
Zaira melepas high heelsnya dengan malas, membiarkannya tergeletak asal di atas lantai.
Dia menyandarkan tubuhnya di atas sofa, melirik jam di atas dinding. Sudah pukul 12 malam, dia baru saja pulang dari pesta Andre yang membuatnya mau tidak mau tetap disana. Untungnya, Mbok Inah sudah duluan pulang bersama Yara.
Zaira menghela napasnya, kepalanya sedikit pusing karena minuman tadi. Entah bagaimana dia bisa terjebak di acara penutup itu.
Dia lalu mengingat Brian, mantan suami yang sudah lama sekali ia tidak jumpai. Wajahnya semakin kusut, dia terlihat kurang merawat diri. Dimana dan apa pekerjaannya selama ini, Zaira tidak pernah tahu.
Zaira menatap ke depan. Mengingat ucapan Brian yang entah sadar atau tidak, dia mengucapkan kata-kata rindu, dan terdengar menggebu.
"Aku merindukanmu". Brian mengucapkan kalimat itu sambil memandang segelas anggur di tangannya. Seolah dia tidak berbicara pada Zaira yang langsung menoleh saat mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya.
Zaira memilih tidak mengatakan apapun, karena dia juga merindukan Brian, tetapi bukan sebagai orang yang ia sayangi, melainkan sebagai orang yang biasa selalu ia lihat wajahnya setiap hari.
"Kau hidup dengan baik, kau juga menjadi ibu yang tangguh." Brian menurunkan gelasnya, wajahnya berputar ke arah Zaira yang sejak tadi menatapnya.
Brian beralih melihat Andre dan Yuna disana. Suara musik yang mengalun sendu membuat beberapa pasangan tampak berdansa sambil berpelukan begitu juga pengantin baru itu, terlihat amat mesra dengan sesekali kecupan yang Andre layangkan di dahi istrinya.
Brian tersenyum miring melihat adegan itu, matanya menatap dengan nanar, dia sedikit mabuk, tetapi masih bisa melihat dengan jelas pasangan mesra disana, membuatnya teringat dengan pernikahannya dengan Zaira sepuluh tahun yang lalu. "Manis sekali". Ucapnya sambil tersenyum.
Brian beralih pandang, melihat Zaira yang masih menatapnya tanpa ekspresi.
"Aku tidak bisa menjalani hidupku dengan baik, Zaira. Aku terus memikirkanmu.." Brian menenggak minumannya hingga gelas itu kosong. Dia meracau dengan nada pelan, membuat Zaira samar-samar mendengar ucapannya.
"Aku tidak bisa melupakanmu, Zaira. Tidak bisa..."
"Jangan melihatku seperti itu, Ra.. kau membuatku terlihat menyedihkan."
Brian tersenyum, lalu mengelus lembut pipi Zaira. "Kau semakin cantik.." ucapnya dengan pelan. Dia melihat bibir Zaira, merapatkan wajahnya ke wajah wanita itu. Lelaki itu ingin mencium mantan istrinya, dia sangat merindukan wanita yang tenga ia sentuh pipinya.
Zaira membuang wajahnya saat bibir Brian semakin mendekat ke bibirnya, hampir saja dia berciuman dengan mantan suaminya.
__ADS_1
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Zaira beranjak dan pergi dari sana, meninggalkan Brian ditengah mabuknya. Lelaki itu kehilangan kesadarannya, membuatnya bertingkah diluar batas.
Zaira menangkup wajah dengan kedua tangan, mengingat kejadian tadi membuatnya semakin pusing. Dia beranjak, menuju kamar Yara.
Gadis kecil itu terlihat sangat imut disaat terlelap, Zaira sangat suka melihatnya sambil tertidur begitu. Menghilangkan sedikit beban di hatinya.
"Mimpi indah, sayang. I love you, so much.." bisiknya pada Yara yang terlalu nyenyak.
Zaira menuju kamarnya, dan mulai bebersih untuk segera merebahkan diri yang sudah sangat penat. Hari ini benar-benar melelahkan tubuhnya. Dia berharap dengan tertidur akan menyegarkan kembali tubuh dan pikirannya..
~
"Mama, bangun.." Yara mengguncangkan tubuh Zaira.
Zaira membuka sedikit matanya, mengulus rambut Yara, lalu meringkuk lagi. Matanya masih sangat berat.
"Mama, ayo salapan.." ajak gadis kecil itu sembari menepuk lembut lengan Zaira.
"Mama gak kelja?"
"Tidak, sayang. Ini minggu. Ara main sama simbok dulu, nanti mama bangun dan kita jalan-jalan, oke?" Tawarnya supaya Yara tidak mengganggunya tidur.
"Yee... Oke, Ma." Yara berlari keluar dari kamar Zaira dan mendengar itu, Zaira memejamkan lagi matanya, melanjutkan tidurnya.
Sementara di tempat lain, Brian, dia tengah berusaha membuka mata karena kebisingan alarmnya memekik di telinga.
Dia meraba sekitar meja sebelah ranjangnya, namun tidak juga mendapatkan benda kecil yang masih berdering kencang.
Tanpa membuka mata, Brian terus meraih benda-benda di sekitarnya hingga dia terjatuh dari tempat tidurnya.
"Argh!" Rintihnya. Dia dengan malas bangkit dan memadamkan suara bising itu.
__ADS_1
Brian naik ke tempat tidur dan mulai memejamkan matanya lagi. Namun dia tersadar saat ternyata dia masih memakai setelan jas yang ia pakai tadi malam.
Brian bangkit walau dengan kepala yang masih sedikit pusing. Dia melepas jasnya dan melempar dengan asal, melepas kaus kaki dan berbaring lagi.
Mata Brian melotot tiba-tiba saat dia mengingat sesuatu. Dia bangkit dan mencoba mengingat lagi kejadia tadi malam.
Dia ingat saat melihat Zaira yang tengah berdiri menatap orang-orang di depannya yang tengah berdansa dengan pasangan masing-masing. Mungkin Zaira juga tengah memikirkan kenangan masa lalunya.
Brian menghampirinya dengan membawa segelas anggur di tangannya.
Dia berdiri di sebelah Zaira. Tanpa wanita itu sadari Brian sudah menatapnya begitu lama, menikmati wajah mantan istrinya yang sudah sangat lama tidak ia lihat.
Brian meneguk anggur di tangannya, lalu kalimat yang memalukan keluar begitu saja dari mulutnya, dia menatap isi gelas lalu mengucapkan kata rindu, walau dia menyadari Zaira langsung menoleh dan terkejut ternyata mantan suaminya ada disampingnya.
Wanita itu tidak bergeming. Dia hanya memandang Brian yang di matanya mungkin sangat menyedihkan.
Racauan keluar dari mulut Brian saat memandang pasangan yang berdansa dengan mesra, membuatnya merindukan masa lalu bersama Zaira.
Brian menatap Zaira, sejak tadi wanita itu tidak beralih pandang dan terus manatap Brian, entah karena apa. Namun hal itu justru membuatnya semakin merindukan Zaira.
Brian mengelus lembut pipi Zaira yang terus menatapnya, membuatnya ingin sekali menciumnya, dia merindukan semua hal tentang Zaira.
Darah berdesir kencang di tubuh Brian, hingga membuatnya tak sadar mendekatkan wajahnya ke wajah Zaira. Merasa Wanita itu tidak menjauh, Brian semakin ingin menyentuhkan bibirnya ke bibir wanita itu, namun sayang, Zaira membuang wajahnya, menolak ciuman dari Brian.
"Aaarghhhh!!!" Brian menjambaki rambutnya, dia berdiri seperti orang frustrasi.
"Bodooohhh!!" Teriaknya sambil menghantuk-hantukkan kepalanya ke tembok, berusaha lenyap ke permukaan bumi karena rasa malu menyerap ke seluruh harga dirinya. Dia sepertinya sudah tidak memiliki keberanian untuk menghadapi Zaira, tingkahnya malam tadi membuatnya benar-benar ingin mati saja.
"Bagaimana ini??" Brian mengambil ponselnya, mencari nomor Zaira. Tangannya bersiap untuk menelepon dan meminta maaf, tetapi ia tidak punya nyali.
"Sial. Ini nomor lamanya" umpatnya saat menyadari Zaira sudah mengubah nomor ponselnya.
__ADS_1
Brian membuang ponselnya ke atas tempat tidur. Dia melirik jam dinding, masuk ke kamar mandi untuk bersiap menemui Zaira dan meminta maaf langsung, apapun ceritanya, dia tidak ingin mantan istrinya itu menganggapnya mempunyai perangai yang semakin memburuk.