
Zaira menahan isak tangisnya. Dia cepat-cepat menghapus air matanya.
"Panggil dokter Eka". Titah Zaira pada perawat itu.
"Dokter Eka sedang mengoperasi pasien satu lagi, dok. Kita harus cepat.."
Perawat itu terlihat gelisah dan bingung lantaran Zaira terlalu mengulur waktu.
"Bagaimana keadaan Brian?"
Suara yang Zaira kenali muncul. Wanita itu menoleh ke arah dalang yang membuatnya tak bisa berkutik sekarang.
"Pasien yang kecelakaan, dok? Kita akan mengoperasinya, dok. Tapi..." perawat itu melirik Zaira yang dengan dingin menatap ke arah Winda.
Dinnara terisak histeris saat melihat Brian yang tengah dipasangi berbagai macam alat dari balik kaca pintu.
"Tapi apa?" Tanya Winda panik.
"Tapi.. tidak ada dokter yang mengoperasinya". Jawabnya dengan ragu.
Mendengar itu, Dinnara semakin menjadi. Dia lalu menggenggam tangan Winda.
"Bunda, tolonglah. Tolong selamatkan Brian. Tolong, Bunda. Selamatkan dia". Jeritnya pada Winda yang tampak cemas melihat ke arah Zaira.
"A-apa ada dokter lain?" Tanyanya dengan gagap saat melihat Zaira menggenggam erat kertas yang ia tandai sebagai perintah pindah tugas darinya.
"Tidak ada, dokter."
"Tolonglah, Bunda. Jangan biarkan Brian mati". Raungnya pada Winda yang membisu.
Zaira memandang Dinnara dengan tatapan sendu. Wanita di depannya terisak memohon agar cintanya tidak mati. Perilakunya bahkan melebihi Zaira saat ini.
"Za-zaira.." Winda mulai menangis, dia bahkan tidak bisa melakukan apa-apa melihat putrinya sengsara.
"Hanya kau yang bisa melakukannya." Winda menatap Zaira dengan tatapan memohon.
"Anda juga dokter jantung, kan?" Ucap Zaira dengan suara parau. Dia menahan air mata yang hampir keluar.
"Bunda, Lakukanlah operasi, Bunda. Ku mohon, selamatkan Brian." Dinnara terduduk. Dia menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis sesegukan.
__ADS_1
"A-aku, sudah lama sekali tidak melakukan operasi." Winda meremas jarinya. Dirinya kini mulai melirik ke arah Zaira yang entah mengapa terlihat tenang.
"Zaira, ku mohon. Lakukanlah untuk suamimu". Lirihnya pada Zaira. Winda kemudian mendekat. "Aku percaya padamu, selamatkan Brian." Ucapnya mulai menangis.
"Dia suamimu, apa kau tidak kasihan padanya?" Pekik Dinnara pada Zaira. Air matanya tumpah membasahi wajahnya, membuat Zaira semakin membencinya.
"Kau harus mengoperasinya. Kau harus lihat sekarang nyawanya bahkan sudah di ujung!" Teriaknya lagi. Membuat beberapa orang dan perawat kebingungan dengan apa yang mereka lihat.
Zaira adalah istri dari korban, tetapi nampaknya dokter itu tidak mau melakukan operasi. Lalu, anak pimpinan rumah sakit sekarang teriak histeris, apakah menangisi Brian? Apakah terjadi sesuatu antara anak dokter Winda dan suami dokter Zaira hingga membuatnya enggan mengoperasi suaminya?
"Cepat tangani Brian! Kau akan menjadi dokter gila yang tidak mau mengoperasi pasien! Lihat Bunda, lihat! Pecat saja dokter sepertinya!" Pekik Dinnara lagi. Kini amarah mulai menguasai dirinya.
"Aku tidak bisa." Jawab Zaira singkat. Tatapannya kini tajam ke arah dokter Winda.
Jawaban Zaira membuat Dinnara murka.
"Kau wanita yang tidak punya hati!" Teriaknya hingga membuat Winda menutup mulut putrinya.
"Dinnara, tenanglah!"
Zaira memicingkan matanya saat mendengar nama lain yang disebutkan oleh Winda kepada anaknya.
Winda lalu menghampiri Zaira. "Lakukanlah operasi. Aku memohon padamu."
Winda lalu merampas kertas di tangan Zaira. "Ini, aku tahu ini yang membuatmu tidak bisa melakukannya" Katanya sambil menunjukkan surat itu lalu mengoyaknya menjadi beberapa bagian.
"Tidak ada surat pindah. Aku yang akan membatalkannya. Jadi, kumohon, bantulah Brian." Winda menunduk lagi dan lagi.
"Dokter, pasien..." Perawat mencoba mengingatkan bahwa ada pasien yang benar-benar harus ditangani.
Mendengar itu, Dinnara menghadap Zaira. Dia berlutut dan sesegukan.
"Kumohon, lakukanlah operasi. Demi keselamatan Brian. Maafkanlah kesalahanku. Aku yang bersalah. Aku yang menghancurkan kehidupannya, aku tidak hamil, Zaira. Aku berbohong. Kami bahkan tidak melakukan apa-apa. Dia laki-laki baik yang sangat mencintaimu. Aku akan pergi, Zaira. Aku akan meninggalkan Brian asal kau menyelamatkannya." Dinnara tertunduk, menangis tersedu-sedu.
Mendengar ucapannya saat ini, ingin sekali Zaira menendang dan menjambak rambutnya. Dia telah membuat rumah tangganya berantakan karena ulahnya yang mengaku ini itu terhadap dirinya.
Zaira tanpa berkata apa-apa bergerak ke ruang operasi diikuti beberapa perawat di belakangnya.
Zaira menangis saat membersihkan tangannya. Dia sendiri masih membenci Brian, apakah dia sanggup mengoperasi suaminya itu?
__ADS_1
Revi dan Hani yang menyaksikan pengakuan Dinnara merasa miris. Sudah begitu jauh perbuatannya hingga membuat rumah tangga sahabat mereka berantakan.
Dinnara pula terus menangis. Winda lalu mengangkat anaknya, membantunya duduk di bangku tunggu.
Winda merasa malu karena ternyata kejadian barusan dilihat banyak orang.
"Ayo, kita pergi". Winda menarik tangan Dinnara.
"Tidak, Bunda. Aku akan pergi setelah Brian dioperasi." Jawabnya lalu menghapus air matanya.
"Untuk apa? Kau kan sudah berjanji akan meninggalkannya?"
Dinnara terdiam, dia lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa meninggalkannya, Bunda. Aku mencintai Brian".
Mendengar itu, Winda membelalakkan matanya. "Kau.. benar-benar sudah sangat kelewatan!" Bentaknya pada Dinnara.
"Tapi Bunda.."
"Cepat pergi!" Winda menarik tangan Dinnara yang terlihat berat meninggalkan tempatnya. Dia akhirnya pergi setelah paksaan dari Winda yang terus menarik tangan sambil menggerutu padanya.
Beberapa jam kemudian, Zaira selesai dengan operasinya. Dia lalu menyudut saat para perawat membawa Brian keluar dari ruang operasi. Hatinya sedikit lega karena operasi Brian berhasil.
Zaira terjongkok di sudut tembok. Dia masih memakai baju operasinya, menghela napasnya. Ini adalah kali pertama saat melakukan operasi hatinya sangat gusar dan ketakutan. Dia bahkan hampir saja tidak fokus. Entah mengapa dia mengingat semua kejadian belakang ini yang membuat hatinya sangat sakit hati.
Mendengar ucapan Dinnara tadi membuatnya mau melakukan operasi yang memang sepatutnya dia lakukan pada pasien darurat, bukan karena pengakuan wanita itu.
Benar dugaannya, wanita itu tidak hamil anak Brian karena status Brian yang infertil. Dia mengarang supaya Brian mau menikahinya, dan melihat tangisannya tadi, perempuan itu benar-benar mencintai suaminya.
"Dokter.."
Seorang perawat mengejutkan Zaira. Dia berdiri dan mulai melepas bajunya.
"Barang-barang pasien sudah saya letakkan di ruangan dokter." Ucapnya lalu tunduk dan berlalu.
Zaira melangkah gontai. Tiba-tiba merasa pusing, belakangan dia sulit tidur dan jarang makan. Apalagi dikejutkan dengan kondisi Brian saat ini, walau Brian mengkhianatinya, tetap saja dia bersedih melihat kondisinya tadi.
Zaira keluar dan melihat tidak ada orang yang menunggu, bahkan wanita itupun tidak ada disana.
Seorang perawat mendatangi Zaira yang sudah memegang handel pintu ruangannya."Dokter, maaf, dokter Winda meminta anda ke ruangannya sekarang."
__ADS_1
"Katakan padanya saya sibuk!". Ucapnya dengan tegas dan langsung masuk ke ruangannya. Tidak ada penghormatan untuk orang sepertinya, jika dia ingin memindahkannya sekalipun, dia sudah tidak takut. Orang sepertinya, sangat memukakkannya.
Bersambung....