Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Rencana Brian


__ADS_3

Brian baru memasuki kantornya. Dia sedikit semangat dengan ucapan Zaira yang akan pulang ke rumah hari ini.


Dia melirik jam. Ah, lambat sekali waktu berputar. Butuh sekitar enam jam lagi menjelang malam untuk melihat Zaira berada dirumah.


Pintu ruangannya terbuka tanpa diketuk. Rinnada muncul dari sana dengan membawa sebuah bingkisan.


"Kak, aku datang membawakanmu bekal makan siang. Aku tahu kau tidak makan dengan benar belakangan ini". Rinnada meletakkan bingkisan itu di atas meja kerja Brian.


Brian duduk di sofa. Dia melihat Rinnada yang ikut duduk disebelahnya.


"Kak, kenapa tidak mengangkat teleponku?" Tanyanya dengan hati-hati. Dia belum merasa mendapatkan hati Brian sepenuhnya.


"Aku sibuk, Rin." Jawabnya singkat dan padat. Dia enggan terlalu banyak bicara. Karena Rinnada selalu bisa membuat pikirannya berubah sesaat.


"Begitu, ya." Ucapnya dengan sedih sambil mengusap perutnya.


"Kak, apa kau mau ikut untuk cek kandungan?"


Brian diam dan menatap perut Rinanda yang masih rata.


"Aku banyak urusan yang belum terselesaikan." Kata Brian sambil menyandarkan punggungnya.


"Baiklah, aku mengerti."


"Kau jangan menghubungiku dulu. Karena Zaira masih mau menerimaku. Jadi, jangan sampai karenamu Zaira membenciku lagi. Aku sedang senang, Rin. Kau mengerti, kan?" Ucap Brian dengan garis senyum yang samar. Dia tidak ingin hubungannya dengan Zaira kandas lagi. Zaira mau menerimanya lagi saja, sudah sangat membuatnya bahagia. Bagaimana pun, kehilangan Zaira beberapa hari membuatnya sangat sedih.


Rinnada terdiam sejenak. Dia tidak menyangka dokter itu masih mau menerima suaminya yang telah mengkhianatinya berkali-kali.


"Kak, lalu aku..."


"Bukankah kau yang bilang, kalau aku tidak perlu bertanggung jawab?" Brian menaikkan alisnya. Mencoba membuat Rinanda tersadar dengan ucapannya dulu.


Rinnada menahan napasnya. Dia memang ingat telah mengatakan itu, tetapi tidak sampai berpikir kalau dokter itu masih mau menerima Brian.


"Benar. Tapi ini anakmu. Dan bundaku, dia sudah tahu kalau aku hamil anakmu". Ucap Rinnada. Dia mencoba lagi mencari cara supaya Brian memilih hidup bersamanya.


Brian tampak diam. Ibunda Rinnada adalah pimpinan rumah sakit tempat Zaira bekerja. Jika dia tidak bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan kepada putrinya, akankah pekerjaan Zaira terganggu?


Brian mengumpat dalam hatinya. Dia tidak berpikir sampai sana.

__ADS_1


"Katakan pada Bundamu seperti apa yang kau katakan padaku. Kalau kau yang mengatakan, dia pasti akan menurutimu". Brian mencoba bernegosiasi pada Rinnada. Supaya tidak ada yang dirugikan pada masalah ini.


"Kau pasti tahu Bunda, kak. Dia perempuan yang tidak ingin anaknya dirugikan". Ucap Rinnada dengan tenang. Padahal dalam hatinya sudah bergejolak amarah.


"Bundamu pasti tidak akan membiarkan kalau sampai ada gosip yang menyebar, anaknya berselingkuh dengan suami dari salah satu dokter terbaik di rumah sakit itu."


Rinnada membelalakkan matanya saat mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Brian. Tidak disangka, laki-laki ini membuat Rinanda seperti lawannya.


"Baiklah, kak. Aku mengerti. Kau bisa mengunjungiku saja jika kau merindukan anakmu".


"Bagaimana kalau... aku yang mengadopsi anak itu".


"Apa?"


"Zaira dan aku berencana mengadopsi seorang anak dari wanita yang sedang dalam ganguan jiwa. Dari pada itu, bukankah lebih baik kalau aku merawat sendiri darah dagingku?" Ucap Brian kemudian. Dia sudah mencoba memikirkan hal itu jauh-jauh hari. Jika hati Zaira sudah lebih baik, dia akan membujuknya untuk merawat anak yang akan dilahirkan Rinnada.


Rinnada mengerutkan dahinya. Tidak disangka, Brian sampai memikirkan hal itu demi tetap bersama Zaira.


"Kau..."


Rinnada kehilangan kata-katanya. Bagaimana pun, sekarang dirinya telah kalah dari Zaira.


Rinnada membuang napasnya dengan kasar. "Aku tidak mau memberikan anak ini untuk istrimu itu. Tidak. Dan tidak akan pernah." Rinnada berdiri dan langsung pergi tanpa pamit. Perkataan Brian membuatnya terlihat menyedihkan.


Tidak ada jalan lain. Rinnada menuju rumah sakit, menemui Bundanya.


...*****...


Zaira berdiri di depan ruangan dokter Winda. Setelah mengoperasi pasien, seorang perawat mengatakan padanya kalau dokter Winda memintanya untuk keruangannya setelah operasi selesai.


Entah mengapa Zaira tahu maksud dokter Winda memanggil dirinya.


Zaira mengetuk pintu, lalu masuk ke dalamnya. Winda mempersilakan Zaira duduk di sofa.


Winda tadi menelepon Rinnada untuk menanyakan perihal tanggung jawab Brian pada putrinya. Lalu siapa sangka, putrinya tengah menangis tersedu. Walau tak mengatakan apapun, Winda tahu apa yang terjadi disana.


"Dokter Zaira, maaf karena mengganggu waktunya". Ucap Winda membuka percakapan.


"Tidak apa, dokter."

__ADS_1


"Langsung saja. Saya tahu, anda pasti sudah mendengar kabar. Apa yang terjadi antara anak saya dan juga suami anda pada beberapa tahun silam."


Masa lalu sialan mereka itu, apakah aku harus mendengarnya lagi? Batin Zaira.


Dia hanya diam. Tidak menjawab apa yang dikatakan dokter Winda.


"Brian menjanjikannya banyak hal. Lalu tiba-tiba, Brian menghilang. Setelah beberapa tahun Rinnada mencarinya, ternyata Brian sudah menikah".


Bukankah kau yang melarang mereka menikah dulu? Ingin sekali Zaira mengatakan itu. Tetapi dia lebih memilih membungkam mulutnya.


"Lalu sekarang, Brian dan Rinnada malah membuat hubungan yang sangat terlarang. Sampai akhirnya, Rinnada hamil. Hamil anak Brian". Winda melihat wajah Zaira yang tidak berekspresi. Dia terlalu letih untuk menunjukkan gurat kesedihannya. Terlebih pada orang tua Rinnada.


"Jadi, sebagai Ibu..."


"Saya paham." Zaira langsung memotong kalimat Winda. Supaya cepat selesai dan dia bisa keluar dari ruangan ini.


"Dokter Zaira, saya tahu anda orang yang berpendidikan tinggi. Anda pasti sangat mengerti posisi saya. Saya juga sangat kecewa pada putri saya. Walau begitu, saya juga tidak tega melihatnya jika harus menggugurkan kandungannya, karena dia sangat bahagia sekarang".


"Lagi pula, Brianlah yang paling bahagia atas hamilnya Rinnada. Karena dia memang menginginkan seorang anak".


Zaira menarik napasnya. Ucapan dokter Winda terlalu berbelit.


"Saya tahu. Tujuan dokter meminta saya kemari adalah untuk melepas Brian dan menikahkannya dengan putri anda. Benar demikian?"


Winda sejenak terdiam. Dia tahu Zaira sedang menahan tangisnya.


"Saya meminta maaf atas nama Rinnada. Saya mengakui kesalahannya. Saya akan memberikan anda sesuatu atas..."


"Tidak. Tidak perlu sampai seperti itu. Saya tidak mau menerima apa-apa terlebih dari anda dan putri anda. Itu seperti saya menukarkan Brian dengan harta anda. Padahal, saya akan memberikan bekas suami saya pada putri anda secara cuma-cuma".


Zaira memberanikan dirinya mengeluarkan perkataan yang sedikit kurang ajar. Sebab Winda sendiri secara tidak langsung mengatakan kalau Zaira sulit mengandung.


Demikian, Zaira mengakhiri pembicarannya dengan Winda. Dia pamit dan keluar dari ruangan itu.


Bersambung.....


Hallo♡


Terima kasih ya sudah mendukung Author dengan Like, Komen, Vote, dan Hadiahnya💐

__ADS_1


Jangan lupa baca cerita Author "Sang Penakluk yang Takluk" 🙈


__ADS_2