Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Depresi (1)


__ADS_3

Zaira menangis tersedu-sedu. Hati patah yang selama ini ia sembunyikan mulai terasa. Melihat Brian tak berdaya seperti tadi membuatnya sangat sedih. Tetapi perilaku Brian justru membuatnya benci. Apalagi wanita itu terus ada di dekat Brian bahkan entah bagaimana dia tahu Brian kecelakaan.


Zaira lalu memperhatikan barang-barang Brian yang tergeletak di atas mejanya. Mulai dari ponsel, jam tangan yang ia hadiahkan saat ulang tahun Brian, dompet, dan sebuah surat?


Zaira membuka surat itu lalu membacanya dengan tenang. Pelan-pelan menelaah kata demi kata yang tertulis disana dan itu berhasil membuat Zaira membelalakkan matanya. "Ini benar Rinnada?"


Zaira lalu menelepon Andre yang ternyata sudah di depan rumah sakit, dia mendapat kabar dari Hani.


Tak lama, lelaki itu sampai di ruangan Zaira dan ia menyerahkan surat itu.


"Ternyata, ini benar surat dari Rinnada, ya". Tutur Andre setelah membacanya.


Zaira mengangguk setelah yakin ia tak salah mendengar apa yang dokter Winda panggil pada anaknya.


"Kalau begitu, makam yang kutemui adalah milik Rinnada. Aku sudah duga, dia takkan mau berbuat sejauh ini. Justru Dinnaralah yang takkan segan melakukan hal semacam ini semua. Artinya benar bahwa Dinnara pernah bertahun-tahun di rumah sakit jiwa berdasarkan info yang kudapat". Andre meyakinkan pendapatnya selama ini saat mendapat surat dari Rinnada.


"Sayangnya, surat ini datang terlambat". Andre melipat lagi surat itu.


"Rinnada benar-benar sudah mewanti hal ini terjadi." Ucap Zaira lirih. Suaranya hampir habis setelah menangis hingga membuat dadanya sesak.


"Benar. Artinya dia menunggu Brian datang kerumah sakitnya waktu itu, padahal akulah yang memaksa Brian untuk datang ke kota ini." Raut wajah Andre sedih mengingat kejadian dulu.


"Apa kakak mau melihat mas Brian? Dia belum bisa dijenguk".


"Tidak mengapa. Aku akan datang lagi nanti. Kau istirahatlah." Ucap Andre lalu melangkah keluar ruangan.


Zaira menuju ruangan tempat Brian dirawat. Dia masuk dan melihat Brian dengan banyak alat di dadanya untuk mendeteksi jantungnya yang lemah.


Zaira duduk di sebelah. Dia menggenggam tangan suaminya lalu menangis lagi. Tidak bisa dipungkiri, Zaira masih sangat menyayangi Brian hingga dia mampu menutupi kekurangan suaminya, dan rela menanggung beban ucapan orang-orang yang dengan enteng mengejek dirinya tak mampu mengandung. Dia sungguh tidak mengapa karena Brian lelaki yang tetap hangat walau tahu Zaira tidak bisa hamil.


Zaira menangkup tangan Brian di pipinya yang basah.


Wanita itu mengeluarkan semua air matanya. Tidak ada yang tahu, hanya suara rekam jantung di sebelah Brian yang berbunyi menandakan jantung Brian masih berdenyut seperti biasanya.


"Kau tahu mas, aku sangat mencintaimu". Dia terisak mengingat awal-awal pernikahannya dengan Brian yang super romantis, pria itu mampu membuka hati Zaira dengan mudah.


"Kau mampu membuatku melakukan hal yang kau sendiri tidak sangka, kan?".


Zaira mengusap kepala suaminya. "Maafkan aku masih banyak kekurangan untukmu. Aku berharap kau sembuh dan sehat, berjalan ke depan dan jangan lagi menatap masa lalu. Kau harus sembuh". Ucapnya lalu dengan perlahan meletakkan tangan Brian. Zaira menghapus air matanya, dan beranjak keluar dari sana.


Dia sudah menyerahkan Brian pada dokter lain yang akan menangani, karena dirinya tidak mampu lagi menghadapi Brian saat ini.


...*****...

__ADS_1


Dinnara berjalan kesana kemari. Dia gelisah karena belum mendapat kabar dari rumah sakit tentang keadaan Brian.


"Bunda, bagaimana?" Tanyanya saat Winda masuk ke ruangannya.


Winda duduk dengan tenang. "Aku tak khawatir jika yang menanganinya adalah Zaira."


Dinnara duduk dan menatap Bundanya. "Jadi dia selamat? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"


"Lumayan baik". Jawabnya tanpa memperdulikan wajah cemas anaknya.


"Ah aku tidak puas kalau tidak melihat sendiri". Dinnara bangkit dan berjalan keluar, tetapi tangannya ditahan Winda.


"Jangan keluar. Tetap disini."


"Aku ingin lihat, Bunda. Aku tidak tenang!" Pekiknya pada Winda.


"Jangan. Tetap disini. Apa kau lupa dengan janjimu?"


Dinnara berdecak. Dia langsung duduk di sofa. "Kenapa dokter itu bahkan tidak mau datang!" Gerutunya kesal.


"Pulanglah. Dan jangan datang kemari lagi. Biarkan Zaira merawat Brian sampai sembuh. Biarkan mereka memulai lagi kisah mereka".


"Apa? Aku tidak bisa. Melihatnya seperti itu saja aku hampir mati, Bunda. Mana mungkin aku bisa kehilangan dia!" Bentaknya lagi.


Winda memijit dahinya. Anaknya benar-benar sudah kelewatan.


"Bunda! Kenapa dari tadi memanggilku Dinnara Dinnara Dinnara! Sudah kukatakan berkali-kali, Dinnara sudah mati!" Jeritnya dengan amarah.


Winda menghela napas. Dia sudah menyerah dengan Dinnara.


"Kau bukan Rinnada. Dia sudah meninggal. Kau adalah Dinnara, anak perempuanku satu-satunya. Kaupun sadar itu".


Dinnara mengerutkan alis dengan kesal. "Brian membenci Dinnara, jadi jangan panggil aku dengan nama itu!" Sentaknya lalu keluar ruangan.


Dia menuju ruangan Brian. Wanita itu membuka pintu tetapi langkahnya terhenti karena Andre menahan lengannya.


"Kau dilarang masuk".


Dinnara menatap dengan kesal.


"Menyingkir!"


"Kau tidak bisa masuk, Dinnara. Keluar dan jangan pernah datang kemari".

__ADS_1


"Aku bukan Dinnara!" Bentaknya pada Andre membuat beberapa perawat yang lewat memperhatikan.


"Dinnara, sampai bumi terbelah menjadi sepuluh pun, kau takkan bisa merubah tabiatmu seperti Rinnada. Karena kalian, sangat berbeda".


"Diam kau! Dasar bajingan!" Teriaknya lagi dengan mata yang melotot tajam pada Andre. "Aku Rinnada, aku Rinnada! Kau yang tidak bisa membedakannya!


"Aku tahu kau iri dengan Rinnada, itu sebabnya kau selalu menirunya. Bukankah rambut aslimu berwarna coklat? lalu kau mengecatnya supaya terlihat mirip dengan Rinnada."


Andre menyeringai melihat ekspresi Dinnara yang terkejut karena Andre mengetahui itu.


"Walau bagaimana pun kau menirunya, Pada akhirnya, kau hanya melihat punggung Brian. Kau takkan mampu membuatnya berbalik padamu. Brian sangat membenci orang sepertimu. Dinnara, dia membencimu dengan seluruh napasnya."


Dinnara berang dengan emosi yang sudah di ujung. Wajahnya memerah dan matanya melotot. "Tidak! Aku Rinnada, dan Brian tidak pernah membenciku. Dialah yang mencintaiku. Justru dokter gila itu yang merebutnya dariku!" Jerit Dinnara yang membuat orang-orang sekitar menoleh.


Winda datang dan menyeret anaknya untuk masuk ke ruangannya.


"Bunda, dia menghinaku. Lepas, aku mau balas!" Teriaknya dan meronta supaya Winda melepas tangannya.


"Masuk!" Bentak Winda sampai anaknya benar-benar masuk ke dalam ruangannya.


"Bunda! Dia menghinaku, kenapa Bunda diam! Dia tidak tahu apa-apa dan ...."


PLAK!


Winda menampar pipi Dinnara dengan keras hingga mulut wanita itu bungkam.


"Ka-kau menamparku.." Dinnara memegang pipinya yang merah. Genangan air di matanya muncul.


"Kau mempermalukanku dihadapan semua orang!" Bentak Winda. "Kau membuatku tercoreng dari sekian lama aku membentuk karakterku disini! Kau seharusnya malu! Berteriak disana padahal kau adalah pencuri Suami orang!"


Dinnara menangis dan merapatkan rahangnya. "Bunda sudah tidak sayang padaku".


Dinnara keluar dan berlari entah kemana, karena Winda juga tidak mengejar anaknya. Membiarkannya saja asal dia keluar dari rumah sakit itu.


~


"Kak." Zaira menghampiri Andre saat mendengar ribut-ribut dari depan ruangan Brian. Dia sempat melihat dokter Winda menyeret anaknya. "Kenapa begitu padanya?"


"Aku sengaja, supaya membuatnya cepat diantar ke rumah sakit jiwa lagi". Ucapnya dengan santai.


Bersambung...


HALLO, JANGAN LUPA BACA CERITA BARU AUTHOR YANG BERJUDUL "MENIKAHI LELAKI TUNANETRA"

__ADS_1


jangan lupa klik favorit dan like ya! ^^



__ADS_2