil.


Zaira menyentuh bahunya, dia juga sedih atas berpulangnya mertuanya, tentu dia paham perasaan Brian.


Brian menoleh, wajahnya sudah basah, matanya sembab.


"Kau datang?" Ucapnya pada Zaira dengan suara yang hampir habis.


Zaira mengangguk.


Brian langsung memeluk Zaira.


Wanita itu dengan tenang menepuk-nepuk punggung Brian dengan lembut. Dia juga ikut menangis saat Brian benar-benar terisak dalam pelukannya. Kali ini, Zaira membiarkan saja itu terjadi.


"Maafkan aku.." bisik Brian di tengah isakannya. Rasa bersalah, sedih, dan kehilangan bercampur dalam hatinya.


"Aku benar-benar sendirian". Gumamnya dengan suara lirih. Zaira tak menyahut, dia hanya mengelus lembut punggung Brian, lelaki yang tengah mengalami masa-masa sulit dalam dirinya, kini benar-benar paham akan arti pendamping yang seharusnya ada dalam keadaan suka maupun duka. Zaira, walau bukan istrinya lagi, walau sudah ia sakiti berkali-kali, masih ada disampingnya bahkan disaat duka sekalipun.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


3 tahun kemudian....

__ADS_1


Zaira bersiap, dia sudah mengenakan Dress hitam terbaik dengan high heelsnya. Dia berjalan di tengah keramaian, tak sedikit yang meliriknya berjalan dengan santai di dalam gedung pernikahan.


Senyum Zaira mengembang saat melihat Hani dan Revi di ujung ruang yang tengah berjalan menuju ke arah Zaira.


"Kau cantik sekali". Puji Revi dan Hani berbarengan.


Hani tengah menggendong anaknya yang berusia satu tahun, anak perempuan yang ia beri nama Ghisa, sesuai dengan wajah anaknya yang amat imut.


"Mama" Yara memanggilnya dari belakang.


Gadis kecil itu tengan berjalan cepat menuju Zaira sambil memegang balon.


"Sayang, ini dari siapa?"


"Om dicana yang tasih.." Ucap Yara dengan polos. Gadis kecil itu kini tumbuh dengan sangat cantik, bahkan tak sedikit yang mengatakan mereka mirip.


Zaira melihat kesetiap sudut, mencari Mbok Inah yang seharusnya menjaga Yara.


"Hei, pengantin sudah datang.." Ujar Revi antusias.


Andre dengan gagah berdiri dengan menggandeng seorang wanita cantik dengan balutan gaun putih. Tepuk tangan memenuhi isi ruangan. Andre dan Yuna terlihat sangat bahagia.


"Zaira.."


Zaira menoleh, melihat ke seorang laki-laki dengan jas hitam dan kacamata, berdiri dengan tegap di hadapannya.


"Om baik.." Celoteh Yara tiba-tiba. "Mama, ini om yang tasih Ara bayon"


Zaira tersenyum, mengulurkan tangannya pada orang di depannya.


Brian menyambutnya dengan senyuman. Sudah tiga tahun lamanya mereka tidak bertemu dan Brian melihat mantan istrinya masih sangat menawan.


"Baik.."


Brian menunduk, melihat Yara yang sejak tadi tersenyum padanya.


"Pasti kau baik-baik saja". Ucapnya pada Zaira.


Wanita itu hanya tersenyum lebar. Sudah tidak ada dendam dihatinya. Baginya Brian sangat memberinya pelajaran tentang hidup tanpa kesepian. Zaira benar-benar menikmati hidupnya.


"Kak Brian, apa sudah menikah?" Tanya Revi tiba-tiba.


"Tidak.., maksudku, belum".


"Wah, berarti ada rencana menikah?"


"Tentu saja, ada". Jawabnya dengan santai sebab dia mengingat perkataan ayahnya yang tidak boleh terus menyendiri.


"Om baik, teman mama?" Tanya Yara dengan polos.


Brian berjongkok menghadap gadis cilik itu.

__ADS_1


"Benar. Om adalah teman mama kamu. Siapa nama kamu, gadis cilik?"


"Ala". Jawabnya dengan wajah imutnya.


"Wah, cantik sekali. Apa artinya?"


"Tupu-tupu tecil.."


Mereka semua tertawa mendengar jawaban lucu Yara.


"Gadis pintar." Brian mengusap kepala Yara dengan lembut.


Brian lalu berdiri dengan tegak. "Baiklah, aku kesana dulu". Ucapnya menunjuk ke arah Andre di pelaminan.


Dia melangkah pergi, Zaira melihat punggung lelaki yang dulu menjadi suaminya. Terlihat wajahnya yang lelah entah karena apa, lelaki itu tampak tidak baik-baik saja.


"Dokter, lihat apa?"


Zaira menoleh ke sumber suara. "Sivia? Katanya tidak datang.."


Sivia tertawa. "Dosenku tidak datang, dokter. Aku kan, juga ingin datang ke pesta." Sahutnya dengan riang.


"Yaraaa". Sivia menggendong Yara.


"Tante, dali mana.." tanya Yara dengan lucunya.


Zaira tersenyum, kehidupannya kini jauh lebih baik semenjak Yara hadir dalam hidupnya, juga Sivia yang sudah mulai berani melawan duka dalam dirinya.


Kini dia melanjutkan sekolahnya, Revi yang membantunya. Revi meminta Sivia melanjutkan pendidikannya dan Revi mengusulkan untuknya menjadi dokter jiwa sama sepertinya.


Sivia, dia tidak memberitahu nama lamanya. Baginya itu masa lalu dan dia menyukai nama pemberian Revi.


Zaira lalu menoleh lagi pada Brian. Lelaki itu tengah berbincang santai dengan temannya.


Zaira menutup matanya, menghirup udara yang sesak karena keramaian namun terlihat seperti udara segar baginya.


Ya, seperti itu hidupnya sekarang. Walau tanpa pendamping, Zaira benar-benar menikmati kebahagiaannya di tengah-tengah orang tersayangnya. Sampai kapanpun, dia takkan menyesali keputusan yang dulu sempat membuatnya terpuruk. Kini, dia jauh lebih baik.


...*** Season 1 Selesai ***...


**Halo, Terima kasih banyak ya yang sudah mendukung Author. Akhirnya Author menyelesaikan Season pertama ini.


Mohon maaf atas segala kekurangan, ya🥲. Semoga Sehat selalu, dan terus ikuti cerita Author yang lain ya... JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR🥰🥰🥰🥰🥰**


Cerita lain dari Author:


"Sang Penakluk Takluk"


"Menikahi Lelaki Tunanetra"


TERIMAKASIH BANYAK-BANYAK. KALIAN SANGAT MENYEMANGATI AUTHOR YANG KADANG TIDAK BERSEMANGAT.

__ADS_1


SEMOGA ALLAH MELIMPAHKAN REZEKI BUAT PARA PEMBACA SETIA AUTHOR🤍🤍🤍🤍


*D**ITUNGGU SEASON 2 NYA YAAAA*...


__ADS_2