
Brian duduk di sebuah bangku panjang tengah kota. Dia menatap ke atas langit yang hampir tertutupi dedaunan dari pohon-pohon yang rindang.
Brian menghisap rokoknya, menghembuskan gumpalan asap yang keluar dari mulutnya dengan perlahan. Melihat gumpalan asap itu yang perlahan menghilang di atas kepalanya.
"Sialan! Kau semakin tua, semakin rusak".
Brian tidak menoleh, dia kenal betul suara itu.
"Kau merokok sekarang, ha?"
Brian menatap batang rokok di tangannya, "sesekali.." jawabnya singkat.
"Ada apa? Kau menggangguku, kau tahukan, malam tadi adalah malam pertamaku". Gerutunya pada Brian yang memgharuskannya bangun pagi.
Brian memadamkan rokoknya dengan kaki, dia menatap Andre dengan serius.
"Aku hampir mencium Zaira tadi malam".
Andre membulatkan matanya. "Serius?"
Brian menggeleng, "Aku mabuk, jadi aku melakukan itu tanpa sadar."
"Kau tahu, dalam tiga tahun ini pun bukan hal yang mudah untuknya. Walau terlihat jauh lebih baik, dibalik itu dia sudah melewati hal yang paling menyiksa batinnya".
Brian menunduk, dia tahu betul apa perbuatannya dulu, Hanya saja kadang dia tidak bisa benar-benar menerima keputusan Zaira. Karena dia bahkan tidak menyentuh Dinnara.
"Aku ingin minta maaf padanya. Tapi aku tidak punya alamat atau nomornya".
"Aku tidak bisa memberitahumu. Kau tahu, kan. Aku sudah berjanji padanya".
Brian membuang napasnya dengan kasar. "Lalu aku harus bagaimana?"
"Lupakan saja, Zaira juga pasti tidak peduli. Kau pulang malam ini?"
"Aku belum tahu."
Brian menyandarkan punggungnya, dia memang sudah membeli tiket pesawat untuk keberangkatan Malam ini. Tapi saat bersama Zaira tadi malam, membuatnya berharap mantan istrinya itu mengampuninya. Beberapa tahun ini sudah benar-benar menyiksanya.
Pada saat di pemakaman papa Brian, Zaira tidak menolak pelukan Brian. Wanita itu bahkan ikut mengusap punggungnya, Brian pikir, dia sudah dimaafkan dan Zaira membatalkan gugatan. Tapi sayang, Zaira benar-benar pergi tanpa menoleh lagi ke belakang, bahkan mengatakan hal yang membuat harapan Brian sirna.
"Ku mohon, tetaplah disini.." Brian memeluknya dengan erat, saat orang-orang sudah meninggalkan pemakaman saat itu.
Zaira melepaskan pelukannya, matanya memerah karena menangis sepanjang perjalanannya di pesawat.
"Aku sendirian sekarang, Ra. Aku benar-benar hancur". Brian menggenggam tangan Zaira, dia berharap di depan makam papanya, Zaira mau merubah pikirannya.
"Akupun sendirian, mas." Lirihnya tanpa menatap Brian. Dia menunduk memandang genggaman tangan Brian.
__ADS_1
"Maka dari itu, Ra, kita harus bersama. Aku akan berubah, aku janji. Beberapa bulan ini sudah sangat menyiksaku".
"Aku tidak bisa lagi".
Brian berlutut, dia mendongak menatap Zaira. "Aku akan menjadi apapun yang kau mau, Ra. Aku tersiksa tanpamu. Aku menyadari betapa aku mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu bahkan melebihi perasaanku pada Rinnada dulu." Brian meneteskan air mata, hatinya sangat hampa dan harapan besar timbul disana.
"Berdirilah, dengarkan aku."
Brian menurut, dia berdiri.
"Lihat aku, aku akan mengatakan ini sekali saja." Zaira menarik napas perlahan. "Apa yang terjadi belakangan sangat menyakiti perasaanku." Zaira mengatakan kalimatnya dengan perlahan supaya Brian benar-benar mengerti apa yang ia rasakan.
"Kau tahu betapa aku setia kepadamu, bahkan aku tidak ingin berbicara hal tak penting dengan laki-laki lain. Aku melindungimu, aku menaruh harapan besarku padamu, mas. Tapi apa.." Zaira menahan kalimatnya, dia mulai sesak sementara air mata terus mengalir..
"Tapi apa yang lakukan.. kau malah menyiksaku dengan pilihan dan ucapanmu. Kau mengatakan kalimat yang menyakiti perasaanku, aku berperang dengan pikiranku supaya tetap bisa memaafkanmu selama itu. Hal yang paling membuatku sakit adalah harapanku, mas. Harapan yang begitu besar padamu. Tapi karena kau tidak menjaga hatiku, kau melukaiku, harapan itu ikut hancur. Kau yang menghancurkannya.."
"Jadi, ku mohon padamu, aku sangat memohon, jangan kembali, jangan datang lagi padaku. Tolong, jangan muncul dihadapanku".
Zaira menghapus air matanya, dia pergi meninggalkan Brian yang terdiam dengan air matanya. Bagi Zaira, apa yang dilakukan Brian, dia harus menerima ganjarannya walau itu juga menyakitinya.
Dia hanya ingin menyembuhkan perasaannya tanpa Brian. Karena percuma, Brian kembali pun, bekas uka yang pernah Brian lakukan padanya akan terus ia ingat, sampai kapanpun. Karena Zaira sendiri bahkan belum benar-benar ikhlas atas apa yang saat ini terjadi pada dirinya.
****
"Non, kali ini Mbok tidak ikut, ya?" Mbok Inah berdiri menghadap majikannya yang sudah bersiap pergi jalan-jalan dengan Yara.
"Lho, kenapa, Mbok?"
Zaira melihat wajah Mbok Inah yang memang agak pucat. "Ya sudah Mbok, ada obat pusing, kan?"
Mbok Inah mengangguk.
"Jangan kerja, istirahat saja. Kami pergi dulu, ya". Zaira menggandeng tangan Yara.
"Dada, Mbok". Ucap Yara melambaikan tangannya pada Mbok Inah.
"Pakai seatbelt, sayang." Zaira membantu Yara memakai seatbelt-nya.
"Ma, kita mau kemana?"
"Hmm, Ara mau kemana?"
Yara nampak berpikir. "Ala mau makan eskim, ma.."
"Itu saja? Oke, kita ke taman, bagaimana?"
"Yee.." sorak Yara di dalam mobil membuat Zaira semakin semangat.
__ADS_1
Mereka pun berangkat, menuju lokasi yang sering mereka kunjungi di tengah kota.
Zaira menghentikan mobilnya, lalu membawa Yara turun dan bermain di taman kecil.
Gadis mungil itu sudah mendapatkan teman, dia bermain sambil melambaikan tangannya pada Zaira yang berdiri memperhatikannya.
"Zaira Bastany?" Seorang laki-laki menyapanya.
Zaira menoleh, mengerutkan alis saat ingatannya tak mengenal sosok di depannya tetapi malah mengetahui nama panjang dirinya.
"Benarkan? Kau, Zaira? Ya ampun, semakin cantik saja. Bagaimana kabarmu?" Sapanya pada Zaira yang terlihat linglung.
"Maaf, kamu..."
"Aku Gio. Astaga, bisa-bisanya kau lupa!"
"Oh?" Zaira membulatkan matanya. Bisa-bisanya dia melupakan wajah mantan pacarnya dulu sebelum menikah dengan Brian. "Gio?"
"Iya, aku Gio. Kau ini, aku tersinggung Lho kau lupa padaku". Ucapnya sedikit kecewa.
Bagaimana tidak tahu? Kalau Gio sudah berubah bahkan postur tubuhnya juga sudah sangat bagus.
Kalau dulu saat berpacaran dengan Zaira, Gio sedikit gemuk dan perutnya membuncit, wajahnya bersih tanpa bulu. Sedangkan sekarang, dia atletis dan ada bulu halus disekitar wajahnya.
"Maaf ya, Gio. Aku benar-benar tidak tanda, kau berubah sekali."
"Benarkah? Justru wajahmu tidak berubah, Ra. Bahkan kau lebih cantik seperti tidak nambah umur". Ucap Gio lalu tergelak.
"Makasih, lho. Oh ya, sama siapa kemari?"
Gio menunjuk seorang anak laki-laki yang tengah main perosotan.
"Anakmu?"
"Dua kali, Zaira. Pertama, kau tidak mengenalku. kedua, kau tidak tahu aku belum menikah?"
Zaira menutup mulutnya. "Maafkan aku.." Ucapnya lalu tergelak.
"Itu keponakanku. Karena ini libur, dia merengek memintaku menemaninya kemari. Kalau kau?"
Zaira menunjuk gadis kecilnya. "Anakku" ucapnya dengan penuh senyuman.
"Cantik sekali, seperti ibunya". Puji Gio dan Zaira hanya tertawa.
"Oh ya, bukannya kau dulu sempat pindah keluar kota?" Tanya Zaira.
"Ya, aku baru pindah satu bulan lalu." Jawabnya.
__ADS_1
Gio dan Zaira bertemu saat menjalani koas di rumah sakit yang sama. Gio adalah dokter khusus jantung, sementara Zaira dokter bedah thoraks. Itulah yang membuat mereka sering bertemu.
Gio merupakan sosok yang lucu dan menyenangkan di mata Zaira. Dia juga penyayang, oleh sebab itu Zaira menerimanya. Mereka berpacaran cukup lama, sampai 2 tahun. Lalu karena menjalani hubungan jarak jauh, mereka sama-sama memutuskan berpisah dan selama 10 tahun tidak bertemu. Bahkan Gio tidak datang saat Zaira mengundangnya kepernikahannya dulu dengan Brian.